Jumat, 24 Mei 2013

Sekolah alam sebagai salah satu jawaban terhadap tantangan era globalisasi

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Oleh:  Salwa (wawa.live@yahoo.co.id)
Alumni : alumni IKIP Negeri Malang tahun 1999 dan sekarang sedang menempuh Master of Arts in TESOL di Flinders University, South Australia. Bekerja : sebagai tenaga pengajar di Universitas Islam Negeri Malang
Ada sebuah anekdot tentang masa depan. Kelak jika seorang anak di tanya, “darimanakah telur itu berasal?”, dengan spontan ia akan menjawab, “telur berasal dari supermarket”. Lalu “bagaimanakah cara ayah mendapatkan uang untuk membeli telur”? Ia akan menjawab “ Kan tinggal mengambilnya di ATM”. Mungkin orang akan tertawa ketika mendengar cerita di atas, namun bukankah itu sebuah ironi?. Di abad yang memiliki kemajuan seperti roket yang melesat, segalanya memang bisa diakses dengan mudah. Tekhnologi telah menyajikan tentang itu, namun tak menutup kemungkinan cerita diatas menjadi kenyataan, sebab di masa yang akan datang, tak semua anak-anak dapat bersentuhan langsung dengan alam sekitarnya, Kini banyak ruang bermain yang hilang dari lingkungan sekitar kehidupan mereka. Tempat bermain yang alami memang tak tergantikan dengan tempat bermain buatan, walau dengan tekhnologi yang modern.

SEKOLAH ALAM SEBAGAI PENYEIMBANG
Sekolah kini telah identik dengan sebuah bangunan megah dengan tembok-tembok yang menjulang, coba, apa yang sering kita bayangkan, apa yang tergambar dalam benak kita jika mendengar kata sekolah. Lalu, coba kita bandingkan, apa yang ada dalam benak kita, jika kita mendengar kata pendidikan? Apakah seorang guru yang disiplin, dengan penggaris kayu di tangan, dan murid-murid yang duduk bersedekap dengan tangan diatas meja, memakai baju putih rapi dengan rambut yang tersisir basah. Atau mungkin rumus-rumus matematika dan fisika?.
Sekolah dan pendidikan, telah menyajikan wajah yang lain, dengan batasan-batasan yang kita ciptakan sendiri, atau tak sengaja tercipta karena pemahaman yang sempit tentang keduanya. Bukankah di zaman globalisasi, semuanya serba tak terbatas oleh sekat-sekat jarak dan waktu? Hendaknya kita mulai memahami tentang itu.
Sebuah gagasan cerdas, mulai di kembangkan di Negara berkembang Indonesia, Negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Hutan, laut, gunung, air, udara,dengan beribu pulau hijau yang terbentang dari sabang di Aceh sampai Merauke di Papua, adalah surga bagi kehidupan didalamnya. Termasuk bagi anak-anak yang tumbuh berkembang dengan tersenyum. Gagasan tersebut adalah ‘Sekolah Alam’.
Indonesia adalah bagian dari negara-negara di dunia. Globalisasi sangat dirasakan di Indonesia, hampir di segala bidang. Cepatnya arus globalisasi, kadang membuat Negara berkembang dengan dua ratus juta lebih penduduknya ini terengah-engah karena harus berkejaran dengan waktu dan arus tekhnologi.
Termasuk globalisasi dibidang pendidikan, adalah perhatian yang penting dalam hal ini. Kemoderenan hendaknya tidak membuat kita terbang terlalu tinggi sehingga membuat kaki anak-anak kita tak lagi menjejak di bumi. Jalan tengah adalah dengan adanya sarana pendidikan yang memadukan keduanya, antara kemoderenan dan alam.
Kita berharap anak-anak kita tidak hanya bisa bermain namun juga kreatif. Bermain dengan permainanan yang beraneka ragam, dan bukan hanya bermain playstation, Nintendo, atau game online di rumah. Tentu banyak permainan yang membuat mereka lebih kreatif. Kita berharap, anak-anak kita bisa bersosialisasi, namun bukan hanya lewat facebook atau e-mail di komputer. Biarlah mereka mengembangkan kepribadiannya dengan tatap muka bersama lingkungan sosialnya. Bersahabat dengan teman-teman dari berbagai latar belakang sosial, agama, maupun budayanya, tentu sebagai pelajaran berharga bagi mereka. Kita berharap anak-anak mengerti perihal alam ini, namun bukan hanya dengan browsing di dunia maya untuk melihat sawah, ternak, atau lautan, namun mereka bersentuhan dengan alam sekitanya setiap saat, tanpa menunggu hari libur sekolah atau menunggu program outbound dan rekreasi sekolah.
Manusia dianugrahi indra penglihatan, sentuh, rasa, raba, dengar, dan penciuman untuk mengerti alam sekitarnya. Sekali lagi sekolah alam menjadi sebuah sentuhan di dunia pendidikan. Anak-anak di sekolah alam akan mengerti materi yang di sajikan tanpa merasa bosan karena metode belajar sambil bermain adalah ciri khas dari sekolah alam. Dengarlah, betapa cerianya tawa mereka ketika tangan kecil mereka bersentuhan dengan lumpur di sawah, mereka berkejaran di pematang sawah, di pantai yang landai, sambil belajar beraneka ragamnya ciptaan Tuhan yang maha kuasa. Mereka mengerti secara langsung, tanpa harus berimajinasi atau hanya melihat gambar-gambar, bagaimanakah bentuk bintang laut atau keong misalnya. Ini adalah pengalaman tak terlupakan bagi mereka, bahkan hingga mereka dewasa kelak.
WAJAH SEKOLAH ALAM DI INDONESIA
Tantangan adalah kata yang tepat dalam dunia kompetisi saat ini. Termasuk pada dunia pendidikan. Pengaruh globalisasi yang masuk si segala lini kehidupan, memberikan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Globalisasi tentu tak hanya identik dengan tekhnologi, namun faktor-faktor alamiah juga merupakan elemen dasar bagi berkembangnya tekhnologi itu sendiri. Alam tentu bukan hanya dapat di ekploitasi secara materi saja, namun begitu banyak sesungguhnya yang bisa kita pelajari dari alam.
Dalam bukunya Du de ‘education, Jean Jacques Rousseau ( 1712-1718) menggambarkan cara pendidikan anak sejak lahir hingga remaja. Rousseau menyarankan ‘back to nature’ dan pendekatan yang bersifat alamiah dalam pendidikan anak, yaitu : ‘Naturalisme’. Naturalisme berarti, pendidikan akan di peroleh dari alam, manusia atau benda, bersifat alamiah sehingga memacu berkembangnya mutu seperti kebahagiaan, sportifitas dan rasa ingin tahu. Dalam prakteknya, naturalisme menolak pakaian seragam (dress code), standarisasi keterampilan dasar yang minimum. dan sangat mendorong kebebasan anak dalam belajar. ( Artikel pendidikan network- Pendidikan Usia Dini yang Baik Landasan keberhasilan pendidikan Masa depan, Drs. H. Agus Ruslan, M. M.Pd).
Pada tahun 1997, sekolah alam mulai menampakkan eksistensinya di Indonesia. Gagasan tersebut tercetus dari seorang mantan staf ahli Mentri Negara BUMN, beliau adalah Lendo Novo.
Ir. Lendo Novo adalah alumni tekhnik perminyakan Institut Tekhnologi Bandung (ITB). Sejak tahun 1992, lendo merancang konsep sekolah alam, yaitu bagaimana murid-murid bisa belajar sambil bermain. Di tahun 1997, barulah beliau bisa  mewujudkan berdirinya Sekolah Alam, yaitu di Ciganjur, Jakarta Selatan.
DUKUNGAN PEMERINTAH
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak peringatan hari Pendidikan Nasional 11 Mei 2010 di istana negara mengatakan bahwa reformasi di bidang pendidikan harus terus di tindaklanjuti dengan menggunakan dua perspektif, yaitu mengembalikan pendidikan pada hakekatnya serta mengembangkan inovasi. Beliau juga mengatakan untuk mengembangkan pendidikan pada nilai-nilai dasarnya, maka harus ditinjau kembali kurikulum, metodologi, serta sistem evaluasi. Sedangkan untuk mengembangkan inovasi masa depan, maka anak didik harus di pacu mengembangkan keingintahuan intelektual dengan kebebasan berimaji konstruktif sebebas-bebasnya agar kreatifitas dapat tumbuh dalam pikiran mereka.
Yang perlu di garisbawahi pada pernyataan presiden adalah, mengembalikan pendidikan pada hakekatnya serta mengembangkan inovasi. Bukankah hakekat dari pendidikan adalah pengajaran tata perilaku yang seimbang antara material dan spiritual? Hal inilah yang dikembangkan di sekolah alam dengan pengembangan kurikulum yang memadukan pengajaran positif, pemikiran ilmiah, pengajaran kepemimpinan, serta jiwa kewirausahaan ( entrepreneurship).
Jelas ini adalah inovasi baru, dimana proses mengajar dan belajar bisa berlangsung dengan sangat menyenangkan. Terjadi di beberapa sekolah alam di Indonesia, murid-murid  justru senang bersekolah sehingga mereka tak menunggu-nunggu waktu pulang, mereka ingin agar esok pagi segera menjelang agar bisa bersekolah lagi. Ini adalah cara belajar mengajar yang unik dan menyenangkan bagi murid, orang tua, dan guru.
Pada peringatan hari Pendidikan Nasional tersebut salah satu sekolah alam di Indonesia juga menerima penghargaan sebagai sekolah perintis pendidikan karakter. Pendidikan karakter mutlak di butuhkan di zaman seperti ini, sebagaimana kata wakil mentri pendidikan nasional, Fasli Jalal, bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan karakter, harus diciptakan komunitas karakter sehingga pandidikan karakter tidak hanya bergaung di sekolah saja, tetapi juga sampai ke seluruh lapisan masyarakat.
SEKOLAH ALAM DAN GLOBALISASI
Globalisasi memang merupakan keuntungan, dimana informasi bisa di akses tanpa batas. Globalisasi juga sebagai motivasi bagi negara-negara berkembang untuk memacu eksistensinya agar lebih kompetitif di segala bidang, tak terkecuali bidang pendidikan. Pendidikan yang  baik bagi masyarakat adalah prasyarat mutlak bagi sebuah Negara jika ingin eksis di era globalisasi sekarang ini. Bagaimana mungkin sebuah Negara yang masyarakatnya kurang dalam skill dan knowledge untuk bisa bersaing di dunia internasional? Tentu akan sangat sulit.
Yang pertama adalah masalah biaya pendidikan. Pada beberapa negara berkembang, biaya pendidikan terasa sangat mahal bagi masyarakat. Tidak semua kalangan bisa mengenyam pendidikan hingga jenjang sekolah tinggi. Pemerintah memang telah memberikan anggaran yang cukup besar dalam bidang pendidikan, namun masih saja dirasakan oleh masyarakat, biaya pendidikan terasa amat mahal dan tak terjangkau.
Titik fokus yang membuat tingginya biaya pendidikan sering dikaitkan dengan pengadaan sarana-sarana penunjang belajar, seperti gedung sekolah, laboratorium, perpustakaan, dan lain sebagainya. Hal ini tentu tak bisa dihindari, karena memang menjadi penunjang kelancaran belajar mengajar.
namun untuk orang-orang yang kreatif, tentu bukan menjadi kendala. Bagi pemikiran yang inovatif, sekolah bukan lagi berwujud gedung yang megah, namun di mana saja ‘sekolah’ bisa diadakan. Di ladang, di pantai, di pasar, di peternakan, di pabrik, di mana saja. Kegiatan  belajar mengajar bisa di lakukan. Metode inilah yang diaplikasikan pada kurikulum belajar sekolah alam. Anggaran gedung yang menghabiskan banyak uang bisa diminimalkan.
Kedua, dampak dari ekploitasi alam yang  berlebihan adalah pemanasan global ( global warming), ruang terbuka hijau kini banyak berganti dengan beton-beton gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Kesadaran akan pentingnya pemeliharaan alam semakin menipis. Hal inilah yang harus kita perbaiki, generasi yang akan dating harus mengerti akan hal tersebut.
Sekolah alam juga memiliki program-program ramah lingkungan, mengajak anak didik mencintai alam. Tentu hal ini seiring dengan program globalisasi yang berkaitan dengan pelestarian alam guna mengantisipasi global warming. Mengajak anak mencintai lingkungan sejak dini, mengajari mereka menanam pohon-pohon, mengajak mereka mengerti apa arti pentingnya udara yang bersih, air yang jernih, bahaya pencemaran, bahkan mengajak mereka mengenal kebijakan-kebijakan tentang perlindungan alam sekitar. Tentunya hal ini akan memberikan dasar yang kuat bagi pelestarian lingkungan di masa yang akan dating. Karena merekalah yang nanti akan berperan besar, setelah mereka dewasa. Sekolah alam kini mulai menampakkan hasil atas kiprah peranannya, setelah sepuluh tahun lebih berjalan, dengan program-program cerdasnya.
Ketiga, banyaknya orang tua yang ‘panik’ terhadap kemajuan di era informasi ini, membuat anak-anak ‘terpaksa’ mengikuti keinginan orang tuanya, dengan bersekolah di sekolah-sekolah yang memberikan beban tugas berat bagi anak didiknya. Sebab pandangan klasik orang tua yang ingin agar anaknya bisa hidup dengan kemampuan serta kepandaian di masa yang akan datang. Anak dipacu agar memiliki keahlian sedini mungkin, agar di masa ia dewasa nanti bisa mendapatkan penghasilan dan keahlian atau bisa bekerja dengan kemampuan otaknya. Padahal belum saatnya anak memikirkan tugas-tugas sekolah yang begitu rumit. Hal ini sering membuat anak kehilangan waktu bermain yang menjadi masa paling menyenangkan dan tak terlupakan dalam hidupnya kelak. Sedangkan bagi orang tua yang kurang mampu, kebutuhan ekonomi keluarga yang besar, seringkali membuat anak-anak harus meninggalkan waktu bermain, bahkan waktu belajar, karena harus bekerja membantu ekonomi keluarga. Hal ini sering terjadi di negara-negara berkembang.
Sekolah alam, juga tampil sebagai solusi bagi hal tersebut. Bagi orang tua yang mampu dalam hal financial, ia akan mengerti tentang pentingnya masa bermain bagi putra-putrinya, bahkan bisa mengajarkan karakter sosial pada anaknya. Anak juga di ajak mengerti bahwa kekayaan bukanlah satu-satunya pemecahan masalah, bagi problem hidupnya kelak. Bagi orang tua yang kurang mampu, ia dapat bersekolah di sekolah alam dengan biaya yang terjangkau. Akhirnya masalah tersebut dapat teratasi. Pendidikan pun dapat berlangsung untuk eksisnya generasi di era globalisasi yang ketat ini.
Keempat, bagi guru di sekolah alam, otomatis harus memacu kompetensi serta kreatifitasnya karena sekolah alam menghendaki pengajar-pengajar yang kreatif dan inovatif. Tentu pengajar yang akan terpacu untuk memperdalam keahliannya dengan metode-metode pengajaran yang up to date. Di era globalisasi ini, jalinan informasi serta komunikasi harus dilakukan untuk menambah pengetahuan serta skill bagi pendidik, disamping ketauladanan dalam membina anak didik. Pola komunikasi antara sekolah serta orang tua murid haruslah dibina dengan baik, agar ‘sekolah’ bisa berlangsung baik di sekolah alam maupun di rumah. Tentu pola komunikasi ini juga memerlukan kepiawaian seorang pendidik, ketika berhadapan dengan orang tua murid yang masih berpandangan awam terhadap metode-metode kurikulum di sekolah alam. Ini adalah tantangan tersendiri bagi pelaksana  dan pendidik di skeolah alam. Pada akhirnya pendidik akan memiliki keahlian komunikasi yang baik, bukankah komunikasi yang baik sangat diperlukan di era informasi ini?
KESIMPULAN
Disamping sebagai sarana belajar dan mengajar, sekolah alam juga merupakan jawaban bagi tantangan globalisasi. Globalisasi memang merupakan tantangan yang tak bisa kita hindari, namun secara tak langsung globalisasi juga merupakan motivasi yang kuat untuk memajukan potensi generasi. Perilaku yang kreatif, kreatifitas yang optimal, kepemimpinan yang kuat disertai intelektual yang cerdas merupakan prasyarat mutlak untuk menjawab tantangan tersebut. Sekolah alam telah berupaya untuk mewujudkannya dengan segala kompetensi yang dimiliki.
Seorang yang bijak berkata,’Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Sekolah alam menggeliat dalam kesederhanaanya, namun betapa banyak bintang-bintang kecil yang terang berkilauan di sana, berkedip, semakin terang dan melesat menuju masa depan yang gemilang berkilauan. ( Salwa).
Regards, Yudi riswandy, www.goesmart.com

Selasa, 21 Mei 2013

Body Piercing: Fenomena “Menggelitik” pada Remaja

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Suatu malam saya pergi ke sebuah pasar di kota tempat saya tinggal dengan menumpang angkutan umum (angkot). Di sebuah perempatan lampu merah, ketika angkot berhenti menunggu lampu hijau, tiba-tiba saya dikejutkan oleh penampilan seorang remaja putri yang kebetulan ikut menunpang. Ia berpenampilan luar biasa ekstrim dan mencolok menurut ukuran saya, hingga saya tertarik memusatkan perhatian kepadanya selama kira-kira tiga puluh menit. Selama kurang lebih tiga puluh menit saya benar-benar asyik mengamati si nyetrik ini dan menghubungkan penampilannya dengan sedikit pengetahuan yang ada di kepala saya. Perkiraan saya, anak ini berumur antara 17 atau 18 tahun jika dilihat dari penampilan fisiknya. Ia berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berkulit kuning langsat dan cenderung agak kumal dan awut-awutan. Dia mengenakan celana jeans berwarna biru yang agak ketat dan kaos hitam. Di bagian wajah, ada semacam cincin dan semacam bola-bola kecil, entah apalah namanya, yang jelas benda itu ditusukkan hingga mencantel, persis seperti anting pada telinga (tindik). Satu di hidung, satu di alis kanan, dua di telinga kanan, dan satu lagi di lidah. Benda yang terakhir ini yang paling mencengangkan, kenapa harus dipasang di lidah?
Secara umum, kebiasan melubangi bagian tubuh dan diberi ornamen disebuttindik. Di kalangan anak muda di sebut tindik tubuh, bahkan sudah diberi labelseni menindik tubuh. Sedangkan di masyarakat Barat disebut body piercing. Sebenarnya tindik-menindik tubuh ini sudah ada sejak jaman dahulu. Menurut sejarah, tindik sudah dikenal sejak 3000 SM yang terdapat pada mumi tertua,Otzi The Iceman. Mumi ini memiliki lubang pada telinganya yang berdiameter 7-11 mm. Sejarah juga mengindikasikan bahwa tindik juga terjadi di zaman Romawi (abad 400 hingga 200 M). Sedangkan di Negara kita sendiri, bisa dilihat dari keseharian suku Dayak di Kalimantan hingga saat ini.
Motivasi menindik tubuh bermacam-macam. Zaman sekarang, motivasi menindik tubuh telah banyak perubahan. Pada awalnya, orientasi menindik tubuh hanya terbatas pada unsur spiritual, status sosial atau ritual-ritual tertentu. Konon dahulu kala di Mesir, tindik di pusar menjadi ritual; Tentara Romawi menindik putingnya untuk menunjukkan kejantanan; Suku Maya menindik lidah sebagai ritual spiritual; dan anggota kerajaan Victoria dahulu memilih menindik puting dan alat genitalnya. Saat ini, menurut banyak sumber, orientasi dan motivasi menindik diantaranya adalah; penasaran, demi seni, meneruskan tradisi nenek moyang, supaya dikatakan keren atau cool, trend,serta tuntutan komunitas. Bahkan ada juga yang menindik tubuhnya dengan argumen yang sangat tidak masuk akal, yaitu senang menyakiti diri.
Pada zaman modern, budaya tindik diprovokasi oleh semangat penolakan dan pembangkangan terhadap norma sosial hingga terbentuk image anti-sosial. Pada tahun 2003, Tempo Online merilis tulisan tentang pengakuan seorang pemuda pemilik tempat tindik tubuh di suatu daerah di Indonesia. Pemuda ini sendiri menindik tubuhnya di berbagai bagaian; telinga, hidung, bibir dan lain-lain. Menurut pengakuannya, dia tidak percaya dengan agama dan ikatan keluarga. Ia pun dengan bangga mengatakan “Saya ingin mengubah dunia, yang dimulai dari diri sendiri dan membangkang dari keluarga”. Perkataan ini dilatarbelakangi oleh larangan orang tuanya ketika ia akan menindik bagian tubuhnya yang pertama, hingga dia melarikan diri dari rumah. Inilah salah satu contoh motivasi menindik tubuh di zaman sekarang.
Menindik tubuh bisa dilakukan dengan banyak cara dan bisa dilakukan di banyak tempat. Bahkan sudah banyak penindik-penindik professional yang konon benar-benar menempuh pendidikan formal body piercing di luar negeri. Biasanya tempat menindik tubuh ini satu paket dengan tempat membuat tato. Tempat-tempat seperti ini sudah kian mudah dijumpai di tempat-tempat umum seperti Mall. Secara umum, ada empat cara menindik; cara tradisional, cara medis, metode cannula, dan menggunakan senapan tindik. Cara tradisional sama dengan cara dulu yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Seseorang yang ingin menindik tubuhnya  menggunakan alat yang tajam, seperti jarum. Lalu dipanaskan dan ditusukkan ke bagian tubuh yang akan ditindik. Secara medis, penindikan menggunakan jarum khusus untuk melubangi bagian tubuh yang ingin ditindik. Biasanya tenaga medis mencari rongga kosong diantarafistula, keadaan abnormal suatu jaringan yang diantara dua epithelium (jaringan kulit). Kemudian, yang juga dilakukan oleh tenaga medis adalah metodecannula. Metode ini dilakukan dengan memasukkan sejenis tabung ke bagian tubuh yang akan ditindik, cara kerjanya mirip seperti chateter. Cara terakhir yaitu menggunakan senapan tindik. Ada alat khusus seperti senapan pada umumnya, tapi digunakan untuk menindik. Biasanya penindik sudah melengkapinya dengan satu perhiasan kecil diujung jarumnya. Sehingga begitu jarum menyentuh bagian tubuh yang ingin ditindik, seketika itu pula perhiasan itu menempel di tubuh.
Berdasarkan cara penindikan seperti dijelaskan di atas, jika ditanya orang yang ditindik “sakit apa tidak? Jawabannya pastilah sakit. Selain itu, banyak sekali sumber menyebutkan bahwa proses tindik ini sangat beresiko, terutama pada sisi medis, diantaranya:
  •        Penyakit menular lewat darah (blood borne diseases), seperti hepatitis B dan C, tetanus, serta HIV.
  •       Reaksi alergi. Bahan tindikan dari nikel atau kuningan dapat menyebabkan reaksi alergi.
  •       Penyakit mulut dan merusak gigi hingga gusi bengkak karena infeksi.
  •       Guratan dan keloid, akibat pertumbuhan berlebih jaringan parut, seperti bekas luka.
  •       Kanker.
  •       Trauma tindik, seperti robek karena kecelakaan. Kadang memerlukan pembedahan atau jahitan yang bisa meninggalkan bekas luka atau cacat permanen.
  •       Menyebabkan gangguan pada otak.

Resiko-resiko ini bukan isapan jempol belaka. Banyak contoh kasus telah terjadi. Berdasarkan berita dari The Sun, seorang wanita di Caerphillymeninggal karena keracunan darah dua hari setelah melakukan tindik lidah. Jurnal Archives of Neurology seperti dilansir BBC melaporkan, seorang pria berusia 22 tahun meninggal di rumah sakit setelah mengalami abses otak atau penumpukan nanah di otak, ini juga karena reaksi setelah menindik lidah. Bahkan sebuah penelitan di Australia pada tahun 2006 mengatakan bahwa hampir semua penindik di Adelaide (Australia) pernah menangani kasus alergi setelah klien ditindik. Rata-rata setiap pendindik menangani lebih dari 31 orang yang terkena kasus seperti ini. Setelah melihat fakta-fakta ini tentu makin mengherankan kenapa banyak orang yang mau menindik bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Lebih mengherankan lagi, sebagian besar penggandrung tindik ini adalah para remaja. Apakah resiko-resiko seperti tertulis di atas sepadan dengan dalih seperti; untuk mengekspresikan diri, hak azasi, tuntutan komunitas, demi trend, supaya dikatakan cool dan sebagainya? Rasanya jauh dari sepadan.
Sekarang kita ulas sedikit alasan kenapa para remaja banyak yang menyukai tindik ini. Sebagaimana kita ketahui, usia remaja merupakan usia transisi menuju kedewasaan. Usia ini adalah usia dimana manusia benar-benar dalam masa perkembangan yang penuh kebimbangan. Usia remaja tak ubahnya seperti bahtera yang diterpa gelombang di tengah laut yang baru dilayarinya. Masa dimana manusia mengalami perkembangan baik secara fisiologis/fisik dan psikologis. Perkembangan fisiologis diantarnya ditandai dengan mulai mimpi basah (laki-laki) atau menstruasi (perempuan), perubahan otot dan suara, dan perkembangan gerak motorik tertentu. Perkembangan psikologis biasanya diikuti oleh perkembangan pemikiran, perasaan, penalaran, dan emosional yang kian kompleks.
Perkembangan yang ke-dua, perkembangan psikologis, membuat remaja cenderung mengisolasi diri, gelisah, murung dan menentang. Hingga identitas mereka bisa dilihat dari kecenderungan mereka seperti; kurang peduli dengan lingkungan, sering melakukan penentangan, emosi tidak stabil, mudah tersinggung, menghindari tanggung jawab, dan kurang menghargai aturan. Kesemuanya ini menggambarkan kegamanagan mereka. Ini semua proses yang harus mereka alami dalam rangka perubahan status sosial dari kanak-kanak menuju dewasa. Dengan kata lain, mereka sedang mengembangkan identitas tertentu untuk dirinya. Jadi perlu difahami bahwa remaja sedang mengalami krisis identitas sehingga mudah sekali terinfeksi bermacam-macam isu, baik positif maupun negatif.
Tugas penting seorang remaja dalam mengembangkan identitiasnya adalah membuat konsep tentang siapa dia, apa yang dia kerjakan, dan kemana dia pergi. Dalam usahanya menemukan konsep ini, remaja membuat standar sendiri dan mengevaluasinya dengan perilaku orang lain. Kemudian ia akan menghormati dan mengadopsi konsep yang ia temukan. Jika ia gagal menemukan konsep ini, maka akan terjadi kebimbangan lantaran gagal menemukan siapa dirinya dan posisinya akan sangat tidak pasti. Ini juga akan mendorong frustasi yang berat. Sebagaimana kita ketahui, standar moral dan nilai-nilai yang diadopsi oleh remaja sebagian besar berasal dari keluarga, terutama orang tua dan juga lingkungan. Lingkungan ini luas sekali cakupannya, bisa lingkungan sekolah, tetangga dan lain-lain. Ini semua yang kelak akan menjadi bagian dari identitas mereka.
Poin penting yang perlu kita garis bawahi tentang usia remaja adalah krisisidentitas dan proses pencarian jati diri. Jika kita kaitkan dengan keheranan kita di atas, tentang gandrungnya para remaja melakukan tindik tubuh, maka cukup beralasan jika kita katakan wajar jika “sepertinya suka”, walaupun tak sepenuhnya benar kegandrungan ini diartikan dengan kata “suka”. Dalam proses pencarian diri, mereka sangat membutuhkan bimbingan, arahan dan juga nilai-nilai sosial yang baik untuk diadopsi. Nah di sinilah titik temu antara remaja dan tindik. Remaja yang gandrung bertindik, kemungkinan besar adalah remaja yang tersesat dalam pencarian jati dirinya. Mungkin pada saat mereka menjalani masa transisi yang sangat labil ini, tidak mendapatkan perhatian maksimal dari orang tua mereka, hingga standar yang mereka butuhkan didapat dari sumber lain yang mungkin saja bukan berupa nilai-nilai sosial yang ideal, salah satunya seni tindik tubuh yang ekstrim.
Kesimpulannya, peran orang tua, guru, panutan, atau siapa saja yang terlibat dalam pembentukan seorang manusia sangat penting dalam perkembangan remaja. Peran ini bisa berupa memberikan perhatian maksimal, menyediakan standar sosial yang ideal dan juga arahan yang bisa diterima dengan baik oleh remaja. Dengan demikian diharapkan remaja tak akan mengadopsi hal-hal negatif yang pada akhirnya berkonstribusi pada pembentukan karakter mereka. Dapat kita bayangkan betapa meruginya mereka jika terlanjur melubangi telinga (khususnya remaja laki-laki), hidung, alis, bibir, lidah atau bahkan organ vital. Semua akses yang ditimbulkan dari tindik ini tak ada yang positif, terutama dari sisi medis. Berbagai resiko penyakit siap menyerang. Belum lagi jika mereka nanti mencari pekerjaan, para pengguna jasa akan sungkan menerima pekerja yang berpenampilan kurang wajar. Disney Land yang terkenal secara internasional sebagai tempat hiburanpun tidak menerima pegawai yang tidak berpenampilan wajar, termasuk yang bertindik atau bertato.
Oleh: Yupika Maryansyah

References;
Majalah Tempo
OnlineTempointeraktif.com
Detik.com

Regards, Yudi riswandy, www.goesmart.com

Senin, 20 Mei 2013

Efek Kata kata Baik & Kata Kata Buruk

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Ada sebuah tulisan cukup lama, semoga manfaat
Sebaiknya kita semua mulai mengendalikan Kata-kata yang keluar dari mulut kita dengan Kata-Kata yang Positif dan Baik.
Setelah mendengarkan info tentang pengaruh Kata-Kata Negatif terhadap Air yang ditulis dalam buku ” The Hidden Messages in Water ” karya Masaru Emoto dan pada halaman 31 buku tersebut disebutkan tentang banyaknya orang yg melakukan percobaan. Ada yang tertarik untuk melakukannya sbb:
Tempatkan Nasi sisa yg sdh didiamkan semalaman kedalam 2 toples dgn jumlah yg sama, kemudian ditutup rapat. Masing-masing stoples di tempelin label yg berisi kata2 sbb: Stoples A : ” Kamu Pintar, Cerdas, Cantik, Baik, Rajin, Sabar, Aku Sayang Padamu, Aku Senang Sekali Melihatmu, Aku Ingin Selalu di dekatmu, I LOVE YOU, Terima Kasih. Stoples B : ” Kamu Bodoh, Goblok, Jelek, Jahat, Malas, Pemarah, Aku Benci Melihatmu, Aku Sebel Tidak mau dekat dekat kamu ” Botol 2 ini saya letakkan terpisah dan pada tempat yg sering dilihat, saya pesan pada istri, anak, dan pembantu untuk membaca label pada botol tersebut setiap kali melihat botol2 tersebut. Dan inilah yang terjadi pada nasi tersebut setelah 1 minggu kemudian : Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Negatif ternyata cepat sekali berubah menjadi busuk dan berwarna hitam dgn bau yg tidak sedap.
Sedangkan Nasi dalam botol yg di bacakan kata-kata Positif masih berwarna putih kekuningan dan baunya harum seperti ragi.
Nah Silahkan teman-teman mencobanya sendiri.
Kalau di buku di katakan ada yg mencoba dgn tiga botol dimana botol ketiga tidak di beri label apa2 alias diabaikan / tidak diperdulikan, dan ternyat beras dlm botol yg diabaikan membusuk jauh lebih cepat dibandingkan botol yg dipapar kata ” Kamu Bodoh”.
Bayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita, pasangan hidup kita, rekan-rekan kerja kita, dan orang-orang disekeliling kita, bahkan binatang dan tumbuhan disekeliling kita pun akan merasakan efek yang ditimbulkan dari getaran-getaran yg berasal dari pikiran, dan ucapan yang kita lontarkan setiap saat kepada mereka.
Juga bagaimana jika kita kepada tanah air, negara kita, bangsa kita..
Misal sering kita dengar ungkapan… Ah Indonesia ini brengsek dsb.
Bagaimana jika kita ganti ucapan itu dengan mengucapkan atau dalam hati berkata.. Ah Indonesia.. masih belum maju… aku ingin memajukannya.. dan kita yakin banyak orang yang berpikir dan berusaha untuk memajukan Indonesia
Maka sebaiknya selalulah sadar dan bijaksana dalam memilih kata-kata yg akan keluar dari mulut kita, demikian juga kendalikanlah pikiran-pikiran yg timbul dalam batin kita.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.
Note : jika anda merasa tulisan ini bermanfaat utk orang lainnya silahkan forward kepada rekan2 anda, semoga dapat menimbulkan hal yg bermanfaat buat mereka. Terima kasih.
Notes:
Apa yang terjadi misalnya, jika para jamaah haji Indonesia selain mendoakan dirinya sendiri juga mendoakan masyarakat, bangsa negara dan lingkungannya. Demikian pula para peziarah dari agama non muslim misalnya ke lourdess dll juga mendoakan masyarakat, bangsa negara & lingkungannya
Apa yang terjadi jika setiap anggota masyarakat yang memasuki tempat ibadah sesuai agama & kepercayaannya masing2, selain berdoa bersama2 untuk dirinya sendiri juga berdoa untuk masyarakat, bangsa, negara & lingkungannya
Karena apapun yang terjadi saat ini.. masih ada harapan bahwa masyarakat, bangsa & negara kita untuk menjadi lebih baik.. juga lingkungan kita, meski saat ini bisa dikatakan lingkungan sudah hancur lebur karena keserakahan dan salah kelola… masih ada harapan untuk menjadi lebih baik..
dengan doa dan bekerja.. Semoga Tuhan Merestui
Regards, Yudi riswandy, www.goesmart.com

Rabu, 15 Mei 2013

Hindari Memotivasi dengan Ancaman!

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Dalam perspektif manajemen, salah satu tugas yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah berusaha memotivasi setiap individu yang dipimpinnya agar memiliki motivasi yang kuat dalam melaksanakan setiap tugas dan pekerjaannya, sehingga pada girilirannya dapat dihasilkan kinerja yang unggul.  Misalnya, untuk meningkatkan kinerja guru, kepala sekolah atau pengawas sekolah dituntut untuk dapat membina dan meningkatkan motivasi kerja guru. Demikian pula, untuk meningkatkan kinerja siswa (prestasi belajar siswa), seorang guru dituntut untuk dapat  membina  dan meningkatkan motivasi belajar siswanya.
Upaya memotivasi (motivating) individu dapat dilakukan melalui berbagai cara.  Menurut Huse dan Bowditch (1973), terdapat tiga model memotivasi seseorang, yaitu: (1) model kekuatan dan ancaman; (2) model ekonomik/mesin, dan (3) model pertumbuhan-sistem terbuka.
Yang akan kita bicarakan di sini adalah model yang pertama yaitu pemotivasian  model kekuatan dan ancaman (a force and coercion model). Model ini merupakan model tertua dan sangat sederhana dalam memahami atau memandang manusia.  Model ini mempratikkan pemotivasian dengan cara memaksa orang lain (baik melalui tindakan atau verbal) untuk berperilaku tertentu  dengan cara menggunakan ancaman,  intimidasi atau bentuk lain yang bersifat represif dengan menggunakan kekuatan (power), yang dimilikinya.
Asumsi yang mendasari model pemotivasian  model kekuatan dan ancaman ini adalah bahwa seseorang akan bekerja (belajar atau berperilaku) dengan baik apabila disudutkan pada sebuah situasi, di mana ia hanya bisa memilih bekerja ataukah dihukum (Huse dan Bowditch, 1973).
Asumsi ini senada dengan asumsi yang mendasari teori X-nya McGregor, bahwa pada dasarnya manusia itu malas, suka menghindari tugas dan tanggung jawab, dan apabila tidak diintervensi dan diancam oleh atasan, maka ia akan pasif. Oleh sebab itu agar seseorang mau bekerja ia harus dipaksa (Carver dan Sergiovanni, 1969).
Pemotivasian Model Kekuatan dan Ancaman oleh beberapa kalangan sering disebut sebagai strategi buntu, yaitu strategi yang terpaksa digunakan ketika pemimpin sudah merasa kehabisan akal  (atau justru kehilangan kewarasannya?) untuk merubah perilaku orang-orang yang dipimpinnya.
Sepintas, model pemotivasian yang menebarkan kecemasan ini tampak sangat efektif untuk memotivasi seseorang. Melalui ancaman dan intimidasi tertentu, orang akan menjadi patuh dan bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan (atau mungkin tepatnya sesuai dengan keinginan).
Namun dibalik itu perlu diwaspadai,  penggunaan pemotivasian model kekuatan dan ancaman ini ternyata  dapat menjadikan orang tidak bahagia dan dapat merusak kepribadian seseorang. Dengan adanya ancaman terus menerus, orang akan merasa tidak bisa mengembangkan potensinya, mengalami ketumpulan berfikir, dan mengalami ketegangan jiwa (stress).
Dalam konteks sekolah, Les Parsons dalam bukunya yang berjudul Bullied Teacher Bullied Studentmengupas tentang perilaku intimidasi di sekolah yang dilakukan siswa, guru dan kepala sekolah. Dikatakannya, bahwa pelaku intimidasi secara sengaja bermaksud menyakiti seseorang secara fisik, emosi atau sosial dan pelaku intimidasi sering merasa perbuatannya itu dapat dibenarkan.
Dalam konteks bisnis, hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Nicolas Gillet, dari Universite François Rabelais di Prancis menunjukkan bahwa manajer yang menggunakan ancaman sebagai cara untuk memotivasi karyawan, cenderung memiliki dampak negatif pada kesejahteraan karyawan.
Jika sudah seperti ini,  maka  hasil dari upaya pemotivasian akan menjadi terbalik, seharusnya dapat meningkatkan kinerja atau prestasi yang lebih baik malah yang terjadi adalah penderitaan dan kerusakan kepribadian.
Oleh karena itu, untuk menjadi pemimpin yang sukses sedapat mungkin kita perlu menghindari penggunaan pemotivasian model kekuatan dan ancaman ini. Gunakanlah cara-cara pemotivasian lain yang lebih manusiawi, yang dapat menjadikan orang-orang berbahagia, mampu berinovasi dan dapat mengoptimalkan segenap potensi yang dimilikinya.
Bagaimana menurut Anda?

Regards,Yudi Riswandy, www.goesmart.com

Selasa, 14 Mei 2013

Pembelajaran Monyet

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Anda mungkin pernah melihat atraksi ronggeng monyet atau topeng monyet, dimana seekor monyet dapat memperagakan berjalan tegak sambil membawa payung-payungan, memikul bakul-bakulan, mengendarai sepeda-sepedaan, dan aneka atraksi lainnya.
Atraksi ini pada umumnya berlangsung di bawah kendali sang Pawang, dengan diiringi bunyi gamelan sederhana. Setelah adegan selesai, para penonton merasa terhibur dan langsung memberikan saweransukarela, sebagai balas jasa atau tanda terima kasih atas atraksi yang telah disuguhkan oleh sang  Pawang dengan monyetnya.
Kemampuan monyet untuk dapat memperagakan adegan seperti ilustrasi di atas tentu bukan diperoleh secara tiba-tiba, tetapi pada dasarnya merupakan hasil belajar, melalui sentuhan  Sang Pawang dengan menggunakan teori belajar behaviorisme. Walaupun mungkin sang Pawang sendiri tidak pernah paham apa itu teori belajar behaviorisme,  tetapi tampaknya dia telah berhasil menerapkan teori belajar behavioristik secara sempurna dalam membentuk kompetensi dan perilaku baru monyet.
Sedikit saya beri gambaran bagaimana proses pembelajaran monyet untuk bisa mendapatkan kemampuan atau kompetensi di atas.  Pada mulanya, mungkin monyet itu merupakan hasil tangkapan dari hutan, tentu dengan kemampuan awal layaknya seekor monyet liar. Selanjutnya, dia dibawa ke lingkungan manusia, dengan diberi asrama  yang bernama kandang. Di bawah program pelatihan sang Pawang yang ketat, monyet mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran. Metode pembelajaran yang dilakukan sang Pawang yaitu pemberian latihan yang terus-menerus dengan bertumpu pada dua kekuatan utama, yaitu pemberian hadiah dan hukuman.
Untuk bisa berjalan tegak, sang Pawang mengikat tangan monyet ke belakang pundaknya. Jika monyet berhasil berdiri tegak sesuai dengan instruksi,  sang Pawang langsung memberikan hadiah berupa makanan yang disukai monyet, misalnya  buah pisang,  atau  memberikan tindakan-tindakan lainnya yang membuat monyet senang.  Tetapi jika gagal, sang Pawang langsung memberikan hukuman, misalnya dengan menarik rantai atau tali yang membelenggu di lehernya.  Jika masih tetap membandel, sang Pawang pun tidak segan-segan memberi sanksi lain untuk memaksanya hingga  bisa berdiri tegak.
Pola pembelajaran seperti ini terus-menerus dilakukan untuk memperoleh kompetensi-kompetensi baru lainnya, seperti: memikul bakul-bakulan, membawa payung-payungan, bercermin, dan sebagainya. Bahkan dia dilatih pula untuk melakukan atraksi kolabarasi dengan anjing
Bersamaan dengan berlangsungnya proses pembelajaran ini, sang Monyet diperdengarkan alunan gamelan oleh sang Pawang,  dengan tujuan  agar dia bisa menampilkan gerakan-gerakan yang dilatihkan,  seiring dengan  irama gamelan yang diperdengarkannya.
Setelah selesai mengikuti program pelatihan yang dikembangkan oleh sang Pawang dan monyet sudah dianggap kompeten, mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal  yang ditetapkan sang Pawang, selanjutnya monyet diajak memasuki dunia baru,  yang sangat jauh berbeda dengan dunia sebelum  dia mengikuti  kegiatan  pembelajaran bersama sang Pawang.
Sejak saat itulah dia bukan lagi monyet seperti rekan-rekannya yang hidup di hutan bebas. Dia tidak lagi hidup bergelantungan dari pohon ke pohon, tetapi dia bergerak dari satu kampung ke kampung lainnya, mempertontonkan keahlian yang diperolehnya dari sang Pawang. Dia tidak lagi bercengkerama dengan keluarga dan sesamanya, tetapi dia lebih banyak bergaul dengan manusia. Dia tidak perlu lagi bersusah-payah mencari makanan sendiri, tetapi cukup menunggu jatah yang diberikan sang Pawang. Sang Pawang pun dalam memberi makanan  akan bergantung pada hasil jerih payahnya  keliling-keliling kampung bersama monyet kesayangannya.
Yang menjadi pertanyaan,  dengan aneka kemampuan yang didapat dari sang Pawang, Apakah  sesungguhnya  monyet itu bahagia? Masih pantaskah kita menyebutnya sebagai monyet? Bagaimana pula  pendidikan yang sesuai untuk  manusia?   Silahkan Anda renungkan dan mari kita diskusikan melalui forum komentar yang ada.

Regards,Yudi Riswandy,www.goesmart.com

Senin, 13 Mei 2013

Tips Mengejar Mimpi Meraih Kesuksesan - Stop Dreaming, Start Driving!

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Kalau anda mimpi ingin punya BMW, namun apa daya uang tak cukup, maka mulailah mengkreditnya agar anda dapat segera mencicipi nikmatnya naik BMW, begitulah iklan mobil itu membujuk anda. Just do it, kalau kata Nike (nike sepatu, bukan nike ardila almarhumah!). Saya tidak bermaksud mengiklankan BMW, tapi Title dari Iklan BMW di Harian Kompas 2 Desember 2008, berbunyi: "Stop Dreaming, Start Driving!" memang layak untuk dijadikan petuah. Ini adalah pernyataan pengingat, kalau tidak bisa disebut sebagai teguran, agar kita selalu bertindak seimbang dan proporsional. Memberikan alokasi yang adil (namun tidak berarti harus sama bagiannya) antara bermimpi dan bertindak. Bermimpi memang penting, tetapi bertindak lebih penting lagi. Karena apa yang ada dalam mimpi, hanya bisa diraih dengan tindakan. Oleh karena itu, segeralah selesaikan mimpi anda yang ada diawang-awang, lalu bangun dan mulailah berbuat di dunia realitas. Sejatinya, tindakan andalah yang akan mendekatkan kesenjangan antara tataran realitas (atau kenyataan), dengan tataran mimpi (atau angan-angan). Semakin ekstensif dan intensif anda bertindak, maka akan semakin dekatlah jarak antara realitas dan mimpi. Jadi janganlah mengendurkan tempo kerja dalam mengeksekusi tindakan, rangkaian tindakan, dan strategi anda dalam menggapai mimpi. Dalam tempo kerja, anda harus mengatur kecepatan (speed) dan kekuatan (endurance), agar segera terjadi coitus legal formal (yang tidak interuptus) antara mimpi dan realitas. Eiiit…, jangan mikir negatif dulu! Maksudnya disini adalah mimpi dan realitas itu menjadi bersatu sehingga mampu beranak-pinak menghasilkan mimpi-mimpi baru dan tindakan-tindakan baru yang lebih produktif. Hal ini mungkin terjadi, karena hasil pembelajaran dan kesuksesan dari proses sebelumnya akan mendorong kita untuk mengulangi dan mendapatkan kembali kesuksesan yang pernah diraih. Kondisi ini sangat manuasiawi, karena manusia memang tidak pernah merasa puas. Dikasih hati, minta jantung. Dikasih satu juta, minta satu milyard. Dikasih lima tahun berkuasa, minta 32 tahun. Dikasih SMA, minta S3. Dikasih Minah, minta Dian Sastro. Dikasih Paijo, minta Brad Pitt. Dst…dst… Namanya juga manusia…………..bukan malaikat! Malah ada yang lebih aneh, udah mau dikasih eksekutif mapan, eeh malah milih tukang cendol dekil…., anti klimaks boo, downward spiral!

Mengapa mimpi penting dan harus diberi porsi untuk dilakukan? Karena mimpi adalah representasi dari kebebasan. Mimpi itumerupakan arena ekspresi yang bebas norma, dan bebas nilai, bahkan anda tidak perlu tahu, anda berada dimana pada saat anda bermimpi. Tidak ada pagar, tidak ada tembok, tidak ada aturan, dan tidak ada kendala keterbatasan sumber daya. Ketika anda masih anak-anak anda dapat menyatakan cita-cita anda seenak udelmu dhewe (as delicious as your belly button….kata si paijo). Anda bebas menyatakan ingin menjadi presiden, astronot, atau apapun, tanpa peduli dengan keterbatasan anda. Itulah kegunaannya mimpi, anda dapat menentukan strategic objective anda sesuai dengan ekspektasi anda. Kenapa harus sesuai dengan ekspektasi anda? Gunanya agar motivasi anda terpicu dan bergulir dengan kecepatan maksimum, tanpa anda perlu menegak Viagra. Jadi anda bisa bayangkan lemahnya keinginan meraih tujuan yang tidak sesuai dengan ekspektasi anda. Mana mau anda naik Timor, kalau anda memimpikan BWM. Mana mau anda pergi ke Tasikmalaya, kalau anda memimpikan Vienna. Mana mau anda menyantap getuk lindri, kalau anda memimpikan burger bakar dago. Namun tetap harus diingat bahwa dalam siklus manajemen, penetapan strategic objective merupakan salah satu elemen dalam tahapan perencanaan saja. Anda tidak bisa hanya menetapkan tujuannya saja, itu namanya half wit. Hal lain yang harus anda lakukan adalah merumuskan langkah-langkah tindakan untuk mencapai strategic objective. Lalu mengeksekusinya pada tahapan implementasi, dan mengendalikannya pada tahapan control. Pada saat eksekusi itulah, anda masuk kedalam kondisi "start driving". Mulai menikmati perjalanan dalam rangka mencapai tujuan. Mulai harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang prima untuk memainkan pedal gas, rem, kopling (karena nggak otomatik), dikombinasikan dengan mengendalikan stir, berbekal pandangan lurus kedepan, sambil sesekali melihat kaca spion samping & spion belakang (ini nulis artikel atau diktat kursus stir mobil…….hahaha).

"Start Driving" juga mengingatkan pada kita bahwa sesuatu itu tidak ada yang "ujug-ujug". Segala sesuatu itu akan melalui proses. Untuk mendapatkan kecepatan 160 km/jam, anda harus melalui beberapa tahapan dan mengkonsumsi sekian menit waktu. Pada dasarnya tidak sesuatu yang secara "suddenly" jatuh dari langit atau dari UFO seperti Mr.Bean yang tiba-tiba di tengah jalan, tanpa jelas asal usulnya. Proses adalah fungsi dari waktu, jadi untuk mencapai sesuatu itu ada kebutuhan waktunya. Dan pada umumnya, hasil yang baik diperoleh dengan proses yang lama, bukan proses yang instant. Jadi pada saat start driving, pada hakekatnya anda memiliki kesempatan untuk melakukan penyesuaian, karena anda berpijak pada dunia nyata dan realitas. Jika langkah-langkah tindakan terasa sulit, anda bisa merevisinya. Jika tujuan terasa jauh, andapun dapat memindahkan tujuan anda ke koordinat yang lebih sesuai dengan kekuatan anda. Jadi pragmatisme dapat saja muncul untuk mengkoreksi idealisme, ketika anda mulai melangkah. Kalau angsuran kredit BMW, Harrier, atau Odissey anda, dirasakan mencekik leher anda, kenapa tidak membeli cash Timor Seken saja….hahahaha. Daripada gaya tapi riweuh, lebih baik sederhana tapi tenang. Itulah gunanya start driving, rasionalitas akan berusaha mengkoreksi mimpi indah anda. Kalau baru daftar jadi Caleg saja, anda harus keluar duit puluhan juta rupiah, ya mendingan mengabdi jadi RT saja. Pilihan itu tidak kalah mulianya, jika anda berhasil menciptakan lingkungan RT yang gemah ripah rapih repeh, daripada jadi Caleg yang bergelimang KKN dan mencemaskan rakyat. Daripada jadi raja yang zhalim, lebih baik jadi ponggawa yang sholeh. (tapi tentu saja pilihan yang paling mantabb adalah menjadi raja yang sholeh)

Jadi apa yang harus anda lakukan, agar start driving anda akan membawa anda pada"happy ending achievement". Prinsip manajemen mangajarkan pada kita beberapa hal, antara lain:
1.        Rencanakan route anda dengan jelas dan tetapkan ettape-ettape nya. Program kerja dan rencana tindakan (action plan) perlu dibuat secara rinci, agar anda dapat dengan mudah beralih satu aktivitas lain, setelah satu aktivitas selesai dikerjakan. Kegiatan yang tidak jelas dan rinci akan mengakibatkan anda bingung menetapkan tindakan selanjutnya setelah satu pekerjaan selesai dikerjakan. Jangan menjadi si kabayan, yang sering berhasil by accident. Anda seharusnya berhasil by planning.
2.      Sediakan perbekalan yang cukup. Sumber daya yang anda miliki harus mamadai. Tapi tidak perlu seperti orang mau pindahan yang bawa semua barang. Anda harus membawa perbekalan logistik dan disertai dengan sumber daya pengetahuan & informasi yang cukup. Ini penting agar anda dapat mengevaluasi kemungkinan keberhasilan anda dalam mencapai tujuan.
3.      Perhatikan kondisi jalan. Faktor eksternal bisa saja muncul sebagai kendala utama dalam mencapai tujuan. Jika jalanan longsor, jembatan rubuh, atau ada angin puting beliung, yang akan mengganggu atau menggagalkan perjalanan, maka anda perlu memikirkan ulang route yang akan anda tempuh. Jadi berdasarkan evaluasi anda terhadap kondisi jalan, anda dapat merevisi program kerja sekaligus tujuannya.
4.      Istirahatlah yang cukup. Jeda sejenak, akan memberikan anda energy baru. Selain itu, jeda juga akan memberikan anda kesempatan untuk mengevaluasi dan belajar dari hal-hal yang sudah anda lewati. Proses pembelajaran ini penting, agar kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi tidak berulang begitu saja
5.      Nikmatilah perjalanannya. Hidup pada dasarnya adalah menciptakan nilai tambah dari proses yang anda lewati. Oleh karena itu, proses yang panjang bukan hal yang harus disesali. Proses yang panjang justru merupakan kesempatan anda yang lebih besar untuk mengakumulasi nilai tambah (value added). Ibarat artis, jika anda melesat dan meledak diudara seperti kembang api, maka anda hanya membuat terkesima orang-orang sesaat saja. Setelah cahaya api mati, orang tidak akan peduli lagi dimana keberadaan dan jejak anda, karena anda jatuh dalam gelap. Namun jika anda, lampu patromax, anda akan terang lebih lama, meskipun harus dipompa dengan waktu yang cukup lama. Dan ketika petromaks meredup, orang-orang akan membantunya untuk menyala kembali. Jadi proses panjang adalah amanah yang harus dioptimalkan, bukan untuk disesali.

Difficult, Yes. Impossible, No

Statement ini, saya dapatkan ketika melihat iklan perusahaan minyak SHELL di majalah Fortune edisi november 24,2008 yang lalu. Ini pernyataan yang hanya terdiri dari 4 kata, tetapi sangat inspiring, mengajarkan pada kita untuk tidak cengeng dan lembek dalam menggapai cita-cita dan keinginan. Ini suatu pernyataan bertuah yang tidak diciptakan begitu saja oleh orang-orang shell, tetapi merupakan kesimpulan atas akumulasi pengalaman mereka selama 50 tahun yang lalu mencari ladang-ladang minyak di Kanada. Menemukan cadangan minyak di dalam perut bumi dan mengeksplorasinya untuk kemaslahatan serta kesejahteraan hidup masyarakat dunia memang bukan pekerjaan mudah. Investasi berupa uang, tenaga, dan waktu bisa hilang begitu saja manakala mereka salah melakukan pengeboran (Bakrie yang berharap dapat harta karun minyak, malah ketiban lumpur, apa nggak sial tuh….). Namun 5 dekade kemudian, keuletan orang-orang SHELL pada akhirnya memberikan hasil, pada saat ini Kanada sudah menjadi penghasil minyak global, mampu mengjungkirbalikan dominasi OPEC yang berupaya membentuk kartel dan mempolitisir minyak bumi.
 

Makna dari "difficult, yes. Impossible, no.’ adalah tidak ada yang tidak mungkin jika segalanya diupayakan secara serius. Berbagai kesulitan memang akan menghadang dan menghalangi upaya kita mencapai tujuan dan keinginan, namun tidak berarti tidak bisa diatasi. Tidak ada alasan untuk putus asa, apalagi untuk bunuh diri! Terlalu bodoh itu……. Meskipun akan ada berbagai macam pengorbanan, akan tetapi itulah trade off yang harus dipertukarkan atas kesuksesan yang akan diperoleh. No free lunch!, semua harus dipertukarkan dengan usaha dan kerja keras, dan tentu saja harus dalam atmosfir doa dan munajat kepada sang pencipta. Pahala atau rewards tidak datang begitu saja, tetapi harus dipertukarkan dengan kerja keras dan kompetisi. Begitulah hidup, seperti mendaki puncak gunung. Anda tidak dapat menancapkan bendera penakluk dalam keadaan segar bugar tanpa kelelahan. Ada energi yang harus dipertukarkan. Ep=m.g.h, itu rumus fisikanya. Kalau energi tidak cukup, anda perlu mencari route yang tepat dan sesuai dengan kakuatan dan kelemahan anda. Anda tidak bisa mendaki terus, kadang-kadang perlu istirahat sejenak untuk mengumpulkan kekuatan dan berhitung mengenai kecukupan perbekalan. Anda harus melewati kondisi khawatir, cemas, dan ancaman akan kegagalan. Ini adalah bagian dari dinamika perjalanan (ingat untuk mencapai surga saja, anda akan melintasi jembatan syirotol mustaqim yang lebarnya hanya selebar rambut dibagi tujuh, apa nggak keder tuh…). Namun dengan berbekal visi, kesungguhan, dan mental yang kuat, serta percaya akan adanya bantuan dan pertolongan dari yang maha kuasa maka puncak gunung setinggi apapun, selama itu ada di muka bumi, tetap saja sangat mungkin untuk ditaklukan.

Hal lain, yang harus anda sadari dari adanya pernyataan "difficult, yes. Impossible, no’ bahwa jangan sekali-kali meremehkan imajinasi dan mimpi. Karena bisa saja tarikan awal yang akan memprovokasi seseorang untuk menggerakan langkahnya yang pertama kali, adalah imajinasi dan mimpinya itu. Kalau punya mimpi, tidak perlu Reg spasi Primbon dan kirim ke 8997, karena anda lahir pada slasa kliwon. Tapi segeralah rumuskan langkah-langkah rasional untuk mewujudkannya. Kalau langkah pertama sudah dibuat, pekerjaan selanjutnya adalah tinggal merencanakan dan melaksanakan langkah-langkah berikutnya. Jika langkah pertama sudah dibuat, minimal anda sudah melakukan warming up, yang dapat dijadikan sebagai modal untuk gerakan dan langkah berikutnya yang lebih luwes dan efektif. Mimpi dan imajinasi, semuluk apapun masih mungkin untuk diwujudkan. "Why Not?’ itu adalah kalimat motivator yang diajarkan oleh Edward de Bono, jika anda menghadapi orang yang menyangsikan keinginan anda untuk menggapai mimpi dan imajinasi anda. Memang akan difficult, tapi tidak impossible! Camkan baik-baik……..hahahaha

Lalu apa yang perlu dijadikan bekal, agar dalam menghadapi berbagai kesulitan, anda berada dalam kondisi "tegar beriman’ (tapi ini bukan kepanjangan dari "tetap segar berkat istri teman’). Ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian:
1.        Pertahankan motivasi. Motivasi adalah keinginan dan kebutuhan yang ada dalam diri untuk melakukan sesuatu dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Agar motivasi anda bertahan, anda harus mengelola smangat anda. Jangan pernah merasa bahwa beban lebih besar dari kesanggupan anda (skali2 minum obat kuat mungkin tidak apa-apa, asal jangan obat keras! Karena mengandung semen, batu, atau besi).
2.        Pandai-pandailah menghitung resiko. Resiko yang akan anda hadapi harus diidentifikasi dan anda kalkulasi. Jika resiko sudah anda kalkulasi dan anda antisipasi, maka anda tidak akan terkaget-kaget yang berlebihan menghadapi berbagai kesulitan yang menghadang. Anda akan relatif lebih siap untuk menaklukan handicap yang anda hadapi karena sudah memperkirakan sebelumnya, apalagi kalau perkiraannya sangat akurat.
3.        Siapkan plan B atau skenario alternatif. Jangan fanatik pada satu skenario, segeralah menjalankan rencana alternatif, jika rencana yang dijalankan pertama mengalami kegagalan yang fatal dan tidak bisa diperbaiki lagi (kayanya ini yang diterapkan para artis, sehingga banyak yang kawin cerai …..hahaha). Seperti dalam labirin, memang akan ada jalan yang buntu, tetapi tidak semua jalan buntu. Percayalah bahwa jumlah jalan yang tidak buntu pada dasarnya lebih banyak dari jalan yang buntu.
4.        Kembangkan kemampuan mengevaluasi dan kemauan belajar. Apapun hasil yang anda peroleh, biasakanlah untuk melakukan refleksi sejenak. Merenung dan mencari makna dari pencapaian yang anda peroleh akan membiasakan anda untuk belajar dari pengalaman dan masa lalu. Ini akan membuat anda semakin ahli dan memiliki khasanah berfikir yang luas dalam memperkirakan pola-pola yang akan terjadi di dalam perjalanan berikutnya.
5.        Selalu berfikir kreatif. Dalam berfikir kreatif anda melakukan penciptaan jalan keluar dari suatu masalah yang tidak sebatas mengikuti yang sudah standar atau yang sudah terjadi. Cobalah memikirkan hal-hal baru, dengan memanfaatkan perspektif, sudut pandang, dan paradigm berfikir yang lebih variatif.

Ok, selamat bersusah payah mewujudkan mimpi dan keinginan, semuanya serba mungkin kok!. Yang tidak mungkin adalah hanya memakan kepala sendiri (sekreatif apapun, kayanya ga mungkin deh orang bisa memakan kepalanya sendiri…

Regards,
Yudi Riswandy, 
www.goesmart.com


Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)