Senin, 18 Maret 2013

Motivasi,Apa arti seorang Sahabat?

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Artikel Motivasi,Apa sih arti dari Sahabat ?

Apa perbedaanya teman dengan sahabat ?
Teman adalah seseorang yang kita kenal dan seseorang yang bisa kita jumpai disaat tertentu atau tidak selamanya kita jumpai.
Mencari teman itu mudah bahkan sangat mudah, kita cuma menemui orang yang tidak kita kenal, lalu mengajaknya kenalan, ketika sudah kenal maka ia sudah bisa kita anggap sebagai teman.

Sementara Sahabat Ada yang bilang adalah teman yang benar-benar dekat sampai tahu hal-hal kecil tentang kita.
Ada juga yang bilang sahabat itu kalau kemana-mana selalu bareng.
Tapi sepertinya opini ini lah yang paling benar,
" Sahabat itu adalah teman dalam suka dan duka, tapi tahu batas dimana suatu saat ketika teman dapat masalah, kita harus membiarkan dia mengatasi masalahnya sendiri agar teman tersebut tumbuh lebih matang dan mandiri."

Terkadang kita dengan enteng menyebut, dia itu sahabat saya.
Tapi ketika ditanya ini itu tentang sahabat yang berhubungan dengan keluarga, pendidikan dan lain-lain, bingung menjawabnya.
Dari situ kita berpikir, apa kita ini sahabat yang baik?
Apa kita pantas disebut sahabat?.
Tapi memang persahabatan itu bukan dinilai dari sedalam apa kita tau tetek bengek orang tersebut, melainkan sedalam apa kita memahami orang tersebut.

Ada pernyataan,seorang sahabat,
“ Saya tidak berharap untuk jadi orang yang terpenting dalam hidup kamu, itu permintaan yang terlalu besar. Saya cuma berharap suatu hari nanti kalau dengar nama saya, kamu bakal tersenyum dan bilang, dia sahabat saya.”
Pernyataanya mencerminkan begitu tulusnya Ia menjalani Persahabatan.

Kesimpulan,Seorang sahabat tetap memberi ruang gerak pribadi, privacy sebagai seorang manusia.
Dan kita akan merasa dekat dengan dia walaupun tidak bertemu dan tidak ada kontak dalam waktu yang lama.
Karena persahabatan itu pada dasarnya dari ikatan hati.Tidak hilang walaupun dimensi jarak memisahakan kita.
Kita harus mengakui bagaimanapun juga kita tidak bisa menghilangkan dia dari hati kita.
Dan tanpa teman, kita tidak akan seperti sekarang ini.


Memang Arti Sahabat terlalu sulit untuk di definisikan,namun arti hadirnya dalam hidup kita begitu besar.Sudahkah sobat menemukan Sahabat sejati ?.

Best Regart,
Yudi riswandy,
www.goesmart.com

Jumat, 15 Maret 2013

Makna Sabar

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Sebagai manusia, kita sering dihinggapi perasaan-perasaan buruk seperti: dendam, sakit hati, marah, iri hati, keserakahan, rasa takut, dan benci. Dapatkah perasaan-perasaan tersebut dilenyapkan dari batin kita dengan cara melarikan diri atau dengan jalan menekannya? Hal ini penting bagi kita untuk ditelusuri, diselidiki, dan dipelajari karena ternyata dalam kenyataannya salah satu dari nafsu-nafsu tersebut selalu muncul tanpa kita sadari. Perasaan tersebut menyelinap begitu saja dalam hati, dan tentu saja sangat mengganggu bagaikan sebutir kerikil dalam sepatu. Mungkinkah kita terbebas dari semua nafsu tersebut dengan daya upaya kita?
Alangkah bijaknya apabila kita mau bertanya, dari mana timbulnya nafsu-nafsu seperti dendam, benci, marah, iri hati, ujub, ria, takabur, serakah, rasa takut, dan sebagainya itu. Sesungguhnya, semua itu timbul dari adanya pikiran yang membentuk si Aku dengan keinginannya untuk mengejar kesenangan dan menjauhi kesusahan. Karena si Aku ini merasa diganggu, dirugikan baik lahir maupun batin, maka timbullah kemarahan, kebencian, dan dendam. Karena si Aku ini ingin mengejar kesenangan, maka lahirlah keserakahan, kesombongan, iri hati, dan sebagainya.
Ketika kemarahan muncul, berdasarkan pengalaman sendiri atau informasi dari orang lain, si Aku melihat bahwa kemarahan itu ternyata tidak akan menguntungkan. Lalu,  muncullah keinginan lain lagi, yaitu keinginan untukmelenyapkan kemarahan. Jelas sekali bahwa yang marah dan yang ingin bebas dari kemarahan tersebut masih yang itu-itu juga, masih si Aku yang ingin senang. Hakekatnya adalah bahwa si Aku ingin bebas dari rasa marah karena dianggap menyenangkan. Jadi, si Marah adalah si Aku, si Ingin Bebas dari kemarahan pun adalah si Aku sendiri. Bermacam-macam daya upaya dilakukan kita untuk bebas dari kemarahan, kebencian, dan sebagainya. Ada yang melarikan diri dari kenyataan itu dengan cara menghibur diri, pergi ke tempat karaoke, pergi ke pub atau klab malam untuk berjoget dan minum sampai mabuk, bahkan ada yang pergi ke tempat sunyi sekedar untuk menyepi. Ada pula yang mempergunakan kekuatan kemauan untuk menghimpit dan menekan kemarahan yang timbul tersebut dengan membaca wirid-wirid tertentu. Pendeknya, segala macam daya upaya dilakukan untuk membebaskan diri dari kenyataan, yaitu amarah.

Bagaimana hasilnya?
Sepintas tampak berhasil. Kemarahan tidak muncul lagi karena ada penekanan kemauan dan hiburan. Akan tetapi, mustahil melenyapkan penyakit apabila hanya dengan menggosok-gosok wilayah yang sakit agar nyerinya berkurang atau lenyap. Sesungguhnya penyakitnya masih tetap ada, yang ditekan hanyalah rasa nyeri, maka suatu waktu rasa nyeri itupun akan muncul kembali. Demikian pula dengan kemarahan, kebencian, dan sebagainya. Memang dengan upaya penekanan atau hiburan, kemarahan itu seolah-olah pada lahirnya sudah lenyap, api kemarahan tampaknya padam. Namun sesungguhnya tidaklah demikian adanya, api itu masih tetap membara bagaikan api dalam sekam, dari luar tidak tampak menyala padahal di bagian dalamnya tetap membara dan sewaktu-waktu siap untuk berkobar kembali.
Oleh karena itu, terciptalah lingkaran setan pada diri kita. Marah – disabarkan atau ditekan – marah lagi – ditekan lagi, terus begitu selama kita masih hidup. Beranikah kita menghadapi keadaan tersebut secara langsung? Saat muncul marah, dendam, benci, iri, takut, dan sebagainya, mengapa kita harus lari? Mengapa kita tidak mencoba untuk menanggulanginya dengan cara mengamati, menyelidiki, dan mempelajarinya secara langsung? Mengapa kita tidak membuka mata dan waspada, penuh kesadaran akan semua itu? Jika marah timbul dan kita membuka mata penuh kewaspadaan, mengamatinya tanpa campur tangan si Aku yang ingin mengubah keadaan dengan cara ingin sabar dan sebagainya, maka apakah yang terjadi dengan kemarahan tersebut? Cobalah! Segala pengertian itu tanpa guna kalau tidak disertai dengan penghayatan. Pengertian harus disertai dengan penghayatan. Tanpa penghayatan, segala macam pengertian hanyalah pengetahuan kosong belaka, hanya berupa teori-teori usang yang pantas disimpan di lemari-lemari lapuk untuk sekedar hiasan belaka. Pengetahuan seperti itu tiada manfaatnya bagi kehidupan. Dengan demikian, kalau muncul marah, dendam, benci, takut, dan sebagainya, kita hadapi saja dan kita buka mata hati kita untuk mengamatinya dengan penuh perhatian, penuh kewaspadaan dan kesadaran.
Sesungguhnya, pengekangan nafsu, pengendalian diri dan tekanan acapkali diajarkan kepada kita berupa pendidikan dan pengajaran. Justru pelajaran inilah yang menimbulkan konflik-konflik dalam batin kita, antara kenyataan dan angan-angan yang selalu bertolak-belakang. Kenyataannya kita ini serakah, akan tetapi angan-angan yang dijejalkan kepada kita adalah agar kita tidak serakah, demikian seterusnya. Sumber penyakitnya tidak pernah diobati dan dilenyapkan, hanya rasa nyeri saja yang kita usahakan untuk diringankan atau dilenyapkan. Tentu saja, sang penyakit akan selalu kambuh lagi kalau ada pemicunya kembali. Ternyata, sumber penyakitnya adalah ada pada si Aku yang selalu ingin senang dan ingin menjauhi susah.
Kemarahan, kebencian, dan dendam timbul karena pikiran si Aku tersinggung atau merasa dirugikan. Kalau tidak ada si Aku yang merasa dirugikan, mungkinkah kemarahan itu ada? Hanya dengan pengamatan yang penuh kewaspadaan akan menciptakan pengertian. Hanya dengan pengertian disertai kesadaran yang memunculkan penghayatan. Dengan jalan itu, lahirlah tanggapan-tanggapan spontan seketika. Pengertian dan penghayatan dari pengamatan inilah yang akan meniadakan marah, benci, dan dendam. Dengan tiadanya marah, benci, dan dendam mendekatkan hati kita kepada kebebasan, cinta, dan kasih sayang. Kalau sudah begitu, kita tidak perlu lagi belajar sabar.

Oleh Irman Nurhapitudin Dimyati
Best Regarts,
Yudi Riswandy.
www.goesmart.com

Kamis, 14 Maret 2013

Blog, Blogger, Artikel dan Jurnalisme Via Media Internet

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Dunia blog tidak lepas dari tulis-menulis (meskipun pada kenyataannya kita tidak pernah menulis di blog, melainkan mengetik). Seperti halnya blogger yang "menulis" karyanya di dunia blog, begitu pula jurnalis (wartawan) menuliskan pemikiran dan liputannya di media massa (cetak/koran dan elektronik). Lantas, apakah penulis blogger bisa disamakan dengan jurnalis (wartawan). Meskipun mempunyai prinsip yang sama, dunia jurnalistik nyatanya jauh lebih luas dibandingkan blog atau blogger. Tidak salah memang karena di dunia jurnalistik, setiap wartawan dibekali pendidikan formal, ilmu jurnalistik, kode etik penulisan, dan hal-hal lain yang terikat dengan pewartaan.

Meski demikian, bukan berarti blog atau blogger yang kemudian berkembang ke arah jurnalis warga (citizen jurnalism) jauh tertinggal dari jurnalis atau wartawan yang sesungguhnya. Blogger yang menulis pemikirannya di blog tidak terikat pada satu media tertentu, meskipun ada kode etik tidak tertulis yang harus dicamkan oleh setiap blogger, seperti penulisan, kode etik, copy-paste dan isu plagarisme, dan lain-lain.

Tidak ada salahnya pula blogger sedikit banyak "mencuri" ilmu dari wartawan yang memperoleh pendidikan formal jurnalistik. Tidak sedikit hal yang bisa kita ambil dari dunia jurnalistik, terkait masalah penulisan bagi para blogger yang ingin mengembangkan diri sebagai citizen journalism.

Lantas, Bisakah blogger menjadi jurnalis warga atau yang lebih ngetrend dengan sebutan "citizem journalism"? Pertanyaan tersebut muncul dengan semakin menjamurnya dunia blog. Berikut sebuah artikel yang aku ambil dari Tempo.

Bagaimana kita menulis berita seperti karya para jurnalis profesional? Begitulah pertanyaan beberapa teman yang berniat serius menekuni jurnalisme warga.

Mereka belum pernah mendapatkan pendidikan jurnalisme formal, tapi memiliki blog sebagai tempat berbagi kabar, dan hendak menjadikan media pribadinya tersebut sebagai sumber berita warga daring. Kebetulan, jurnalisme warga juga sedang menjadi isu hangat di beberapa blog komunitas.

Mat Bloger, yang ikut mendengar pertanyaan itu, langsung berkomentar. "Halah, begitu saja kok repot. Tulis saja semua yang sampean punya. Bebas."

Saya menukas. "Nggak bisa sembarangan begitu, Mat. Siapa pun bisa jadi jurnalis warga. Tapi, kalau mau serius, sebaiknya kita belajar dari ahlinya, orang-orang yang pekerjaan sehari-harinya memang jurnalis, terutama ketika hendak menulis atau membuat berita."

"Kenapa, Mas? Apa sih yang bisa kita pelajari dari para jurnalis profesional?" tanya Mat Bloger.

Jurnalis profesional bekerja berdasarkan standar prosedur, undang-undang, prinsip, dan kode etik jurnalistik. Dalam bekerja, mereka selalu menjadikan semua pegangan itu sebagai acuan untuk mendapatkan kredibilitas dan kepercayaan pembaca. Nah, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari mereka saat membuat berita.

Kejujuran
Sekali lancung ke ujian, seumur-umur sampean nggak akan dipercaya lagi oleh pembaca. Kabar bohong, menyesatkan, manipulatif, dan melanggar etika mungkin akan membuat sampean cepat populer. Tapi kelak sampean akan menuai hasilnya, kehilangan kepercayaan dan kredibilitas. Kebanyakan berita "panas" pun baru keluar setelah seorang jurnalis menghabiskan berbulan-bulan atau bertahun-tahun melakukan verifikasi, check and recheck, serta menguji ulang sumber-sumbernya.

Akurasi
Hasil survei Pew Centre terhadap para blogger menunjukkan 34 persen responden merasa karya mereka merupakan hasil kerja jurnalistik. Tapi hanya 56 persen di antaranya yang telah menyediakan waktu tambahan untuk memverifikasi fakta. Padahal akurasi adalah mahkota sebuah laporan. Sampean harus yakin bahwa semua bahan yang ditulis itu akurat. Sampean tak boleh salah menyebut nama dan umur sumber, tanggal, lokasi kejadian, dan sebagainya.

Presisi
Ketepatan penulisan adalah kunci, baik dalam menuliskan kata maupun kalimat. Ia membantu kita memperoleh respek dan legitimasi. Gunakan, misalnya, KBBI atau kamus Thesaurus sebagai pembantu mendapatkan ketepatan penulisan. Kesalahan ketik atau ejaan akan membuat pembaca ragu akan kebenaran seluruh tulisan.

Konsistensi
Agar jurnalis menulis secara konsisten, biasanya kantor mereka menyediakan style book. Buku panduan ini berguna agar jurnalis selalu menulis berita secara konsisten, misalnya "Yogyakarta" atau "Jogjakarta", "10" atau "sepuluh". Ini bukan soal benar atau salah, tapi konsistensi. Sesuatu yang konsisten membuat pembaca tak bingung.

Baca ulang
Para jurnalis terbiasa membaca kembali dan menyunting ulang laporan mereka. Langkah ini ditempuh guna memastikan apakah sebuah berita telah ditulis dengan akurat, presisi, dan tak mengandung kesalahan tulis atau ejaan. Pastikan apakah kalimat mengalir lancar. Periksa juga apakah setiap fakta, misalnya nama sumber, sudah ditulis dengan benar. Lihat apakah tata bahasa dan ejaannya sesuai dengan kaidah, tak ada kesalahan ketik, dan sebagainya. Mencegah kesalahan selalu lebih baik dari mengoreksi, bukan?


Source :
 http://lunjap.wordpress.com
Best Regarts,
Yudi Riswandy,
www.goesmart.com

Rabu, 13 Maret 2013

Mengapa Pembelajaran Bahasa Inggris Kita Gagal?

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Pelajaran bahasa Inggris bukanlah sesuatu yang asing di telinga orang Indonesia, bahkan orang tidak sekolahan pun mengenal apa itu bahasa Inggris. Namun, apakah semua orang memahami dengan baik posisi bahasa Inggris di Indonesia beserta pendekatan yang cocok untuk  mengajarkannya?
Sudah sekian lama, pelajaran bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib dari sekolah hingga perguruan tinggi, bahkan akhir-akhir ini bahasa Inggris menjadi pelajaran wajib di tingkat Sekolah Dasar (SD).  Bahkan, seolah tidak ingin kalah dengan tingkat SD, jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak  (TK) pun ikut serta memberikan pengenalan bahasa Inggris entah alasan dan programmya jelas atau tidak. Sebagai seorang pemerhati pendidikan dan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia, saya mengacungi jempol terhadap semua usaha yang telah dicapai untuk membantu anak-anak bisa berbahasa Inggris.
Lepas dari semua bentuk usaha untuk mengajarkan bahasa Inggris di Indonesia, ada suatu hal yang mengganjal dalam pikiran saya: mampukah semua usaha yang dilakukan untuk mengajarkan bahasa Inggris (dari  TK-Perguruan Tinggi) tersebut membuat siswa-siswa Indonesia pandai berbahasa Inggris?  Berdasarkan permasalahan tersebut, saya ingin memberikan pikiran saya terhadap pengajaran bahasa Inggris di Indonesia dalam arti luas dan tidak terbatas batas sekolah-sekolah tertentu. Bukankah pendidikan harus dijalankan secara adil dan merata?
Dalam tulisan ini saya bermaksud mengajak Anda semua untuk berpikir pada konteks yang luas yaitu konteks pendidikan di Indonesia, bukan terbatas pada sekolah-sekolah yang terletak di kota-kota besar atau sekolah-sekolah yang memiliki banyak fasilitas mewah penunjang belajar atau sekolah yang didesign secara khusus seperti RSBI. Secara umum saya melihat gap yang lebar antara pendidikan di kota dan di pinggiran, antara kebanyakan sekolah pemerintah dan sekolah swasta. Catatan saya untuk siswa di kota juga menunjukan jika siswa-siswa di kota jauh lebih beruntung daripada di mereka yang di pinggiran. Misalnya, siswa di kota dengan mudah bisa mengkuti kursus bahasa Inggris baik dengan guru lokal atau penutur asli (native speaker), akses materi belajar yang mudah, dan aneka kemudahan program bahasa Inggris lainnya. Disisi lain siswa di daerah pinggiran sering belajar dengan keadaan serba terbatas. Dari contoh tersebut bisa kita lihat mengapa siswa-siswa di kota memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih baik dari siswa pinggiran. Salah satu jawabannya adalah adanya akses untuk terlibat aktif dalam berbahasa Inggris. Jadi bisa disimpulkan jika salah satu kunci untuk bisa menguasai bahasa Inggris dengan baik adalah dengan secara aktif terus memakai bahasa Inggris atau terlibat aktif dalam penggunaan bahasa Inggris (target language) seperti yang dilakukan kebanyakan siswa-siswa di perkotaan. Pertanyaannya: bagaimana dengan siswa-siswa di pinggiran yang kurang beruntung?
Dalam tulisan ini  pula saya ingin mengajak Anda memikirkan mereka yang kurang beruntung dalam belajar bahasa Inggris, yaitu siswa-siswa yang sepenuhnya mengandalkan pelajaran bahasa Inggris murni dari sekolah dan kurikulumnya. Dari sinilah saya berani menggunakan istilah ‘GAGAL’ karena hasil investigasi saya menunjukan jika kurikulum yang dibuat sekolah belum mampu membuat siswa-siswa di Indonesia secara umum bisa secara aktif berbahasa Inggris.  Selanjutnya, argumentasi saya untuk kegagalan pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia juga bersumber dari hasil investigasi lapangan atas tanggapan berbagai guru bahasa Inggris terhadap kemampuan bahasa Inggris siswa-siwa sekolah dari berbagai kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia. Secara umum para guru berpendapat jika kurikulum sekolah belum mampu membuat siswa-siswa bisa berbahasa Inggris secara aktif, jika mampu berbahasa Inggris mereka masih dalam taraf terbatas.
Dalam artikel pendek ini saya tidak memasukan diskusi siswa-siswa sekolah di perkotaan sebagai indikator keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah, karena kemampuan bahasa Inggris mereka tidak murni  hasil didikan sekolah tetapi sudah dipengaruhi oleh pendidikan lain seperti kursusan  atau pelatihan bahasa Inggris yang disediakan oleh lembaga-lembaga di luar pendidikan formal.  Jadi, saya ingin memfokuskan tulisan ini pada isu pendidikan bahasa Inggris di sekolah formal.
Jika ditilik dari intesitas pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia, saat ini anak-anak sudah memiliki banyak sekali waktu untuk belajar bahasa Inggris (dari TK sampai PT).  Secara logika dan teori, dengan mudah bisa dipahami implikasinya, jika anak-anak memiliki banyak waktu belajar bahasa Inggris, maka dia dengan cepat akan bisa berbahasa Inggris apalagi mereka belajar bahasa Inggris sejak usia dini. Apakah teori ini bisa diaplikasikan di Indonesia?
Lepas dari kurikulum sekolah dan metode untuk mengajar, saya melihat satu masalah yang sangat krusial yang menjadi kunci utama untuk mendongkrak kemampuan bahasa Inggris. Saya mencermati posisi bahasa Inggris sebagai bahasa asing (English as a foreign language) adalah penyebab utama mengapa kemampuan anak-anak kita rendah. Secara teori bisa kita pahami jika cara pandang terhadap bahasa Inggris sebagai bahasa asing tentu akan berbeda jika dilihat bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau L2 (alat komunikasi kedua) seperti di Malaysia dan Singapura di mana bahasa Inggris dipergunakan di dalam kehidupan masyarakat disamping bahasa utama / resmi (official language).
Di Indonesia, bahasa Inggris hanya dipelajari di sekolah namun tidak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum bisa dipahami jika bahasa Inggris hanya dipelajari sebatas teori dan ilmu saja. Hal ini tentu berlawanan dengan konsep belajar suatu bahasa: dimana belajar suatu bahasa itu mempelajari 4 keahlian berbahasa (language skills): listening (mendengarkan), speaking(berbicara), reading (membaca) dan writing (menulis). Jadi, jika bahasa itu keahlian yang harus dipergunakan maka penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan nyata menjadi kunci sukses untuk menguasai bahasa tersebut. Sebagai contoh: seorang siswa yang  memiliki kosakata banyak belum tentu bisa berbicara atau paham bahasa Inggris dengan baik, seorang siswa yang hafal semua jenis tenses atau tata bahasa belum tentu bisa menulis bahasa Inggris dengan baik, dan seorang anak yang tahu banyak ekspresi bahasa Inggris belum tentu bisa menggunakan dengan tepat.
Jadi menurut saya, guru bahasa Inggris harus memahami jika bahasa Inggris di Indonesia sebagai bahasa asing sehingga semua bentuk kegiatan mengajar harus mengarah pada kenyataan posisi bahasa Indonesia di Indonesia. Guru harus sadar jika anak-anak tidak berbahasa Inggris di lingkungan mereka dan mereka belajar bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bukan suatu kebutuhan untuk dipergunakan di masyarakat dan kehidupan sehar-hari. Bagi saya, penciptaan kesadaran dalam diri siswa untuk mencintai bahasa Inggris akan menjadi kunci utama untuk menumbuhkan minat belajar bahasa Inggris.
Berdasar hasil penelitian saya untuk menjawab  ‘mengapa Anda menjadi guru bahasa Inggris’, hampir semua responden saya menyampaikan jika mereka sangat cinta dan tertarik dengan bahasa Inggris sehingga mereka rela berkorban dan berjuang secara mandiri untuk belajar dan menguasai bahasa Inggris. Mungkin ini bisa menjadi refleksi bagi diri Anda sendiri mengapa Anda menjadi guru bahasa Inggris dan bisa berhasil dalam belajar bahasa Inggris. Jawabnya sederhana: karena Anda cinta dan suka dengan bahasa Inggris.
Saya pribadi tertarik dengan bahasa Inggris sejak di SMP yang kemudian lanjut ke tingat SMA hingga perguruan tinggi. Karena rasa cinta yang luar biasa dengan bahasa Inggris, hampir sebagian waktu saya habiskan untuk mempelajari bahasa Inggris seperti mengikuti kursus-kursus bahasa Inggris.Bagi saya kecintaan dengan bahasa Inggris yang tulus dan murni bersumber dari relung hati yang paling dalam menjadi motor penggerak paling powerfuluntuk diri saya sehingga tanpa kenal lelah  saya rela terus berjuang untuk bisa berbahasa Inggris. Jadi modal awal saya hanyalah suka dengan bahasa Inggris.
Kesimpulan saya adalah selama bahasa Inggris itu berada pada posisi sebagai bahasa asing (foreign language), maka kemampuan anak-anak kita tidak akan mengalami banyak perubahan sehingga perlu wacana untuk merubah kedudukan bahasa Inggris di Indonesia. Guru sebaikanya menggunkan teknik mengajar bahasa Inggris yang sesuai dengan posisi / kedudukan bahasa Inggris di Indonesia.
Ada tiga poin untuk direnungkan dari tulisan saya ini:
·         Sehebat apapun sebuah metode tetapi jika tidak cocok dengan keadaan lingkungan (konteks) maka tidak akan banyak memberikan hasil.
·         Selama masalah belajar yang mendera siswa tidak terpecahkan maka harapan untuk mencapai hasil belajar yang bermutu sesuai dengan yang tertuang atau diharapkan dalam kurikulum akan sulit terealisasi.
·         Perlu untuk diwacanakan penggunakan bahasa Inggris dalam konteks nyata di masyarakat Indonesia sehingga bahasa Inggris bukan lagi sekedar sebuah bahasa asing yang dipelajari secara teori tetap menjadi bagian alat komunikasi sehari-hari.
diposting di http://subekti.com 
Best Regart,
Yudi Riswandy
www.goesmart.com

Senin, 11 Maret 2013

Membangun emosi positif dalam pembelajaran

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Oleh:  Heriyanto Nurcahyo (Guru SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi)
Keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar di kelas banyak ditentukan oleh kemampuan untuk membangun penghubung diantara kedua proses tersebut.Meski proses belajar mengajar merupakan dua hal yang berbeda, kita dituntut untuk menggapai keberhasilan keduanya secara bersamaan.Dan salah satu upaya terbaik untuk menggapai keduanya adalah membangun emosi positif melalui cerita di awal pembelajaran. Emosi positif adalah keadaan dimana pembelajaran mampu menghadirkan suasana ceria (joy),ketertarikan (interest), kepuasan atau kelegaan (contentment) dan love (cinta atau kasih sayang).
Learning is most effective when it’s fun memberi kita landasan yang sangat penting dalam pembelajaran.Menyenangkan adalah kondisi dimana anak didik terbebas dari rasa tertekan, tidak berdaya,putus asa serta bentuk tekanan psikologsi lainnya.Kondisi ini sejalan dengan syarat utama bekerjanya otak secara maksimal:keadaan yang menyenangkan.
Dave Meir dalam bukunya The Accelerated Learning Hand book(2000) merumuskan Keadaan yang menyenangkan ini lebih pada suasana hati yang positif semisal bangkitnya minat,adanya keterlibatan penuh,serta terciptanya makna dan nilai yang membahagiakan. Kegembiraan belajar seringkali merupakan penentu utama kualitas dan kuantitas belajar yang dapat terjadi.
Lebih jauh dia menyatakan bahwa emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar.Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali.
Oleh karena itu, pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri pembelajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan dengan penciptaan kegembiraan belajar
Kegembiraan belajar sebagai suasana hati yang positif (emosi positif) dapat tercipta melalui berbagai macam kegiatan yang kreatif. Kegiatan kreatif yang dapat meggugah munculya emosi positif diataranya adalah kegiatan-kegiatan pelepas stress.Salah satu kegiatan pelepas stress yang bisa dilakukan untuk meggugah munculya perasaan (emosi) positif adalah pemberian cerita di awal pembelajaran.
CERITA SEBAGAI PEMBUKAAN YANG BERKESAN
Salah satu kekuatan penting dalam proses belajar mengajar adalah keterkaitan emosional guru dengan siswa Sebuah cerita yang kita sampaikan di awal pembelajaran akan memiliki kesan yang mendalam bagi anak didik.Kesan yang mucul dari cerita yang disampaikan juga akan membantu proses pembelajaran dan penyampaian materi selanjutya.Disamping itu,cerita juga mampu mengaktifkan seluruh perasaan yang positif pada sang pemberi cerita (guru).
Kondisi tersebut diatas memudahkan baik anak didik maupun guru dalam membangun interaksi pembelajaran yang baik.Tidak adanya sekat psikologis diantara guru dan anak didik akan memungkinkan terjadinya pembelajaran yang nyaman, tanpa tekanan dan memberi ruang yang luas bagi murid untuk mengeksplorasi diri dan pengetahuan yang didapatnya.

BERI CERITA YANG MENGINSPIRASI
Adalah David MC Celland – seorang psikolog social – yang tertarik untuk mengetahui kaitan cerita dengan mental positif. Dari hasil penelitiannya, dia mendapati bahwa negara yang memiliki cerita yang menggugah munculnya sikap positif (N-Ach) berpengaruh sangat besar terhadap kemajuan bangsanya kelak dikemudian hari.
Cerita inspiratif juga bisa dijadikan sarana membangun motivasi anak didik. Anak didik akan dapat belajar dari cerita-cerita yang disampaikan oleh guru.Baik belajar tentang kearifan, keberanian maupun hikmah-hikmah yang lainnya.Dan yang lebih penting adalah bahwa cerita mampu mempengaruhi karakter anak didik. Modalitas inilah yang nantinya akan bermuara pada mental dan sikap positif anak didik.Baik saat mengikuti pembelajaran maupun ketika mereka dihadapkan pada kehidupan nyata.
Best Regarts,
Yudi Riswandy,
www,goesmart.com

Jumat, 08 Maret 2013

Pendidikan Berwawasan Global

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan, yaitu dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan para anak didik dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasasn, kebersamaan dan tanggung jawab. Selain itu, pendidikan harus dapat menghasilkan lulusan yang bisa memahami, masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan di dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan yaitu mengembangkan pendidikan yang berwawasan global.
A. Perfektif Reformasi
Pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang dirancang untuk mempersdiapkan anak didik dengan kemampuan dasar intelektual dan tanggung jawab guna memasuki kehidupan yang bersifat kompetitif dan dengan derajat saling menggantungkan antar bangsa yang sangat tinggi. Pendidikan harus mengkhaitkan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah dengan nilai-nilai yang selalu berubah di masyarakat global. Dengan demikian, sekolah harus memiliki orientasi nilai, di mana masyarakat tersebut harus selalu dikaji dalam kaitannya dengan masyarakat dunia.
Implikasi dari pendidikan berwawasan global menurut perfektif reformasi tidak hanya bersifat perombakan kurikulum, tetapi juga merombak sistem, struktur dan proses pendidikan. Pendidikan dengan kebijakan dasar sebagai kebijakan sosial tidak lagi cocok bagi pendidikan berwawasan global. Pendidikan berwawasan global harus merupakan kombinasi antara kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Maka dari itu, sistem dan struktur pendidikan harus bersifat terbuka, sebagaimana layaknya kegiatan yang memiliki fungsi ekonomis.
Kebijakan pendidikan yang berada di antara kebijakan sosial dan mekanisme pasar, memiliki arti bahwa pendidikan tidak semata-mata di tata dan diatur dengan menggunakan perangkat aturan sebagaimana yang berlaku sekarang ini, serba seragam, rinci dan instruktif. Tetapi pendidikan juga di atur layaknya suatu Mall, adanya kebebasan pemilik toko untuk menentukan barang apa yang akan dijual, bagaimana akan dijual dan dengan harga berapa barang akan dijual. Pemerintah tidak perlu mengatur segala sesuatu dengan rinci.
Selain itu, pendidikan berwawasan global bersifat sistematik organik, dengan ciri-ciri fleksibel-adaptif dan kreatif demokratis. Bersifat sistemik-organik artinya bahwa sekolah merupakan sekumpulan proses yang bersifat interaktif yang tidak bisa dilihat sebagai-hitam putih, tetapi setiap interaksi harus dilihat sebagai satu bagian dari keseluruhan interaksi yang ada.
Fleksibel-adaptif, artinya bahwa pendidikan lebih ditekankan sebagai suatu proses learning daripada teaching. Anak didik dirangsang untuk memiliki motivasi untuk mempelajari sesuatu yang harus dipelajari dan continues learning. Tetapi, anak didik tidak akan dipaksa untuk dipelajari. Sedangkan materi yang dipelajari bersifat integrated, materi satu dengan yang lain dikaitkan secara padu dan dalam open-sistem environment. Pada pendidikan tersebut karakteristik individu mendapat tempat yang layak.
Kreatif demokratis, berarti pendidikan senantiasa menekankan pada suatu sikap mental untuk senantiasa menghadirkan suatu yang baru dan orisinil. Secara paedagogis, kreativitas dan demokrasi merupakan dua sisi dari mata uang. Tanpa demokrasi tidak akan ada proses kreatif, sebaliknya tanpa proses kreatif demokrasi tidak akan memiliki makna.
Untuk memasuki era globalisasi pendidikan harus bergeser kearah pendidikan yang berwawasan global. Dari perspektif kurikuler pendidikan berwawasan global berarti menyajikan kurikulum yang bersifat interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global berarti menuntut kebijakan pendidikan tidak semata-mata sebagai kebijakan sosial, melainkan suatu kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Maka dari itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif.
B. Perspektif Kurikuler
Pendidikan berwawasan global dapat dikaji berdasarkan pada dua perspektif yaitu perspektif reformasi dan perspektif kurikuler. Berdasarkan persperktif kurikuler, pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga terdidik kelas menengah dan professional dengan meningkatkan kemampuan individu dalam memahami masyarakatnya dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat dunia, dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.   Mempelajari budaya, sosial, politik dan ekonomi bangsa lain dengan titik berat memahami adanya saling ketergantungan
2.  Mempelajari barbagai cabang ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan setempat,dan
3. Mengembangkan berbagai kemungkinan berbagai kemampuan dan  keterampilan untuk bekerjasama guna mewujudkan kehidupan masyarakat dunia yang lebih baik.
Oleh karena itu, pendidikan berwawasan global akan menekankan pada pembahasan materi yang meliputi:
1.       Adanya saling ketergantungan di antara masyarakat dunia
2.        Adanya perubahan yang akan terus berlangsung dari waktu ke waktu
3.  Adanya perbedaan kultur di antara masyarakat atau kelompok-kelompok dalam masyarakat
4.    Adanya kenyataan bahwa kehidupan dunia itu memiliki berbagai keterbatasan antara lain dalam wujud ketersediaan barang-barang kebutuhan yang jarang. Untuk dapat memenuhi kebutuhan yang jarang tersebut tidak mustahil dapat menimbulkan konflik-konflik.
Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk saling memahami budaya yang lain. Berdasarkan perspektif kurikuler ini, pengembangan pendidikan berwawasan global memiliki implikasi kearah perombakan kurikulum pendidikan. Mata pelajaran dan mata kuliah yang dikembangkan tidak lagi bersifat monolitik melainkan lebih banyak yang bersifat integratif. Dalam arti mata kuliah lebih ditekankan pada kajian yang bersifat multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner.
Best regarts,
Yudi Riswandy,
www.goesmart.com

Kamis, 07 Maret 2013

Kejenuhan Belajar

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Materi Posting (Muhibbin Syah)

Kemacetan dalam memeroleh/menambah pengetahuan dan keterampilan yang dialami seorang murid mungkin karena kejenuhan. Dalam belajar, kejenuhan ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber, 1988. Dictionary of Psychology). Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar, pengetahuan dan kecakapannya akan “jalan di tempat”. Ketiadaan kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung lama misalnya seminggu, namun tidak sedikit siswa yang mengalaminya dalam rentang waktu yang lama dan berkali-kali dalam satu semester. Kalau kemacetan ini kita gambarkan dalam bentuk kurva, yang akan tampak adalah garis mendatar yang dalam psikologi kognitif lazim disebut learning plateau atau plateau. Dapatkah Anda menolong murid yang sedang mengalami kemacetan semacam ini?

Perlu diketahui bahwa jenuh yang saya maksud dalam diskusi ini ialah “padat” atau “penuh” sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh juga dapat berarti “jemu” atau “bosan”. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972). Tapi menurut saya, secara psiko-fisik kejenuhan dapat juga terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaniahnya. Akibatnya? Selain siswa tersebut merasa bosan (boring) ia juga mengalami keletihan (fatigue). Menurut Cross dalam bukunya yang sudah cukup tua (1974) The Psychology of Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yakni: 1) keletihan indera siswa; 2) keletihan fisik siswa; 3) keletihan mental siswa. Alhasil, kunci untuk membuka “kemacetan hasil belajar” karena jenuh itu sebenarnya lebih banyak di tangan orangtua dan keluarga, namun guru tidak dapat berlepas tangan karena mengatasi kemacetan murid itu sudah menjadi tanggung jawab integral profesionalnya. Masalahnya sekarang, apa yang dapat guru lakukan dalam membantu ortu yang harus menggunakan kunci pembuka kemacetan itu?

Simpulan Hasil Diskusi (Berdasarkan komentar, kritik dan saran audiens)

Dalam mengatasi atau mengantisipasi kejenuhan belajar, sebagaimana yang terurai dalam posting ini,diperlukan adanya upaya-upaya sbb.:1) Siswa melakukan istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran yang memadai (ini berhubungan dg keletihan jasmani dan alat indra);2) Siswa disarankan (oleh guru dan ortu) untuk mengubah/memperbarui waktu/jam belajar menjadi jam belajar yang menurut siswa itu sendiri lebih “pas” dan “enak” (ini berhubungan dengan kebosanan pada pengulangan penggunaan waktu yg sama);3) Siswa dibantu oleh ortu menata ulang ruang atau kamar belajar yang meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat perlengkapan belajar dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa berada di sebuah ruang/kamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar (ini berhubungan dengan kebosanan terhadap sikon kamar/ruang belajar yg sebelumnya ada);4) Guru dan ortu memberi siswa motivasi dan rangsangan baru agar merasa terdorong untuk belajar lebih giat daripada sebelumnya (ini berhubungan dengan keletihan mental yang disebabkan oleh rutinitas pembelajaran yang monoton baik materi dan metodenya maupun lingkungan dan durasinya);5) Guru hendaknya sesekali mengelola pembelajaran di luar sekolah/madrasah dan di luar jadual rutin (ini untuk menghindari kebosanan berada di tempat dan waktu yang sama);6) Guru dan ortu seyogianya mendorong siswa untuk tidak menyerah tetapi berbuat nyata dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi, diiringi reward (ganjaran) yang memadai agar ia merasa dihargai.Untuk melakukan semua ini diperlukan adanya guru yang kreatif dan inovatif dalam membantu orangtua mengatasi learning plateau yang melanda siswa baik ketika ia berada di lingkungan keluarga maupun sekolah/madrasah. 

Best Regarts,www.goesmart.com

Selasa, 05 Maret 2013

Lima Langkah Menjadi Sang Juara

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Dalam hidup, setiap orang ingin menjadi sang juara. Bukan sekadar soal menjadi lebih unggul daripada orang lain, namun ini soal cara meraih tujuan yang hendak dicapai.

Kita bisa belajar dari para atlet yang selalu berburu gelar juara berbekal semangat dan mental juara. Watak dan kepribadian atlet "sang juara" akan terlihat saat dia berjuang di medan laga. Motivator Putra Lengkong mengatakan seorang juara akan selalu memegang semangat ini.

"Setiap hari, di dalam hidup, saya mau memberikan yang terbaik dari hidup saya," katanya dalam seminar Sang Juara yang digelar mahasiswa Universitas Atmajaya, Rabu (12/9/2012) di Gedung Yustinus Lt.15, Jakarta.

Namun, ada hal-hal penting yang perlu disimak untuk bisa menjadi sang juara dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam studi Anda. Berikut ini langkah-langkah yang disebutkan oleh Putra.

1. Seorang juara selalu memiliki tujuan yang jelas
Putra mencontohkan sosok Florence Chadwick. Perempuan asal Amerika ini telah menetapkan tujuan yang jelas untuk menjadi perempuan pertama yang berhasil menyeberangi Selat Catalina dengan berenang. Setelah sempat menyeberangi selat Inggris, Florence sempat melawan kabut dan hiu dalam menempuh jarak renang sejauh 35 km, namun sayang kabut menghalanginya untuk menggapai pesisir Catalina. Dia pun gagal. Padahal saat itu, dia sudah mencapai jarak 33 km.

Pada tahun selanjutnya, Florence kembali menetapkan tujuannya menyeberangi Catalina. Dia menetapkan tujuan yang lebih jelas dengan sudah membayangkan melihat pesisir pulau tujuannya. Kabut yang menghadangnya pun tidak dapat membendung tujuannya. Dia berhasil.

2. Seorang juara berani membayar harga kenyamanan untuk sebuah kemajuan
Perenang Michael Phelps gusar saat wartawan mengatakan bahwa dirinya hanya beruntung saat meraih 8 medali emas pada Olimpiade 2008. Dia mengatakan prestasinya itu bukan keberuntungan, tetapi dicapai melalui kerja keras.

Saat kalian makan siang, Phelps sedang berlatih di dalam kolam renang. Saat berlibur dengan keluarga, dia juga tampak masih berlatih di sana. Saat orang lain berada dalam kenyamanan, Phelps telah menggadaikannya demi sebuah kerja keras untuk meraih kesuksesan.

3. Selalu lakukan hal yang di luar biasanya untuk berhasil
Michael Phelps mengatakan "Anda tak dapat menetapkan batasan pada apa pun" ketika ditanya tentang mencapai target kehidupan.

Kisah Vice President Citibank, Houtman Zainal Arif, juga menunjukkan karakter ini. Dia mengawali kariernya sebagai seorang office boy. Houtman selalu melakukan hal yang di luar biasanya dalam pekerjaannya, sehingga tugasnya yang hanya mengurusi kebersihan dapat diselesaikan bahkan lebih dari itu.

Dia juga mengurusi fotokopi di tahun 1960-an saat seorang office boy belum piawai melakukan tugas menggandakan data saat itu. Dia mau belajar usai menuntaskan pekerjaannya. Alhasil, dia dipercaya untuk bertugas sebagai penanggung jawab fotokopi kantor dan kembali melakukan hal yang di luar biasanya.

Usai menuntaskan pekerjaannya, dia membantu proses administrasi, seperti mengerjakan proses stempel dan hal-hal administrasi lainnya, sehingga pada satu kesempatan dia diangkat menjadi staf kantor hingga kemudian merintis karier sampai puncak sebagai vice president bank kelas dunia ini.

4. Apa yang anda fokuskan, itulah yang harus Anda dalami
Seorang juara akan fokus pada hal-hal yang membantu pencapaian impian mereka dan bukannya pada hal-hal yang menghambat pencapaian impian tersebut.Pada bagian ini, kita hanya perlu membuka diri untuk melihat kesempatan dengan lebih dalam dan lebih positif.

5. Untuk memiliki kupu-kupu di halaman dan rumah Anda, ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, dengan membawa jaring tetapi sedikit yang akan terjaring, sementara cara kedua adalah dengan membuat taman bunga sehingga kupu-kupu yang akan datang sendiri kepada Anda.

Seorang juara akan terus mengembangkan dirinya untuk memiliki cara dan kualitas yang banyak dicari oleh berbagai kalangan sehingga kesuksekan yang justru akan mendekatinya.

Jadi, Anda siap menjadi seorang juara?

Best Regarts,
Yudi Riswandy,
www.goesmart.com

Senin, 04 Maret 2013

Belajar Logika & Matematika untuk Balita

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Belajar matematika dan logika bukan hanya tentang lembar kerja dan mengerjakan soal tertulis. Belajar matematika jauh lebih luas dari itu semua. Matematika & logika ada di mana-mana, di dalam keseharian.
Bangun tidur kita melihat dan membaca jam. Bagian rumah kita dikelompokkan menurut fungsinya. Ketika memasak nasi kita memperkirakan jumlah beras yang dimasak. Keluar rumah kita memperkirakan jarak tempuh dan waktu perjalanan. Naik kendaraan kita menghitung ketersediaan bahan bakar. Berbelanja kita melakukan transaksi uang. Dan sebagainya.
Dengan pemahaman bahwa matematika ada di mana-mana, kita tak perlu merasa takut dan trauma terhadap matematika. Matematika bisa dipelajari anak dengan cara menyenangkan, melalui proses informal yang terjadi sehari-hari.
Beberapa contoh sederhana kegiatan belajar untuk bayi dan balita untuk belajar logika & matematika, antara lain:
a. Memahami Sebab Akibat

Proses belajar tentang sebab-akibat dipelajari anak secara alami oleh anak sejak bayi. Ketika dia menangis, orangtuanya datang. Ketika dia tersenyum, orang yang di hadapannya membalas senyum.
Orangtua dapat meningkatkan pemahaman anak mengenai sebab-akibat melalui peristiwa sehari-hari, misalnya: menekan saklar membuat lampu menyala/mati, menekan tombol/remote control untuk menyalakan/mematikan TV, memutar kran untuk menyalurkan/mematikan air di bak mandi, dan sebagainya.
Selain itu, proses belajar logika sebab-akibat juga dipelajari anak dalam nilai (values) tentang apa yang boleh/tidak boleh, apa yang bagus/jelek. Dari mana anak belajar? Dari respon yang diberikan orangtua (tersenyum, senang, memuji, cuek, marah) terhadap hal-hal yang dilakukan anak.
Dalam konteks penanaman nilai dan belajar logika, penting bagi orangtua untuk bersikap perhatian dan tidak cuek terhadap hal-hal yang dilakukan anak. Persetujuan (senyum, pujian, perhatian, dll) atau ketidaksetujuan (penolakan, teguran, kemarahan, dll) bukan hanya penting untuk memperjelas nilai-nilai yang dibangun pada anak, tetapi juga berfungsi sebagai stimulus anak dalam pengembangan kecerdasan logikanya.
b. Menghitung (counting)
Kegiatan menghitung benda-benda yang bisa dipersepsi secara fisik (dipegang, dilihat) oleh anak adalah pintu masuk bagi anak untuk belajar menghitung (counting). Proses ini diserap anak melalui pengamatannya terhadap kegiatan yang dilakukan orangtua bersamanya. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengajak anak mengobrol, menceritakan/menyuarakan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Sambil bermain dan mengobrol, orangtua menghitung mata, jari, atau benda-benda di sekitar anak dengan suara keras.
Anak mungkin belum mengerti tentang lambang angka, tetap dia akan mencerna proses berhitung yang sering didengarnya. Menyuarakan dengan keras hitungan 1, 2, 3, dst yang berhubungan dengan benda/hal sehari-hari akan membuat anak terbiasa mendengarkan dan menyerap proses berhitung, yang akan bermanfaat seiring perkembangan usia dan kesiapan otaknya.
Seiring perkembangan usia anak, kegiatan menghitung (counting) ini bisa diterapkan pada benda-benda yang ada di sekitar anak.
c. Mengenal Angka
Sebagaimana anak belajar tentang nama-nama benda yang ada di sekitarnya, yang dimulai dengan benda-benda fisik hingga abstrak, anak secara bertahap juga bisa belajar tentang angka dan huruf. Proses belajar anak tentang angka dilakukan dengan memperlakukan simbol angka sebagai nama benda. Anak perlu sering melihat dan diperlihatkan simbol angka dalam kesehariannya. Ketika sedang melihat simbol angka tertentu (mis: 1), orangtua mengucapkan “satu”. Dari proses semacam ini, anak belajar tentang asosiasi antara lambang yang dilihatnya (1, 2, 3, dst) dengan bunyi yang diucapkan.
Walaupun anak belum memahami “makna” angka (satu, dua, tiga, dst), pada tahap ini anak akan bisa “membaca” angka, sama seperti dia bisa mengucapkan nama benda atau huruf. Seiring dengan perkembangan usia dan kesiapan mentalnya, anak akan menggabungkan antara angka dengan pemahaman terhadap hitungan (counting).
d. Membandingkan
Selain percakapan mengenai sebab-akibat, menghitung, dan mengenal angka, orangtua perlu menggunakan kosa kata perbandingan dalam cerita dan obrolan bersama anak-anak. Kata-kata perbandingan itu antara lain: besar/kecil, banyak/sedikit, tinggi/pendek, atas/bawah, dan lain-lain.

Best Regarts,
Yudi Riswandy,
www.goesmart.com

Jumat, 01 Maret 2013

Teori kebutuhan Maslow

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Abraham Maslow mengembangkan teori kepribadian yang telah mempengaruhi sejumlah bidang yang berbeda, termasuk pendidikan. Ini pengaruh luas karena sebagian tingginya tingkat kepraktisan’s teori Maslow. Teori ini akurat menggambarkan realitas banyak dari pengalaman pribadi. Banyak orang menemukan bahwa mereka bisa memahami apa kata Maslow. Mereka dapat mengenali beberapa fitur dari pengalaman mereka atau perilaku yang benar dan dapat diidentifikasi tetapi mereka tidak pernah dimasukkan ke dalam kata-kata.

Maslow telah membuat teori hierarkhi kebutuhan. Semua kebutuhan dasar itu adalah instinctoid, setara dengan naluri pada hewan. Manusia mulai dengan disposisi yang sangat lemah yang kemudian kuno sepenuhnya sebagai orang tumbuh. Bila lingkungan yang benar, orang akan tumbuh lurus dan indah, aktualisasi potensi yang mereka telah mewarisi. Jika lingkungan tidak “benar” (dan kebanyakan tidak ada) mereka tidak akan tumbuh tinggi dan lurus dan indah. Berikut ini lima tingkat kebutuhan menurut teori Maslow.

Kebutuhan Fisiologis
Teori kebutuhan Maslow yang pertama adalah kebutuhan biologis. Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk kepuasan.

Kebutuhan Keamanan 
Teori kebutuhan Maslow yang berikutnya adalah ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi aktif. Orang dewasa memiliki sedikit kesadaran keamanan mereka kebutuhan kecuali pada saat darurat atau periode disorganisasi dalam struktur sosial (seperti kerusuhan luas). Anak-anak sering menampilkan tanda-tanda rasa tidak aman dan perlu aman.

Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan
Teori kebutuhan Maslow selanjutnya adalah kebutuhan sosial. Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan memberikan rasa memiliki.

Kebutuhan Esteem
Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga bisa menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas, berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak berdaya dan tidak berharga.

Kebutuhan Aktualisasi Diri
Tingkat kebutuhan terakhir adalah ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi, maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seorang musisi harus bermusik, seniman harus melukis, dan penyair harus menulis.” Kebutuhan ini membuat diri mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang, kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak dicintai atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui apa orang itu gelisah tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang ingin ketika ada kebutuhan untuk aktualisasi diri. (Source : belajarpsikologi.com)

Sekilas mengenai profile Abraham Maslow 

Abraham Maslow lahir 1 April 1908 di Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Ia awalnya kuliah di bidang hukum, sebelum akhirnya memilih untuk mempelajari psikologi dan lulus dari Universitas Winconsin. Ia memperoleh gelar PhD pada 1934. Maslow menjadi pelopor aliranpsikologi humanistik yang pada tahun 1950 hingga 1960-an. Ia dikenal sebagai “kekuatan ke-tiga” di samping teori Freud dan behaviorisme. Maslow menjadi profesor di Universitas Brandeis dari 1951 hingga 1969, dan menjadi residentfellow untuk Laughlin Institute of California. Ia meninggal karena serangan jantung pada 8 Juni 1970.

Nah, itulah sekilas kutipan mengenai teori kebutuhan Maslow mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca, masih banyak sekali teori kebutuhan menurut ahli lain.

Best Regarts,Yudi Riswandy,www.goesmart.com

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)