Rabu, 27 Juli 2011

Mengajarkan Anak-anak Tentang Uang

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Dr. Andyda Meliala  


Mengenali mata uang, menghitung dan menggunakan uang adalah konsep dasar mengenai uang yang dapat diajarkan kepada anak sedari dini. Berikut adalah beberapa hal yang dapat anda ajarkan kepada anak-anak.
Mengenali mata uang. Anak-anak perlu mengenali dan dapat membedakan pecahan mata uang (uang ratusan, lima ratusan, ribuan, lima ribuan dan seterusnya)

Menghitung uang. Misalnya berapakah jumlah uang bila ia memiliki dua lembar lima ribuan, tiga ribuan dan dua koin ratusan? Anda dapat menggunakan beberapa pecahan mata uang dan mengajarkan anak menghitung jumlahnya.

Menghitung harga barang dan menghitung kembalian. Misalnya, bila ia mempunyai uang sepuluh ribu Rupiah yang digunakan untuk membeli dua bungkus makanan kecil sebesar tiga ribu lima ratus Rupiah, berapa kembalian yang harus diterimanya?



Bertanggung jawab atas uang yang dimilikinya. Jika anda memberinya uang dan ia menghilangkannya, ia harus tahu bahwa itu adalah kerugian yang ditanggungnya.  Anda tidak boleh mengganti uang yang hilang. Dengan demikian ia akan lebih berhati-hati dengan uang yang dibawanya.

Menggunakan uang saku dengan bijaksana. Anda harus menetapkan sejumlah tertentu sebagai uang saku. Uang saku meliputi ongkos ke sekolah (bus, angkot atau kendaraan lain), uang jajan dan tabungan. Tabungan dapat digunakan untuk membeli benda yang ia inginkan.  Pastikan bahwa uang saku mencukupi kebutuhan anak dengan sedikit tambahan untuk ditabung, namun tidak berlebihan.

Sumber: http://resourceful-parenting.blogspot.com/

Tiga Hari Berjalan di Hutan, Anak Orang Rimba Ingin Belajar

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.







Oleh: Chaidir Anwar Tanjung - detikNews


Pekanbaru - Tidak mengenal menyerah demi mendapatkan ilmu tulis dan baca. Tiga bocah anak Orang Rimba di Jambi rela menelusuri kawasan hutan selama tiga hari untuk mencari guru pembimbingnya dari aktivis Warsi. Selama perjalanan mereka tidak makan selama dua hari. Namun usaha mereka tidak sia-sia, mereka akhirnya bertemu dengan guru pembimbingnya.

Inilah sepenggal kisah pedih dari kelompok anak-anak Orang Rimba di kawasan hutan belantara di Jambi. Nasib mereka tidak seiindah anak-anak pada umumnya yang dengan mudah mendapatkan fasilitas pendidikan dari pemerintah. Anak Orang Rimba nan jauh di pedalaman sana, sampai kini tidak mendapatkan fasilitas pendidikan formal dari pemerintah terdahulu sampai kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Untuk mengenali menulis dan mambaca, selama ini anak-anak Rimba hanya mengharapkan adanya bimbingan dari kelompok aktivis lingkungan. Salah satu kelompok aktivis yang melakukan bimbingan belajar baca dan tulis adalah Warsi yang berpusat di Jambi.

Selama ini Warsi memberikan bimbingan belajat pada anak-anak Rimba dengan pola saling bergantian. Tidak bisa saban hari mereka memberikan pelajaran buat anak-anak itu. Ini mengingat keterbatasan tenaga pengajar Warsi yang hanya dua orang yakni seorang gadis bernama Karlina dengan seorang pemuda bernama Abdi. Mereka berdua harus bergantian memberikan pelajaran pada anak-anak Rimba yang lokasinya saling berbeda. Sehingga dengan hanya ada dua tenaga pengajar, anak-anak Rimba ini paling banter sepekan sekali baru mendapatkan pelajaran menulis dan membaca dari guru pembimbingnya.

Sebagaimana siang itu, Karlina dan Abdi baru saja melakukan proses belajar mengajar serta membawa tamu dari Jakarta untuk anak-anak Rimba di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Hanya beberapa hari Karlina saat itu memberikan bimbingan belajar. Namun karena ada tugas lainnya, Karlina harus segera meninggalkan anak-anak itu karena harus membimbing kelompok anak-anak yang lainnya.

Ketika Karlina meninggalkan 10 muridnya itu, rupanya secara diam-diam keesokan harinya tiga muridnya masih ingin terus belajar. Menyadari guru pembimbingnya baru akan tiba sepekan ke depan, lantas tiga bocah itu nekat mencari perwakilan Kantor Warsi yang berada sangat jauh dari kawasan taman nasional. 

Tanpa mereka sadari, di bagian belakang, tiga bocah Rimba itu adalah Kalitap (10), Besiap Bungo (7) dan Moruya (9) berjalan kaki berbekal seadanya. Sebagaimana keseharian anak Rimba mereka hanya mengenakan kain penutup kemaluan saja tanpa mengenak baju. Dari tempat tinggalnya, tiga sekawan ini terus menyelusuri kawasan hutan untuk pergi ke kantor lapangan Warsi hanya ingin belajar tulis dan baca.

Ketiga bocah ini, tetap berjalan hingga malam menjelang. Di dekat pabrik sawit PT Emal, sekitar 10 jam jalan kaki dari tempat tinggal mereka, ketiga bocah ini memutuskan untuk istirahat. Bekal mie instan 3 bungkus dan dua bungkus roti mereka bawa, menjadi menu mereka malam itu. Di bawah pepohonan sawit ketiga bebudak—sebutan orang rimba untuk anak-anak—itu tertidur di atas tanah beratapkan langit, sarung yang mereka bawa menjadi pembungkus tubuh dari serangan angin malam. Untung saja malam itu tidak turun hujan.

Keesokan paginya, ketiga budak rimba bersepakat untuk melanjutkan perjalanan, setalah sarapan pagi dengan sisa roti semalam. Tujuan mereka satu, bertemu lagi dengan tim Warsi untuk melanjutkan pelajaran mereka tempo hari. Ketiga bocah beriringan, terus menelusuri jalanan kebun sawit dan kemudian masuk ke desa hingga akhirnya setelah 4 jam mereka berjalan sampailah mereka di Pauh, tepi jalan besar yang menghubungkan Sarolangun-Jambi.

Di sini, ketiga bocah ini mencoba meminjam telepon, seorang kenalan yang ditemui di Pauh. Mereka mencoba menelpon nomor Fadli-driver-Warsi yang membawa tim Warsi. Selama di Simpang Alas, hanya nomor Fadli yang bisa di hubungi, sehingga anak-anak ini hanya mencatat nomor Fadli. Namun apa daya, sinyal yang hilang timbul menyebabkan mereka tak pernah tersambung dengan tim Warsi.

Sejenak ketiga bocah ini bimbang, mau bagaimana cara mereka untuk menemukan tim Warsi, sementara di sisi lain mereka tidak mau kembali ke rombongnya, mereka tetap ingin 'tokang' (pandai) membaca, menulis, dan berhitung. Selama ini memang ketiga bocah ini termasuk murid-murid yang diajarkan warsi, sejak 2008 silam, ketika sudah ada kesepakatan dengan Tumenggung mereka untuk adanya pendidikan di kelompok Terap. Terap merupakan kelompok Orang Rimba yang baru pada 2008 silam mau menerima pendidikan alternatif yang diberikan Warsi.

Namun keterbatasan tenaga pengajar dan banyaknya kelompok Orang Rimba yang harus di jangkau Warsi, kelompok ini, dikunjungi hanya beberapa hari dalam sebulan. Sementara di sisi lain, anak-anak rimba di kelompok ini sangat bersemangat untuk dibekali pengetahuan tentang huruf dan abjad serta merangkainya menjadi kata.

Ini juga yang membawa Kalitap dan dua rekannya untuk menyusul tim Warsi supaya mereka bisa diajarkan kembali, hingga mereka mahir membaca dan menulis serta berhitung. Perburuan mereka yang gagal menemukan tim Warsi di hari kedua, di tengah keraguan dan perjalanan panjang yag telah mereka tempuh, Moruya mengambil komando. "Awak ka SPI, mungkin kanti yoi di sana (kita ke SPI mungkin mereka di sana)," ujar Maroya dan langsung diiyakan oleh Besiap.

Walau mereka tahu, pilihan itu mengharuskan mereka berjalan sangat jauh. Pauh-SPI jika menggunakan kendaraan roda empat, menghabiskan waktu 3 jam perjalanan, apalagi jika berjalan kaki. Namun semangat "kamia ndok pintar" kembali menggerakkan langkah kaki anak-anak ini menyusuri jalan desa. Hingga sore menjelang mereka sampai di Simpang PT Emal—perkebunan sawit, sekitar 10 km dari Pauh. Di sebuah pos ronda ketiga bocah ini bermalam.

Tidak ada makan malam hari itu, dengan perut kosong ketiga bocah ini melelapkan mata. Bagi Orang Rimba sudah terbiasa untuk tidak makan seharian, masa remayo (masa paceklik) sering kali menghampiri kehidupan mereka terutama sejak semakin tipisnya sumber daya alam untuk mendukung kehidupan mereka.

Keesokan paginya, ketiga bocah ini kembali berjalan, beruntung di tengah jalan ada yang memberi tumpangan. Di bak terbuka sebuah truk cold diesel senyum para bocah ini mengembang, harapan mereka untuk bertemu tim Warsi hampir jadi nyata. Dua kali mereka berganti tumpangan dan kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki, malam harinya akhirnya ketiga bocah ini sampai di kantor lapangan Warsi.

Abdi salah seotang guru bimbingan Warsi kaget bukan kepalang melihat tiga bocah itu sampai di kantor warsi. Malam itu, ketiga anak ini disuguhi makanan, dan disuruh istirahat di dalam kantor lapangan. Ketika mereka masuk ke dalam kantor, mereka malu dengan tas butut yang mereka bawa, dan memilih meninggalkannya di luar kantor, hanya mengambil isinya, sarung dan benda yang terbungkus dalam sarung itu. 

"Ketika dia berjalan itu, sarungnya terlepas dari genggaman Besiap, sehingga buku dan pena dalam sarung itu berceceran, saya benar-benar terharu, ternyata mereka menyusul kami karena masih ingin belajar," kata Abdi dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (23/7/2011). Tak ada baju yang mereka bawa, hanya sarung dan buku serta pena. Terbukti malam itu, ketika di suruh masuk ke kamar, anak-anak itu malah menyodorkan bukunya pada Abdi, dan meminta Abdi untuk mengajari mereka membaca.

"Meski sudah menempuh perjalanan jauh dan tidak makan dua hari, mereka masih mau belajar, ya jadilah kami belajar hingga larut malam," terang Abdi. Karena keesokan harinya ada keperluan ke Jambi, Abdi tidak tega untuk tidak memenuhi keiinginan mereka belajar. Sementara Karin sudah harus menjalankan tugasnya di kelompok lain. Ketiga anak inipun di bawa ke Jambi, tentu sebelumnya Abdi sudah menanyakan kepada anak-anak ini apakah orang tuanya sudah di kasih tahu.

"Kamia dah cakopkan ka induk, ndok pergi belajor (kami sudah izin pada induk, kami mau pergi belajar," sebut Besiap. Jadilah ketiga bocah itu nangkring di boncengan Abdi menempuh perjalanan panjang 6 jam bersepeda motor. Kini ketiga bocah itu, ingin menimba ilmu sebagaimana mana umumnya anak Indonesia. Walau mereka tidak memiliki fasilitas tas dan buku yang bagus, mereka hanya memiliki keinginan yang kuat agar kelak mereka tidak terus menerus menjadi anak yang terisolasi di tengah hutan belantara.

 (cha/ndr)

Balita Anda Suka Menggigit?

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.







Oleh: Dr. Andyda Meliala

Anda mungkin mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan karena anak balita anda suka menggigit anak atau orang lain. Anak yang digigit akan merasa kesakitan bahkan mungkin akan timbul luka. Balita suka menggigit karena berbagai alasan, misalnya kurangnya kemampuan berkomunikasi, sifat balita yang agresif, mencari perhatian, atau yang sering terjadi, anak sedang mengalami pertumbuhan gigi baru. Orang tua harus mengamati alasan mengapa balita menggigit untuk dapat mengatasinya.

Komunikasi. Seorang anak yang marah atau frustrasi mungkin menjerit atau menggeram tetapi bila emosinya terlalu tinggi ia mungkin tidak dapat mengungkapkannya secara verbal. Ia tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata, maka ia menggunakan cara lain, menggigit. Dua orang balita berebut mainan, atau balita pertama memegang mainan balita kedua, anak-anak itu tidak dapat mengatakan, “Boleh kupinjam?” atau “Boleh main bersama?”.

Frustasi. Jika anak mengalami frustrasi, ia harus segera diajarkan cara mengatasinya. Orang tua dan kakak sang anak harus menunjukkan cara yang benar untuk menghadapi situasi tersebut. Ajarkan anak untuk mengunakan kata-kata yang tepat.

Agresif. Seorang anak mungkin menggigit anak lain tanpa alasan, namun menunjukkan sikap menyerang. Menyerang adalah suatu tindakan dan menyebabkan rasa sakit. Dalam keadaan apapun, orang tua tidak dapat membenarkan gigitan. Anak harus diberi tahu bahwa menggigit menyebabkan orang lain merasa sakit. Anda dapat menunjukkan kepada anak bahwa menggigit itu menyakitkan dengan menyuruhnya mengggit jarinya sendiri.

Perhatian. Anak yang menggigit tahu bagaimana mendapatkan perhatian. Ia mungkin menggigit dengan sengaja untuk mendapatkan perhatian, walaupun ia akan mendapatkan perhatian yang negatif. Mungkin anak merasa tidak nyaman dan membutuhkan pehatian ekstra. Anda dapat memeluknya, meluangkan waktu  lebih banyak untuknya. Duduklah dan bacakan cerita untuknya. Usahakan memenuhi kebutuhan emosionalnya. Anda kemudian berlutut agar dapat memandang sejajar ke mata anak dan katakana dengan suara tegas dan ekspresi tidak suka, “Jangan menggigit. Itu sakit.” Kemudian alihkan perhatian kepada anak yang digigit.

Tumbuh gigi. Pada sebagian anak gigi geraham tumbuh pada pertengahan tahun kedua dan mereka perlu menggigit-gigit. Mereka menggigit anak lain karena merasa tidak nyaman dengan gusinya. Berikan mainan khusus atau biskuit yang agak keras atau wortel untuk digigit-gigit.

Tips untuk menghentikan anak yang menggigit:

Cegah sedari dini. Balita mulai dengan menggigit orang tuanya sendiri. Mungkin anda menganggapnya  biasa, atau menganggapnya sebagai "gigitan sayang", namun bila dibiarkan lambat laun anak mungkin akan menggigit orang lain.

Aturan “Kita tidak mengigit”. Ajarkan kepada anak bahwa kita tidak boleh menggigit terutama karena menyebabkan rasa sakit.

Larangan. Hentikan dengan “Jangan” yang tegas. Lakukan ini bila anda melihat anak anda hendak menggigit. Gunakan nada suara yang tegas dan ekspresi wajah tidak suka. Anda perlu mengawasi anak anda hingga anda yakin ia tidak menggigit lagi.

Hukuman. Berikan hukuman berupa setrapan. Lepaskan anak dari gendongan anda dan tinggalkan selama beberapa menit. Bila ini tidak berhasil, anda dapat mengambil mainan kesayangannya selama hari itu. Jangan balas menggigit anak untuk menunjukkan bahwa itu menyakitkan. Anak akan menganggap bahwa orang tua boleh melakukannya, sedangkan anak tidak. Jangan memukul, menampar, mencubit atau melakukan kekerasan lain bila anak menggigit atau bertindak agresif.

Permintaan Maaf. Mintalah anak anda untuk minta maaf kepada anak yang digigit. Bila anak menggigit karena marah, anda perlu menenangkannya dulu sebelum menyuruhnya meminta maaf. Anda juga perlu meminta maaf kepada orang tua anak yang digigit.

Beri Pujian. Pujilah anak karena tidak menggigit. Pujilah anak bila ia tidak menggigit lagi. Pada situasi yang anda khawatirkan anak akan menggigit, ingatkan dengan lembut agar ia tidak melakukannya. Dan pujilah anak karena ia telah berperilaku baik.

Sumber: http://resourceful-parenting.blogspot.com/

Menjadi Orang Tua Penyabar

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.






Oleh: Dr. Andyda Meliala

Kesabaran adalah landasan utama bagi keberhasilan orang tua dalam mengasuh anak.  Kesabaran adalah cara yang paling efektif dalam mengasuh anak dan juga yang paling nyaman dirasakan anak. Namun di jaman yang serba sibuk dan penuh dengan stress ini, kesabaran makin sulit didapatkan.

Saya bukanlah orang tua yang paling penyabar, justru saya merasa bahwa kesabaran adalah skill yang paling sulit dikuasai. Tapi saya merasakan banyak kemajuan. Saya percaya  kesabaran adalah sama halnya dengan kebiasaan baik lainnya, jika terus menerus dilatih maka saya akan lebih trampil lagi dalam bersabar.  

Berikut tips favorit yang saya coba dan paling membantu:

  • Tarik napas panjang. Begitu anda mulai merasakan ketidaknyamanan, tarik napas panjang 3 kali. Buang amarah anda bersama napas yang anda hembuskan. 

  • Berhitung sampai 10. Ini tip yang sangat sederhana dan sangat manjur. Amati emosi anda, ketika anda mulai merasa frustrasi atau marah, STOP! Hitung perlahan dari 1 sampai 10.
  • Break Time. Pisahkan diri anda dari anak. Anda bisa jalan keluar ruangan selama 5 menit, untuk memikirkan konflik yang terjadi dan memikirkan jalan keluarnya. Kalau anda membutuhkan waktu yang lebih banyak, ijinkan anak menonton TV atau Video selama setengah jam. Gunakan waktu itu untuk mengembalikan energi anda dan mendinginkan pikiran.
  • Pikirkan kebutuhan anak. Seringkali kita tidak sabar karena kita lupa bahwa anak kita masih kecil dan perlu bantuan untuk menjalankan tugasnya. Pastikan bahwa ekspektasi Anda sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
  • Tertawa. Anda hanya perlu mengingatkan diri anda untuk tertawa terbahak-bahak .
  • Pause and Think. Pikirkan, apa yang hendak Anda ajarkan atau tularkan kepada anak? Apa yang penting saat ini? Kesempatan. Bagaimana anda bisa menggunakan kesempatan ‘konflik’ untuk mengajarkan sesuatu pada anak anda? Apakah anda ingin mengajarkan bahwa ‘kesalahan adalah hal yang lumrah?’ atau ‘Anda memberikan anak kebebasan untuk mengekspresikan emosinya?’
  • Bayangkan ada penonton. Bayangkan anda mempunyai audiens yang mengamati interaksi anda bersama anak anda. Bagaimana sikap anda di hadapan para audiens? Apakah anda akan tetap menunjukkan reaksi keras anda atau sebaliknya?
  • Idola. Carilah seorang idola yang memiliki kesabaran luar biasa yang anda idam-idamkan. Tanyakan pada diri anda, bagaimana kira-kira ibu ‘T’ menghandel situasi ini?
  • Catat. Anda bisa menggunakan hp atau buku harian untuk mencatat kemarahan anda. Hal ini sangat menolong anda untuk mengevaluasi pola kemarahan. Selanjutnya anda bisa memikirkan solusinya.
  • Visualisasi. Melalui evaluasi catatan kemarahan anda, anda membuat solusi agar masalah yang sama tak terulang lagi. Selanjutnya anda bisa berlatih membayangkan ‘skenario konflik’ di benak anda. Cobalah beberapa skenario solusi. Ketika konflik nyata terjadi, anda akan lebih siap dalam beraksi.


Tak ada kata terlambat untuk menjadi orang tua penyabar! 

Sumber: http://resourceful-parenting.blogspot.com/

Selasa, 26 Juli 2011

Rekor Dunia 1.585 Orang dari Berbagai Bangsa Memainkan Angklung

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





 WASHINGTON DC, (PRLM).- National Mall Washington DC menjadi tempat bersejarah bagi pengakuan dunia akan keberadaan bangsa Indonesia. Bertempat di Nation Mall, taman yang menghadap Capitol Hill (Gedung Kongres AS) sebanyak 1.585 orang dari berbagai bangsa memainkan alat musik angklung seraya menyanyikan lagu "We Are The World" dan peristiwa, Sabtu (9/7) waktu setempat tercatat dalam Guinness World Records.

 Demikian surat elektronik yang diterima "PRLM" dari KBRI di Washington DC, permainan angklung multikultur di National Mall disambut antusias masyarakat yang datang ke Indonesian Festival 2011. "Sebelumnya mereka mendaftar untuk turut ambil bagian dalam pemecahan rekor permainan angklung ini ke surat elektronik indofest 2011 embassyofindonesia. org, dan jumlahnya lumayan banyak di atas seribu limaratus orang," ujar Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal.

Dikatakan Dino, upaya pembuatan rekor dunia permainan angklung tersebut merupakan salah satu cara terkini yang ditempuh KBRI Washington DC dalam mempromosikan Indonesia. Termasuk dengan memanfaatkan pengakuan UNESCO November tahun lalu terhadap angklung Indonesia sebagai warisan budaya dunia.

Upaya yang dilakukan KBRI menurut Dino dilakukan bekerja sama dengan Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) untuk pengadaan 5.000 angklung dan kemudian pihaknya menghubungi Guinness World Records. "Setelah angklung dating upaya selanjutnya mencari dukungan, dan warga Indonesia yang ada di sini (Amerika) sangat antusias," ujar Dino.

Adapun, jalannya kegiatan yang berlangsung menurut Dino mereka yang sudah berkumpul di National Mall, langsung melakukan registrasi dan mendapatkan alat musik angklung. Setelah berkumpul lebih dari 1500 orang Daeng Udjo (putra keempat Alm. Udjo Ngalagena) memberikan pelatihan dasar selama 30 menit.

"Setelah istirahat sebentar, barulah pementasan sebenarnya untuk membuat rekor dilakukan. Sebenarnya pihak Guinness World Records memberikan toleransi untuk tigakali pengulangan, tapi ternyata lagu "We Are The World" mampu dimainkan dalam satu kali," ujar Dino yang mengaku puas sekaligus bangga. Lagu "We Are The World" merupakan lagu ciptaan Michael Jackson dan Lionel Richie yang disuarakan oleh musisi dan penyanyi yang tergabung dalam Super Group USA for Africa. Lagu tersebut di buat dalam 20 juta copi dan
 hasil penjualannya peruntukan bagi masyarakat Africa yang tenagh terkena bencana alam kekeringan serta peperangan. (A-87/A-147) ***

sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/151398

Menyiapkan Mental Anak Sebelum ke Dokter Gigi

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




Tak sedikit orang tua yang kesulitan membawa anaknya ke dokter gigi. Rasa takut dan kekhawatiran yang berlebih sering membuat si kecil merasa enggan pergi ke dokter gigi.

Untuk itu, para orang tua perlu menyiapkan mental anak-anaknya sebelum peri ke dokter gigi. berikut beberapa kiat yang dikutip dari Helium.

1. Pengalaman pertama
Pengalaman pertama anak ke dokter gig sangatlah menentukan. Sebisa mungkin, pengalaman pertama si kecil saat ke dokter bukanlah untuk mengobati, melainkan hanya cek kesehatan gigi dan mulut. Sehingga dokter tidak melakukan tindakan berat seperti menambal atau mencabut giginya. Mengecek kesehatan gigi secara rutin setiap 6 bulan sekali akan membuat anak Anda terbiasa dengan dokter gigi.

2. Bercerita
Carilah bahan sebanyak-banyaknya mengenai kesehatan gigi dan metode dokter untuk merawat gigi. Anda bisa menceritakan hal tersebut pada anak Anda. Berikanlah pengetahuan juga mengenai alat-alat yang digunakan dokter. jelaskan pada si kecil, walau bentuk alatnya menakutkan dan bersuara bising, namun itu tidak bertujuan untuk menyakiti, tapi menyembuhkan.

3. Jujur
Jangan pernah berbohong saat ingin pergi ke dokter gigi. Misalnya Anda mengatakan ingin mengajak si kecil ke supermarket, padahal tujuan sebenarnya adalah dokter gigi. Hal itu justru akan menambah rasa takut anak.
 

4. Membawa barang kesayangan
Biarkan si kecil membawa barang kesayangannya, misalnya boneka, selimut bantal mainan atau apapun. Bisa jadi mereka merasa lebih tenang dan nyaman dengan barang-barang tersebut.

5. Antusias
Tunjukkan rasa antusias Anda saat mengajak si kecil ke dokter. Jika perlu sediakan hadiah seperti 'Sertifikat Anak Paling Berani' (buatan sendiri), atau pin kecil sebagai tanda si kecil mampu melewati rasa ketakutannya. Jika Anda bersemangat, anak Anda juga ikut bersemangat.

Selamat mencoba!

sumber: Yahoonews

Sekolah Gratis di Balikpapan

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Satria Dharma


Banyak orang yg tdk percaya bahwa sekolah gratis itu mungkin di negara kita. Mungkin karena mereka sudah kekenyangan dijanjikan kemudian dibohongi soal sekolah gratis ini. Di Balikpapan sekolah sudah gratis mulai SD s/d SLTA. Sekolah publik (negeri) lho ya! Bahkan sekolah yg RSBI juga gratis...! Ngiri kan...?! :-D

Keponakan saya baru saja lulus dari SMP (swasta) dan mendaftar di SMAN 5 Balikpapan. Begitu diterima mamanya langsung mendatangi sekolah utk daftar ulang. Ini komentarnya.

"Waktu daftar ulang di SMAN 5 Bpp, aku nanya gurunya Iqbal : " bayarnya berapa, Bu..?" Dia jawab : "gratis, Bu..".

Sbg alumni TK - SMP Istiqomah, aku sempat shock mendengarnya. Belum percaya kalo sekolah anakku skrg gratis. :-D"

Ia heran bhw sekolah negeri ternyata gratis padahal sudah jadi warga Balikpapan sejak anaknya lahir. Ini karena anaknya selalu disekolahkan di sekolah swasta top di Balikpapan. Dan biaya sekolah di sekolah swasta tsb memang tinggi. Jadi sama sekali tidak ada biaya daftar ulang segala di sekolah negeri. Tidak uang SPP, tidak uang bangku, tidak uang pendaftaran ulang. Tak ada biaya sama sekali.. .!

Bahkan seorang famili yg bekerja sebagai pengawas di Dinas Pendidikan kota Balikpapan mewanti-wanti kami untuk melaporkan langsung kepadanya kalau-kalau ada sekolah negeri yang menarik biaya APAPUN...! Keren kan...!

Tapi bukankah sekolah RSBI mengenakan biaya setinggi pohon kelapa di mana-mana? Oh...tidak di Balikpapan. Di Balikpapan gratis samasekali.

Kok bisa...?! Faktanya bisa kok! Kan pemerintah pusat, propinsi, dan pemkot sudah memberi biaya khusus utk sekolah tersebut...! Jadi kenapa harus memungut biaya dari orang tua lagi? Tidak perlu.

Balikpapan memang sudah menetapkan Wajib Belajar 12 Tahun bagi warganya. Jadi itu artinya biaya sekolah (di sekolah publik) sepenuhnya menjadi kewajiban Pemerintah Kota Balikpapan. Kenapa Balikpapan sehebat ini? Karena pejabatnya benar-benar berkomitmen pada pendidikan. Bahkan ketua DPRD-nya yang bernama Andi Burhanuddin Solong pernah marah besar pada Dinas Pendidikan karena Dinas mau menerapkan aturan pungutan di sekolah RSBI. Pemkot Balikpapan diminta untuk konsisten pada perda tentang Wajib Belajar 12 tahun tersebut. Ketika Dinas Pendidikan berkilah bahwa aturan yang membolehkan pungutan tersebut adalah aturan dari Pusat, Pak ABS tidak perduli dan bilang agar Pusat suruh datang sendiri ke padanya. Tentu saja niat itu langsung kempes. Dengan demikian maka sekolah RSBI-pun gratis di Balikpapan. Two thumbs up for Balikpapan!

Saya memang sengaja menulis ini utk mengiming-imingi Anda yg tinggal di luar Balikpapan. Sekolah negeri kami gratis dan mestinya sekolah negeri di kota Anda juga bisa. Kalau Anda dibodohi oleh para pemangku kepentingan pendidikan di kota Anda dengan mengatakan bahwa sekolah tidak mungkin gratis ya suruh datang dan belajar ke Balikpapan. Kami dulu juga belajar ke Jembrana dan sekarang kami sudah bisa membuktikan bahwa kami juga bisa.

Apakah mutu pendidikan kota Balikpapan merosot karena gratis...?! Itu pemikiran geblek. Kalau pendidikan tidak dibiayai maka mutunya akan merosot. Itu jelas. Tapi di Balikpapan pendidikan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah daerahnya. Jadi tidak ada alasan mutu akan merosot. Balikpapan memang OK! Bagaimana dg kota Anda...?! :-D

Balikpapan, 7 Juli 2011

sumber: http://satriadharma .com/

Rabu, 20 Juli 2011

Pendidikan Moral di SD Jepang

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

oleh: Junanto Herdiawan






Rak Sepatu di SD Jepang / photo: Junanto

Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara ‘open school’ di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.

Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi by default, namun pastilah by design. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.

Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitik beratkan pada pentingnya ‘Moral’. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan secara sengaja pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.

Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang. Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.


Suasana kelas dan orang tua / photo: Junanto


Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.

Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar. Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.

Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak. Dengan kata lain, orang tua tidak ‘membongkar’ apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.


Menyiapkan Makan Siang utk teman2nya / foto: Junanto

Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur  umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman. Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani  masyarakat, bukan malah minta dilayani.

Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya ‘berat’ dan kerap dipaksakan harus dihafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji. Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.


 Mengantar minuman untuk teman / foto: Junanto

Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar. Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri.

Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.

Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.

Mudah-mudahan dikeluarkannya kata ‘Budaya’ dari Departemen ‘Pendidikan dan Kebudayaan’ sehingga menjadi Departemen ‘Pendidikan Nasional’ di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan Budaya, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti. Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi.

Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu ‘penting’ lainnya. Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang. Salam.

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/03/moral-di-sd-jepang


Junanto Herdiawan adalah Ekonom dan penggiat ilmu filsafat. Hobi jalan-jalan dan makan-makan. Saat ini tinggal dan bekerja di Tokyo. Bertugas mencermati dinamika ekonomi Jepang, Cina, Korea, Taiwan, dan Hong Kong.

Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat?

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Rhenald Kasali

Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan Rajin Pangkal Pandai. Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang  airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa, dan keringat.

Bagaimana anak-anak kita sekarang? Lahan-lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,  Twitter, online games, warnet, dan bimbel. Pergaulan fisik diganti oleh dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?

Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak. Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?" minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran, seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit "The Power of Simplicity" , kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan".

Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan karier masa depan. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang sakral, wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan  sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. Bukan belajar dari sejarah, tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama, melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana menurunkan rumus. Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.



Ubah Cara Pandang

Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New Zealand, ada juga orang tua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah. “Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang,”. Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan menghasilkan apa-apa. Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi. Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar.

Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas. Anda mungkin pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam kehidupan. Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tetapi seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah, tubuh dan kesehatan jiwanya.

Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Untuk itulah talenta harus diasah, diberi ruang ,dan waktu agar ia tumbuh. Leadership maupun entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan.

Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah benar menjadi lebih baik. Saya selalu teringat masa-masa memulai karir  sebagai penguji di program S3. Saat seorang tua, kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi Semua penguji tidak puas, kandidat digoreng ke kiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas. Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya,"beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"

Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini. Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan.

Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya pun tidak akan lulus. Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat, kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa kita dianggap berkolusi. Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.

Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.

Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Bahkan TKW yang Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?

Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar 6 mata pelajaran seperti di New Zealand, Denmark atau negara-negara industri lainnya? Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand terbaik keenam di dunia. Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?

 Rhenald Kasali

 Ketua Program MMUI

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/44/

Seni Memuji Anak

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.






Oleh: Sumardiono


 Memuji anak adalah sebuah pekerjaan seni, bukan pekerjaan eksak yang bisa ditentukan rumusnya. Efektivitas pujian tak hanya ditentukan oleh cara kita memuji, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter anak dalam merespon pujian.  Ada anak-anak yang dipuji sedikit sudah langsung bersemangat. Ada anak yang membutuhkan banyak pujian supaya semangat. Tetapi, ada juga anak-anak yang justru jadi tak semangat kalau terlalu banyak pujian.

Berikut ini beberapa tips tentang pujian kepada anak:

 *Hindari memuji berlebihan*
 Puji secukupnya. Jangan terlalu banyak. Jangan menjadi pemujaan pada anak sehingga sedikit-sedikit yang dilakukan anak, Anda langsung memujinya. Terlalu banyak pujian akan menjadikan pujian kurang berharga dan tidak bermakna. Anak juga jadi malas untuk mengembangkan potensi dirinya.

 *Puji untuk usaha anak*
 Fokuskan pada usaha, bukan hanya pada hasil. Terkadang, hasil yang diperoleh anak belum sempurna, tetapi niat dan usahanya bagus. Puji perjuangan dan usaha anak. "Terima kasih sudah menolong Mama membereskan tempat tidur."

 *Puji secara spesifik, bukan umum*
 Berikan pujian untuk usaha yang dilakukan anak, bukan untuk anaknya sendiri. Lebih baik mengatakan pujian "prakarya buatanmu keren" daripada memuji "kamu anak yang pandai".



 *Pujian bukan toleransi kegagalan*
 Ketika anak gagal, pujian pada usaha anak dapat menolong anak untuk mengatasi kekecewaannya. Tetapi pujian tetap harus dapat berfungsi memicu anak untuk menjadi lebih baik di waktu yang lain. Jangan sampai, anak merasa bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah dua hal yang sama saja.

 *Pujian tak hanya kata-kata*
 Pujian tak hanya diwujudkan dengan kata-kata verbal. Pujian bisa ditunjukkan dengan acungan jempol, tepukan bahu, senyuman, belaian di rambut, dan sebagainya. Walaupun Anda tak mengatakan apa-apa, anak tahu bahwa Anda sedang menunjukkan pujian Anda.

 *Dorong anak memuji orang lain*
 Supaya anak tak egois dan hanya berfokus pada dirinya sendiri, perlihatkan contoh dengan memuji anak lain atau karya lain di depan anak Anda. Lakukan pujian kepada siapapun yang berhak dipuji: pasangan, adik, tetangga, pembantu, atau siapapun. Sesekali minta anak untuk berpendapat dan mengapresiasi karya/prestasi anak lain.

 (Sumber: http://rumahinspirasi.com/homeschooling/seni-memuji-anak)

Museum dan Pentingnya Rekaman Sejarah Kehidupan Bangsa yang Memikat Hati

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.






Oleh: Hernowo

Selama seminggu, sejak Selasa, 12 Juli lalu, anak perempuan saya mendapat kesempatan berkunjung ke Korea Selatan. Haula Luthfia, demikian nama anak saya, tergabung dalam ALSA (Asian Law Students Association). Bersama-sama rekan-rekannya yang lain di ALSA, dia menghadiri sidang WIPO (World Intellectual Property Organization) di Seoul.

Sejak tiba di Seoul, anak saya rajin mengirim e-mail kepada saya untuk mengisahkan pengalaman-barunya di Seoul. Pada hari ketiga, saya diberitahu bahwa dia terpilih menjadi salah satu speaker  terbaik di WIPO Assembly. Saya tidak tahu persis tentang kabar menggembirakan yang disampaikannya tersebut. Semoga bermanfaat baginya kelak. Saya lebih tertarik ceritanya tentang museum yang dia kunjungi di Seoul:

“Hari ini aku acaranya mengunjungi Korean Museum War,” tulis anak saya. Itu museum tentang sejarah Korea Selatan ketika terjadi perang antara Korut dan Korsel. Bagaimana perebutan wilayahnya, situasi saat perang, hingga keadaannya saat ini. “Museumnya benar-benar menarik, Pa. Sepertinya orang-orang Korea senang sekali membuat replika kejadian-kejadian bersejarah di negara mereka.”

Membaca cerita anak saya, tiba-tiba kenangan ketika saya mengunjungi Imperial War Museum, pada akhir 1997, di London pun muncul secara sangat jelas. Kebetulan, saya juga menuliskan pengalaman saya sewaktu berada di museum perang di London tersebut. Saya bahkan merasakan benar bagaimana Blitzkrieg  terjadi. Suara dentuman bom yang berjatuhan dan bergoyangnya replika rumah yang saya tempati saat itu. Juga bagaimana film yang menayangkan kekejaman perang yang terus diputar setiap hari, sepanjang waktu, membuat saya merenung. Museum itu juga telah menjadi tempat belajar bagi anak-anak sekolah.

“Di museum ini juga,” lanjut anak saya, “dibuat berbagai macam replika situasi perang antara Korut dengan Korsel. Mereka membuatnya sangat apik. Tidak hanya replika, mereka juga memutar berbagai video tentang perang tersebut. Aku langsung mengingat keadaan Indonesia, Pa. Sayang sekali, Indonesia tidak mengabadikan sejarah-sejarah yang ada. Kalaupun ada, museum-museum yang ada saat  ini kurang terawat sehingga membuat orang-orang Indonesia malas mengunjunginya.”



 Saya tentu merasakan apa yang dirasakan oleh anak saya. Kita, bangsa Indonesia, tidak diberi kesempatan untuk mengenang (baca: menghargai masa lalu). Mengenang  di sini bukan untuk kembali ke masa lalu atau memujanya, melainkan bagaimana kita yang hidup saat ini mampu mengaitkan kehidupan masa kini (dan juga masa depan) dengan sejarah kita. Bagaimana Indonesia terbentuk dan betapa negara yang kita cintai ini, Indonesia, tidak hadir begitu saja.

“Setelah dari Korean War Museum, kami mengunjungi General Assembly Museum. Ini semacam museum gedung DPR di Korea Selatan. Ada satu hal yang sangat menarik perhatianku di sini. Mereka sengaja membuat museum ini dengan tujuan agar orang-orang Korsel bisa dikenalkan kepada hal-hal yang berbau politik sejak dini. Memang agak membosankan sih tempatnya, karena hanya terdiri dari  gambar-gambar ketua parlemen dari periode ke periode, sistem parlemen di sana, replika ruangan sidang, dll. Tetapi, mereka membangun ruangan-ruangan khusus yang dibuat untuk anak-anak SD. Di ruangan-ruangan itu mereka bisa belajar sambil bermain. Sungguh ide yang menarik.”

 Ya, kapan bangsa kita punya ide semenarik itu ya?[]

Kamis, 14 Juli 2011

Problematika Pendidikan di Indonesia

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




Oleh : Adisa Ittaqa Putri D.S.

Pertengahan tahun seperti saat ini sebagian rakyat Indonesia disibukkan dengan kepentingan pendidikan, khususnya orang tua dan para pelajar. Tepatnya ketika tahun ajaran baru dimulai. Berbagai aktivitas dilakukan demi pendidikan dimulai dari jenjang playgroup hingga perguruan tinggi. Berbagai tempat playgroup, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi membuka kesempatan penerimaan siswa-siswi serta mahasiswa baru dan menjaring bibit unggul berprestasi untuk menjadi bagian dari almamater mereka kelak.

Sudah sering dibahas pula di berbagai media massa berkaitan dengan polemik pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu tumpuan dan jalan dalam menggapai cita-cita serta masa depan yang lebih baik. Tidak jarang orang tua merogoh kantong lebih dalam karena membiayai pendidikan putra dan putrinya dengan biaya yang sangat tinggi. Beberapa orang tua bahkan menyekolahkannya ke luar negeri dan tentu saja memakan biaya yang tidak sedikit.

Tidak akan pernah ada akhirnya membahas mengenai pendidikan. Bantuan BOS yang diselewengkan di beberapa daerah di Indonesia oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menjadi salah satu masalah penting pendidikan. Belum lagi biaya masuk sekolah yang setiap tahun menanjak dan tidak ada transparansi mengenai rincian dana tersebut. Ditambah biaya-biaya lainnya di luar tagihan sekolah, seperti seragam, alat tulis, biaya kos-kosan, biaya sehari-hari dan biaya tak terduga lainnya.



Jumlah 20% alokasi dana pendidikan dari APBN sepertinya tidak cukup untuk menutupi biaya pendidikan di Indonesia. Banyak hal yang harus dibiayai mengingat tidak adanya pemerataan sarana dan prasarana dari pemerintah, terutama untuk sekolah-sekolah negeri yang berada di pelosok-pelosok daerah. Sering kita mendapatkan berita gedung sekolah rubuh, dan siswa-siswinya harus belajar di tempat yang sangat tidak layak dan ancamannya adalah nyawa, karena sewaktu-waktu gedung tersebut rubuh dapat menimpa mereka.

Ke manakah 20% dana tersebut? Apakah pemerintah tidak memiliki catatan mengenai keluhan masyarakat tentang pendidikan di Indonesia dan bersegera untuk memperbaikinya? Tidakkah pemerintah melihat betapa besar potensi anak-anak Indonesia di bidang pendidikan dengan mencatatkan diri dengan memenangkan Olimpiade tingkat dunia dan anak-anak tersebut berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi besar di bidang pendidikan tidak hanya tingkat nasional tetapi internasional.



Seharusnya sudah tidak ada lagi sekolah rubuh, sekolah yang tidak layak, dan tidak ada sekolah di daerah yang kekurangan sarana dan prasarana. Alangkah baiknya pemerintah mencicil untuk melakukan perbaikan di sektor pendidikan. Sudah terlalu banyak  masyarakat merasa kecewa dan sebaiknya pemerintah menyadari akan hal itu.

Dewasa ini biaya pendidikan sudah tidak murah lagi. Untuk masuk ke pra sekolah saja sudah menghabiskan jutaan rupiah, belum lagi di tingkat perguruan tinggi yang merogoh kocek dengan nominal hingga ratusan juta rupiah untuk jalur mandiri. Berbeda lagi apabila jalur SNMPTN dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Akan tetapi, berdasarkan informasi yang saya terima beberapa universitas mematok harga yang sangat tinggi seperti jalur mandiri meskipun lulus perguruan tinggi negeri di jalur SNMPTN. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Tidak ada informasi sebelumnya terkait masalah biaya yang tidak sesuai dengan jalurnya. Tentu saja banyak orang tua siswa yang kecewa atas disinformasi tersebut. Karena, berdasarkan pengalaman mereka, biaya SNMPTN itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya ujian mandiri.

Ini adalah hal yang perlu digarisbawahi. Biaya pendidikan semakin mahal tetapi tidak diimbangi dengan sarana serta prasarana pendidikan yang baik di beberapa sekolah daerah di Indonesia. Tidak semua masyarakat Indonesia berlatar belakang ekonomi yang cukup dan tidak semua orang tua mampu menyekolahkan harapan mereka sampai ke jenjang perguruan tinggi. Pokok masalahnya terletak pada biaya. Biaya yang semakin hari semakin tinggi dan kemampuan ekonomi masyarakat yang tidak merata.

Akankah ini akan tetap menjadi masalah yang tidak menemukan penyelesaian?

Adisa Ittaqa P., Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung

Indi-Smart Fun Way to Learn

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.



Oleh: Arsy Rakhmanissazly


Sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. PT. Telkom Indonesia. Tbk telah beperan banyak pada proses penyebarluasan informasi dan kelancaran komunikasi bagi masyarakat Indonesia. Perkembangan teknologi informasi hingga sampai saat ini kita telah memauski era digitalisasi informasi dimana segala macam informasi dapat diakses kapan pun dimanapun dengan perangkat lunak (software) pada gadget kita masing – masing.

Mustahil sepertinya pada zaman sekarang ini dengan tingginya tingkat mobilitas para penduduk tidak dilengkapi dengan alat komunikasi. Telephone, handphone, tablet, pc apapun jenis dan merk nya fungsi utamanya adalah sama yaitu menghubungkan pribadi dengan sumber informasi lainnya, bisa berupa individu lainnya bisa juga dengan portal – portal berita yang dapat diakses melalui internet.

Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan keberadaan Internet untuk memudahkan segala aktifitas kita maka tidak tertutup kemungkinan kegiatan dan pekerjaan dapat dilakukan secara online via internet.  Mulai dari transaksi bisnis, mengurus keperluan rumah tangga, media informasi dan edukasi kreatif sampai pada kemudahan akses informatif akademik meliputi jadwal akademik sampai pada proses belajar mengajar via online atau yang lebih dikenal dengan istilah e-learning



PT Indi-smart Kreatif Idea adalah sebuah perusahaan yang bermitra dengan PT Telkom Indonesia dalam memperluas pelayanannya sampai pada sarana pendidikan. Di websitenya www.indi-smart.com para pengkases situs dapat menikmati belajar praktis, kreatif dan fun sambil berinternet. Situs yang memang ditargetkan untuk edukasi ini memang lebih memfokuskan materi belajar untuk kalangan pelajar SD, SMP dan SMA. Materi ini dibuat dan dikhususkan karena pada jenjang pendidikan ini materi belajar nya sama dan umum sehingga dapat membantu pelajar maupun pengakses situs lainnya untuk belajar meningkatkan pengetahuannya.

Layanan e – learning ini sendiri tentu saja berbasis online, hanya dengan menggunakan fasilitas internet yang ada, Anda sudah dapat mengakses dan menggunakan pelayanan yang telah disediakan. Indi-smart konten pembelajaran online creative and fun.

Arsy Rakhmanissazly adalah mahasiswi Jurusan Public Relation, Fikom Unpad, Bandung

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)