Selasa, 21 Mei 2013

Body Piercing: Fenomena “Menggelitik” pada Remaja

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Suatu malam saya pergi ke sebuah pasar di kota tempat saya tinggal dengan menumpang angkutan umum (angkot). Di sebuah perempatan lampu merah, ketika angkot berhenti menunggu lampu hijau, tiba-tiba saya dikejutkan oleh penampilan seorang remaja putri yang kebetulan ikut menunpang. Ia berpenampilan luar biasa ekstrim dan mencolok menurut ukuran saya, hingga saya tertarik memusatkan perhatian kepadanya selama kira-kira tiga puluh menit. Selama kurang lebih tiga puluh menit saya benar-benar asyik mengamati si nyetrik ini dan menghubungkan penampilannya dengan sedikit pengetahuan yang ada di kepala saya. Perkiraan saya, anak ini berumur antara 17 atau 18 tahun jika dilihat dari penampilan fisiknya. Ia berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berkulit kuning langsat dan cenderung agak kumal dan awut-awutan. Dia mengenakan celana jeans berwarna biru yang agak ketat dan kaos hitam. Di bagian wajah, ada semacam cincin dan semacam bola-bola kecil, entah apalah namanya, yang jelas benda itu ditusukkan hingga mencantel, persis seperti anting pada telinga (tindik). Satu di hidung, satu di alis kanan, dua di telinga kanan, dan satu lagi di lidah. Benda yang terakhir ini yang paling mencengangkan, kenapa harus dipasang di lidah?
Secara umum, kebiasan melubangi bagian tubuh dan diberi ornamen disebuttindik. Di kalangan anak muda di sebut tindik tubuh, bahkan sudah diberi labelseni menindik tubuh. Sedangkan di masyarakat Barat disebut body piercing. Sebenarnya tindik-menindik tubuh ini sudah ada sejak jaman dahulu. Menurut sejarah, tindik sudah dikenal sejak 3000 SM yang terdapat pada mumi tertua,Otzi The Iceman. Mumi ini memiliki lubang pada telinganya yang berdiameter 7-11 mm. Sejarah juga mengindikasikan bahwa tindik juga terjadi di zaman Romawi (abad 400 hingga 200 M). Sedangkan di Negara kita sendiri, bisa dilihat dari keseharian suku Dayak di Kalimantan hingga saat ini.
Motivasi menindik tubuh bermacam-macam. Zaman sekarang, motivasi menindik tubuh telah banyak perubahan. Pada awalnya, orientasi menindik tubuh hanya terbatas pada unsur spiritual, status sosial atau ritual-ritual tertentu. Konon dahulu kala di Mesir, tindik di pusar menjadi ritual; Tentara Romawi menindik putingnya untuk menunjukkan kejantanan; Suku Maya menindik lidah sebagai ritual spiritual; dan anggota kerajaan Victoria dahulu memilih menindik puting dan alat genitalnya. Saat ini, menurut banyak sumber, orientasi dan motivasi menindik diantaranya adalah; penasaran, demi seni, meneruskan tradisi nenek moyang, supaya dikatakan keren atau cool, trend,serta tuntutan komunitas. Bahkan ada juga yang menindik tubuhnya dengan argumen yang sangat tidak masuk akal, yaitu senang menyakiti diri.
Pada zaman modern, budaya tindik diprovokasi oleh semangat penolakan dan pembangkangan terhadap norma sosial hingga terbentuk image anti-sosial. Pada tahun 2003, Tempo Online merilis tulisan tentang pengakuan seorang pemuda pemilik tempat tindik tubuh di suatu daerah di Indonesia. Pemuda ini sendiri menindik tubuhnya di berbagai bagaian; telinga, hidung, bibir dan lain-lain. Menurut pengakuannya, dia tidak percaya dengan agama dan ikatan keluarga. Ia pun dengan bangga mengatakan “Saya ingin mengubah dunia, yang dimulai dari diri sendiri dan membangkang dari keluarga”. Perkataan ini dilatarbelakangi oleh larangan orang tuanya ketika ia akan menindik bagian tubuhnya yang pertama, hingga dia melarikan diri dari rumah. Inilah salah satu contoh motivasi menindik tubuh di zaman sekarang.
Menindik tubuh bisa dilakukan dengan banyak cara dan bisa dilakukan di banyak tempat. Bahkan sudah banyak penindik-penindik professional yang konon benar-benar menempuh pendidikan formal body piercing di luar negeri. Biasanya tempat menindik tubuh ini satu paket dengan tempat membuat tato. Tempat-tempat seperti ini sudah kian mudah dijumpai di tempat-tempat umum seperti Mall. Secara umum, ada empat cara menindik; cara tradisional, cara medis, metode cannula, dan menggunakan senapan tindik. Cara tradisional sama dengan cara dulu yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Seseorang yang ingin menindik tubuhnya  menggunakan alat yang tajam, seperti jarum. Lalu dipanaskan dan ditusukkan ke bagian tubuh yang akan ditindik. Secara medis, penindikan menggunakan jarum khusus untuk melubangi bagian tubuh yang ingin ditindik. Biasanya tenaga medis mencari rongga kosong diantarafistula, keadaan abnormal suatu jaringan yang diantara dua epithelium (jaringan kulit). Kemudian, yang juga dilakukan oleh tenaga medis adalah metodecannula. Metode ini dilakukan dengan memasukkan sejenis tabung ke bagian tubuh yang akan ditindik, cara kerjanya mirip seperti chateter. Cara terakhir yaitu menggunakan senapan tindik. Ada alat khusus seperti senapan pada umumnya, tapi digunakan untuk menindik. Biasanya penindik sudah melengkapinya dengan satu perhiasan kecil diujung jarumnya. Sehingga begitu jarum menyentuh bagian tubuh yang ingin ditindik, seketika itu pula perhiasan itu menempel di tubuh.
Berdasarkan cara penindikan seperti dijelaskan di atas, jika ditanya orang yang ditindik “sakit apa tidak? Jawabannya pastilah sakit. Selain itu, banyak sekali sumber menyebutkan bahwa proses tindik ini sangat beresiko, terutama pada sisi medis, diantaranya:
  •        Penyakit menular lewat darah (blood borne diseases), seperti hepatitis B dan C, tetanus, serta HIV.
  •       Reaksi alergi. Bahan tindikan dari nikel atau kuningan dapat menyebabkan reaksi alergi.
  •       Penyakit mulut dan merusak gigi hingga gusi bengkak karena infeksi.
  •       Guratan dan keloid, akibat pertumbuhan berlebih jaringan parut, seperti bekas luka.
  •       Kanker.
  •       Trauma tindik, seperti robek karena kecelakaan. Kadang memerlukan pembedahan atau jahitan yang bisa meninggalkan bekas luka atau cacat permanen.
  •       Menyebabkan gangguan pada otak.

Resiko-resiko ini bukan isapan jempol belaka. Banyak contoh kasus telah terjadi. Berdasarkan berita dari The Sun, seorang wanita di Caerphillymeninggal karena keracunan darah dua hari setelah melakukan tindik lidah. Jurnal Archives of Neurology seperti dilansir BBC melaporkan, seorang pria berusia 22 tahun meninggal di rumah sakit setelah mengalami abses otak atau penumpukan nanah di otak, ini juga karena reaksi setelah menindik lidah. Bahkan sebuah penelitan di Australia pada tahun 2006 mengatakan bahwa hampir semua penindik di Adelaide (Australia) pernah menangani kasus alergi setelah klien ditindik. Rata-rata setiap pendindik menangani lebih dari 31 orang yang terkena kasus seperti ini. Setelah melihat fakta-fakta ini tentu makin mengherankan kenapa banyak orang yang mau menindik bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Lebih mengherankan lagi, sebagian besar penggandrung tindik ini adalah para remaja. Apakah resiko-resiko seperti tertulis di atas sepadan dengan dalih seperti; untuk mengekspresikan diri, hak azasi, tuntutan komunitas, demi trend, supaya dikatakan cool dan sebagainya? Rasanya jauh dari sepadan.
Sekarang kita ulas sedikit alasan kenapa para remaja banyak yang menyukai tindik ini. Sebagaimana kita ketahui, usia remaja merupakan usia transisi menuju kedewasaan. Usia ini adalah usia dimana manusia benar-benar dalam masa perkembangan yang penuh kebimbangan. Usia remaja tak ubahnya seperti bahtera yang diterpa gelombang di tengah laut yang baru dilayarinya. Masa dimana manusia mengalami perkembangan baik secara fisiologis/fisik dan psikologis. Perkembangan fisiologis diantarnya ditandai dengan mulai mimpi basah (laki-laki) atau menstruasi (perempuan), perubahan otot dan suara, dan perkembangan gerak motorik tertentu. Perkembangan psikologis biasanya diikuti oleh perkembangan pemikiran, perasaan, penalaran, dan emosional yang kian kompleks.
Perkembangan yang ke-dua, perkembangan psikologis, membuat remaja cenderung mengisolasi diri, gelisah, murung dan menentang. Hingga identitas mereka bisa dilihat dari kecenderungan mereka seperti; kurang peduli dengan lingkungan, sering melakukan penentangan, emosi tidak stabil, mudah tersinggung, menghindari tanggung jawab, dan kurang menghargai aturan. Kesemuanya ini menggambarkan kegamanagan mereka. Ini semua proses yang harus mereka alami dalam rangka perubahan status sosial dari kanak-kanak menuju dewasa. Dengan kata lain, mereka sedang mengembangkan identitas tertentu untuk dirinya. Jadi perlu difahami bahwa remaja sedang mengalami krisis identitas sehingga mudah sekali terinfeksi bermacam-macam isu, baik positif maupun negatif.
Tugas penting seorang remaja dalam mengembangkan identitiasnya adalah membuat konsep tentang siapa dia, apa yang dia kerjakan, dan kemana dia pergi. Dalam usahanya menemukan konsep ini, remaja membuat standar sendiri dan mengevaluasinya dengan perilaku orang lain. Kemudian ia akan menghormati dan mengadopsi konsep yang ia temukan. Jika ia gagal menemukan konsep ini, maka akan terjadi kebimbangan lantaran gagal menemukan siapa dirinya dan posisinya akan sangat tidak pasti. Ini juga akan mendorong frustasi yang berat. Sebagaimana kita ketahui, standar moral dan nilai-nilai yang diadopsi oleh remaja sebagian besar berasal dari keluarga, terutama orang tua dan juga lingkungan. Lingkungan ini luas sekali cakupannya, bisa lingkungan sekolah, tetangga dan lain-lain. Ini semua yang kelak akan menjadi bagian dari identitas mereka.
Poin penting yang perlu kita garis bawahi tentang usia remaja adalah krisisidentitas dan proses pencarian jati diri. Jika kita kaitkan dengan keheranan kita di atas, tentang gandrungnya para remaja melakukan tindik tubuh, maka cukup beralasan jika kita katakan wajar jika “sepertinya suka”, walaupun tak sepenuhnya benar kegandrungan ini diartikan dengan kata “suka”. Dalam proses pencarian diri, mereka sangat membutuhkan bimbingan, arahan dan juga nilai-nilai sosial yang baik untuk diadopsi. Nah di sinilah titik temu antara remaja dan tindik. Remaja yang gandrung bertindik, kemungkinan besar adalah remaja yang tersesat dalam pencarian jati dirinya. Mungkin pada saat mereka menjalani masa transisi yang sangat labil ini, tidak mendapatkan perhatian maksimal dari orang tua mereka, hingga standar yang mereka butuhkan didapat dari sumber lain yang mungkin saja bukan berupa nilai-nilai sosial yang ideal, salah satunya seni tindik tubuh yang ekstrim.
Kesimpulannya, peran orang tua, guru, panutan, atau siapa saja yang terlibat dalam pembentukan seorang manusia sangat penting dalam perkembangan remaja. Peran ini bisa berupa memberikan perhatian maksimal, menyediakan standar sosial yang ideal dan juga arahan yang bisa diterima dengan baik oleh remaja. Dengan demikian diharapkan remaja tak akan mengadopsi hal-hal negatif yang pada akhirnya berkonstribusi pada pembentukan karakter mereka. Dapat kita bayangkan betapa meruginya mereka jika terlanjur melubangi telinga (khususnya remaja laki-laki), hidung, alis, bibir, lidah atau bahkan organ vital. Semua akses yang ditimbulkan dari tindik ini tak ada yang positif, terutama dari sisi medis. Berbagai resiko penyakit siap menyerang. Belum lagi jika mereka nanti mencari pekerjaan, para pengguna jasa akan sungkan menerima pekerja yang berpenampilan kurang wajar. Disney Land yang terkenal secara internasional sebagai tempat hiburanpun tidak menerima pegawai yang tidak berpenampilan wajar, termasuk yang bertindik atau bertato.
Oleh: Yupika Maryansyah

References;
Majalah Tempo
OnlineTempointeraktif.com
Detik.com

Regards, Yudi riswandy, www.goesmart.com

Senin, 20 Mei 2013

Efek Kata kata Baik & Kata Kata Buruk

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Ada sebuah tulisan cukup lama, semoga manfaat
Sebaiknya kita semua mulai mengendalikan Kata-kata yang keluar dari mulut kita dengan Kata-Kata yang Positif dan Baik.
Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air yang ditulis dalam buku ” The Hidden Messages in Water ” karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan. Ada yang tertarik untuk melakukannya sbb:
Tempatkan Nasi sisa yg sdh didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat. Masing-masing stoples di tempelin label yg berisi kata2 sbb: Stoples A : ” Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku Sayang Padamu, Aku Senang Sekali Melihatmu, Aku Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih. Stoples B : ” Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak mau dekat dekat kamu ” Botol 2 ini saya letakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat, saya pesan pada istri, anak, dan pembantu untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut. Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 minggu kemudian : Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap.
Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.
Nah Silahkan teman-teman mencobanya sendiri.
Kalau di buku di katakan ada yg mencoba dgn tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa2 alias diabaikan / tidak diperdulikan, dan ternyat beras dlm botol yg diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yg dipapar kata ” Kamu Bodoh”.
Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.
Juga bagaimana jika kita kepada tanah air, negara kita, bangsa kita..
Misal sering kita dengar ungkapan… Ah Indonesia ini brengsek dsb.
Bagaimana jika kita ganti ucapan itu dengan mengucapkan atau dalam hati berkata.. Ah Indonesia.. masih belum maju… aku ingin memajukannya.. dan kita yakin banyak orang yang berpikir dan berusaha untuk memajukan Indonesia
Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memilih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.
Note : jika anda merasa tulisan ini bermanfaat utk orang lainnya silahkan forward kepada rekan2 anda, semoga dapat menimbulkan hal yg bermanfaat buat mereka. Terima kasih.
Notes:
Apa yang terjadi misalnya, jika para jamaah haji Indonesia selain mendoakan dirinya sendiri juga mendoakan masyarakat, bangsa negara dan lingkungannya. Demikian pula para peziarah dari agama non muslim misalnya ke lourdess dll juga mendoakan masyarakat, bangsa negara & lingkungannya
Apa yang terjadi jika setiap anggota masyarakat yang memasuki tempat ibadah sesuai agama & kepercayaannya masing2, selain berdoa bersama2 untuk dirinya sendiri juga berdoa untuk masyarakat, bangsa, negara & lingkungannya
Karena apapun yang terjadi saat ini.. masih ada harapan bahwa masyarakat, bangsa & negara kita untuk menjadi lebih baik.. juga lingkungan kita, meski saat ini bisa dikatakan lingkungan sudah hancur lebur karena keserakahan dan salah kelola… masih ada harapan untuk menjadi lebih baik..
dengan doa dan bekerja.. Semoga Tuhan Merestui
Regards, Yudi riswandy, www.goesmart.com

Rabu, 15 Mei 2013

Hindari Memotivasi dengan Ancaman!

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Dalam perspektif manajemen, salah satu tugas yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah berusaha memotivasi setiap individu yang dipimpinnya agar memiliki motivasi yang kuat dalam melaksanakan setiap tugas dan pekerjaannya, sehingga pada girilirannya dapat dihasilkan kinerja yang unggul.  Misalnya, untuk meningkatkan kinerja guru, kepala sekolah atau pengawas sekolah dituntut untuk dapat membina dan meningkatkan motivasi kerja guru. Demikian pula, untuk meningkatkan kinerja siswa (prestasi belajar siswa), seorang guru dituntut untuk dapat  membina  dan meningkatkan motivasi belajar siswanya.
Upaya memotivasi (motivating) individu dapat dilakukan melalui berbagai cara.  Menurut Huse dan Bowditch (1973), terdapat tiga model memotivasi seseorang, yaitu: (1) model kekuatan dan ancaman; (2) model ekonomik/mesin, dan (3) model pertumbuhan-sistem terbuka.
Yang akan kita bicarakan di sini adalah model yang pertama yaitu pemotivasian  model kekuatan dan ancaman (a force and coercion model). Model ini merupakan model tertua dan sangat sederhana dalam memahami atau memandang manusia.  Model ini mempratikkan pemotivasian dengan cara memaksa orang lain (baik melalui tindakan atau verbal) untuk berperilaku tertentu  dengan cara menggunakan ancaman,  intimidasi atau bentuk lain yang bersifat represif dengan menggunakan kekuatan (power), yang dimilikinya.
Asumsi yang mendasari model pemotivasian  model kekuatan dan ancaman ini adalah bahwa seseorang akan bekerja (belajar atau berperilaku) dengan baik apabila disudutkan pada sebuah situasi, di mana ia hanya bisa memilih bekerja ataukah dihukum (Huse dan Bowditch, 1973).
Asumsi ini senada dengan asumsi yang mendasari teori X-nya McGregor, bahwa pada dasarnya manusia itu malas, suka menghindari tugas dan tanggung jawab, dan apabila tidak diintervensi dan diancam oleh atasan, maka ia akan pasif. Oleh sebab itu agar seseorang mau bekerja ia harus dipaksa (Carver dan Sergiovanni, 1969).
Pemotivasian Model Kekuatan dan Ancaman oleh beberapa kalangan sering disebut sebagai strategi buntu, yaitu strategi yang terpaksa digunakan ketika pemimpin sudah merasa kehabisan akal  (atau justru kehilangan kewarasannya?) untuk merubah perilaku orang-orang yang dipimpinnya.
Sepintas, model pemotivasian yang menebarkan kecemasan ini tampak sangat efektif untuk memotivasi seseorang. Melalui ancaman dan intimidasi tertentu, orang akan menjadi patuh dan bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan (atau mungkin tepatnya sesuai dengan keinginan).
Namun dibalik itu perlu diwaspadai,  penggunaan pemotivasian model kekuatan dan ancaman ini ternyata  dapat menjadikan orang tidak bahagia dan dapat merusak kepribadian seseorang. Dengan adanya ancaman terus menerus, orang akan merasa tidak bisa mengembangkan potensinya, mengalami ketumpulan berfikir, dan mengalami ketegangan jiwa (stress).
Dalam konteks sekolah, Les Parsons dalam bukunya yang berjudul Bullied Teacher Bullied Studentmengupas tentang perilaku intimidasi di sekolah yang dilakukan siswa, guru dan kepala sekolah. Dikatakannya, bahwa pelaku intimidasi secara sengaja bermaksud menyakiti seseorang secara fisik, emosi atau sosial dan pelaku intimidasi sering merasa perbuatannya itu dapat dibenarkan.
Dalam konteks bisnis, hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Nicolas Gillet, dari Universite François Rabelais di Prancis menunjukkan bahwa manajer yang menggunakan ancaman sebagai cara untuk memotivasi karyawan, cenderung memiliki dampak negatif pada kesejahteraan karyawan.
Jika sudah seperti ini,  maka  hasil dari upaya pemotivasian akan menjadi terbalik, seharusnya dapat meningkatkan kinerja atau prestasi yang lebih baik malah yang terjadi adalah penderitaan dan kerusakan kepribadian.
Oleh karena itu, untuk menjadi pemimpin yang sukses sedapat mungkin kita perlu menghindari penggunaan pemotivasian model kekuatan dan ancaman ini. Gunakanlah cara-cara pemotivasian lain yang lebih manusiawi, yang dapat menjadikan orang-orang berbahagia, mampu berinovasi dan dapat mengoptimalkan segenap potensi yang dimilikinya.
Bagaimana menurut Anda?

Regards,Yudi Riswandy, www.goesmart.com

Selasa, 14 Mei 2013

Pembelajaran Monyet

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Anda mungkin pernah melihat atraksi ronggeng monyet atau topeng monyet, dimana seekor monyet dapat memperagakan berjalan tegak sambil membawa payung-payungan, memikul bakul-bakulan, mengendarai sepeda-sepedaan, dan aneka atraksi lainnya.
Atraksi ini pada umumnya berlangsung di bawah kendali sang Pawang, dengan diiringi bunyi gamelan sederhana. Setelah adegan selesai, para penonton merasa terhibur dan langsung memberikan saweransukarela, sebagai balas jasa atau tanda terima kasih atas atraksi yang telah disuguhkan oleh sang  Pawang dengan monyetnya.
Kemampuan monyet untuk dapat memperagakan adegan seperti ilustrasi di atas tentu bukan diperoleh secara tiba-tiba, tetapi pada dasarnya merupakan hasil belajar, melalui sentuhan  Sang Pawang dengan menggunakan teori belajar behaviorisme. Walaupun mungkin sang Pawang sendiri tidak pernah paham apa itu teori belajar behaviorisme,  tetapi tampaknya dia telah berhasil menerapkan teori belajar behavioristik secara sempurna dalam membentuk kompetensi dan perilaku baru monyet.
Sedikit saya beri gambaran bagaimana proses pembelajaran monyet untuk bisa mendapatkan kemampuan atau kompetensi di atas.  Pada mulanya, mungkin monyet itu merupakan hasil tangkapan dari hutan, tentu dengan kemampuan awal layaknya seekor monyet liar. Selanjutnya, dia dibawa ke lingkungan manusia, dengan diberi asrama  yang bernama kandang. Di bawah program pelatihan sang Pawang yang ketat, monyet mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran. Metode pembelajaran yang dilakukan sang Pawang yaitu pemberian latihan yang terus-menerus dengan bertumpu pada dua kekuatan utama, yaitu pemberian hadiah dan hukuman.
Untuk bisa berjalan tegak, sang Pawang mengikat tangan monyet ke belakang pundaknya. Jika monyet berhasil berdiri tegak sesuai dengan instruksi,  sang Pawang langsung memberikan hadiah berupa makanan yang disukai monyet, misalnya  buah pisang,  atau  memberikan tindakan-tindakan lainnya yang membuat monyet senang.  Tetapi jika gagal, sang Pawang langsung memberikan hukuman, misalnya dengan menarik rantai atau tali yang membelenggu di lehernya.  Jika masih tetap membandel, sang Pawang pun tidak segan-segan memberi sanksi lain untuk memaksanya hingga  bisa berdiri tegak.
Pola pembelajaran seperti ini terus-menerus dilakukan untuk memperoleh kompetensi-kompetensi baru lainnya, seperti: memikul bakul-bakulan, membawa payung-payungan, bercermin, dan sebagainya. Bahkan dia dilatih pula untuk melakukan atraksi kolabarasi dengan anjing
Bersamaan dengan berlangsungnya proses pembelajaran ini, sang Monyet diperdengarkan alunan gamelan oleh sang Pawang,  dengan tujuan  agar dia bisa menampilkan gerakan-gerakan yang dilatihkan,  seiring dengan  irama gamelan yang diperdengarkannya.
Setelah selesai mengikuti program pelatihan yang dikembangkan oleh sang Pawang dan monyet sudah dianggap kompeten, mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal  yang ditetapkan sang Pawang, selanjutnya monyet diajak memasuki dunia baru,  yang sangat jauh berbeda dengan dunia sebelum  dia mengikuti  kegiatan  pembelajaran bersama sang Pawang.
Sejak saat itulah dia bukan lagi monyet seperti rekan-rekannya yang hidup di hutan bebas. Dia tidak lagi hidup bergelantungan dari pohon ke pohon, tetapi dia bergerak dari satu kampung ke kampung lainnya, mempertontonkan keahlian yang diperolehnya dari sang Pawang. Dia tidak lagi bercengkerama dengan keluarga dan sesamanya, tetapi dia lebih banyak bergaul dengan manusia. Dia tidak perlu lagi bersusah-payah mencari makanan sendiri, tetapi cukup menunggu jatah yang diberikan sang Pawang. Sang Pawang pun dalam memberi makanan  akan bergantung pada hasil jerih payahnya  keliling-keliling kampung bersama monyet kesayangannya.
Yang menjadi pertanyaan,  dengan aneka kemampuan yang didapat dari sang Pawang, Apakah  sesungguhnya  monyet itu bahagia? Masih pantaskah kita menyebutnya sebagai monyet? Bagaimana pula  pendidikan yang sesuai untuk  manusia?   Silahkan Anda renungkan dan mari kita diskusikan melalui forum komentar yang ada.

Regards,Yudi Riswandy,www.goesmart.com

Senin, 13 Mei 2013

Tips Mengejar Mimpi Meraih Kesuksesan - Stop Dreaming, Start Driving!

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Kalau anda mimpi ingin punya BMW, namun apa daya uang tak cukup, maka mulailah mengkreditnya agar anda dapat segera mencicipi nikmatnya naik BMW, begitulah iklan mobil itu membujuk anda. Just do it, kalau kata Nike (nike sepatu, bukan nike ardila almarhumah!). Saya tidak bermaksud mengiklankan BMW, tapi Title dari Iklan BMW di Harian Kompas 2 Desember 2008, berbunyi: "Stop Dreaming, Start Driving!" memang layak untuk dijadikan petuah. Ini adalah pernyataan pengingat, kalau tidak bisa disebut sebagai teguran, agar kita selalu bertindak seimbang dan proporsional. Memberikan alokasi yang adil (namun tidak berarti harus sama bagiannya) antara bermimpi dan bertindak. Bermimpi memang penting, tetapi bertindak lebih penting lagi. Karena apa yang ada dalam mimpi, hanya bisa diraih dengan tindakan. Oleh karena itu, segeralah selesaikan mimpi anda yang ada diawang-awang, lalu bangun dan mulailah berbuat di dunia realitas. Sejatinya, tindakan andalah yang akan mendekatkan kesenjangan antara tataran realitas (atau kenyataan), dengan tataran mimpi (atau angan-angan). Semakin ekstensif dan intensif anda bertindak, maka akan semakin dekatlah jarak antara realitas dan mimpi. Jadi janganlah mengendurkan tempo kerja dalam mengeksekusi tindakan, rangkaian tindakan, dan strategi anda dalam menggapai mimpi. Dalam tempo kerja, anda harus mengatur kecepatan (speed) dan kekuatan (endurance), agar segera terjadi coitus legal formal (yang tidak interuptus) antara mimpi dan realitas. Eiiit…, jangan mikir negatif dulu! Maksudnya disini adalah mimpi dan realitas itu menjadi bersatu sehingga mampu beranak-pinak menghasilkan mimpi-mimpi baru dan tindakan-tindakan baru yang lebih produktif. Hal ini mungkin terjadi, karena hasil pembelajaran dan kesuksesan dari proses sebelumnya akan mendorong kita untuk mengulangi dan mendapatkan kembali kesuksesan yang pernah diraih. Kondisi ini sangat manuasiawi, karena manusia memang tidak pernah merasa puas. Dikasih hati, minta jantung. Dikasih satu juta, minta satu milyard. Dikasih lima tahun berkuasa, minta 32 tahun. Dikasih SMA, minta S3. Dikasih Minah, minta Dian Sastro. Dikasih Paijo, minta Brad Pitt. Dst…dst… Namanya juga manusia…………..bukan malaikat! Malah ada yang lebih aneh, udah mau dikasih eksekutif mapan, eeh malah milih tukang cendol dekil…., anti klimaks boo, downward spiral!

Mengapa mimpi penting dan harus diberi porsi untuk dilakukan? Karena mimpi adalah representasi dari kebebasan. Mimpi itumerupakan arena ekspresi yang bebas norma, dan bebas nilai, bahkan anda tidak perlu tahu, anda berada dimana pada saat anda bermimpi. Tidak ada pagar, tidak ada tembok, tidak ada aturan, dan tidak ada kendala keterbatasan sumber daya. Ketika anda masih anak-anak anda dapat menyatakan cita-cita anda seenak udelmu dhewe (as delicious as your belly button….kata si paijo). Anda bebas menyatakan ingin menjadi presiden, astronot, atau apapun, tanpa peduli dengan keterbatasan anda. Itulah kegunaannya mimpi, anda dapat menentukan strategic objective anda sesuai dengan ekspektasi anda. Kenapa harus sesuai dengan ekspektasi anda? Gunanya agar motivasi anda terpicu dan bergulir dengan kecepatan maksimum, tanpa anda perlu menegak Viagra. Jadi anda bisa bayangkan lemahnya keinginan meraih tujuan yang tidak sesuai dengan ekspektasi anda. Mana mau anda naik Timor, kalau anda memimpikan BWM. Mana mau anda pergi ke Tasikmalaya, kalau anda memimpikan Vienna. Mana mau anda menyantap getuk lindri, kalau anda memimpikan burger bakar dago. Namun tetap harus diingat bahwa dalam siklus manajemen, penetapan strategic objective merupakan salah satu elemen dalam tahapan perencanaan saja. Anda tidak bisa hanya menetapkan tujuannya saja, itu namanya half wit. Hal lain yang harus anda lakukan adalah merumuskan langkah-langkah tindakan untuk mencapai strategic objective. Lalu mengeksekusinya pada tahapan implementasi, dan mengendalikannya pada tahapan control. Pada saat eksekusi itulah, anda masuk kedalam kondisi "start driving". Mulai menikmati perjalanan dalam rangka mencapai tujuan. Mulai harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang prima untuk memainkan pedal gas, rem, kopling (karena nggak otomatik), dikombinasikan dengan mengendalikan stir, berbekal pandangan lurus kedepan, sambil sesekali melihat kaca spion samping & spion belakang (ini nulis artikel atau diktat kursus stir mobil…….hahaha).

"Start Driving" juga mengingatkan pada kita bahwa sesuatu itu tidak ada yang "ujug-ujug". Segala sesuatu itu akan melalui proses. Untuk mendapatkan kecepatan 160 km/jam, anda harus melalui beberapa tahapan dan mengkonsumsi sekian menit waktu. Pada dasarnya tidak sesuatu yang secara "suddenly" jatuh dari langit atau dari UFO seperti Mr.Bean yang tiba-tiba di tengah jalan, tanpa jelas asal usulnya. Proses adalah fungsi dari waktu, jadi untuk mencapai sesuatu itu ada kebutuhan waktunya. Dan pada umumnya, hasil yang baik diperoleh dengan proses yang lama, bukan proses yang instant. Jadi pada saat start driving, pada hakekatnya anda memiliki kesempatan untuk melakukan penyesuaian, karena anda berpijak pada dunia nyata dan realitas. Jika langkah-langkah tindakan terasa sulit, anda bisa merevisinya. Jika tujuan terasa jauh, andapun dapat memindahkan tujuan anda ke koordinat yang lebih sesuai dengan kekuatan anda. Jadi pragmatisme dapat saja muncul untuk mengkoreksi idealisme, ketika anda mulai melangkah. Kalau angsuran kredit BMW, Harrier, atau Odissey anda, dirasakan mencekik leher anda, kenapa tidak membeli cash Timor Seken saja….hahahaha. Daripada gaya tapi riweuh, lebih baik sederhana tapi tenang. Itulah gunanya start driving, rasionalitas akan berusaha mengkoreksi mimpi indah anda. Kalau baru daftar jadi Caleg saja, anda harus keluar duit puluhan juta rupiah, ya mendingan mengabdi jadi RT saja. Pilihan itu tidak kalah mulianya, jika anda berhasil menciptakan lingkungan RT yang gemah ripah rapih repeh, daripada jadi Caleg yang bergelimang KKN dan mencemaskan rakyat. Daripada jadi raja yang zhalim, lebih baik jadi ponggawa yang sholeh. (tapi tentu saja pilihan yang paling mantabb adalah menjadi raja yang sholeh)

Jadi apa yang harus anda lakukan, agar start driving anda akan membawa anda pada"happy ending achievement". Prinsip manajemen mangajarkan pada kita beberapa hal, antara lain:
1.        Rencanakan route anda dengan jelas dan tetapkan ettape-ettape nya. Program kerja dan rencana tindakan (action plan) perlu dibuat secara rinci, agar anda dapat dengan mudah beralih satu aktivitas lain, setelah satu aktivitas selesai dikerjakan. Kegiatan yang tidak jelas dan rinci akan mengakibatkan anda bingung menetapkan tindakan selanjutnya setelah satu pekerjaan selesai dikerjakan. Jangan menjadi si kabayan, yang sering berhasil by accident. Anda seharusnya berhasil by planning.
2.      Sediakan perbekalan yang cukup. Sumber daya yang anda miliki harus mamadai. Tapi tidak perlu seperti orang mau pindahan yang bawa semua barang. Anda harus membawa perbekalan logistik dan disertai dengan sumber daya pengetahuan & informasi yang cukup. Ini penting agar anda dapat mengevaluasi kemungkinan keberhasilan anda dalam mencapai tujuan.
3.      Perhatikan kondisi jalan. Faktor eksternal bisa saja muncul sebagai kendala utama dalam mencapai tujuan. Jika jalanan longsor, jembatan rubuh, atau ada angin puting beliung, yang akan mengganggu atau menggagalkan perjalanan, maka anda perlu memikirkan ulang route yang akan anda tempuh. Jadi berdasarkan evaluasi anda terhadap kondisi jalan, anda dapat merevisi program kerja sekaligus tujuannya.
4.      Istirahatlah yang cukup. Jeda sejenak, akan memberikan anda energy baru. Selain itu, jeda juga akan memberikan anda kesempatan untuk mengevaluasi dan belajar dari hal-hal yang sudah anda lewati. Proses pembelajaran ini penting, agar kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi tidak berulang begitu saja
5.      Nikmatilah perjalanannya. Hidup pada dasarnya adalah menciptakan nilai tambah dari proses yang anda lewati. Oleh karena itu, proses yang panjang bukan hal yang harus disesali. Proses yang panjang justru merupakan kesempatan anda yang lebih besar untuk mengakumulasi nilai tambah (value added). Ibarat artis, jika anda melesat dan meledak diudara seperti kembang api, maka anda hanya membuat terkesima orang-orang sesaat saja. Setelah cahaya api mati, orang tidak akan peduli lagi dimana keberadaan dan jejak anda, karena anda jatuh dalam gelap. Namun jika anda, lampu patromax, anda akan terang lebih lama, meskipun harus dipompa dengan waktu yang cukup lama. Dan ketika petromaks meredup, orang-orang akan membantunya untuk menyala kembali. Jadi proses panjang adalah amanah yang harus dioptimalkan, bukan untuk disesali.

Difficult, Yes. Impossible, No

Statement ini, saya dapatkan ketika melihat iklan perusahaan minyak SHELL di majalah Fortune edisi november 24,2008 yang lalu. Ini pernyataan yang hanya terdiri dari 4 kata, tetapi sangat inspiring, mengajarkan pada kita untuk tidak cengeng dan lembek dalam menggapai cita-cita dan keinginan. Ini suatu pernyataan bertuah yang tidak diciptakan begitu saja oleh orang-orang shell, tetapi merupakan kesimpulan atas akumulasi pengalaman mereka selama 50 tahun yang lalu mencari ladang-ladang minyak di Kanada. Menemukan cadangan minyak di dalam perut bumi dan mengeksplorasinya untuk kemaslahatan serta kesejahteraan hidup masyarakat dunia memang bukan pekerjaan mudah. Investasi berupa uang, tenaga, dan waktu bisa hilang begitu saja manakala mereka salah melakukan pengeboran (Bakrie yang berharap dapat harta karun minyak, malah ketiban lumpur, apa nggak sial tuh….). Namun 5 dekade kemudian, keuletan orang-orang SHELL pada akhirnya memberikan hasil, pada saat ini Kanada sudah menjadi penghasil minyak global, mampu mengjungkirbalikan dominasi OPEC yang berupaya membentuk kartel dan mempolitisir minyak bumi.
 

Makna dari "difficult, yes. Impossible, no.’ adalah tidak ada yang tidak mungkin jika segalanya diupayakan secara serius. Berbagai kesulitan memang akan menghadang dan menghalangi upaya kita mencapai tujuan dan keinginan, namun tidak berarti tidak bisa diatasi. Tidak ada alasan untuk putus asa, apalagi untuk bunuh diri! Terlalu bodoh itu……. Meskipun akan ada berbagai macam pengorbanan, akan tetapi itulah trade off yang harus dipertukarkan atas kesuksesan yang akan diperoleh. No free lunch!, semua harus dipertukarkan dengan usaha dan kerja keras, dan tentu saja harus dalam atmosfir doa dan munajat kepada sang pencipta. Pahala atau rewards tidak datang begitu saja, tetapi harus dipertukarkan dengan kerja keras dan kompetisi. Begitulah hidup, seperti mendaki puncak gunung. Anda tidak dapat menancapkan bendera penakluk dalam keadaan segar bugar tanpa kelelahan. Ada energi yang harus dipertukarkan. Ep=m.g.h, itu rumus fisikanya. Kalau energi tidak cukup, anda perlu mencari route yang tepat dan sesuai dengan kakuatan dan kelemahan anda. Anda tidak bisa mendaki terus, kadang-kadang perlu istirahat sejenak untuk mengumpulkan kekuatan dan berhitung mengenai kecukupan perbekalan. Anda harus melewati kondisi khawatir, cemas, dan ancaman akan kegagalan. Ini adalah bagian dari dinamika perjalanan (ingat untuk mencapai surga saja, anda akan melintasi jembatan syirotol mustaqim yang lebarnya hanya selebar rambut dibagi tujuh, apa nggak keder tuh…). Namun dengan berbekal visi, kesungguhan, dan mental yang kuat, serta percaya akan adanya bantuan dan pertolongan dari yang maha kuasa maka puncak gunung setinggi apapun, selama itu ada di muka bumi, tetap saja sangat mungkin untuk ditaklukan.

Hal lain, yang harus anda sadari dari adanya pernyataan "difficult, yes. Impossible, no’ bahwa jangan sekali-kali meremehkan imajinasi dan mimpi. Karena bisa saja tarikan awal yang akan memprovokasi seseorang untuk menggerakan langkahnya yang pertama kali, adalah imajinasi dan mimpinya itu. Kalau punya mimpi, tidak perlu Reg spasi Primbon dan kirim ke 8997, karena anda lahir pada slasa kliwon. Tapi segeralah rumuskan langkah-langkah rasional untuk mewujudkannya. Kalau langkah pertama sudah dibuat, pekerjaan selanjutnya adalah tinggal merencanakan dan melaksanakan langkah-langkah berikutnya. Jika langkah pertama sudah dibuat, minimal anda sudah melakukan warming up, yang dapat dijadikan sebagai modal untuk gerakan dan langkah berikutnya yang lebih luwes dan efektif. Mimpi dan imajinasi, semuluk apapun masih mungkin untuk diwujudkan. "Why Not?’ itu adalah kalimat motivator yang diajarkan oleh Edward de Bono, jika anda menghadapi orang yang menyangsikan keinginan anda untuk menggapai mimpi dan imajinasi anda. Memang akan difficult, tapi tidak impossible! Camkan baik-baik……..hahahaha

Lalu apa yang perlu dijadikan bekal, agar dalam menghadapi berbagai kesulitan, anda berada dalam kondisi "tegar beriman’ (tapi ini bukan kepanjangan dari "tetap segar berkat istri teman’). Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian:
1.        Pertahankan motivasi. Motivasi adalah keinginan dan kebutuhan yang ada dalam diri untuk melakukan sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Agar motivasi anda bertahan, anda harus mengelola smangat anda. Jangan pernah merasa bahwa beban lebih besar dari kesanggupan anda (skali2 minum obat kuat mungkin tidak apa-apa, asal jangan obat keras! Karena mengandung semen, batu, atau besi).
2.        Pandai-pandailah menghitung resiko. Resiko yang akan anda hadapi harus diidentifikasi dan anda kalkulasi. Jika resiko sudah anda kalkulasi dan anda antisipasi, maka anda tidak akan terkaget-kaget yang berlebihan menghadapi berbagai kesulitan yang menghadang. Anda akan relatif lebih siap untuk menaklukan handicap yang anda hadapi karena sudah memperkirakan sebelumnya, apalagi kalau perkiraannya sangat akurat.
3.        Siapkan plan B atau skenario alternatif. Jangan fanatik pada satu skenario, segeralah menjalankan rencana alternatif, jika rencana yang dijalankan pertama mengalami kegagalan yang fatal dan tidak bisa diperbaiki lagi (kayanya ini yang diterapkan para artis, sehingga banyak yang kawin cerai …..hahaha). Seperti dalam labirin, memang akan ada jalan yang buntu, tetapi tidak semua jalan buntu. Percayalah bahwa jumlah jalan yang tidak buntu pada dasarnya lebih banyak dari jalan yang buntu.
4.        Kembangkan kemampuan mengevaluasi dan kemauan belajar. Apapun hasil yang anda peroleh, biasakanlah untuk melakukan refleksi sejenak. Merenung dan mencari makna dari pencapaian yang anda peroleh akan membiasakan anda untuk belajar dari pengalaman dan masa lalu. Ini akan membuat anda semakin ahli dan memiliki khasanah berfikir yang luas dalam memperkirakan pola-pola yang akan terjadi di dalam perjalanan berikutnya.
5.        Selalu berfikir kreatif. Dalam berfikir kreatif anda melakukan penciptaan jalan keluar dari suatu masalah yang tidak sebatas mengikuti yang sudah standar atau yang sudah terjadi. Cobalah memikirkan hal-hal baru, dengan memanfaatkan perspektif, sudut pandang, dan paradigm berfikir yang lebih variatif.

Ok, selamat bersusah payah mewujudkan mimpi dan keinginan, semuanya serba mungkin kok!. Yang tidak mungkin adalah hanya memakan kepala sendiri (sekreatif apapun, kayanya ga mungkin deh orang bisa memakan kepalanya sendiri…

Regards,
Yudi Riswandy, 
www.goesmart.com


Jumat, 10 Mei 2013

Ketika UN Masih menjadi Penentu Kelulusan

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Jika ada pertanyaan kebijakan pendidikan apa yang paling kontroversial di Indonesia saat ini? Tampaknya  sebagian besar orang akan menunjuk pada dua kata yaitu Ujian Nasional.  Memang, sejak kelahiranya tahun 2005, di masyarakat (umum, praktisi maupun teoritisi pendidikan), kebijakan Ujian Nasional senantiasa menjadi bahan perdebatan yang tajam. Di satu sisi, ada sebagian pihak yang mendukung dan sebagian lagi ada yang jelas-jelas menentang kehadiran,  tentu dengan argumentasinya masing-masing.
Kelompok pendukung ujian nasional pada umumnya menganggap bahwa ujian nasional masih diperlukan, terutama untuk kepentingan pengendalian mutu pendidikan secara nasional dan penegakan akuntabilitas pengelola dan penyelenggara pendidikan. Sementara, dari pihak yang menolak kehadiran Ujian Nasional menganggap bahwa kehadiran Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan telah banyak madlaratnya dari pada manfaatnya, baik dilihat dari sisi psikologis, ekonomis, yuridis dan terutama pedagogis. [lihat tulisan ini: Kemdikbud, lakukan reposisi terhadap Ujian Nasional!]
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan PGRI pada tahun 2012 menunjukkan bahwa sebagian besar guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah menganggap kebijakan ujian nasional (UN) tidak tepat.  Sebanyak 28,57 persen, guru menganggap UN sebagai kebijakan yang tidak tepat, dan 42,86 persen sangat tidak tepat.  Kepala sekolah menganggap kebijakan UN tidak tepat 26,15 persen, dan 49.23 persen menganggap kebijakan UN sangat tidak tepat. Adapun pengawas sekolah sebanyak 27 persen menganggap kebijakan UN tidak tepat dan sangat tidak tepat 41,77 persen. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Sulistiyo, bahwa munculnya pesepsi dari ketiga unsur praktisi pendidikan tersebut disebabkan karena Ujian Nasional tidak berhasil meningkatkan semangat belajar, menimbulkan kecurangan, menimbulkan ketegangan murid, dan menanamkan mental koruptif pada anak. (Kompas.com, 16-04-2013).
Untuk meredusir polemik dan masalah yang berkaitan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional ini,  sejak tahun 2011 pemerintah telah berkompromi dengan menetapkan “sharing”  kontribusi penentuan kelulusan siswa menggunakan formulasi : 40% nilai sekolah dan 60% nilai ujian nasional. Tetapi ketentuan ini tampaknya belum menjadi obat mujarab, malah beresiko memunculkan masalah baru dalam bentuk praktik penggelembungan (bubble) nilai siswa, yang tidak menggambarkan kemampuan sebenarnya.
Dalam pandangan saya, ketika sekolah memaksakan dan dipaksakan (oleh  para pemaksa) untuk fokus pada ujian nasional dan menjadikan ujian nasional sebagai tujuan, maka secara langsung atau tidak langsung di sana akan terjadi pengikisan keutuhan makna pendidikan. Proses pendidikan tidak lagi dipandang sebagai proses pemanusiaan manusia, tetapi sudah tergelincir dan terjebak pada proses dehumanisasi dan domistikasi guna mencapai target keberhasilan kognitif semata atau mungkin target di luar kepentingan pendidikan itu sendiri. Lebih parah lagi, ketika ujian nasional masih selalu diwarnai dengan berbagai kecurangan yang sistemik dan disengaja [lihat tulisan ini, Oh, UN itu Begini?], maka anak-anak kita sesungguhnya telah kehilangan dua hal penting dalam hidupnya, yaitu intelektual sekaligus moralnya.
Tahun 2013 ini puteri bungsu saya tercatat sebagai peserta Ujian Nasional SMA. Saya berusaha meyakinkan anak saya untuk tidak tergoda menyontek. Saya katakan kepada dia, bahwa saya adalah orang yang lebih percaya pada proses ketimbang hasil. Kewajiban dia adalah berusaha belajar dengan sebaik mungkin dan mengisi soal-soal ujian nasional sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Persoalan hasil (lulus atau tidak lulus), itu adalah urusan Tuhan, bukan menjadi kewajiban dia. Saya tegaskan pula, sebagai orang tua, saya tetap bangga, kalau nanti hasil ujiannya tidak sesuai dengan harapan, yang penting sudah berusaha sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya.
Begitulah refleksi saya terkait dengan hiruk pikuknya pelaksanaan Ujian Nasional 2013. Bagaimana menurut Anda?
Meski kita belum mampu menyediakan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak kita tetapi paling tidak berikanlah mereka pendidikan yang tepat dan benar.

Regards, Yudi Riswandy, www.goesmart.com

Selasa, 07 Mei 2013

Guruku, Pahlawanku

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Kurang lebih satu tahun yang lalu terjadi suatu fenomena yang sangat mengejutkan, adalah adanya sejumlah guru yang melakukan aksi baik di Ibu Kota maupuan di daerah-daerah lainnya, baik itu dalam rangka menuntut peningkatan kesejahteraan guru ataupun lain sebagainya. Komentarpun bermunculan dalam berbagai corak yang bersifat mendukung, menyesalkan, sinis, atau acuh, atau menilai dengan bermacam-macam tudingan. Memang disadari bahwa kurang tepat kalau guru melakukan aksi berupa demo, sebab hal itu tidak sesuai dengan tuntutan jatidiri guru sebagai sumber nilai-nilai normatif. Akan tetapi dari sisi lain dapat dikatakan bahwa perbuatan itu sebagai sesuatu yang wajar terjadi.

Sesungguhnya yang nampak itu hanyalah sebagaian kecil saja dari permmasalahan besar yang ada di sekitar guru itu, seperti gunung es yang sebagaian besar berada di bawah laut. Kalau mau melihat dalam cakrawala yang cukup luas disertai daya nalar yang jernih dan empatik serta sikap yang arif, maka apa yang terjadi dalam bentuk demo merupakan suatu bentuk dinamika prilaku para guru sebagi manusia biasa. Tuntutan kenaikan kesejahteraan hidup merupak puncak gunung es yang nampak di permukaan laut, akan tetapi permasalah besarnya adalah kondisi kekecewaan yan telah terpendam dalam kurun waktu yang cukup lama seusia negara dan bangsa ini. 

Berangkat dari penjelasan di atas, maka permasalahan atau tantangan yang terkait dengan kondisi guru dan memerlukan perhatian dalam upaya menanganinya antara lain sebagai berikut.

1.Kuantitas, kualitas, dan distribusi
Dari aspek kuantitas, jumlah guru yang ada masih dirasakan belum cukup untuk menghadapi pertambahan sisiwa serta tuntutan pembangunan sekarang. Dari aspek kulaitas, sebagian besar guru-guru dewasa ini masih belum memiliki pendidikan minimal serta kompempetensi yang dituntut. Dari aspekpenyebarannya, masih terdapat ketidakseimbangan penyebaran guru antar sekolah dan antar daerah. Dari aspek kesesuaiannya, di SLTA dan SM, masih terdapat ketidaksepadanan guru berdasarkan mata pelajarannya.

2.Kesejahteraan
Dari keadilan kesejahteraan guru, masih ada beberapa kesenjangan yang dirasakan sebagai perilakukan diskriminatif para guru seperti antara guru dengan PNS lain. Dari aspek imbalan jasa, baik yang bersifat materi maupun non-materi, harus diakui masih jauh dari “memberikan kepuasan” dan “keadilan”. Pendapatan yang diperoleh guru dibandingkan dengan tugas dan tanggung jawabnya masih sangat jauh. Hubungan atar pribadi, yang sampai saat ini masih dirasakan belum memberikan perwujudan yang memuaskan. Kondisi kerja para guru, baik yang bersifat fisik maupun non fisik masih belum memberikan derajat kepuasan, meskipun relatif lebih baik dibandingkan dengan masa lalu. Namun tempat mengajar yang belum memenuhi dapat mempengaruhi kondisi kerja guru yang pada gilirannya akan berpengaruh pada semangat dan kepuasan kerja. Kasusnya adalah kelas bocor, lantai pecah, ruang kelas roboh, kekurangan alat bantu, halaman sempit dan kotor, dsb. Selanjutnya adalah kesempatan meningkatkan dan mengembangkan karir yang masih sulit diakses oleh guru. Dan yang terakhir adalah sistem pengolongan dan jenjang karir guru, yang ada sekarang belum memberikan rangsangan motivasi kerja.

3.Manajemen Guru 
Dari sudut pandang manjemen SDM guru, guru masih berada dalam pengelolaan yang berisifat biokratis-administratif yang kurang berlandaskan paradigma pendidikan (antara lain manajemen pemerintahan, kekuasaan, politik, dsb.). dari aspek unsur dan prosesnya, masih ada kekurangterpaduan atara sisitem pendidikan, rekrutmen, pengangkatan, penempatan, supervisi, dan pembinanan guru. 

4.Penghargaan Terhadap Guru
Sperti dikemukakan di atas, hingga saat ini guru belum mendapatkan penghargaan yang memadai. Selama ini pemerintah telah berusaha untuk memberikan penghargaan kepada guru dalam bentuk pemilihan guru teladan, lomba kreatifitas guru, guru berprestasi, dsb. Meskipun belum meberikan motivsi kepada para guru. Sebutan “pahlawan tampa tanda jasa” lebih banyak dipersepsi sebagai pelecehan ketimbang penghargaan.

5.Pendidikan Guru
Sistem pendidikan guru baik pra-jabatan maupun dalam jabatan masih belum memberikan jaminan dihasilkannya guru yang bermutu dan berkewenangan disamping belum terkait dengan sisitem lainnya. Pendidikan guru terlalu menekankan pada sisi akademik dan kurang memperhatikan pebgembangan keperibadian disamping kurangnya keterkaitan dengan tuntutan perkembangan lingkungan.

Melihat begitu banyaknya masalah dan tantangan yang harus dihadapi guru baik di masa sekarang maupun masa yang akan datang, maka guru harus memiliki kompetensi-kompetensi yang akan membantunya menghadapi permasalahan tersebut. Sehingga pada akhirnya tujuan pendidikan yang telah dicanangkan akan bisa tercapai. Adapau kompetensi tersebut adalah:

1.Kompetensi Pedagogik. Yang meliputi: a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; b) pemahaman terhadap peserta didik; c) pengembangan kurikulum/silabus; d) perancangan pembelajaran; e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; f) evaluasi hasil belajar; g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2.Kompetensi Personal. Yaitu merupakan kemampuan keperibadian yang; a) mantap; b) stabil; c) dewasa; d) arif dan bijaksana; e) berwibawa f) berahlak mulia;g) menjadi teladan bagi peserta didik; h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.

3.Kompetensi Sosial. Yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk: a) berkomunikasi lisan dan tulisan; b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; c) bergaul secara efekti dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua / wali peserta didki; dan d) bergaul secara sentun dengan masyarakat sekitar.

4.Kompetensi Profesional. Merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secar luas dan mendalam meliputi: a) konsep, struktur, dan metode kelilmuan/teknologi/seni yang koheren dengan materi ajar; b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah: c) hubungan konsep antara mata pelajaran terkait; d) penerapan konsep kelimuan dalam kehidupan sehari-hari: kompetensi profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

Sejalan dengan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa yang mendatang akan semakin kompeks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai penigkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya. Sehingga guru harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajran siswa. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang semakin capat, ia akan terpuruk secara profesional. Untuk menghadapi tantangan profesional tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaharuan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus.

Di samping itu, guru masa depan harus paham akan penelitian guna mendukung efektifitas pembelajaran yang dilaksanaknnya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru tidak terjebak pada praktek pembelajran yang menurut asumsi mereka efektif, namun kenyataannya justru mematikan kreatifitas para siswanya. Begitu juga dengan hasil penelitian yang mutaakhir, memungkinkan guru untuk mengembangkaan pembelajran yang bervariasi dari tahun ketahun, disesuaikan dengan kontek ilmu pengetahun dan teknologi yang sedang berlangsung.
Akhirnya, setelah setahun peristiwa tersebut berlalu. Apakah sudah ada sebuah perbaikan yang cukup signifikan? Maju terus para guru Indonesia!!!!!

Regards,
Yudi Riswandy
www.goesmart.com

Senin, 06 Mei 2013

Berawal dari Artikel di blog hingga Terbit Menjadi Sebuah Buku

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Saat pertama kali membuat blog tidak pernah sedikitpun membuat buku. Ketika itu yang terpikir hanyalah latihan menulis karena kalau pakai tangan malas. Ketika pertama menggunakan blogger sering mengalami kesulitan karena mungkin kurang friendly. Tetapi ketika ada wordpress langsung beralih.

Tiap hari membaca blog tutorial baik dari luar negri maupun dalam negeri. Untuk tutorial blog diantaranya Fatih Syuhud dan Rivermaya sedangkan dari luar Problogger dan Daily blog Tips.

Dari 4 blog inilah terus membuat artikel. Dan saat itu mendekati haji sehingga yang terpikir saat itu untuk berbagi wawasan tentang perjalanan haji yang telah dilakukan. Dan saat itu berpikir semoga bermanfaat bagi calon jemaah haji.

Saat melihat di statistik ternyata banyak yang mengakses dan sekitar september beralih ke hosting dan beli domain name sendiri. Dengan bertitel Dunia Fana saat di wordpress, cek ke whois.net ternyata masih available langsung beli.

Setelah hosting sendiri terpikir untuk membuat buku namun berbentuk pdf dan gratis dibagikan. Suatu saat berkenalan dengan penulis anak dan dia berbagi waasan serta memperkenalkan ke dunia buku. Dia menyarankan agar membuat buku dari pada pdf mengingat kalau berbentuk buku akan lebih banyak yang membaca dan bagi saya akan lebih bermanfaat karena bisa membuat buku lain.

Ternyata menulis pengalaman haji versi blog dan versi buku jauh beda. Banyak aturan yang harus diperhatikan seperti EYD dsb. Kalau blog kan gak peduli. Lagipula kalau di blog begitu ingat padahal yang diingat tersebut awal kejadian bisa langsung diceritakan di tengah atau di akhir.

Awalnya pusing memikirkan bagaimana caranya. Solusinya ya beli buku cara menulis. Saat menulis bukuku, melihat ada peluang menulis bersama Kang Shodiq (M.Shodiq Mustika) dan coba coba melamar. Eh keterima. tapi kebersamaan ini gak langgeng karena ternyata kesibukanku gak bisa terus akhirnya kuputuskan berhenti. Dan Kang shodiqpun memahami karena menulis memang membutuhkan energi, waktu dsb. Bukan menulis saja yang terlantar bahkan blog inipun terlantar.

Namun kucoba untuk terus menulis buku setelah banyak teman-teman yang mendukung dan memberikan semangat. Alhamdulillah selesai.

Sayapun minta endorsement ke Kang Shodiq. Alhamdulillah Kang Shodiq bersedia.

Selesai endorsement mulailah cari penerbit yang menerima pakai email. Ada penerbit yang menolak naskah namun mereka juga memberi alasannya.

Mengapa mencari yang bisa kirim pakai email karena sekarang dunia digial. Dan penuliskan biasanya tidak terlalu besar dapat royaltinya ya mending juga kirim pakai email selama pnenerbit memang mau menerimanya.

Alhamdulillah ada jawaban dari OASE Mata Air Makna dan mereka bersedia menerbitkan.

Setelah tanda tangan perjanjian ( dikirim lewat pos). Jadilah buku ini sekarang yang dapat Anda temui di toko buku.



Written by :
 Aries Purwantoro 
Regards, Yudi Riswandy, www.goesmart.com

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)