Selasa, 26 Juli 2011

Rekor Dunia 1.585 Orang dari Berbagai Bangsa Memainkan Angklung

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





 WASHINGTON DC, (PRLM).- National Mall Washington DC menjadi tempat bersejarah bagi pengakuan dunia akan keberadaan bangsa Indonesia. Bertempat di Nation Mall, taman yang menghadap Capitol Hill (Gedung Kongres AS) sebanyak 1.585 orang dari berbagai bangsa memainkan alat musik angklung seraya menyanyikan lagu "We Are The World" dan peristiwa, Sabtu (9/7) waktu setempat tercatat dalam Guinness World Records.

 Demikian surat elektronik yang diterima "PRLM" dari KBRI di Washington DC, permainan angklung multikultur di National Mall disambut antusias masyarakat yang datang ke Indonesian Festival 2011. "Sebelumnya mereka mendaftar untuk turut ambil bagian dalam pemecahan rekor permainan angklung ini ke surat elektronik indofest 2011 embassyofindonesia. org, dan jumlahnya lumayan banyak di atas seribu limaratus orang," ujar Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal.

Dikatakan Dino, upaya pembuatan rekor dunia permainan angklung tersebut merupakan salah satu cara terkini yang ditempuh KBRI Washington DC dalam mempromosikan Indonesia. Termasuk dengan memanfaatkan pengakuan UNESCO November tahun lalu terhadap angklung Indonesia sebagai warisan budaya dunia.

Upaya yang dilakukan KBRI menurut Dino dilakukan bekerja sama dengan Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) untuk pengadaan 5.000 angklung dan kemudian pihaknya menghubungi Guinness World Records. "Setelah angklung dating upaya selanjutnya mencari dukungan, dan warga Indonesia yang ada di sini (Amerika) sangat antusias," ujar Dino.

Adapun, jalannya kegiatan yang berlangsung menurut Dino mereka yang sudah berkumpul di National Mall, langsung melakukan registrasi dan mendapatkan alat musik angklung. Setelah berkumpul lebih dari 1500 orang Daeng Udjo (putra keempat Alm. Udjo Ngalagena) memberikan pelatihan dasar selama 30 menit.

"Setelah istirahat sebentar, barulah pementasan sebenarnya untuk membuat rekor dilakukan. Sebenarnya pihak Guinness World Records memberikan toleransi untuk tigakali pengulangan, tapi ternyata lagu "We Are The World" mampu dimainkan dalam satu kali," ujar Dino yang mengaku puas sekaligus bangga. Lagu "We Are The World" merupakan lagu ciptaan Michael Jackson dan Lionel Richie yang disuarakan oleh musisi dan penyanyi yang tergabung dalam Super Group USA for Africa. Lagu tersebut di buat dalam 20 juta copi dan
 hasil penjualannya peruntukan bagi masyarakat Africa yang tenagh terkena bencana alam kekeringan serta peperangan. (A-87/A-147) ***

sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/151398

Menyiapkan Mental Anak Sebelum ke Dokter Gigi

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




Tak sedikit orang tua yang kesulitan membawa anaknya ke dokter gigi. Rasa takut dan kekhawatiran yang berlebih sering membuat si kecil merasa enggan pergi ke dokter gigi.

Untuk itu, para orang tua perlu menyiapkan mental anak-anaknya sebelum peri ke dokter gigi. berikut beberapa kiat yang dikutip dari Helium.

1. Pengalaman pertama
Pengalaman pertama anak ke dokter gig sangatlah menentukan. Sebisa mungkin, pengalaman pertama si kecil saat ke dokter bukanlah untuk mengobati, melainkan hanya cek kesehatan gigi dan mulut. Sehingga dokter tidak melakukan tindakan berat seperti menambal atau mencabut giginya. Mengecek kesehatan gigi secara rutin setiap 6 bulan sekali akan membuat anak Anda terbiasa dengan dokter gigi.

2. Bercerita
Carilah bahan sebanyak-banyaknya mengenai kesehatan gigi dan metode dokter untuk merawat gigi. Anda bisa menceritakan hal tersebut pada anak Anda. Berikanlah pengetahuan juga mengenai alat-alat yang digunakan dokter. jelaskan pada si kecil, walau bentuk alatnya menakutkan dan bersuara bising, namun itu tidak bertujuan untuk menyakiti, tapi menyembuhkan.

3. Jujur
Jangan pernah berbohong saat ingin pergi ke dokter gigi. Misalnya Anda mengatakan ingin mengajak si kecil ke supermarket, padahal tujuan sebenarnya adalah dokter gigi. Hal itu justru akan menambah rasa takut anak.
 

4. Membawa barang kesayangan
Biarkan si kecil membawa barang kesayangannya, misalnya boneka, selimut bantal mainan atau apapun. Bisa jadi mereka merasa lebih tenang dan nyaman dengan barang-barang tersebut.

5. Antusias
Tunjukkan rasa antusias Anda saat mengajak si kecil ke dokter. Jika perlu sediakan hadiah seperti 'Sertifikat Anak Paling Berani' (buatan sendiri), atau pin kecil sebagai tanda si kecil mampu melewati rasa ketakutannya. Jika Anda bersemangat, anak Anda juga ikut bersemangat.

Selamat mencoba!

sumber: Yahoonews

Sekolah Gratis di Balikpapan

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Satria Dharma


Banyak orang yg tdk percaya bahwa sekolah gratis itu mungkin di negara kita. Mungkin karena mereka sudah kekenyangan dijanjikan kemudian dibohongi soal sekolah gratis ini. Di Balikpapan sekolah sudah gratis mulai SD s/d SLTA. Sekolah publik (negeri) lho ya! Bahkan sekolah yg RSBI juga gratis...! Ngiri kan...?! :-D

Keponakan saya baru saja lulus dari SMP (swasta) dan mendaftar di SMAN 5 Balikpapan. Begitu diterima mamanya langsung mendatangi sekolah utk daftar ulang. Ini komentarnya.

"Waktu daftar ulang di SMAN 5 Bpp, aku nanya gurunya Iqbal : " bayarnya berapa, Bu..?" Dia jawab : "gratis, Bu..".

Sbg alumni TK - SMP Istiqomah, aku sempat shock mendengarnya. Belum percaya kalo sekolah anakku skrg gratis. :-D"

Ia heran bhw sekolah negeri ternyata gratis padahal sudah jadi warga Balikpapan sejak anaknya lahir. Ini karena anaknya selalu disekolahkan di sekolah swasta top di Balikpapan. Dan biaya sekolah di sekolah swasta tsb memang tinggi. Jadi sama sekali tidak ada biaya daftar ulang segala di sekolah negeri. Tidak uang SPP, tidak uang bangku, tidak uang pendaftaran ulang. Tak ada biaya sama sekali.. .!

Bahkan seorang famili yg bekerja sebagai pengawas di Dinas Pendidikan kota Balikpapan mewanti-wanti kami untuk melaporkan langsung kepadanya kalau-kalau ada sekolah negeri yang menarik biaya APAPUN...! Keren kan...!

Tapi bukankah sekolah RSBI mengenakan biaya setinggi pohon kelapa di mana-mana? Oh...tidak di Balikpapan. Di Balikpapan gratis samasekali.

Kok bisa...?! Faktanya bisa kok! Kan pemerintah pusat, propinsi, dan pemkot sudah memberi biaya khusus utk sekolah tersebut...! Jadi kenapa harus memungut biaya dari orang tua lagi? Tidak perlu.

Balikpapan memang sudah menetapkan Wajib Belajar 12 Tahun bagi warganya. Jadi itu artinya biaya sekolah (di sekolah publik) sepenuhnya menjadi kewajiban Pemerintah Kota Balikpapan. Kenapa Balikpapan sehebat ini? Karena pejabatnya benar-benar berkomitmen pada pendidikan. Bahkan ketua DPRD-nya yang bernama Andi Burhanuddin Solong pernah marah besar pada Dinas Pendidikan karena Dinas mau menerapkan aturan pungutan di sekolah RSBI. Pemkot Balikpapan diminta untuk konsisten pada perda tentang Wajib Belajar 12 tahun tersebut. Ketika Dinas Pendidikan berkilah bahwa aturan yang membolehkan pungutan tersebut adalah aturan dari Pusat, Pak ABS tidak perduli dan bilang agar Pusat suruh datang sendiri ke padanya. Tentu saja niat itu langsung kempes. Dengan demikian maka sekolah RSBI-pun gratis di Balikpapan. Two thumbs up for Balikpapan!

Saya memang sengaja menulis ini utk mengiming-imingi Anda yg tinggal di luar Balikpapan. Sekolah negeri kami gratis dan mestinya sekolah negeri di kota Anda juga bisa. Kalau Anda dibodohi oleh para pemangku kepentingan pendidikan di kota Anda dengan mengatakan bahwa sekolah tidak mungkin gratis ya suruh datang dan belajar ke Balikpapan. Kami dulu juga belajar ke Jembrana dan sekarang kami sudah bisa membuktikan bahwa kami juga bisa.

Apakah mutu pendidikan kota Balikpapan merosot karena gratis...?! Itu pemikiran geblek. Kalau pendidikan tidak dibiayai maka mutunya akan merosot. Itu jelas. Tapi di Balikpapan pendidikan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah daerahnya. Jadi tidak ada alasan mutu akan merosot. Balikpapan memang OK! Bagaimana dg kota Anda...?! :-D

Balikpapan, 7 Juli 2011

sumber: http://satriadharma .com/

Rabu, 20 Juli 2011

Pendidikan Moral di SD Jepang

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

oleh: Junanto Herdiawan






Rak Sepatu di SD Jepang / photo: Junanto

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara ‘open school’ di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.

Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi by default, namun pastilah by design. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.

Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitik beratkan pada pentingnya ‘Moral’. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan secara sengaja pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.

Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang. Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.


Suasana kelas dan orang tua / photo: Junanto


Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.

Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar. Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.

Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak. Dengan kata lain, orang tua tidak ‘membongkar’ apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.


Menyiapkan Makan Siang utk teman2nya / foto: Junanto

Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur  umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman. Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani  masyarakat, bukan malah minta dilayani.

Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya ‘berat’ dan kerap dipaksakan harus dihafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji. Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.


 Mengantar minuman untuk teman / foto: Junanto

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar. Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri.

Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.

Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.

Mudah-mudahan dikeluarkannya kata ‘Budaya’ dari Departemen ‘Pendidikan dan Kebudayaan’ sehingga menjadi Departemen ‘Pendidikan Nasional’ di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan Budaya, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti. Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi.

Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu ‘penting’ lainnya. Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang. Salam.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/03/moral-di-sd-jepang


Junanto Herdiawan adalah Ekonom dan penggiat ilmu filsafat. Hobi jalan-jalan dan makan-makan. Saat ini tinggal dan bekerja di Tokyo. Bertugas mencermati dinamika ekonomi Jepang, Cina, Korea, Taiwan, dan Hong Kong.

Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat?

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Rhenald Kasali

Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan Rajin Pangkal Pandai. Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang  airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa, dan keringat.

Bagaimana anak-anak kita sekarang? Lahan-lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,  Twitter, online games, warnet, dan bimbel. Pergaulan fisik diganti oleh dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?

Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak. Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?" minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran, seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit "The Power of Simplicity" , kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan".

Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan karier masa depan. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang sakral, wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan  sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. Bukan belajar dari sejarah, tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama, melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana menurunkan rumus. Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.



Ubah Cara Pandang

Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New Zealand, ada juga orang tua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah. “Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang,”. Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan menghasilkan apa-apa. Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi. Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar.

Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas. Anda mungkin pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam kehidupan. Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tetapi seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah, tubuh dan kesehatan jiwanya.

Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Untuk itulah talenta harus diasah, diberi ruang ,dan waktu agar ia tumbuh. Leadership maupun entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan.

Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah benar menjadi lebih baik. Saya selalu teringat masa-masa memulai karir  sebagai penguji di program S3. Saat seorang tua, kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi Semua penguji tidak puas, kandidat digoreng ke kiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas. Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya,"beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"

Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini. Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan.

Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya pun tidak akan lulus. Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat, kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa kita dianggap berkolusi. Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.

Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.

Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Bahkan TKW yang Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?

Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar 6 mata pelajaran seperti di New Zealand, Denmark atau negara-negara industri lainnya? Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand terbaik keenam di dunia. Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?

 Rhenald Kasali

 Ketua Program MMUI

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/44/

Seni Memuji Anak

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.






Oleh: Sumardiono


 Memuji anak adalah sebuah pekerjaan seni, bukan pekerjaan eksak yang bisa ditentukan rumusnya. Efektivitas pujian tak hanya ditentukan oleh cara kita memuji, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter anak dalam merespon pujian.  Ada anak-anak yang dipuji sedikit sudah langsung bersemangat. Ada anak yang membutuhkan banyak pujian supaya semangat. Tetapi, ada juga anak-anak yang justru jadi tak semangat kalau terlalu banyak pujian.

Berikut ini beberapa tips tentang pujian kepada anak:

 *Hindari memuji berlebihan*
 Puji secukupnya. Jangan terlalu banyak. Jangan menjadi pemujaan pada anak sehingga sedikit-sedikit yang dilakukan anak, Anda langsung memujinya. Terlalu banyak pujian akan menjadikan pujian kurang berharga dan tidak bermakna. Anak juga jadi malas untuk mengembangkan potensi dirinya.

 *Puji untuk usaha anak*
 Fokuskan pada usaha, bukan hanya pada hasil. Terkadang, hasil yang diperoleh anak belum sempurna, tetapi niat dan usahanya bagus. Puji perjuangan dan usaha anak. "Terima kasih sudah menolong Mama membereskan tempat tidur."

 *Puji secara spesifik, bukan umum*
 Berikan pujian untuk usaha yang dilakukan anak, bukan untuk anaknya sendiri. Lebih baik mengatakan pujian "prakarya buatanmu keren" daripada memuji "kamu anak yang pandai".



 *Pujian bukan toleransi kegagalan*
 Ketika anak gagal, pujian pada usaha anak dapat menolong anak untuk mengatasi kekecewaannya. Tetapi pujian tetap harus dapat berfungsi memicu anak untuk menjadi lebih baik di waktu yang lain. Jangan sampai, anak merasa bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah dua hal yang sama saja.

 *Pujian tak hanya kata-kata*
 Pujian tak hanya diwujudkan dengan kata-kata verbal. Pujian bisa ditunjukkan dengan acungan jempol, tepukan bahu, senyuman, belaian di rambut, dan sebagainya. Walaupun Anda tak mengatakan apa-apa, anak tahu bahwa Anda sedang menunjukkan pujian Anda.

 *Dorong anak memuji orang lain*
 Supaya anak tak egois dan hanya berfokus pada dirinya sendiri, perlihatkan contoh dengan memuji anak lain atau karya lain di depan anak Anda. Lakukan pujian kepada siapapun yang berhak dipuji: pasangan, adik, tetangga, pembantu, atau siapapun. Sesekali minta anak untuk berpendapat dan mengapresiasi karya/prestasi anak lain.

 (Sumber: http://rumahinspirasi.com/homeschooling/seni-memuji-anak)

Museum dan Pentingnya Rekaman Sejarah Kehidupan Bangsa yang Memikat Hati

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.






Oleh: Hernowo

Selama seminggu, sejak Selasa, 12 Juli lalu, anak perempuan saya mendapat kesempatan berkunjung ke Korea Selatan. Haula Luthfia, demikian nama anak saya, tergabung dalam ALSA (Asian Law Students Association). Bersama-sama rekan-rekannya yang lain di ALSA, dia menghadiri sidang WIPO (World Intellectual Property Organization) di Seoul.

Sejak tiba di Seoul, anak saya rajin mengirim e-mail kepada saya untuk mengisahkan pengalaman-barunya di Seoul. Pada hari ketiga, saya diberitahu bahwa dia terpilih menjadi salah satu speaker  terbaik di WIPO Assembly. Saya tidak tahu persis tentang kabar menggembirakan yang disampaikannya tersebut. Semoga bermanfaat baginya kelak. Saya lebih tertarik ceritanya tentang museum yang dia kunjungi di Seoul:

“Hari ini aku acaranya mengunjungi Korean Museum War,” tulis anak saya. Itu museum tentang sejarah Korea Selatan ketika terjadi perang antara Korut dan Korsel. Bagaimana perebutan wilayahnya, situasi saat perang, hingga keadaannya saat ini. “Museumnya benar-benar menarik, Pa. Sepertinya orang-orang Korea senang sekali membuat replika kejadian-kejadian bersejarah di negara mereka.”

Membaca cerita anak saya, tiba-tiba kenangan ketika saya mengunjungi Imperial War Museum, pada akhir 1997, di London pun muncul secara sangat jelas. Kebetulan, saya juga menuliskan pengalaman saya sewaktu berada di museum perang di London tersebut. Saya bahkan merasakan benar bagaimana Blitzkrieg  terjadi. Suara dentuman bom yang berjatuhan dan bergoyangnya replika rumah yang saya tempati saat itu. Juga bagaimana film yang menayangkan kekejaman perang yang terus diputar setiap hari, sepanjang waktu, membuat saya merenung. Museum itu juga telah menjadi tempat belajar bagi anak-anak sekolah.

“Di museum ini juga,” lanjut anak saya, “dibuat berbagai macam replika situasi perang antara Korut dengan Korsel. Mereka membuatnya sangat apik. Tidak hanya replika, mereka juga memutar berbagai video tentang perang tersebut. Aku langsung mengingat keadaan Indonesia, Pa. Sayang sekali, Indonesia tidak mengabadikan sejarah-sejarah yang ada. Kalaupun ada, museum-museum yang ada saat  ini kurang terawat sehingga membuat orang-orang Indonesia malas mengunjunginya.”



 Saya tentu merasakan apa yang dirasakan oleh anak saya. Kita, bangsa Indonesia, tidak diberi kesempatan untuk mengenang (baca: menghargai masa lalu). Mengenang  di sini bukan untuk kembali ke masa lalu atau memujanya, melainkan bagaimana kita yang hidup saat ini mampu mengaitkan kehidupan masa kini (dan juga masa depan) dengan sejarah kita. Bagaimana Indonesia terbentuk dan betapa negara yang kita cintai ini, Indonesia, tidak hadir begitu saja.

“Setelah dari Korean War Museum, kami mengunjungi General Assembly Museum. Ini semacam museum gedung DPR di Korea Selatan. Ada satu hal yang sangat menarik perhatianku di sini. Mereka sengaja membuat museum ini dengan tujuan agar orang-orang Korsel bisa dikenalkan kepada hal-hal yang berbau politik sejak dini. Memang agak membosankan sih tempatnya, karena hanya terdiri dari  gambar-gambar ketua parlemen dari periode ke periode, sistem parlemen di sana, replika ruangan sidang, dll. Tetapi, mereka membangun ruangan-ruangan khusus yang dibuat untuk anak-anak SD. Di ruangan-ruangan itu mereka bisa belajar sambil bermain. Sungguh ide yang menarik.”

 Ya, kapan bangsa kita punya ide semenarik itu ya?[]

Kamis, 14 Juli 2011

Problematika Pendidikan di Indonesia

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




Oleh : Adisa Ittaqa Putri D.S.

Pertengahan tahun seperti saat ini sebagian rakyat Indonesia disibukkan dengan kepentingan pendidikan, khususnya orang tua dan para pelajar. Tepatnya ketika tahun ajaran baru dimulai. Berbagai aktivitas dilakukan demi pendidikan dimulai dari jenjang playgroup hingga perguruan tinggi. Berbagai tempat playgroup, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi membuka kesempatan penerimaan siswa-siswi serta mahasiswa baru dan menjaring bibit unggul berprestasi untuk menjadi bagian dari almamater mereka kelak.

Sudah sering dibahas pula di berbagai media massa berkaitan dengan polemik pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu tumpuan dan jalan dalam menggapai cita-cita serta masa depan yang lebih baik. Tidak jarang orang tua merogoh kantong lebih dalam karena membiayai pendidikan putra dan putrinya dengan biaya yang sangat tinggi. Beberapa orang tua bahkan menyekolahkannya ke luar negeri dan tentu saja memakan biaya yang tidak sedikit.

Tidak akan pernah ada akhirnya membahas mengenai pendidikan. Bantuan BOS yang diselewengkan di beberapa daerah di Indonesia oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menjadi salah satu masalah penting pendidikan. Belum lagi biaya masuk sekolah yang setiap tahun menanjak dan tidak ada transparansi mengenai rincian dana tersebut. Ditambah biaya-biaya lainnya di luar tagihan sekolah, seperti seragam, alat tulis, biaya kos-kosan, biaya sehari-hari dan biaya tak terduga lainnya.



Jumlah 20% alokasi dana pendidikan dari APBN sepertinya tidak cukup untuk menutupi biaya pendidikan di Indonesia. Banyak hal yang harus dibiayai mengingat tidak adanya pemerataan sarana dan prasarana dari pemerintah, terutama untuk sekolah-sekolah negeri yang berada di pelosok-pelosok daerah. Sering kita mendapatkan berita gedung sekolah rubuh, dan siswa-siswinya harus belajar di tempat yang sangat tidak layak dan ancamannya adalah nyawa, karena sewaktu-waktu gedung tersebut rubuh dapat menimpa mereka.

Ke manakah 20% dana tersebut? Apakah pemerintah tidak memiliki catatan mengenai keluhan masyarakat tentang pendidikan di Indonesia dan bersegera untuk memperbaikinya? Tidakkah pemerintah melihat betapa besar potensi anak-anak Indonesia di bidang pendidikan dengan mencatatkan diri dengan memenangkan Olimpiade tingkat dunia dan anak-anak tersebut berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi besar di bidang pendidikan tidak hanya tingkat nasional tetapi internasional.



Seharusnya sudah tidak ada lagi sekolah rubuh, sekolah yang tidak layak, dan tidak ada sekolah di daerah yang kekurangan sarana dan prasarana. Alangkah baiknya pemerintah mencicil untuk melakukan perbaikan di sektor pendidikan. Sudah terlalu banyak  masyarakat merasa kecewa dan sebaiknya pemerintah menyadari akan hal itu.

Dewasa ini biaya pendidikan sudah tidak murah lagi. Untuk masuk ke pra sekolah saja sudah menghabiskan jutaan rupiah, belum lagi di tingkat perguruan tinggi yang merogoh kocek dengan nominal hingga ratusan juta rupiah untuk jalur mandiri. Berbeda lagi apabila jalur SNMPTN dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Akan tetapi, berdasarkan informasi yang saya terima beberapa universitas mematok harga yang sangat tinggi seperti jalur mandiri meskipun lulus perguruan tinggi negeri di jalur SNMPTN. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Tidak ada informasi sebelumnya terkait masalah biaya yang tidak sesuai dengan jalurnya. Tentu saja banyak orang tua siswa yang kecewa atas disinformasi tersebut. Karena, berdasarkan pengalaman mereka, biaya SNMPTN itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya ujian mandiri.

Ini adalah hal yang perlu digarisbawahi. Biaya pendidikan semakin mahal tetapi tidak diimbangi dengan sarana serta prasarana pendidikan yang baik di beberapa sekolah daerah di Indonesia. Tidak semua masyarakat Indonesia berlatar belakang ekonomi yang cukup dan tidak semua orang tua mampu menyekolahkan harapan mereka sampai ke jenjang perguruan tinggi. Pokok masalahnya terletak pada biaya. Biaya yang semakin hari semakin tinggi dan kemampuan ekonomi masyarakat yang tidak merata.

Akankah ini akan tetap menjadi masalah yang tidak menemukan penyelesaian?

Adisa Ittaqa P., Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung

Indi-Smart Fun Way to Learn

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.



Oleh: Arsy Rakhmanissazly


Sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. PT. Telkom Indonesia. Tbk telah beperan banyak pada proses penyebarluasan informasi dan kelancaran komunikasi bagi masyarakat Indonesia. Perkembangan teknologi informasi hingga sampai saat ini kita telah memauski era digitalisasi informasi dimana segala macam informasi dapat diakses kapan pun dimanapun dengan perangkat lunak (software) pada gadget kita masing – masing.

Mustahil sepertinya pada zaman sekarang ini dengan tingginya tingkat mobilitas para penduduk tidak dilengkapi dengan alat komunikasi. Telephone, handphone, tablet, pc apapun jenis dan merk nya fungsi utamanya adalah sama yaitu menghubungkan pribadi dengan sumber informasi lainnya, bisa berupa individu lainnya bisa juga dengan portal – portal berita yang dapat diakses melalui internet.

Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan keberadaan Internet untuk memudahkan segala aktifitas kita maka tidak tertutup kemungkinan kegiatan dan pekerjaan dapat dilakukan secara online via internet.  Mulai dari transaksi bisnis, mengurus keperluan rumah tangga, media informasi dan edukasi kreatif sampai pada kemudahan akses informatif akademik meliputi jadwal akademik sampai pada proses belajar mengajar via online atau yang lebih dikenal dengan istilah e-learning



PT Indi-smart Kreatif Idea adalah sebuah perusahaan yang bermitra dengan PT Telkom Indonesia dalam memperluas pelayanannya sampai pada sarana pendidikan. Di websitenya www.indi-smart.com para pengkases situs dapat menikmati belajar praktis, kreatif dan fun sambil berinternet. Situs yang memang ditargetkan untuk edukasi ini memang lebih memfokuskan materi belajar untuk kalangan pelajar SD, SMP dan SMA. Materi ini dibuat dan dikhususkan karena pada jenjang pendidikan ini materi belajar nya sama dan umum sehingga dapat membantu pelajar maupun pengakses situs lainnya untuk belajar meningkatkan pengetahuannya.

Layanan e – learning ini sendiri tentu saja berbasis online, hanya dengan menggunakan fasilitas internet yang ada, Anda sudah dapat mengakses dan menggunakan pelayanan yang telah disediakan. Indi-smart konten pembelajaran online creative and fun.

Arsy Rakhmanissazly adalah mahasiswi Jurusan Public Relation, Fikom Unpad, Bandung

Indismart, Optimalkan Manfaat Internet Bagi Pelajar

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




Oleh: Arshindy Amaliza Nuradi


Kemajuan teknologi pada era globalisasi saat ini memungkinkan setiap orang mendapatkan kemudahan dalam berkomunikasi. Seseorang dapat berhubungan dengan orang lain tanpa terkendala jarak. Salah satu teknologi yang memberikan kemudahan itu adalah internet. Seperti yang sudah kita ketahui, internet adalah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung melingkupi seluruh dunia. Internet membantu kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang jaraknya sangat jauh dan tentunya dengan biaya yang sangat murah dibandingkan dengan fasilitas komunikasi lain seperti misalnya telepon atau televisi. Penggunaan internet juga relatif mudah, apalagi dengan banyaknya fiture-fiture jejaring pertemanan seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain menjadikan internet sangat digandrungi berbagai kalangan dan berbagai usia.

Berbagai keuntungan bisa didapatkan lewat internet, tidak hanya kemudahan dalam berkomunikasi, pengguna internet juga dapat mengakses informasi-informasi yang diinginkan melalui berbagai situs yang tersedia. Misalnya informasi mengenai berita terkini, pendidikan, agama, dan berbagai pengetahuan lainnya. Akan tetapi, bila tidak dilandasi dengan niat pemanfaatan yang baik, internet juga dapat memberikan pengaruh negatif. Sebagai contoh, informasi-informasi yang dicari justru informasi sesat misalnya situs-situs porno. Ironisnya, kalangan yang tidak dapat mengoptimalkan internet dengan baik adalah kalangan remaja yang umumnya dalam masa pencarian jati diri. Menggunakan internet dengan tujuan yang salah tentunya dapat membentuk pribadi yang kurang baik pula pada remaja-remaja ini.

Berdasarkan hasil riset Yahoo! yang dilakukan di Indonesia, kalangan remaja usia pelajar antara 15 sampai 19 tahun mendominasi pengguna internet di Indonesia hingga 64 persen dari pengguna internet di Indonesia. Survei itu mengatakan dominasi penggunaan layanan online adalah pada e-mail (59%), instant messaging (59%), social networking (58%), penggunaan search engine (56%), serta memainkan game online (35%).

Data yang cukup mencengangkan melihat para pelajar yang menjadi mayoritas pengguna internet justru kurang dapat mengoptimalkan fungsi internet. Umumnya mereka hanya menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan teman-temannya lewat jeraring sosial atau bermain game online. Mereka sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk itu. Padahal, seperti yang kita ketahui, tugas utama pelajar adalah belajar. Bukan berarti para pendidik dan para orang tua menjadi melarang mereka menggunakan internet, bergaul lewat jejaring sosial atau hiburan game online sesekali memang diperlukan supaya mereka tidak jenuh dengan pelajarannya di sekolah, tetapi akan lebih baik bila porsinya dikurangi.



Para pendidik dan orang tua dapat mengarahkan mereka untuk lebih mengoptimalkan fungsi internet yang positif seperti misalnya mengajak mereka mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan materi sekolah atau meng-update informasi-informasi terkini supaya pengetahuan mereka bertambah luas. Cara ini akan lebih memberikan manfaat dari penggunaan internet bagi mereka. Mengajak pelajar belajar dengan mengikuti perkembangan zaman akan lebih menarik bagi mereka, karena pada dasarnya mereka merupakan generasi yang ‘melek teknologi’. Jadi, cara belajar yang ditawarkanpun harus menarik dan sesuai.

Belajar lewat internet akan lebih memudahkan para pelajar karena dalam situs-situs tertentu tersedia fitur-fitur lengkap yang menunjang materi pelajaran. Bahkan, pada salah satu konten pembelajaran online yang saya ketahui yaitu Indimart E-Learning, sudah dilengkapi dengan animasi edukasi yang sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Disini para pelajar dapat belajar sambil bermain karena kontennya yang sangat menarik. Mereka dapat memilih materi pelajaran yang diinginkan kemudian melihat visual bergeraknya. Belajar dengan melihat contoh visual bergerak akan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan hanya melihat gambarnya dan ulasan materi yang panjang dan rumit dari buku.

Dari yang saya tahu, Indismart merupakan website yang diperuntukkan sebagai media belajar online. Bertujuan untuk menciptakan nuansa belajar yang menarik dan interaktif, melalui konten-konten pembelajaran yang bersifat animasi dan terbentuknya komunitas online untuk berbagi informasi. Konten pembelajaran online Indismart E-Learning ini dapat dioptmalkan oleh para pelajar mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Tidak hanya untuk pelajar, para pendidik dan orang tua juga dapat menggunakannya untuk turut membimbing mereka.
Membuka situs-situs seperti ini, pelajar dapat memanfaatkan secara maksimal kegunaan internet dari segi yang positif. Para pendidik dan orang tua juga harus ikut serta agar dapat memantau perkembangan mereka sehingga mereka tidak akan berani membuka situs-situs yang negatif. Mudah-mudahan dengan adanya situs-situs dengan konten edukasi online seperti ini dapat membantu para pelajar Indonesia untuk lebih mengoptimalkan manfaat positif dari internet.

Arshindy adalah Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Bandung, Jawa Barat

Rabu, 13 Juli 2011

Karakter Guru dalam Perspektif Alquran

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Muhammad Kosim

Dalam pelaksaan pendidikan sejatinya umat Islam menerapkan pendidikan karakter berbasis al-Qur’an, seperti yang dikemukakan pada tulisan sebelumnya pada kolom opini, jumat (17/6) lalu di Koran ini. Namun peran seorang guru sangat menentukan dalam pendidikan karakter tersebut. Jika Alquran dijadikan sebagai basis, maka seorang guru pun mesti memiliki karakter sebagaimana yang diajarkan Alquran.

Untuk mengetahui karakter guru dalam perspektif Alquran,  dapat dilihat dari istilah-istilah yang semakna dengan guru. Paling tidak, menurut Abuddin Nata, ada delapan Isitilah yang menunjukkan makna guru, yaitu: ulama, ar-rasikhuna fi al-ilm, ahl dzikr, murabbi, muzakky, ulul albab, mawa’idz, dan mudarris. Selain itu ada pula istilah mu’allim, mursyd dan sebagainya.

Pertama, ulama. Dalam Fathir/35: 28, mengisyaratkan bahwa ulama adalah orang yang memiliki ilmu, dengan ilmunya ia “takut” kepada Allah. Ilmu yang dimiliki ulama bisa berupa ilmu agama (tafaqqahu fi al-din) atau ilmu alam (seperti sains). Sedangkan hakikat ilmu itu sendiri sama-sama berasal dari Allah. Jadi tugas utama seorang ulama adalah mengajarkan ilmu yang menjadikan seseorang takut dan dekat kepada Allah.

Jadi, guru sebagai ulama sejatinya menguasai ilmu agama dan ilmu secara mendalam, mau mengajarkan ilmunya itu atas panggilan agama; memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan bagi masyarakat; serta mengembangkan ilmunya secara terus-menerus,melakukan peran sebagai pelindung dan pembimbing masyarakat, sebagai motivator dalam pembangunan, melakukan peran sebagai tokoh masyarakat; dsb.

Tegasnya,bukan guru agama saja yang patut disebut ulama, tetapi guru umum yang mengajarkan ilmunya atas panggilan agama dan menanamkan nilai-nilai tauhid melalui ilmu itu, ia pun patut disebut ulama.

Kedua, ar-rasikhuna fi al-ilm. Istilah ini ditemukan dalam surat Ali Imran/3: 7 yaitu orang yang mendalam imunya sehingga ia tidak hanya dapat memahami ayat-ayat yang jelas dan terang maksudnya (ayat-ayat muhkamat), juga memahami ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian (interpretable) . Mereka adalah orang yang memperoleh hidayah dari Allah. Iman mereka kokoh, taat menjalankan ibadah, memiliki kepedulian sosial, serta berakhlakul karimah.

Guru seyogyanya memiliki karakter sebagai ar-rasikhuna fi al-’ilm, hampir sama dengan karakter ulama. Bedanya, ulama tidak saja di bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Sementara ar-rasikhuna fi al-’alm lebih terkonsentrasi pada ilmu pengetahuan.

Ketiga, Ahl dzikr. Istilah ini terdapat dalam surat An-Nahl/16: 43), yaitu orang yang memiliki pengetahuan, menguasai masalah, atau ahli di bidangnya. Sebagai ahl dzikr, karakter guru hendaklah sebagai orang yang mengingatkan pada siswa dari perbuatan yang melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya. Guru adalah seseorang yang mendalami ajaran-ajaran yang berasal dari Allah SWT, terutama yang terkait dengan bidang keilmuannya.



Keempat, murabbi. Istilah ini seakar dengan kata rabb atau tarbiyah, artinya pemelihara, pendidik, atau menumbuhkembangkan. Allah juga murabbi bagi makhluk-Nya (al-Fatihah/ 1:2). Adapun pendidikan Allah terhadap manusia terbagi dua, yaitu: pendidikan kejadian fisiknya serta pendidikan keagamaan dan akhlak.

Al-Muraghi menyebutkan bahwa al-Murabbi adalah orang yang memelihara, mengajar yang dibimbingnya dan diatur tingkah lakunya. Guru sebagai al-Murabbi adalah seseorang yang berusaha menumbuhkan, membina, membimbing, mengarahkan segenap potensi peserta didik secara bertahap dan berkelanjutan.

Mereka membina aspek jasmani dan rohani manusia sehingga berkembang secara sempurna. Karena itu seorang guru harus memiliki kesanggupan dan kecakapan baik jasmani maupuan rohani, sehingga tugasnya yang berat itu dapat ia laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Kelima, Muzakki, yaitu orang yang menyucikan. Di antara ayat yang mengandung istilah ini adalah surat al-Baqarah/2: 151. Sesungguhnya, yang melakukan tugas membersihkan dan menyucikan adalah Allah dan Nabi Muhammad SAW. Jadi Allah dan Rasul adalah al-Muzakki.

Dalam konteks pendidikan, guru juga berperan sebagai al-muzakki, yaitu orang yang mampu membentuk manusia yang terhindar dari perbuatan yang keji dan munkar serta menjadi manusia yang berakhlak mulia. Karakter muzakki mengajarkan agar seorang guru senantiasa berupaya untuk menyucikan dirinya sehingga ia mudah menyucikan jiwa peserta didiknya.

Keenam, ulul albab. Di antara ayat yang memuat istilah ini adalah surat Ali Imran/3: 190-191. Ulul albab adalah orang yang berzikir dan berpikir. Mereka memiliki pemikiran (mind) luas dan dalam, perasaan (heart) halus dan peka, daya pikir (intellect) tajam dan kuat, pandangan (insight) luas dan dalam, pengertian (understanding) akurat, tepat, dan luas, serta memiliki kebijaksanaan (wisdom) yaitu mampu mendekati kebenaran dengan pertimbangan adil dan terbuka.

Ulul Albab adalah orang yang berakal atau orang yang dapat berfikir dengan menggunakan akalnya. Hal-hal yang mereka pikirkan itu amat banyak dan beragam, di antaranya ayat-ayat qauliyah (Alquran) dan ayat-ayat kauniyah (alam semesta).

Mereka juga mampu menganalisa secara mendalam terhadap berbagai masalah tersebut, kemudian ia dapat menarik hikmah atau pelajaran yang mendalam dari berbagai peristiwa tersebut.

Karakter ulul albab mengajarkan agar guru senantiasa menggunakan akalnya untuk memikirkan dan menganalisa berbagai ajaran yang berasal dari Tuhan, peristiwa yang terjadi di sekitarnya untuk diambil makna mengajarkan kepada anak didiknya.



Ketujuh, mawa’izh atau orang yang memberi nasehat (Qs. Asy-Syu’ara/26: 136). Guru sebagai mawa’izh adalah orang yang senantiasa mengingatkan, menasehatkandan menjaga anak-anak didiknya dari pengaruh yang berbahaya. Nasehat ituberdasarkan kepada ajaran al-Qur’an dan Hadis untuk melunakkan hati anak-anak muridnya sehingga mereka menjadi manusia yang terpelihara dari dosa-dosa serta mereka menjadi generasi yang shaleh dan berprestasi.

Kedelapan, mudarris. Di antara ayat yang mengandung akar kata ini adalah surat al-An’am/6: 105. Guru sebagai mudarris adalah orang yang senantiasa melakukan kegiatan ilmiah seperti membaca, memahami, mempelajari dan mendalami berbagai ajaran yang terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Ia juga berupaya mengajarkan dan membimbing para siswanya agar memiliki tradisi ilmiah
yang kuat.

Kesembilan, mu’allim, yaitu orang yang berilmu. Istilah ini tersirat dalam surat al-Baqarah/2: 151. Makna ilmu dalam perspektif Alquran lebih luas dan mendalam dari istilah knowledge, sains, atau logos. Kata ilmu memiliki kaitan dengan alam, amal, dan al-‘alim. Ilmu berkembang dengan mengkaji alam. Ilmu itu harus diamalkan, dan ilmu tersebut mesti mendekatkan diri kepada al-’Alim, yaitu Allah Yang Maha Memiliki Ilmu.

Guru mesti mengajarkan ilmu yang terkait dengan kognisi, psikomotor, dan apeksi. Jadi guru bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu untuk diamalkan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kesepuluh, mursyd yang berasal dari kata rasyada, artinya cerdas. Istilah ini terkandung dalam surat an-Nisa’/4: 6. Cerdas dimaksud tidak saja pada intelektualitasnya, tetapi berhubungan erat dengan spiritualnya.

Suatu ketika, Imam Syafi’i berkata: “saya mengadu kepada Waqi’ tentang buruknya hafalanku, maka dia mengajarkanku (fa arsyadani) agar meninggalkan maksiat. Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya (nur), dan cahaya Allah SWT tidak diberikan kepada pelaku maksiat”.

Nasehat Waqi’ tersebut mengajarkan agar Syafi’i cerdas (irsyad) dengan meninggalkan kemaksiatan. Karakter guru sebagai mursyid, mesti menjadi orang yang cerdas baik dalam penguasaan materi, penerapan teknik dan metode, serta menjadi model, teladan atau tokoh identifikasi bagi anak didiknya yang jauh dari perbuatan-perbuatan maksiat.

Masih banyak istilah lain yang patut dikaji dan dikembangkan dari ayat-ayat Alquran. Jelasnya, kesepuluh istilah di atas menunjukkan bahwa karakter seorang guru tidak sekedar penyampai materi (transfer of knowledge), tetapi yang terpenting adalah melakukan internalisasi nilai (internalitation of values) yang berbasis Alquran.

Tegasnya, guru dituntut untuk membaca, mengkaji, mengamalkan dan mengajarkan ayat-ayat Alquran sesuai dengan bidang keilmuan yang dimilikinya. Dengan begitu tidak boleh berhenti belajar, meskipun telah mengajar. Guru harus tetap belajar membina dan mendidik dirinya sendiri sehingga berhasil mendidik orang lain. Dengan begitu generasi Qurani mudah terwujud. Wallahu a’lam.

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)