Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Artikel Motivasi,Apa sih arti dari Sahabat ?
Apa perbedaanya teman dengan sahabat ?
Teman adalah seseorang yang kita kenal dan seseorang yang
bisa kita jumpai disaat tertentu atau tidak selamanya kita jumpai.
Mencari teman itu mudah bahkan sangat mudah, kita cuma
menemui orang yang tidak kita kenal, lalu mengajaknya kenalan, ketika sudah
kenal maka ia sudah bisa kita anggap sebagai teman.
Sementara Sahabat Ada yang bilang adalah teman yang
benar-benar dekat sampai tahu hal-hal kecil tentang kita.
Ada juga yang bilang sahabat itu kalau kemana-mana selalu
bareng.
Tapi sepertinya opini ini lah yang paling benar,
" Sahabat itu adalah
teman dalam suka dan duka, tapi tahu batas dimana suatu saat ketika teman dapat
masalah, kita harus membiarkan dia mengatasi masalahnya sendiri agar teman
tersebut tumbuh lebih matang dan mandiri."
Terkadang kita dengan enteng menyebut, dia itu sahabat saya.
Tapi ketika ditanya ini itu tentang sahabat yang berhubungan
dengan keluarga, pendidikan dan lain-lain, bingung menjawabnya.
Dari situ kita berpikir, apa kita ini sahabat yang baik?
Apa kita pantas disebut sahabat?.
Tapi memang persahabatan itu
bukan dinilai dari sedalam apa kita tau tetek bengek orang tersebut, melainkan
sedalam apa kita memahami orang tersebut.
Ada pernyataan,seorang sahabat,
“ Saya tidak berharap untuk jadi orang yang terpenting dalam
hidup kamu, itu permintaan yang terlalu besar. Saya cuma berharap suatu hari
nanti kalau dengar nama saya, kamu bakal tersenyum dan bilang, dia sahabat
saya.”
Pernyataanya mencerminkan begitu tulusnya Ia menjalani
Persahabatan.
Kesimpulan,Seorang sahabat tetap memberi ruang gerak pribadi, privacy sebagai seorang
manusia.
Dan kita akan merasa dekat dengan dia walaupun tidak bertemu dan tidak ada
kontak dalam waktu yang lama.
Karena persahabatan itu pada dasarnya dari ikatan hati.Tidak hilang walaupun
dimensi jarak memisahakan kita.
Kita harus mengakui bagaimanapun juga kita tidak bisa menghilangkan dia dari
hati kita.
Dan tanpa teman, kita tidak akan seperti sekarang ini.
Memang Arti Sahabat terlalu sulit untuk di definisikan,namun
arti hadirnya dalam hidup kita begitu besar.Sudahkah sobat menemukan Sahabat
sejati ?.
Best Regart,
Yudi riswandy,
www.goesmart.com
Senin, 18 Maret 2013
Jumat, 15 Maret 2013
Makna Sabar
Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Sebagai manusia, kita
sering dihinggapi perasaan-perasaan buruk seperti: dendam, sakit hati, marah,
iri hati, keserakahan, rasa takut, dan benci. Dapatkah perasaan-perasaan
tersebut dilenyapkan dari batin kita dengan cara melarikan diri atau dengan
jalan menekannya? Hal ini penting bagi kita untuk ditelusuri, diselidiki, dan
dipelajari karena ternyata dalam kenyataannya salah satu dari nafsu-nafsu
tersebut selalu muncul tanpa kita sadari. Perasaan tersebut menyelinap begitu
saja dalam hati, dan tentu saja sangat mengganggu bagaikan sebutir kerikil
dalam sepatu. Mungkinkah kita terbebas dari semua nafsu tersebut dengan daya
upaya kita?
Alangkah bijaknya
apabila kita mau bertanya, dari mana timbulnya nafsu-nafsu seperti dendam,
benci, marah, iri hati, ujub, ria, takabur, serakah, rasa takut, dan sebagainya
itu. Sesungguhnya, semua itu timbul dari adanya pikiran yang membentuk si Aku
dengan keinginannya untuk mengejar kesenangan dan menjauhi kesusahan. Karena si
Aku ini merasa diganggu, dirugikan baik lahir maupun batin, maka timbullah
kemarahan, kebencian, dan dendam. Karena si Aku ini ingin mengejar kesenangan,
maka lahirlah keserakahan, kesombongan, iri hati, dan sebagainya.
Ketika kemarahan muncul, berdasarkan pengalaman sendiri atau
informasi dari orang lain, si Aku melihat bahwa kemarahan itu ternyata tidak
akan menguntungkan. Lalu, muncullah keinginan lain lagi, yaitu
keinginan untukmelenyapkan kemarahan. Jelas
sekali bahwa yang marah dan yang ingin bebas dari kemarahan tersebut masih yang
itu-itu juga, masih si Aku yang ingin senang. Hakekatnya adalah bahwa si Aku
ingin bebas dari rasa marah karena dianggap menyenangkan. Jadi, si Marah adalah
si Aku, si Ingin Bebas dari kemarahan pun adalah si Aku sendiri. Bermacam-macam
daya upaya dilakukan kita untuk bebas dari kemarahan, kebencian, dan
sebagainya. Ada yang melarikan diri dari kenyataan itu dengan cara menghibur
diri, pergi ke tempat karaoke, pergi ke pub atau klab malam untuk berjoget dan
minum sampai mabuk, bahkan ada yang pergi ke tempat sunyi sekedar untuk
menyepi. Ada pula yang mempergunakan kekuatan kemauan untuk menghimpit dan
menekan kemarahan yang timbul tersebut dengan membaca wirid-wirid tertentu.
Pendeknya, segala macam daya upaya dilakukan untuk membebaskan diri dari
kenyataan, yaitu amarah.
Bagaimana hasilnya?
Sepintas tampak
berhasil. Kemarahan tidak muncul lagi karena ada penekanan kemauan dan hiburan.
Akan tetapi, mustahil melenyapkan penyakit apabila hanya dengan menggosok-gosok
wilayah yang sakit agar nyerinya berkurang atau lenyap. Sesungguhnya
penyakitnya masih tetap ada, yang ditekan hanyalah rasa nyeri, maka suatu waktu
rasa nyeri itupun akan muncul kembali. Demikian pula dengan kemarahan,
kebencian, dan sebagainya. Memang dengan upaya penekanan atau hiburan,
kemarahan itu seolah-olah pada lahirnya sudah lenyap, api kemarahan tampaknya
padam. Namun sesungguhnya tidaklah demikian adanya, api itu masih tetap membara
bagaikan api dalam sekam, dari luar tidak tampak menyala padahal di bagian
dalamnya tetap membara dan sewaktu-waktu siap untuk berkobar kembali.
Oleh karena itu,
terciptalah lingkaran setan pada diri kita. Marah – disabarkan atau ditekan –
marah lagi – ditekan lagi, terus begitu selama kita masih hidup. Beranikah kita
menghadapi keadaan tersebut secara langsung? Saat muncul marah, dendam, benci,
iri, takut, dan sebagainya, mengapa kita harus lari? Mengapa kita tidak mencoba
untuk menanggulanginya dengan cara mengamati, menyelidiki, dan mempelajarinya
secara langsung? Mengapa kita tidak membuka mata dan waspada, penuh kesadaran
akan semua itu? Jika marah timbul dan kita membuka mata penuh kewaspadaan,
mengamatinya tanpa campur tangan si Aku yang ingin mengubah keadaan dengan cara
ingin sabar dan sebagainya, maka apakah yang terjadi dengan kemarahan tersebut?
Cobalah! Segala pengertian itu tanpa guna kalau tidak disertai dengan
penghayatan. Pengertian harus disertai dengan penghayatan. Tanpa penghayatan,
segala macam pengertian hanyalah pengetahuan kosong belaka, hanya berupa
teori-teori usang yang pantas disimpan di lemari-lemari lapuk untuk sekedar
hiasan belaka. Pengetahuan seperti itu tiada manfaatnya bagi kehidupan. Dengan
demikian, kalau muncul marah, dendam, benci, takut, dan sebagainya, kita hadapi
saja dan kita buka mata hati kita untuk mengamatinya dengan penuh perhatian,
penuh kewaspadaan dan kesadaran.
Sesungguhnya, pengekangan nafsu, pengendalian diri dan tekanan
acapkali diajarkan kepada kita berupa pendidikan dan pengajaran. Justru pelajaran inilah yang menimbulkan
konflik-konflik dalam batin kita, antara kenyataan dan angan-angan yang selalu
bertolak-belakang. Kenyataannya kita ini serakah, akan tetapi angan-angan yang
dijejalkan kepada kita adalah agar kita tidak serakah, demikian seterusnya.
Sumber penyakitnya tidak pernah diobati dan dilenyapkan, hanya rasa nyeri saja
yang kita usahakan untuk diringankan atau dilenyapkan. Tentu saja, sang
penyakit akan selalu kambuh lagi kalau ada pemicunya kembali. Ternyata, sumber
penyakitnya adalah ada pada si Aku yang selalu ingin senang dan ingin menjauhi
susah.
Kemarahan, kebencian, dan dendam timbul karena pikiran si Aku tersinggung atau merasa dirugikan.
Kalau tidak ada si Aku yang merasa dirugikan, mungkinkah kemarahan itu ada?
Hanya dengan pengamatan yang penuh kewaspadaan akan menciptakan pengertian.
Hanya dengan pengertian disertai kesadaran yang memunculkan penghayatan. Dengan
jalan itu, lahirlah tanggapan-tanggapan spontan seketika. Pengertian dan
penghayatan dari pengamatan inilah yang akan meniadakan marah, benci, dan
dendam. Dengan tiadanya marah, benci, dan dendam mendekatkan hati kita kepada
kebebasan, cinta, dan kasih sayang. Kalau sudah begitu, kita tidak perlu lagi
belajar sabar.
Oleh Irman Nurhapitudin Dimyati
Best Regarts,
Yudi Riswandy.
www.goesmart.com
Label:
animasi,
belajar,
goesmart,
guru,
indismart,
jejaring sosial pendidikan,
konten,
konten pelajaran,
murid,
pembelajaran,
pendidikan,
pengajar,
peserta,
siswa,
teknologi
Kamis, 14 Maret 2013
Blog, Blogger, Artikel dan Jurnalisme Via Media Internet
Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Kejujuran
Sekali lancung ke ujian, seumur-umur sampean nggak akan dipercaya lagi oleh pembaca. Kabar bohong, menyesatkan, manipulatif, dan melanggar etika mungkin akan membuat sampean cepat populer. Tapi kelak sampean akan menuai hasilnya, kehilangan kepercayaan dan kredibilitas. Kebanyakan berita "panas" pun baru keluar setelah seorang jurnalis menghabiskan berbulan-bulan atau bertahun-tahun melakukan verifikasi, check and recheck, serta menguji ulang sumber-sumbernya.
Akurasi
Hasil survei Pew Centre terhadap para blogger menunjukkan 34 persen responden merasa karya mereka merupakan hasil kerja jurnalistik. Tapi hanya 56 persen di antaranya yang telah menyediakan waktu tambahan untuk memverifikasi fakta. Padahal akurasi adalah mahkota sebuah laporan. Sampean harus yakin bahwa semua bahan yang ditulis itu akurat. Sampean tak boleh salah menyebut nama dan umur sumber, tanggal, lokasi kejadian, dan sebagainya.
Presisi
Ketepatan penulisan adalah kunci, baik dalam menuliskan kata maupun kalimat. Ia membantu kita memperoleh respek dan legitimasi. Gunakan, misalnya, KBBI atau kamus Thesaurus sebagai pembantu mendapatkan ketepatan penulisan. Kesalahan ketik atau ejaan akan membuat pembaca ragu akan kebenaran seluruh tulisan.
Konsistensi
Agar jurnalis menulis secara konsisten, biasanya kantor mereka menyediakan style book. Buku panduan ini berguna agar jurnalis selalu menulis berita secara konsisten, misalnya "Yogyakarta" atau "Jogjakarta", "10" atau "sepuluh". Ini bukan soal benar atau salah, tapi konsistensi. Sesuatu yang konsisten membuat pembaca tak bingung.
Baca ulang
Para jurnalis terbiasa membaca kembali dan menyunting ulang laporan mereka. Langkah ini ditempuh guna memastikan apakah sebuah berita telah ditulis dengan akurat, presisi, dan tak mengandung kesalahan tulis atau ejaan. Pastikan apakah kalimat mengalir lancar. Periksa juga apakah setiap fakta, misalnya nama sumber, sudah ditulis dengan benar. Lihat apakah tata bahasa dan ejaannya sesuai dengan kaidah, tak ada kesalahan ketik, dan sebagainya. Mencegah kesalahan selalu lebih baik dari mengoreksi, bukan?
Source : http://lunjap.wordpress.com
Best Regarts,
Yudi Riswandy,
www.goesmart.com
Dunia
blog tidak lepas dari tulis-menulis (meskipun pada kenyataannya kita tidak
pernah menulis di blog, melainkan mengetik). Seperti halnya blogger yang
"menulis" karyanya di dunia blog, begitu pula jurnalis (wartawan)
menuliskan pemikiran dan liputannya di media massa (cetak/koran dan
elektronik). Lantas, apakah penulis blogger bisa disamakan dengan jurnalis
(wartawan). Meskipun mempunyai prinsip yang sama, dunia jurnalistik nyatanya
jauh lebih luas dibandingkan blog atau blogger. Tidak salah memang karena di
dunia jurnalistik, setiap wartawan dibekali pendidikan formal, ilmu
jurnalistik, kode etik penulisan, dan hal-hal lain yang terikat dengan
pewartaan.
Meski demikian, bukan berarti blog atau blogger yang kemudian berkembang ke arah jurnalis warga (citizen jurnalism) jauh tertinggal dari jurnalis atau wartawan yang sesungguhnya. Blogger yang menulis pemikirannya di blog tidak terikat pada satu media tertentu, meskipun ada kode etik tidak tertulis yang harus dicamkan oleh setiap blogger, seperti penulisan, kode etik, copy-paste dan isu plagarisme, dan lain-lain.
Tidak ada salahnya pula blogger sedikit banyak "mencuri" ilmu dari wartawan yang memperoleh pendidikan formal jurnalistik. Tidak sedikit hal yang bisa kita ambil dari dunia jurnalistik, terkait masalah penulisan bagi para blogger yang ingin mengembangkan diri sebagai citizen journalism.
Lantas, Bisakah blogger menjadi jurnalis warga atau yang lebih ngetrend dengan sebutan "citizem journalism"? Pertanyaan tersebut muncul dengan semakin menjamurnya dunia blog. Berikut sebuah artikel yang aku ambil dari Tempo.
Bagaimana kita menulis berita seperti karya para jurnalis profesional? Begitulah pertanyaan beberapa teman yang berniat serius menekuni jurnalisme warga.
Mereka belum pernah mendapatkan pendidikan jurnalisme formal, tapi memiliki blog sebagai tempat berbagi kabar, dan hendak menjadikan media pribadinya tersebut sebagai sumber berita warga daring. Kebetulan, jurnalisme warga juga sedang menjadi isu hangat di beberapa blog komunitas.
Mat Bloger, yang ikut mendengar pertanyaan itu, langsung berkomentar. "Halah, begitu saja kok repot. Tulis saja semua yang sampean punya. Bebas."
Saya menukas. "Nggak bisa sembarangan begitu, Mat. Siapa pun bisa jadi jurnalis warga. Tapi, kalau mau serius, sebaiknya kita belajar dari ahlinya, orang-orang yang pekerjaan sehari-harinya memang jurnalis, terutama ketika hendak menulis atau membuat berita."
"Kenapa, Mas? Apa sih yang bisa kita pelajari dari para jurnalis profesional?" tanya Mat Bloger.
Jurnalis profesional bekerja berdasarkan standar prosedur, undang-undang, prinsip, dan kode etik jurnalistik. Dalam bekerja, mereka selalu menjadikan semua pegangan itu sebagai acuan untuk mendapatkan kredibilitas dan kepercayaan pembaca. Nah, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari mereka saat membuat berita.
Meski demikian, bukan berarti blog atau blogger yang kemudian berkembang ke arah jurnalis warga (citizen jurnalism) jauh tertinggal dari jurnalis atau wartawan yang sesungguhnya. Blogger yang menulis pemikirannya di blog tidak terikat pada satu media tertentu, meskipun ada kode etik tidak tertulis yang harus dicamkan oleh setiap blogger, seperti penulisan, kode etik, copy-paste dan isu plagarisme, dan lain-lain.
Tidak ada salahnya pula blogger sedikit banyak "mencuri" ilmu dari wartawan yang memperoleh pendidikan formal jurnalistik. Tidak sedikit hal yang bisa kita ambil dari dunia jurnalistik, terkait masalah penulisan bagi para blogger yang ingin mengembangkan diri sebagai citizen journalism.
Lantas, Bisakah blogger menjadi jurnalis warga atau yang lebih ngetrend dengan sebutan "citizem journalism"? Pertanyaan tersebut muncul dengan semakin menjamurnya dunia blog. Berikut sebuah artikel yang aku ambil dari Tempo.
Bagaimana kita menulis berita seperti karya para jurnalis profesional? Begitulah pertanyaan beberapa teman yang berniat serius menekuni jurnalisme warga.
Mereka belum pernah mendapatkan pendidikan jurnalisme formal, tapi memiliki blog sebagai tempat berbagi kabar, dan hendak menjadikan media pribadinya tersebut sebagai sumber berita warga daring. Kebetulan, jurnalisme warga juga sedang menjadi isu hangat di beberapa blog komunitas.
Mat Bloger, yang ikut mendengar pertanyaan itu, langsung berkomentar. "Halah, begitu saja kok repot. Tulis saja semua yang sampean punya. Bebas."
Saya menukas. "Nggak bisa sembarangan begitu, Mat. Siapa pun bisa jadi jurnalis warga. Tapi, kalau mau serius, sebaiknya kita belajar dari ahlinya, orang-orang yang pekerjaan sehari-harinya memang jurnalis, terutama ketika hendak menulis atau membuat berita."
"Kenapa, Mas? Apa sih yang bisa kita pelajari dari para jurnalis profesional?" tanya Mat Bloger.
Jurnalis profesional bekerja berdasarkan standar prosedur, undang-undang, prinsip, dan kode etik jurnalistik. Dalam bekerja, mereka selalu menjadikan semua pegangan itu sebagai acuan untuk mendapatkan kredibilitas dan kepercayaan pembaca. Nah, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari mereka saat membuat berita.
Kejujuran
Sekali lancung ke ujian, seumur-umur sampean nggak akan dipercaya lagi oleh pembaca. Kabar bohong, menyesatkan, manipulatif, dan melanggar etika mungkin akan membuat sampean cepat populer. Tapi kelak sampean akan menuai hasilnya, kehilangan kepercayaan dan kredibilitas. Kebanyakan berita "panas" pun baru keluar setelah seorang jurnalis menghabiskan berbulan-bulan atau bertahun-tahun melakukan verifikasi, check and recheck, serta menguji ulang sumber-sumbernya.
Akurasi
Hasil survei Pew Centre terhadap para blogger menunjukkan 34 persen responden merasa karya mereka merupakan hasil kerja jurnalistik. Tapi hanya 56 persen di antaranya yang telah menyediakan waktu tambahan untuk memverifikasi fakta. Padahal akurasi adalah mahkota sebuah laporan. Sampean harus yakin bahwa semua bahan yang ditulis itu akurat. Sampean tak boleh salah menyebut nama dan umur sumber, tanggal, lokasi kejadian, dan sebagainya.
Presisi
Ketepatan penulisan adalah kunci, baik dalam menuliskan kata maupun kalimat. Ia membantu kita memperoleh respek dan legitimasi. Gunakan, misalnya, KBBI atau kamus Thesaurus sebagai pembantu mendapatkan ketepatan penulisan. Kesalahan ketik atau ejaan akan membuat pembaca ragu akan kebenaran seluruh tulisan.
Konsistensi
Agar jurnalis menulis secara konsisten, biasanya kantor mereka menyediakan style book. Buku panduan ini berguna agar jurnalis selalu menulis berita secara konsisten, misalnya "Yogyakarta" atau "Jogjakarta", "10" atau "sepuluh". Ini bukan soal benar atau salah, tapi konsistensi. Sesuatu yang konsisten membuat pembaca tak bingung.
Baca ulang
Para jurnalis terbiasa membaca kembali dan menyunting ulang laporan mereka. Langkah ini ditempuh guna memastikan apakah sebuah berita telah ditulis dengan akurat, presisi, dan tak mengandung kesalahan tulis atau ejaan. Pastikan apakah kalimat mengalir lancar. Periksa juga apakah setiap fakta, misalnya nama sumber, sudah ditulis dengan benar. Lihat apakah tata bahasa dan ejaannya sesuai dengan kaidah, tak ada kesalahan ketik, dan sebagainya. Mencegah kesalahan selalu lebih baik dari mengoreksi, bukan?
Source : http://lunjap.wordpress.com
Best Regarts,
Yudi Riswandy,
www.goesmart.com
Label:
animasi,
belajar,
goesmart,
guru,
indismart,
jejaring sosial pendidikan,
konten,
konten pelajaran,
murid,
pembelajaran,
pendidikan,
pengajar,
peserta,
siswa,
teknologi
Rabu, 13 Maret 2013
Mengapa Pembelajaran Bahasa Inggris Kita Gagal?
Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Pelajaran bahasa Inggris bukanlah sesuatu yang asing di telinga
orang Indonesia, bahkan orang tidak sekolahan pun mengenal apa itu bahasa
Inggris. Namun, apakah semua orang memahami dengan baik posisi bahasa Inggris
di Indonesia beserta pendekatan yang cocok untuk mengajarkannya?
Sudah sekian lama,
pelajaran bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib dari sekolah hingga
perguruan tinggi, bahkan akhir-akhir ini bahasa Inggris menjadi pelajaran wajib
di tingkat Sekolah Dasar (SD). Bahkan, seolah tidak ingin kalah dengan
tingkat SD, jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) pun ikut serta
memberikan pengenalan bahasa Inggris entah alasan dan programmya jelas atau
tidak. Sebagai seorang pemerhati pendidikan dan pengajaran bahasa Inggris di
Indonesia, saya mengacungi jempol terhadap semua usaha yang telah dicapai untuk
membantu anak-anak bisa berbahasa Inggris.
Lepas dari semua bentuk usaha untuk mengajarkan bahasa Inggris
di Indonesia, ada suatu hal yang mengganjal dalam pikiran saya: mampukah
semua usaha yang dilakukan untuk mengajarkan bahasa Inggris (dari
TK-Perguruan Tinggi) tersebut membuat siswa-siswa Indonesia pandai
berbahasa Inggris? Berdasarkan permasalahan tersebut, saya ingin memberikan pikiran
saya terhadap pengajaran bahasa Inggris di Indonesia dalam arti luas dan tidak
terbatas batas sekolah-sekolah tertentu. Bukankah pendidikan harus dijalankan
secara adil dan merata?
Dalam tulisan ini saya bermaksud mengajak Anda semua untuk
berpikir pada konteks yang luas yaitu konteks pendidikan di Indonesia, bukan
terbatas pada sekolah-sekolah yang terletak di kota-kota besar atau
sekolah-sekolah yang memiliki banyak fasilitas mewah penunjang belajar atau
sekolah yang didesign secara khusus seperti RSBI. Secara umum saya melihat gap
yang lebar antara pendidikan di kota dan di pinggiran, antara kebanyakan
sekolah pemerintah dan sekolah swasta. Catatan saya untuk siswa di kota juga
menunjukan jika siswa-siswa di kota jauh lebih beruntung daripada di mereka
yang di pinggiran. Misalnya, siswa di kota dengan mudah bisa mengkuti kursus
bahasa Inggris baik dengan guru lokal atau penutur asli (native speaker), akses materi belajar yang mudah, dan aneka
kemudahan program bahasa Inggris lainnya. Disisi lain siswa di daerah pinggiran
sering belajar dengan keadaan serba terbatas. Dari contoh tersebut bisa kita
lihat mengapa siswa-siswa di kota memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih baik
dari siswa pinggiran. Salah satu jawabannya adalah adanya akses untuk terlibat
aktif dalam berbahasa Inggris. Jadi bisa disimpulkan jika salah satu kunci
untuk bisa menguasai bahasa Inggris dengan baik adalah dengan secara aktif
terus memakai bahasa Inggris atau terlibat aktif dalam penggunaan bahasa
Inggris (target language) seperti yang dilakukan kebanyakan siswa-siswa di perkotaan.
Pertanyaannya: bagaimana dengan siswa-siswa di pinggiran yang kurang beruntung?
Dalam tulisan ini pula saya ingin mengajak Anda memikirkan
mereka yang kurang beruntung dalam belajar bahasa Inggris, yaitu siswa-siswa
yang sepenuhnya mengandalkan pelajaran bahasa Inggris murni dari sekolah dan
kurikulumnya. Dari sinilah saya berani menggunakan istilah ‘GAGAL’ karena hasil investigasi saya menunjukan jika
kurikulum yang dibuat sekolah belum mampu membuat siswa-siswa di Indonesia
secara umum bisa secara aktif berbahasa Inggris. Selanjutnya, argumentasi
saya untuk kegagalan pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia juga bersumber
dari hasil investigasi lapangan atas tanggapan berbagai guru bahasa Inggris
terhadap kemampuan bahasa Inggris siswa-siwa sekolah dari berbagai kurikulum
yang pernah diterapkan di Indonesia. Secara umum para guru berpendapat jika
kurikulum sekolah belum mampu membuat siswa-siswa bisa berbahasa Inggris secara
aktif, jika mampu berbahasa Inggris mereka masih dalam taraf terbatas.
Dalam artikel pendek
ini saya tidak memasukan diskusi siswa-siswa sekolah di perkotaan sebagai
indikator keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah, karena kemampuan
bahasa Inggris mereka tidak murni hasil didikan sekolah tetapi sudah
dipengaruhi oleh pendidikan lain seperti kursusan atau pelatihan bahasa
Inggris yang disediakan oleh lembaga-lembaga di luar pendidikan formal. Jadi,
saya ingin memfokuskan tulisan ini pada isu pendidikan bahasa Inggris di
sekolah formal.
Jika ditilik dari
intesitas pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia, saat ini anak-anak sudah
memiliki banyak sekali waktu untuk belajar bahasa Inggris (dari TK sampai PT).
Secara logika dan teori, dengan mudah bisa dipahami implikasinya, jika
anak-anak memiliki banyak waktu belajar bahasa Inggris, maka dia dengan cepat
akan bisa berbahasa Inggris apalagi mereka belajar bahasa Inggris sejak usia
dini. Apakah teori ini bisa diaplikasikan di Indonesia?
Lepas dari kurikulum sekolah dan metode untuk mengajar, saya
melihat satu masalah yang sangat krusial yang menjadi kunci utama untuk
mendongkrak kemampuan bahasa Inggris. Saya mencermati posisi bahasa
Inggris sebagai bahasa asing (English as a foreign language) adalah penyebab utama mengapa kemampuan
anak-anak kita rendah. Secara teori bisa kita pahami jika cara pandang terhadap
bahasa Inggris sebagai bahasa asing tentu akan berbeda jika dilihat bahasa
Inggris sebagai bahasa kedua atau L2 (alat komunikasi kedua) seperti di
Malaysia dan Singapura di mana bahasa Inggris dipergunakan di dalam kehidupan
masyarakat disamping bahasa utama / resmi (official language).
Di Indonesia, bahasa Inggris hanya dipelajari di sekolah namun
tidak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum bisa dipahami jika
bahasa Inggris hanya dipelajari sebatas teori dan ilmu saja. Hal ini tentu
berlawanan dengan konsep belajar suatu bahasa: dimana belajar suatu bahasa itu
mempelajari 4 keahlian berbahasa (language skills): listening (mendengarkan), speaking(berbicara), reading (membaca) dan writing (menulis). Jadi, jika bahasa itu keahlian yang
harus dipergunakan maka penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan nyata menjadi
kunci sukses untuk menguasai bahasa tersebut. Sebagai contoh: seorang siswa
yang memiliki kosakata banyak belum tentu bisa berbicara atau paham
bahasa Inggris dengan baik, seorang siswa yang hafal semua jenis tenses atau
tata bahasa belum tentu bisa menulis bahasa Inggris dengan baik, dan seorang
anak yang tahu banyak ekspresi bahasa Inggris belum tentu bisa menggunakan
dengan tepat.
Jadi menurut saya,
guru bahasa Inggris harus memahami jika bahasa Inggris di Indonesia sebagai
bahasa asing sehingga semua bentuk kegiatan mengajar harus mengarah pada
kenyataan posisi bahasa Indonesia di Indonesia. Guru harus sadar jika anak-anak
tidak berbahasa Inggris di lingkungan mereka dan mereka belajar bahasa Inggris
sebagai mata pelajaran wajib bukan suatu kebutuhan untuk dipergunakan di
masyarakat dan kehidupan sehar-hari. Bagi saya, penciptaan kesadaran dalam diri
siswa untuk mencintai bahasa Inggris akan menjadi kunci utama untuk menumbuhkan
minat belajar bahasa Inggris.
Berdasar hasil penelitian saya untuk menjawab ‘mengapa Anda menjadi
guru bahasa Inggris’, hampir semua
responden saya menyampaikan jika mereka sangat cinta dan tertarik dengan bahasa
Inggris sehingga mereka rela berkorban dan berjuang secara mandiri untuk
belajar dan menguasai bahasa Inggris. Mungkin ini bisa menjadi refleksi bagi
diri Anda sendiri mengapa Anda menjadi guru bahasa Inggris dan bisa berhasil
dalam belajar bahasa Inggris. Jawabnya sederhana: karena Anda cinta dan suka dengan
bahasa Inggris.
Saya pribadi tertarik dengan bahasa Inggris sejak di SMP yang
kemudian lanjut ke tingat SMA hingga perguruan tinggi. Karena rasa cinta yang
luar biasa dengan bahasa Inggris, hampir sebagian waktu saya habiskan untuk
mempelajari bahasa Inggris seperti mengikuti kursus-kursus bahasa Inggris.Bagi saya kecintaan
dengan bahasa Inggris yang tulus dan murni bersumber dari relung hati yang
paling dalam menjadi motor penggerak paling powerfuluntuk diri saya
sehingga tanpa kenal lelah saya rela terus berjuang untuk bisa berbahasa
Inggris. Jadi modal awal saya
hanyalah suka dengan bahasa Inggris.
Kesimpulan saya adalah selama bahasa Inggris itu berada pada
posisi sebagai bahasa asing (foreign language), maka kemampuan anak-anak kita tidak akan mengalami banyak
perubahan sehingga perlu wacana untuk merubah kedudukan bahasa Inggris di
Indonesia. Guru sebaikanya menggunkan teknik mengajar bahasa Inggris yang
sesuai dengan posisi / kedudukan bahasa Inggris di Indonesia.
Ada tiga poin untuk
direnungkan dari tulisan saya ini:
·
Sehebat apapun sebuah
metode tetapi jika tidak cocok dengan keadaan lingkungan (konteks) maka tidak
akan banyak memberikan hasil.
·
Selama masalah belajar
yang mendera siswa tidak terpecahkan maka harapan untuk mencapai hasil belajar
yang bermutu sesuai dengan yang tertuang atau diharapkan dalam kurikulum akan
sulit terealisasi.
·
Perlu untuk
diwacanakan penggunakan bahasa Inggris dalam konteks nyata di masyarakat
Indonesia sehingga bahasa Inggris bukan lagi sekedar sebuah bahasa asing yang
dipelajari secara teori tetap menjadi bagian alat komunikasi sehari-hari.
Best Regart,
Yudi Riswandy
www.goesmart.com
Label:
animasi,
belajar,
goesmart,
guru,
indismart,
jejaring sosial pendidikan,
konten,
konten pelajaran,
murid,
pembelajaran,
pendidikan,
pengajar,
peserta,
siswa,
teknologi
Senin, 11 Maret 2013
Membangun emosi positif dalam pembelajaran
Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
BERI CERITA YANG MENGINSPIRASI
Oleh: Heriyanto Nurcahyo (Guru SMA Negeri 1 Glenmore Banyuwangi)
Keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar di kelas
banyak ditentukan oleh kemampuan untuk membangun penghubung diantara kedua
proses tersebut.Meski proses belajar mengajar merupakan dua hal yang berbeda,
kita dituntut untuk menggapai keberhasilan keduanya secara bersamaan.Dan salah
satu upaya terbaik untuk menggapai keduanya adalah membangun emosi positif
melalui cerita di awal pembelajaran. Emosi positif adalah keadaan dimana
pembelajaran mampu menghadirkan suasana ceria (joy),ketertarikan (interest),
kepuasan atau kelegaan (contentment) dan love (cinta atau kasih sayang).
Learning is most
effective when it’s fun memberi kita landasan yang sangat penting dalam
pembelajaran.Menyenangkan adalah kondisi dimana anak didik terbebas dari rasa
tertekan, tidak berdaya,putus asa serta bentuk tekanan psikologsi
lainnya.Kondisi ini sejalan dengan syarat utama bekerjanya otak secara
maksimal:keadaan yang menyenangkan.
Dave Meir dalam
bukunya The Accelerated Learning Hand book(2000) merumuskan Keadaan yang
menyenangkan ini lebih pada suasana hati yang positif semisal bangkitnya
minat,adanya keterlibatan penuh,serta terciptanya makna dan nilai yang
membahagiakan. Kegembiraan belajar seringkali merupakan penentu utama kualitas
dan kuantitas belajar yang dapat terjadi.
Lebih jauh dia
menyatakan bahwa emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas
belajar.Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil
belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi yang negatif dapat memperlambat
belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali.
Oleh karena itu,
pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif
pada diri pembelajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat
dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan
lingkungan belajar yang menyenangkan dan dengan penciptaan kegembiraan belajar
Kegembiraan belajar
sebagai suasana hati yang positif (emosi positif) dapat tercipta melalui
berbagai macam kegiatan yang kreatif. Kegiatan kreatif yang dapat meggugah
munculya emosi positif diataranya adalah kegiatan-kegiatan pelepas stress.Salah
satu kegiatan pelepas stress yang bisa dilakukan untuk meggugah munculya
perasaan (emosi) positif adalah pemberian cerita di awal pembelajaran.
CERITA SEBAGAI PEMBUKAAN YANG BERKESAN
Salah satu kekuatan penting dalam proses belajar mengajar adalah keterkaitan emosional guru dengan siswa Sebuah cerita yang kita sampaikan di awal pembelajaran akan memiliki kesan yang mendalam bagi anak didik.Kesan yang mucul dari cerita yang disampaikan juga akan membantu proses pembelajaran dan penyampaian materi selanjutya.Disamping itu,cerita juga mampu mengaktifkan seluruh perasaan yang positif pada sang pemberi cerita (guru).
Kondisi tersebut diatas memudahkan baik anak didik maupun guru dalam membangun interaksi pembelajaran yang baik.Tidak adanya sekat psikologis diantara guru dan anak didik akan memungkinkan terjadinya pembelajaran yang nyaman, tanpa tekanan dan memberi ruang yang luas bagi murid untuk mengeksplorasi diri dan pengetahuan yang didapatnya.
Salah satu kekuatan penting dalam proses belajar mengajar adalah keterkaitan emosional guru dengan siswa Sebuah cerita yang kita sampaikan di awal pembelajaran akan memiliki kesan yang mendalam bagi anak didik.Kesan yang mucul dari cerita yang disampaikan juga akan membantu proses pembelajaran dan penyampaian materi selanjutya.Disamping itu,cerita juga mampu mengaktifkan seluruh perasaan yang positif pada sang pemberi cerita (guru).
Kondisi tersebut diatas memudahkan baik anak didik maupun guru dalam membangun interaksi pembelajaran yang baik.Tidak adanya sekat psikologis diantara guru dan anak didik akan memungkinkan terjadinya pembelajaran yang nyaman, tanpa tekanan dan memberi ruang yang luas bagi murid untuk mengeksplorasi diri dan pengetahuan yang didapatnya.
BERI CERITA YANG MENGINSPIRASI
Adalah David MC
Celland – seorang psikolog social – yang tertarik untuk mengetahui kaitan
cerita dengan mental positif. Dari hasil penelitiannya, dia mendapati bahwa
negara yang memiliki cerita yang menggugah munculnya sikap positif (N-Ach)
berpengaruh sangat besar terhadap kemajuan bangsanya kelak dikemudian hari.
Cerita inspiratif juga
bisa dijadikan sarana membangun motivasi anak didik. Anak didik akan dapat
belajar dari cerita-cerita yang disampaikan oleh guru.Baik belajar tentang
kearifan, keberanian maupun hikmah-hikmah yang lainnya.Dan yang lebih penting
adalah bahwa cerita mampu mempengaruhi karakter anak didik. Modalitas inilah
yang nantinya akan bermuara pada mental dan sikap positif anak didik.Baik saat
mengikuti pembelajaran maupun ketika mereka dihadapkan pada kehidupan nyata.
Best Regarts,
Yudi Riswandy,
www,goesmart.com
Label:
animasi,
belajar,
goesmart,
guru,
indismart,
jejaring sosial pendidikan,
konten,
konten pelajaran,
murid,
pembelajaran,
pendidikan,
pengajar,
peserta,
siswa,
teknologi
Jumat, 08 Maret 2013
Pendidikan Berwawasan Global
Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan
globalisasi. Dalam menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi
dalam proses pendidikan, yaitu dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan
yang lebih komprehensif dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi
secara efektif dalam kehidupan masyarakat global demokratis. Oleh karena itu,
pendidikan harus dirancang sedemikian rupa agar memungkinkan para anak didik
dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana
penuh kebebasasn, kebersamaan dan tanggung jawab. Selain itu, pendidikan harus
dapat menghasilkan lulusan yang bisa memahami, masyarakatnya dengan segala
faktor yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan
kegagalan di dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu alternatif yang dapat
dilakukan yaitu mengembangkan pendidikan yang berwawasan global.
A. Perfektif Reformasi
Pendidikan berwawasan global merupakan suatu
proses pendidikan yang dirancang untuk mempersdiapkan anak didik dengan
kemampuan dasar intelektual dan tanggung jawab guna memasuki kehidupan yang
bersifat kompetitif dan dengan derajat saling menggantungkan antar bangsa yang
sangat tinggi. Pendidikan harus mengkhaitkan proses pendidikan yang berlangsung
di sekolah dengan nilai-nilai yang selalu berubah di masyarakat global. Dengan
demikian, sekolah harus memiliki orientasi nilai, di mana masyarakat tersebut
harus selalu dikaji dalam kaitannya dengan masyarakat dunia.
Implikasi dari pendidikan berwawasan global
menurut perfektif reformasi tidak hanya bersifat perombakan kurikulum, tetapi
juga merombak sistem, struktur dan proses pendidikan. Pendidikan dengan
kebijakan dasar sebagai kebijakan sosial tidak lagi cocok bagi pendidikan
berwawasan global. Pendidikan berwawasan global harus merupakan kombinasi
antara kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Maka dari itu, sistem
dan struktur pendidikan harus bersifat terbuka, sebagaimana layaknya kegiatan
yang memiliki fungsi ekonomis.
Kebijakan pendidikan yang berada di antara
kebijakan sosial dan mekanisme pasar, memiliki arti bahwa pendidikan tidak
semata-mata di tata dan diatur dengan menggunakan perangkat aturan sebagaimana
yang berlaku sekarang ini, serba seragam, rinci dan instruktif. Tetapi
pendidikan juga di atur layaknya suatu Mall, adanya kebebasan pemilik toko
untuk menentukan barang apa yang akan dijual, bagaimana akan dijual dan dengan
harga berapa barang akan dijual. Pemerintah tidak perlu mengatur segala sesuatu
dengan rinci.
Selain itu, pendidikan berwawasan global
bersifat sistematik organik, dengan ciri-ciri fleksibel-adaptif dan kreatif
demokratis. Bersifat sistemik-organik artinya bahwa sekolah merupakan
sekumpulan proses yang bersifat interaktif yang tidak bisa dilihat
sebagai-hitam putih, tetapi setiap interaksi harus dilihat sebagai satu bagian
dari keseluruhan interaksi yang ada.
Fleksibel-adaptif, artinya bahwa pendidikan
lebih ditekankan sebagai suatu proses learning daripada teaching. Anak didik
dirangsang untuk memiliki motivasi untuk mempelajari sesuatu yang harus
dipelajari dan continues learning. Tetapi, anak didik tidak akan dipaksa untuk
dipelajari. Sedangkan materi yang dipelajari bersifat integrated, materi satu
dengan yang lain dikaitkan secara padu dan dalam open-sistem environment. Pada
pendidikan tersebut karakteristik individu mendapat tempat yang layak.
Kreatif demokratis, berarti pendidikan
senantiasa menekankan pada suatu sikap mental untuk senantiasa menghadirkan
suatu yang baru dan orisinil. Secara paedagogis, kreativitas dan demokrasi
merupakan dua sisi dari mata uang. Tanpa demokrasi tidak akan ada proses
kreatif, sebaliknya tanpa proses kreatif demokrasi tidak akan memiliki makna.
Untuk memasuki era globalisasi pendidikan
harus bergeser kearah pendidikan yang berwawasan global. Dari perspektif
kurikuler pendidikan berwawasan global berarti menyajikan kurikulum yang
bersifat interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Berdasarkan
perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global berarti menuntut kebijakan
pendidikan tidak semata-mata sebagai kebijakan sosial, melainkan suatu
kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan
pada mekanisme pasar. Maka dari itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan
bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif.
B. Perspektif Kurikuler
Pendidikan berwawasan global dapat dikaji
berdasarkan pada dua perspektif yaitu perspektif reformasi dan perspektif
kurikuler. Berdasarkan persperktif kurikuler, pendidikan berwawasan global
merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga
terdidik kelas menengah dan professional dengan meningkatkan kemampuan individu
dalam memahami masyarakatnya dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat dunia,
dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Mempelajari budaya,
sosial, politik dan ekonomi bangsa lain dengan titik berat memahami adanya
saling ketergantungan
2. Mempelajari barbagai
cabang ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan
setempat,dan
3. Mengembangkan berbagai
kemungkinan berbagai kemampuan dan keterampilan untuk bekerjasama guna
mewujudkan kehidupan masyarakat dunia yang lebih baik.
Oleh karena itu, pendidikan berwawasan global
akan menekankan pada pembahasan materi yang meliputi:
1. Adanya saling
ketergantungan di antara masyarakat dunia
2. Adanya perubahan yang
akan terus berlangsung dari waktu ke waktu
3. Adanya perbedaan
kultur di antara masyarakat atau kelompok-kelompok dalam masyarakat
4.
Adanya kenyataan bahwa
kehidupan dunia itu memiliki berbagai keterbatasan antara lain dalam wujud
ketersediaan barang-barang kebutuhan yang jarang. Untuk dapat memenuhi
kebutuhan yang jarang tersebut tidak mustahil dapat menimbulkan
konflik-konflik.
Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk saling
memahami budaya yang lain. Berdasarkan perspektif kurikuler ini, pengembangan
pendidikan berwawasan global memiliki implikasi kearah perombakan kurikulum
pendidikan. Mata pelajaran dan mata kuliah yang dikembangkan tidak lagi
bersifat monolitik melainkan lebih banyak yang bersifat integratif. Dalam arti
mata kuliah lebih ditekankan pada kajian yang bersifat multidisipliner,
interdisipliner dan transdisipliner.
Best regarts,
Yudi Riswandy,
www.goesmart.com
Label:
animasi,
belajar,
goesmart,
guru,
indismart,
jejaring sosial pendidikan,
konten,
konten pelajaran,
murid,
pembelajaran,
pendidikan,
pengajar,
peserta,
siswa,
teknologi
Kamis, 07 Maret 2013
Kejenuhan Belajar
Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Materi Posting (Muhibbin Syah)
Kemacetan dalam memeroleh/menambah pengetahuan dan keterampilan yang dialami seorang murid mungkin karena kejenuhan. Dalam belajar, kejenuhan ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber, 1988. Dictionary of Psychology). Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar, pengetahuan dan kecakapannya akan “jalan di tempat”. Ketiadaan kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung lama misalnya seminggu, namun tidak sedikit siswa yang mengalaminya dalam rentang waktu yang lama dan berkali-kali dalam satu semester. Kalau kemacetan ini kita gambarkan dalam bentuk kurva, yang akan tampak adalah garis mendatar yang dalam psikologi kognitif lazim disebut learning plateau atau plateau. Dapatkah Anda menolong murid yang sedang mengalami kemacetan semacam ini?
Perlu diketahui bahwa jenuh yang saya maksud dalam diskusi ini ialah “padat” atau “penuh” sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh juga dapat berarti “jemu” atau “bosan”. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972). Tapi menurut saya, secara psiko-fisik kejenuhan dapat juga terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaniahnya. Akibatnya? Selain siswa tersebut merasa bosan (boring) ia juga mengalami keletihan (fatigue). Menurut Cross dalam bukunya yang sudah cukup tua (1974) The Psychology of Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yakni: 1) keletihan indera siswa; 2) keletihan fisik siswa; 3) keletihan mental siswa. Alhasil, kunci untuk membuka “kemacetan hasil belajar” karena jenuh itu sebenarnya lebih banyak di tangan orangtua dan keluarga, namun guru tidak dapat berlepas tangan karena mengatasi kemacetan murid itu sudah menjadi tanggung jawab integral profesionalnya. Masalahnya sekarang, apa yang dapat guru lakukan dalam membantu ortu yang harus menggunakan kunci pembuka kemacetan itu?
Simpulan Hasil Diskusi (Berdasarkan komentar, kritik dan saran audiens)
Dalam mengatasi atau mengantisipasi kejenuhan belajar, sebagaimana yang terurai dalam posting ini,diperlukan adanya upaya-upaya sbb.:1) Siswa melakukan istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran yang memadai (ini berhubungan dg keletihan jasmani dan alat indra);2) Siswa disarankan (oleh guru dan ortu) untuk mengubah/memperbarui waktu/jam belajar menjadi jam belajar yang menurut siswa itu sendiri lebih “pas” dan “enak” (ini berhubungan dengan kebosanan pada pengulangan penggunaan waktu yg sama);3) Siswa dibantu oleh ortu menata ulang ruang atau kamar belajar yang meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat perlengkapan belajar dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa berada di sebuah ruang/kamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar (ini berhubungan dengan kebosanan terhadap sikon kamar/ruang belajar yg sebelumnya ada);4) Guru dan ortu memberi siswa motivasi dan rangsangan baru agar merasa terdorong untuk belajar lebih giat daripada sebelumnya (ini berhubungan dengan keletihan mental yang disebabkan oleh rutinitas pembelajaran yang monoton baik materi dan metodenya maupun lingkungan dan durasinya);5) Guru hendaknya sesekali mengelola pembelajaran di luar sekolah/madrasah dan di luar jadual rutin (ini untuk menghindari kebosanan berada di tempat dan waktu yang sama);6) Guru dan ortu seyogianya mendorong siswa untuk tidak menyerah tetapi berbuat nyata dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi, diiringi reward (ganjaran) yang memadai agar ia merasa dihargai.Untuk melakukan semua ini diperlukan adanya guru yang kreatif dan inovatif dalam membantu orangtua mengatasi learning plateau yang melanda siswa baik ketika ia berada di lingkungan keluarga maupun sekolah/madrasah.
Materi Posting (Muhibbin Syah)
Kemacetan dalam memeroleh/menambah pengetahuan dan keterampilan yang dialami seorang murid mungkin karena kejenuhan. Dalam belajar, kejenuhan ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber, 1988. Dictionary of Psychology). Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar, pengetahuan dan kecakapannya akan “jalan di tempat”. Ketiadaan kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung lama misalnya seminggu, namun tidak sedikit siswa yang mengalaminya dalam rentang waktu yang lama dan berkali-kali dalam satu semester. Kalau kemacetan ini kita gambarkan dalam bentuk kurva, yang akan tampak adalah garis mendatar yang dalam psikologi kognitif lazim disebut learning plateau atau plateau. Dapatkah Anda menolong murid yang sedang mengalami kemacetan semacam ini?
Perlu diketahui bahwa jenuh yang saya maksud dalam diskusi ini ialah “padat” atau “penuh” sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh juga dapat berarti “jemu” atau “bosan”. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin, 1972). Tapi menurut saya, secara psiko-fisik kejenuhan dapat juga terjadi karena proses belajar siswa telah sampai pada batas kemampuan jasmaniahnya. Akibatnya? Selain siswa tersebut merasa bosan (boring) ia juga mengalami keletihan (fatigue). Menurut Cross dalam bukunya yang sudah cukup tua (1974) The Psychology of Learning, keletihan siswa dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yakni: 1) keletihan indera siswa; 2) keletihan fisik siswa; 3) keletihan mental siswa. Alhasil, kunci untuk membuka “kemacetan hasil belajar” karena jenuh itu sebenarnya lebih banyak di tangan orangtua dan keluarga, namun guru tidak dapat berlepas tangan karena mengatasi kemacetan murid itu sudah menjadi tanggung jawab integral profesionalnya. Masalahnya sekarang, apa yang dapat guru lakukan dalam membantu ortu yang harus menggunakan kunci pembuka kemacetan itu?
Simpulan Hasil Diskusi (Berdasarkan komentar, kritik dan saran audiens)
Dalam mengatasi atau mengantisipasi kejenuhan belajar, sebagaimana yang terurai dalam posting ini,diperlukan adanya upaya-upaya sbb.:1) Siswa melakukan istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dengan takaran yang memadai (ini berhubungan dg keletihan jasmani dan alat indra);2) Siswa disarankan (oleh guru dan ortu) untuk mengubah/memperbarui waktu/jam belajar menjadi jam belajar yang menurut siswa itu sendiri lebih “pas” dan “enak” (ini berhubungan dengan kebosanan pada pengulangan penggunaan waktu yg sama);3) Siswa dibantu oleh ortu menata ulang ruang atau kamar belajar yang meliputi pengubahan posisi meja tulis, lemari, rak buku, alat-alat perlengkapan belajar dan sebagainya sampai memungkinkan siswa merasa berada di sebuah ruang/kamar baru yang lebih menyenangkan untuk belajar (ini berhubungan dengan kebosanan terhadap sikon kamar/ruang belajar yg sebelumnya ada);4) Guru dan ortu memberi siswa motivasi dan rangsangan baru agar merasa terdorong untuk belajar lebih giat daripada sebelumnya (ini berhubungan dengan keletihan mental yang disebabkan oleh rutinitas pembelajaran yang monoton baik materi dan metodenya maupun lingkungan dan durasinya);5) Guru hendaknya sesekali mengelola pembelajaran di luar sekolah/madrasah dan di luar jadual rutin (ini untuk menghindari kebosanan berada di tempat dan waktu yang sama);6) Guru dan ortu seyogianya mendorong siswa untuk tidak menyerah tetapi berbuat nyata dengan cara mencoba belajar dan belajar lagi, diiringi reward (ganjaran) yang memadai agar ia merasa dihargai.Untuk melakukan semua ini diperlukan adanya guru yang kreatif dan inovatif dalam membantu orangtua mengatasi learning plateau yang melanda siswa baik ketika ia berada di lingkungan keluarga maupun sekolah/madrasah.
Best Regarts,www.goesmart.com
Label:
animasi,
belajar,
goesmart,
guru,
indismart,
jejaring sosial pendidikan,
konten,
konten pelajaran,
murid,
pembelajaran,
pendidikan,
pengajar,
peserta,
siswa,
teknologi
Selasa, 05 Maret 2013
Lima Langkah Menjadi Sang Juara
Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Best Regarts,
Yudi Riswandy,
www.goesmart.com
Dalam hidup, setiap orang ingin menjadi sang juara. Bukan sekadar
soal menjadi lebih unggul daripada orang lain, namun ini soal cara meraih
tujuan yang hendak dicapai.
Kita bisa belajar dari para atlet yang selalu berburu gelar juara berbekal semangat dan mental juara. Watak dan kepribadian atlet "sang juara" akan terlihat saat dia berjuang di medan laga. Motivator Putra Lengkong mengatakan seorang juara akan selalu memegang semangat ini.
"Setiap hari, di dalam hidup, saya mau memberikan yang terbaik dari hidup saya," katanya dalam seminar Sang Juara yang digelar mahasiswa Universitas Atmajaya, Rabu (12/9/2012) di Gedung Yustinus Lt.15, Jakarta.
Namun, ada hal-hal penting yang perlu disimak untuk bisa menjadi sang juara dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam studi Anda. Berikut ini langkah-langkah yang disebutkan oleh Putra.
1. Seorang juara selalu memiliki tujuan yang jelas
Putra mencontohkan sosok Florence Chadwick. Perempuan asal Amerika ini telah menetapkan tujuan yang jelas untuk menjadi perempuan pertama yang berhasil menyeberangi Selat Catalina dengan berenang. Setelah sempat menyeberangi selat Inggris, Florence sempat melawan kabut dan hiu dalam menempuh jarak renang sejauh 35 km, namun sayang kabut menghalanginya untuk menggapai pesisir Catalina. Dia pun gagal. Padahal saat itu, dia sudah mencapai jarak 33 km.
Pada tahun selanjutnya, Florence kembali menetapkan tujuannya menyeberangi Catalina. Dia menetapkan tujuan yang lebih jelas dengan sudah membayangkan melihat pesisir pulau tujuannya. Kabut yang menghadangnya pun tidak dapat membendung tujuannya. Dia berhasil.
2. Seorang juara berani membayar harga kenyamanan untuk sebuah kemajuan
Perenang Michael Phelps gusar saat wartawan mengatakan bahwa dirinya hanya beruntung saat meraih 8 medali emas pada Olimpiade 2008. Dia mengatakan prestasinya itu bukan keberuntungan, tetapi dicapai melalui kerja keras.
Saat kalian makan siang, Phelps sedang berlatih di dalam kolam renang. Saat berlibur dengan keluarga, dia juga tampak masih berlatih di sana. Saat orang lain berada dalam kenyamanan, Phelps telah menggadaikannya demi sebuah kerja keras untuk meraih kesuksesan.
3. Selalu lakukan hal yang di luar biasanya untuk berhasil
Michael Phelps mengatakan "Anda tak dapat menetapkan batasan pada apa pun" ketika ditanya tentang mencapai target kehidupan.
Kisah Vice President Citibank, Houtman Zainal Arif, juga menunjukkan karakter ini. Dia mengawali kariernya sebagai seorang office boy. Houtman selalu melakukan hal yang di luar biasanya dalam pekerjaannya, sehingga tugasnya yang hanya mengurusi kebersihan dapat diselesaikan bahkan lebih dari itu.
Dia juga mengurusi fotokopi di tahun 1960-an saat seorang office boy belum piawai melakukan tugas menggandakan data saat itu. Dia mau belajar usai menuntaskan pekerjaannya. Alhasil, dia dipercaya untuk bertugas sebagai penanggung jawab fotokopi kantor dan kembali melakukan hal yang di luar biasanya.
Usai menuntaskan pekerjaannya, dia membantu proses administrasi, seperti mengerjakan proses stempel dan hal-hal administrasi lainnya, sehingga pada satu kesempatan dia diangkat menjadi staf kantor hingga kemudian merintis karier sampai puncak sebagai vice president bank kelas dunia ini.
4. Apa yang anda fokuskan, itulah yang harus Anda dalami
Seorang juara akan fokus pada hal-hal yang membantu pencapaian impian mereka dan bukannya pada hal-hal yang menghambat pencapaian impian tersebut.Pada bagian ini, kita hanya perlu membuka diri untuk melihat kesempatan dengan lebih dalam dan lebih positif.
5. Untuk memiliki kupu-kupu di halaman dan rumah Anda, ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, dengan membawa jaring tetapi sedikit yang akan terjaring, sementara cara kedua adalah dengan membuat taman bunga sehingga kupu-kupu yang akan datang sendiri kepada Anda.
Seorang juara akan terus mengembangkan dirinya untuk memiliki cara dan kualitas yang banyak dicari oleh berbagai kalangan sehingga kesuksekan yang justru akan mendekatinya.
Jadi, Anda siap menjadi seorang juara?
Kita bisa belajar dari para atlet yang selalu berburu gelar juara berbekal semangat dan mental juara. Watak dan kepribadian atlet "sang juara" akan terlihat saat dia berjuang di medan laga. Motivator Putra Lengkong mengatakan seorang juara akan selalu memegang semangat ini.
"Setiap hari, di dalam hidup, saya mau memberikan yang terbaik dari hidup saya," katanya dalam seminar Sang Juara yang digelar mahasiswa Universitas Atmajaya, Rabu (12/9/2012) di Gedung Yustinus Lt.15, Jakarta.
Namun, ada hal-hal penting yang perlu disimak untuk bisa menjadi sang juara dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam studi Anda. Berikut ini langkah-langkah yang disebutkan oleh Putra.
1. Seorang juara selalu memiliki tujuan yang jelas
Putra mencontohkan sosok Florence Chadwick. Perempuan asal Amerika ini telah menetapkan tujuan yang jelas untuk menjadi perempuan pertama yang berhasil menyeberangi Selat Catalina dengan berenang. Setelah sempat menyeberangi selat Inggris, Florence sempat melawan kabut dan hiu dalam menempuh jarak renang sejauh 35 km, namun sayang kabut menghalanginya untuk menggapai pesisir Catalina. Dia pun gagal. Padahal saat itu, dia sudah mencapai jarak 33 km.
Pada tahun selanjutnya, Florence kembali menetapkan tujuannya menyeberangi Catalina. Dia menetapkan tujuan yang lebih jelas dengan sudah membayangkan melihat pesisir pulau tujuannya. Kabut yang menghadangnya pun tidak dapat membendung tujuannya. Dia berhasil.
2. Seorang juara berani membayar harga kenyamanan untuk sebuah kemajuan
Perenang Michael Phelps gusar saat wartawan mengatakan bahwa dirinya hanya beruntung saat meraih 8 medali emas pada Olimpiade 2008. Dia mengatakan prestasinya itu bukan keberuntungan, tetapi dicapai melalui kerja keras.
Saat kalian makan siang, Phelps sedang berlatih di dalam kolam renang. Saat berlibur dengan keluarga, dia juga tampak masih berlatih di sana. Saat orang lain berada dalam kenyamanan, Phelps telah menggadaikannya demi sebuah kerja keras untuk meraih kesuksesan.
3. Selalu lakukan hal yang di luar biasanya untuk berhasil
Michael Phelps mengatakan "Anda tak dapat menetapkan batasan pada apa pun" ketika ditanya tentang mencapai target kehidupan.
Kisah Vice President Citibank, Houtman Zainal Arif, juga menunjukkan karakter ini. Dia mengawali kariernya sebagai seorang office boy. Houtman selalu melakukan hal yang di luar biasanya dalam pekerjaannya, sehingga tugasnya yang hanya mengurusi kebersihan dapat diselesaikan bahkan lebih dari itu.
Dia juga mengurusi fotokopi di tahun 1960-an saat seorang office boy belum piawai melakukan tugas menggandakan data saat itu. Dia mau belajar usai menuntaskan pekerjaannya. Alhasil, dia dipercaya untuk bertugas sebagai penanggung jawab fotokopi kantor dan kembali melakukan hal yang di luar biasanya.
Usai menuntaskan pekerjaannya, dia membantu proses administrasi, seperti mengerjakan proses stempel dan hal-hal administrasi lainnya, sehingga pada satu kesempatan dia diangkat menjadi staf kantor hingga kemudian merintis karier sampai puncak sebagai vice president bank kelas dunia ini.
4. Apa yang anda fokuskan, itulah yang harus Anda dalami
Seorang juara akan fokus pada hal-hal yang membantu pencapaian impian mereka dan bukannya pada hal-hal yang menghambat pencapaian impian tersebut.Pada bagian ini, kita hanya perlu membuka diri untuk melihat kesempatan dengan lebih dalam dan lebih positif.
5. Untuk memiliki kupu-kupu di halaman dan rumah Anda, ada dua cara yang dapat dilakukan. Pertama, dengan membawa jaring tetapi sedikit yang akan terjaring, sementara cara kedua adalah dengan membuat taman bunga sehingga kupu-kupu yang akan datang sendiri kepada Anda.
Seorang juara akan terus mengembangkan dirinya untuk memiliki cara dan kualitas yang banyak dicari oleh berbagai kalangan sehingga kesuksekan yang justru akan mendekatinya.
Jadi, Anda siap menjadi seorang juara?
Label:
animasi,
belajar,
goesmart,
guru,
indismart,
jejaring sosial pendidikan,
konten,
konten pelajaran,
murid,
pembelajaran,
pendidikan,
pengajar,
peserta,
siswa,
teknologi
Senin, 04 Maret 2013
Belajar Logika & Matematika untuk Balita
Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Proses belajar tentang sebab-akibat dipelajari anak secara alami oleh anak sejak bayi. Ketika dia menangis, orangtuanya datang. Ketika dia tersenyum, orang yang di hadapannya membalas senyum.
Orangtua dapat meningkatkan pemahaman anak mengenai sebab-akibat melalui peristiwa sehari-hari, misalnya: menekan saklar membuat lampu menyala/mati, menekan tombol/remote control untuk menyalakan/mematikan TV, memutar kran untuk menyalurkan/mematikan air di bak mandi, dan sebagainya.
Belajar matematika dan logika bukan hanya tentang lembar kerja
dan mengerjakan soal tertulis. Belajar matematika jauh lebih luas dari itu
semua. Matematika & logika ada di mana-mana, di dalam keseharian.
Bangun tidur kita melihat dan membaca jam. Bagian rumah kita
dikelompokkan menurut fungsinya. Ketika memasak nasi kita memperkirakan jumlah
beras yang dimasak. Keluar rumah kita memperkirakan jarak tempuh dan waktu
perjalanan. Naik kendaraan kita menghitung ketersediaan bahan bakar. Berbelanja
kita melakukan transaksi uang. Dan sebagainya.
Dengan pemahaman bahwa matematika ada di mana-mana, kita tak
perlu merasa takut dan trauma terhadap matematika. Matematika bisa dipelajari
anak dengan cara menyenangkan, melalui proses informal yang terjadi
sehari-hari.
Beberapa contoh sederhana kegiatan belajar untuk bayi dan balita
untuk belajar logika & matematika, antara lain:
a. Memahami Sebab Akibat
Proses belajar tentang sebab-akibat dipelajari anak secara alami oleh anak sejak bayi. Ketika dia menangis, orangtuanya datang. Ketika dia tersenyum, orang yang di hadapannya membalas senyum.
Orangtua dapat meningkatkan pemahaman anak mengenai sebab-akibat melalui peristiwa sehari-hari, misalnya: menekan saklar membuat lampu menyala/mati, menekan tombol/remote control untuk menyalakan/mematikan TV, memutar kran untuk menyalurkan/mematikan air di bak mandi, dan sebagainya.
Selain itu, proses belajar logika sebab-akibat juga dipelajari
anak dalam nilai (values) tentang apa yang boleh/tidak boleh, apa yang
bagus/jelek. Dari mana anak belajar? Dari respon yang diberikan orangtua
(tersenyum, senang, memuji, cuek, marah) terhadap hal-hal yang dilakukan anak.
Dalam konteks penanaman nilai dan belajar logika, penting bagi
orangtua untuk bersikap perhatian dan tidak cuek terhadap hal-hal yang
dilakukan anak. Persetujuan (senyum, pujian, perhatian, dll) atau
ketidaksetujuan (penolakan, teguran, kemarahan, dll) bukan hanya penting untuk
memperjelas nilai-nilai yang dibangun pada anak, tetapi juga berfungsi sebagai
stimulus anak dalam pengembangan kecerdasan logikanya.
b. Menghitung (counting)
Kegiatan menghitung benda-benda yang bisa dipersepsi secara fisik (dipegang,
dilihat) oleh anak adalah pintu masuk bagi anak untuk belajar menghitung
(counting). Proses ini diserap anak melalui pengamatannya terhadap kegiatan
yang dilakukan orangtua bersamanya. Oleh karena itu, penting bagi orangtua
untuk mengajak anak mengobrol, menceritakan/menyuarakan kegiatan-kegiatan yang
dilakukannya. Sambil bermain dan mengobrol, orangtua menghitung mata, jari,
atau benda-benda di sekitar anak dengan suara keras.
Anak mungkin belum mengerti tentang lambang angka, tetap dia
akan mencerna proses berhitung yang sering didengarnya. Menyuarakan dengan
keras hitungan 1, 2, 3, dst yang berhubungan dengan benda/hal sehari-hari akan
membuat anak terbiasa mendengarkan dan menyerap proses berhitung, yang akan
bermanfaat seiring perkembangan usia dan kesiapan otaknya.
Seiring perkembangan usia anak, kegiatan menghitung (counting)
ini bisa diterapkan pada benda-benda yang ada di sekitar anak.
c. Mengenal Angka
Sebagaimana anak belajar tentang nama-nama benda yang ada di sekitarnya, yang
dimulai dengan benda-benda fisik hingga abstrak, anak secara bertahap juga bisa
belajar tentang angka dan huruf. Proses belajar anak tentang angka dilakukan
dengan memperlakukan simbol angka sebagai nama benda. Anak perlu sering melihat
dan diperlihatkan simbol angka dalam kesehariannya. Ketika sedang melihat
simbol angka tertentu (mis: 1), orangtua mengucapkan “satu”. Dari proses
semacam ini, anak belajar tentang asosiasi antara lambang yang dilihatnya (1,
2, 3, dst) dengan bunyi yang diucapkan.
Walaupun anak belum memahami “makna” angka (satu, dua, tiga,
dst), pada tahap ini anak akan bisa “membaca” angka, sama seperti dia bisa
mengucapkan nama benda atau huruf. Seiring dengan perkembangan usia dan
kesiapan mentalnya, anak akan menggabungkan antara angka dengan pemahaman
terhadap hitungan (counting).
d. Membandingkan
Selain percakapan mengenai sebab-akibat, menghitung, dan mengenal angka,
orangtua perlu menggunakan kosa kata perbandingan dalam cerita dan obrolan
bersama anak-anak. Kata-kata perbandingan itu antara lain: besar/kecil,
banyak/sedikit, tinggi/pendek, atas/bawah, dan lain-lain.
Best Regarts,
Yudi Riswandy,
www.goesmart.com
Label:
animasi,
belajar,
goesmart,
guru,
indismart,
jejaring sosial pendidikan,
konten,
konten pelajaran,
murid,
pembelajaran,
pendidikan,
pengajar,
peserta,
siswa,
teknologi
Jumat, 01 Maret 2013
Teori kebutuhan Maslow
Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.
Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan Keamanan
Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan
Kebutuhan Esteem
Kebutuhan Aktualisasi Diri
Sekilas mengenai profile Abraham Maslow
Abraham Maslow mengembangkan teori kepribadian yang telah mempengaruhi
sejumlah bidang yang berbeda, termasuk pendidikan. Ini pengaruh luas karena
sebagian tingginya tingkat kepraktisan’s teori Maslow. Teori ini akurat
menggambarkan realitas banyak dari pengalaman pribadi. Banyak orang menemukan
bahwa mereka bisa memahami apa kata Maslow. Mereka dapat mengenali beberapa
fitur dari pengalaman mereka atau perilaku yang benar dan dapat diidentifikasi
tetapi mereka tidak pernah dimasukkan ke dalam kata-kata.
Maslow telah membuat teori hierarkhi kebutuhan. Semua kebutuhan dasar itu
adalah instinctoid, setara dengan naluri pada hewan. Manusia mulai dengan
disposisi yang sangat lemah yang kemudian kuno sepenuhnya sebagai orang tumbuh.
Bila lingkungan yang benar, orang akan tumbuh lurus dan indah, aktualisasi
potensi yang mereka telah mewarisi. Jika lingkungan tidak “benar” (dan
kebanyakan tidak ada) mereka tidak akan tumbuh tinggi dan lurus dan indah.
Berikut ini lima tingkat kebutuhan menurut teori
Maslow.
Kebutuhan Fisiologis
Teori kebutuhan Maslow yang pertama adalah kebutuhan biologis.
Mereka terdiri dari kebutuhan oksigen, makanan, air, dan suhu tubuh relatif
konstan. Mereka adalah kebutuhan kuat karena jika seseorang tidak diberi semua
kebutuhan, fisiologis yang akan datang pertama dalam pencarian seseorang untuk
kepuasan.
Kebutuhan Keamanan
Teori kebutuhan Maslow yang berikutnya adalah ketika semua kebutuhan fisiologis puas dan tidak
mengendalikan pikiran lagi dan perilaku, kebutuhan keamanan dapat menjadi
aktif. Orang dewasa memiliki sedikit kesadaran keamanan mereka kebutuhan
kecuali pada saat darurat atau periode disorganisasi dalam struktur sosial
(seperti kerusuhan luas). Anak-anak sering menampilkan tanda-tanda rasa tidak
aman dan perlu aman.
Kebutuhan Cinta, sayang dan kepemilikan
Teori kebutuhan Maslow selanjutnya adalah kebutuhan sosial.
Ketika kebutuhan untuk keselamatan dan kesejahteraan fisiologis puas, kelas
berikutnya kebutuhan untuk cinta, sayang dan kepemilikan dapat muncul. Maslow
menyatakan bahwa orang mencari untuk mengatasi perasaan kesepian dan
keterasingan. Ini melibatkan kedua dan menerima cinta, kasih sayang dan
memberikan rasa memiliki.
Kebutuhan Esteem
Ketika tiga kelas pertama kebutuhan dipenuhi, kebutuhan untuk harga bisa
menjadi dominan. Ini melibatkan kebutuhan baik harga diri dan untuk seseorang
mendapat penghargaan dari orang lain. Manusia memiliki kebutuhan untuk tegas,
berdasarkan, tingkat tinggi stabil diri, dan rasa hormat dari orang lain.
Ketika kebutuhan ini terpenuhi, orang merasa percaya diri dan berharga sebagai
orang di dunia. Ketika kebutuhan frustrasi, orang merasa rendah, lemah, tak
berdaya dan tidak berharga.
Kebutuhan Aktualisasi Diri
Tingkat kebutuhan terakhir adalah ketika semua kebutuhan di atas terpenuhi,
maka dan hanya maka adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri diaktifkan. Maslow
menggambarkan aktualisasi diri sebagai orang perlu untuk menjadi dan melakukan
apa yang orang itu “lahir untuk dilakukan.” “Seorang musisi harus bermusik,
seniman harus melukis, dan penyair harus menulis.” Kebutuhan ini membuat diri
mereka merasa dalam tanda-tanda kegelisahan. Orang itu merasa di tepi, tegang,
kurang sesuatu, singkatnya, gelisah. Jika seseorang lapar, tidak aman, tidak
dicintai atau diterima, atau kurang harga diri, sangat mudah untuk mengetahui
apa orang itu gelisah tentang. Hal ini tidak selalu jelas apa yang seseorang
ingin ketika ada kebutuhan untuk aktualisasi diri. (Source : belajarpsikologi.com)
Sekilas mengenai profile Abraham Maslow
Abraham Maslow lahir 1 April 1908 di Brooklyn, New
York, Amerika Serikat. Ia awalnya kuliah di bidang hukum, sebelum akhirnya
memilih untuk mempelajari psikologi dan lulus dari Universitas Winconsin. Ia
memperoleh gelar PhD pada 1934. Maslow menjadi pelopor aliranpsikologi
humanistik yang pada tahun 1950 hingga 1960-an. Ia dikenal sebagai “kekuatan
ke-tiga” di samping teori Freud dan behaviorisme. Maslow menjadi profesor di
Universitas Brandeis dari 1951 hingga 1969, dan menjadi residentfellow untuk
Laughlin Institute of California. Ia meninggal karena serangan jantung pada 8
Juni 1970.
Nah, itulah sekilas kutipan mengenai teori kebutuhan Maslow mudah-mudahan
bermanfaat bagi pembaca, masih banyak sekali teori kebutuhan menurut ahli lain.
Best Regarts,Yudi Riswandy,www.goesmart.com
Label:
animasi,
belajar,
goesmart,
guru,
indismart,
jejaring sosial pendidikan,
konten,
konten pelajaran,
murid,
pembelajaran,
pendidikan,
pengajar,
peserta,
siswa,
teknologi
Langganan:
Komentar (Atom)