Rabu, 20 Juli 2011

Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat?

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Rhenald Kasali

Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan Rajin Pangkal Pandai. Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang  airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa, dan keringat.

Bagaimana anak-anak kita sekarang? Lahan-lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook,  Twitter, online games, warnet, dan bimbel. Pergaulan fisik diganti oleh dunia maya, statistik, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?

Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak. Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?" minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran, seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit "The Power of Simplicity" , kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan".

Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan karier masa depan. Bagaimana di sini? Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang sakral, wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan  sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan. Bukan belajar dari sejarah, tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama, melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana menurunkan rumus. Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.



Ubah Cara Pandang

Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New Zealand, ada juga orang tua yang protes. Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah. “Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang,”. Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan menghasilkan apa-apa. Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi. Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar.

Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas. Anda mungkin pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam kehidupan. Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Tetapi seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah, tubuh dan kesehatan jiwanya.

Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup. Untuk itulah talenta harus diasah, diberi ruang ,dan waktu agar ia tumbuh. Leadership maupun entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah. Diuji dalam interaksi kehidupan.

Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah benar menjadi lebih baik. Saya selalu teringat masa-masa memulai karir  sebagai penguji di program S3. Saat seorang tua, kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat. Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula. Tetapi Semua penguji tidak puas, kandidat digoreng ke kiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas. Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya,"beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"

Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya. Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja berkata jujur. Saya katakan kita harus percaya diri. Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini. Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan.

Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya pun tidak akan lulus. Pertanyaan ujian terlalu luas. Di Amerika Serikat, kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa kita dianggap berkolusi. Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.

Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.

Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya. Bahkan TKW yang Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?

Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar 6 mata pelajaran seperti di New Zealand, Denmark atau negara-negara industri lainnya? Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand terbaik keenam di dunia. Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal. Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?

 Rhenald Kasali

 Ketua Program MMUI

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/44/

Seni Memuji Anak

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.






Oleh: Sumardiono


 Memuji anak adalah sebuah pekerjaan seni, bukan pekerjaan eksak yang bisa ditentukan rumusnya. Efektivitas pujian tak hanya ditentukan oleh cara kita memuji, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter anak dalam merespon pujian.  Ada anak-anak yang dipuji sedikit sudah langsung bersemangat. Ada anak yang membutuhkan banyak pujian supaya semangat. Tetapi, ada juga anak-anak yang justru jadi tak semangat kalau terlalu banyak pujian.

Berikut ini beberapa tips tentang pujian kepada anak:

 *Hindari memuji berlebihan*
 Puji secukupnya. Jangan terlalu banyak. Jangan menjadi pemujaan pada anak sehingga sedikit-sedikit yang dilakukan anak, Anda langsung memujinya. Terlalu banyak pujian akan menjadikan pujian kurang berharga dan tidak bermakna. Anak juga jadi malas untuk mengembangkan potensi dirinya.

 *Puji untuk usaha anak*
 Fokuskan pada usaha, bukan hanya pada hasil. Terkadang, hasil yang diperoleh anak belum sempurna, tetapi niat dan usahanya bagus. Puji perjuangan dan usaha anak. "Terima kasih sudah menolong Mama membereskan tempat tidur."

 *Puji secara spesifik, bukan umum*
 Berikan pujian untuk usaha yang dilakukan anak, bukan untuk anaknya sendiri. Lebih baik mengatakan pujian "prakarya buatanmu keren" daripada memuji "kamu anak yang pandai".



 *Pujian bukan toleransi kegagalan*
 Ketika anak gagal, pujian pada usaha anak dapat menolong anak untuk mengatasi kekecewaannya. Tetapi pujian tetap harus dapat berfungsi memicu anak untuk menjadi lebih baik di waktu yang lain. Jangan sampai, anak merasa bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah dua hal yang sama saja.

 *Pujian tak hanya kata-kata*
 Pujian tak hanya diwujudkan dengan kata-kata verbal. Pujian bisa ditunjukkan dengan acungan jempol, tepukan bahu, senyuman, belaian di rambut, dan sebagainya. Walaupun Anda tak mengatakan apa-apa, anak tahu bahwa Anda sedang menunjukkan pujian Anda.

 *Dorong anak memuji orang lain*
 Supaya anak tak egois dan hanya berfokus pada dirinya sendiri, perlihatkan contoh dengan memuji anak lain atau karya lain di depan anak Anda. Lakukan pujian kepada siapapun yang berhak dipuji: pasangan, adik, tetangga, pembantu, atau siapapun. Sesekali minta anak untuk berpendapat dan mengapresiasi karya/prestasi anak lain.

 (Sumber: http://rumahinspirasi.com/homeschooling/seni-memuji-anak)

Museum dan Pentingnya Rekaman Sejarah Kehidupan Bangsa yang Memikat Hati

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.






Oleh: Hernowo

Selama seminggu, sejak Selasa, 12 Juli lalu, anak perempuan saya mendapat kesempatan berkunjung ke Korea Selatan. Haula Luthfia, demikian nama anak saya, tergabung dalam ALSA (Asian Law Students Association). Bersama-sama rekan-rekannya yang lain di ALSA, dia menghadiri sidang WIPO (World Intellectual Property Organization) di Seoul.

Sejak tiba di Seoul, anak saya rajin mengirim e-mail kepada saya untuk mengisahkan pengalaman-barunya di Seoul. Pada hari ketiga, saya diberitahu bahwa dia terpilih menjadi salah satu speaker  terbaik di WIPO Assembly. Saya tidak tahu persis tentang kabar menggembirakan yang disampaikannya tersebut. Semoga bermanfaat baginya kelak. Saya lebih tertarik ceritanya tentang museum yang dia kunjungi di Seoul:

“Hari ini aku acaranya mengunjungi Korean Museum War,” tulis anak saya. Itu museum tentang sejarah Korea Selatan ketika terjadi perang antara Korut dan Korsel. Bagaimana perebutan wilayahnya, situasi saat perang, hingga keadaannya saat ini. “Museumnya benar-benar menarik, Pa. Sepertinya orang-orang Korea senang sekali membuat replika kejadian-kejadian bersejarah di negara mereka.”

Membaca cerita anak saya, tiba-tiba kenangan ketika saya mengunjungi Imperial War Museum, pada akhir 1997, di London pun muncul secara sangat jelas. Kebetulan, saya juga menuliskan pengalaman saya sewaktu berada di museum perang di London tersebut. Saya bahkan merasakan benar bagaimana Blitzkrieg  terjadi. Suara dentuman bom yang berjatuhan dan bergoyangnya replika rumah yang saya tempati saat itu. Juga bagaimana film yang menayangkan kekejaman perang yang terus diputar setiap hari, sepanjang waktu, membuat saya merenung. Museum itu juga telah menjadi tempat belajar bagi anak-anak sekolah.

“Di museum ini juga,” lanjut anak saya, “dibuat berbagai macam replika situasi perang antara Korut dengan Korsel. Mereka membuatnya sangat apik. Tidak hanya replika, mereka juga memutar berbagai video tentang perang tersebut. Aku langsung mengingat keadaan Indonesia, Pa. Sayang sekali, Indonesia tidak mengabadikan sejarah-sejarah yang ada. Kalaupun ada, museum-museum yang ada saat  ini kurang terawat sehingga membuat orang-orang Indonesia malas mengunjunginya.”



 Saya tentu merasakan apa yang dirasakan oleh anak saya. Kita, bangsa Indonesia, tidak diberi kesempatan untuk mengenang (baca: menghargai masa lalu). Mengenang  di sini bukan untuk kembali ke masa lalu atau memujanya, melainkan bagaimana kita yang hidup saat ini mampu mengaitkan kehidupan masa kini (dan juga masa depan) dengan sejarah kita. Bagaimana Indonesia terbentuk dan betapa negara yang kita cintai ini, Indonesia, tidak hadir begitu saja.

“Setelah dari Korean War Museum, kami mengunjungi General Assembly Museum. Ini semacam museum gedung DPR di Korea Selatan. Ada satu hal yang sangat menarik perhatianku di sini. Mereka sengaja membuat museum ini dengan tujuan agar orang-orang Korsel bisa dikenalkan kepada hal-hal yang berbau politik sejak dini. Memang agak membosankan sih tempatnya, karena hanya terdiri dari  gambar-gambar ketua parlemen dari periode ke periode, sistem parlemen di sana, replika ruangan sidang, dll. Tetapi, mereka membangun ruangan-ruangan khusus yang dibuat untuk anak-anak SD. Di ruangan-ruangan itu mereka bisa belajar sambil bermain. Sungguh ide yang menarik.”

 Ya, kapan bangsa kita punya ide semenarik itu ya?[]

Kamis, 14 Juli 2011

Problematika Pendidikan di Indonesia

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




Oleh : Adisa Ittaqa Putri D.S.

Pertengahan tahun seperti saat ini sebagian rakyat Indonesia disibukkan dengan kepentingan pendidikan, khususnya orang tua dan para pelajar. Tepatnya ketika tahun ajaran baru dimulai. Berbagai aktivitas dilakukan demi pendidikan dimulai dari jenjang playgroup hingga perguruan tinggi. Berbagai tempat playgroup, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi membuka kesempatan penerimaan siswa-siswi serta mahasiswa baru dan menjaring bibit unggul berprestasi untuk menjadi bagian dari almamater mereka kelak.

Sudah sering dibahas pula di berbagai media massa berkaitan dengan polemik pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu tumpuan dan jalan dalam menggapai cita-cita serta masa depan yang lebih baik. Tidak jarang orang tua merogoh kantong lebih dalam karena membiayai pendidikan putra dan putrinya dengan biaya yang sangat tinggi. Beberapa orang tua bahkan menyekolahkannya ke luar negeri dan tentu saja memakan biaya yang tidak sedikit.

Tidak akan pernah ada akhirnya membahas mengenai pendidikan. Bantuan BOS yang diselewengkan di beberapa daerah di Indonesia oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menjadi salah satu masalah penting pendidikan. Belum lagi biaya masuk sekolah yang setiap tahun menanjak dan tidak ada transparansi mengenai rincian dana tersebut. Ditambah biaya-biaya lainnya di luar tagihan sekolah, seperti seragam, alat tulis, biaya kos-kosan, biaya sehari-hari dan biaya tak terduga lainnya.



Jumlah 20% alokasi dana pendidikan dari APBN sepertinya tidak cukup untuk menutupi biaya pendidikan di Indonesia. Banyak hal yang harus dibiayai mengingat tidak adanya pemerataan sarana dan prasarana dari pemerintah, terutama untuk sekolah-sekolah negeri yang berada di pelosok-pelosok daerah. Sering kita mendapatkan berita gedung sekolah rubuh, dan siswa-siswinya harus belajar di tempat yang sangat tidak layak dan ancamannya adalah nyawa, karena sewaktu-waktu gedung tersebut rubuh dapat menimpa mereka.

Ke manakah 20% dana tersebut? Apakah pemerintah tidak memiliki catatan mengenai keluhan masyarakat tentang pendidikan di Indonesia dan bersegera untuk memperbaikinya? Tidakkah pemerintah melihat betapa besar potensi anak-anak Indonesia di bidang pendidikan dengan mencatatkan diri dengan memenangkan Olimpiade tingkat dunia dan anak-anak tersebut berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi besar di bidang pendidikan tidak hanya tingkat nasional tetapi internasional.



Seharusnya sudah tidak ada lagi sekolah rubuh, sekolah yang tidak layak, dan tidak ada sekolah di daerah yang kekurangan sarana dan prasarana. Alangkah baiknya pemerintah mencicil untuk melakukan perbaikan di sektor pendidikan. Sudah terlalu banyak  masyarakat merasa kecewa dan sebaiknya pemerintah menyadari akan hal itu.

Dewasa ini biaya pendidikan sudah tidak murah lagi. Untuk masuk ke pra sekolah saja sudah menghabiskan jutaan rupiah, belum lagi di tingkat perguruan tinggi yang merogoh kocek dengan nominal hingga ratusan juta rupiah untuk jalur mandiri. Berbeda lagi apabila jalur SNMPTN dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. Akan tetapi, berdasarkan informasi yang saya terima beberapa universitas mematok harga yang sangat tinggi seperti jalur mandiri meskipun lulus perguruan tinggi negeri di jalur SNMPTN. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Tidak ada informasi sebelumnya terkait masalah biaya yang tidak sesuai dengan jalurnya. Tentu saja banyak orang tua siswa yang kecewa atas disinformasi tersebut. Karena, berdasarkan pengalaman mereka, biaya SNMPTN itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya ujian mandiri.

Ini adalah hal yang perlu digarisbawahi. Biaya pendidikan semakin mahal tetapi tidak diimbangi dengan sarana serta prasarana pendidikan yang baik di beberapa sekolah daerah di Indonesia. Tidak semua masyarakat Indonesia berlatar belakang ekonomi yang cukup dan tidak semua orang tua mampu menyekolahkan harapan mereka sampai ke jenjang perguruan tinggi. Pokok masalahnya terletak pada biaya. Biaya yang semakin hari semakin tinggi dan kemampuan ekonomi masyarakat yang tidak merata.

Akankah ini akan tetap menjadi masalah yang tidak menemukan penyelesaian?

Adisa Ittaqa P., Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung

Indi-Smart Fun Way to Learn

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.



Oleh: Arsy Rakhmanissazly


Sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. PT. Telkom Indonesia. Tbk telah beperan banyak pada proses penyebarluasan informasi dan kelancaran komunikasi bagi masyarakat Indonesia. Perkembangan teknologi informasi hingga sampai saat ini kita telah memauski era digitalisasi informasi dimana segala macam informasi dapat diakses kapan pun dimanapun dengan perangkat lunak (software) pada gadget kita masing – masing.

Mustahil sepertinya pada zaman sekarang ini dengan tingginya tingkat mobilitas para penduduk tidak dilengkapi dengan alat komunikasi. Telephone, handphone, tablet, pc apapun jenis dan merk nya fungsi utamanya adalah sama yaitu menghubungkan pribadi dengan sumber informasi lainnya, bisa berupa individu lainnya bisa juga dengan portal – portal berita yang dapat diakses melalui internet.

Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan keberadaan Internet untuk memudahkan segala aktifitas kita maka tidak tertutup kemungkinan kegiatan dan pekerjaan dapat dilakukan secara online via internet.  Mulai dari transaksi bisnis, mengurus keperluan rumah tangga, media informasi dan edukasi kreatif sampai pada kemudahan akses informatif akademik meliputi jadwal akademik sampai pada proses belajar mengajar via online atau yang lebih dikenal dengan istilah e-learning



PT Indi-smart Kreatif Idea adalah sebuah perusahaan yang bermitra dengan PT Telkom Indonesia dalam memperluas pelayanannya sampai pada sarana pendidikan. Di websitenya www.indi-smart.com para pengkases situs dapat menikmati belajar praktis, kreatif dan fun sambil berinternet. Situs yang memang ditargetkan untuk edukasi ini memang lebih memfokuskan materi belajar untuk kalangan pelajar SD, SMP dan SMA. Materi ini dibuat dan dikhususkan karena pada jenjang pendidikan ini materi belajar nya sama dan umum sehingga dapat membantu pelajar maupun pengakses situs lainnya untuk belajar meningkatkan pengetahuannya.

Layanan e – learning ini sendiri tentu saja berbasis online, hanya dengan menggunakan fasilitas internet yang ada, Anda sudah dapat mengakses dan menggunakan pelayanan yang telah disediakan. Indi-smart konten pembelajaran online creative and fun.

Arsy Rakhmanissazly adalah mahasiswi Jurusan Public Relation, Fikom Unpad, Bandung

Indismart, Optimalkan Manfaat Internet Bagi Pelajar

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




Oleh: Arshindy Amaliza Nuradi


Kemajuan teknologi pada era globalisasi saat ini memungkinkan setiap orang mendapatkan kemudahan dalam berkomunikasi. Seseorang dapat berhubungan dengan orang lain tanpa terkendala jarak. Salah satu teknologi yang memberikan kemudahan itu adalah internet. Seperti yang sudah kita ketahui, internet adalah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung melingkupi seluruh dunia. Internet membantu kita untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang jaraknya sangat jauh dan tentunya dengan biaya yang sangat murah dibandingkan dengan fasilitas komunikasi lain seperti misalnya telepon atau televisi. Penggunaan internet juga relatif mudah, apalagi dengan banyaknya fiture-fiture jejaring pertemanan seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain menjadikan internet sangat digandrungi berbagai kalangan dan berbagai usia.

Berbagai keuntungan bisa didapatkan lewat internet, tidak hanya kemudahan dalam berkomunikasi, pengguna internet juga dapat mengakses informasi-informasi yang diinginkan melalui berbagai situs yang tersedia. Misalnya informasi mengenai berita terkini, pendidikan, agama, dan berbagai pengetahuan lainnya. Akan tetapi, bila tidak dilandasi dengan niat pemanfaatan yang baik, internet juga dapat memberikan pengaruh negatif. Sebagai contoh, informasi-informasi yang dicari justru informasi sesat misalnya situs-situs porno. Ironisnya, kalangan yang tidak dapat mengoptimalkan internet dengan baik adalah kalangan remaja yang umumnya dalam masa pencarian jati diri. Menggunakan internet dengan tujuan yang salah tentunya dapat membentuk pribadi yang kurang baik pula pada remaja-remaja ini.

Berdasarkan hasil riset Yahoo! yang dilakukan di Indonesia, kalangan remaja usia pelajar antara 15 sampai 19 tahun mendominasi pengguna internet di Indonesia hingga 64 persen dari pengguna internet di Indonesia. Survei itu mengatakan dominasi penggunaan layanan online adalah pada e-mail (59%), instant messaging (59%), social networking (58%), penggunaan search engine (56%), serta memainkan game online (35%).

Data yang cukup mencengangkan melihat para pelajar yang menjadi mayoritas pengguna internet justru kurang dapat mengoptimalkan fungsi internet. Umumnya mereka hanya menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan teman-temannya lewat jeraring sosial atau bermain game online. Mereka sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk itu. Padahal, seperti yang kita ketahui, tugas utama pelajar adalah belajar. Bukan berarti para pendidik dan para orang tua menjadi melarang mereka menggunakan internet, bergaul lewat jejaring sosial atau hiburan game online sesekali memang diperlukan supaya mereka tidak jenuh dengan pelajarannya di sekolah, tetapi akan lebih baik bila porsinya dikurangi.



Para pendidik dan orang tua dapat mengarahkan mereka untuk lebih mengoptimalkan fungsi internet yang positif seperti misalnya mengajak mereka mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan materi sekolah atau meng-update informasi-informasi terkini supaya pengetahuan mereka bertambah luas. Cara ini akan lebih memberikan manfaat dari penggunaan internet bagi mereka. Mengajak pelajar belajar dengan mengikuti perkembangan zaman akan lebih menarik bagi mereka, karena pada dasarnya mereka merupakan generasi yang ‘melek teknologi’. Jadi, cara belajar yang ditawarkanpun harus menarik dan sesuai.

Belajar lewat internet akan lebih memudahkan para pelajar karena dalam situs-situs tertentu tersedia fitur-fitur lengkap yang menunjang materi pelajaran. Bahkan, pada salah satu konten pembelajaran online yang saya ketahui yaitu Indimart E-Learning, sudah dilengkapi dengan animasi edukasi yang sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Disini para pelajar dapat belajar sambil bermain karena kontennya yang sangat menarik. Mereka dapat memilih materi pelajaran yang diinginkan kemudian melihat visual bergeraknya. Belajar dengan melihat contoh visual bergerak akan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan hanya melihat gambarnya dan ulasan materi yang panjang dan rumit dari buku.

Dari yang saya tahu, Indismart merupakan website yang diperuntukkan sebagai media belajar online. Bertujuan untuk menciptakan nuansa belajar yang menarik dan interaktif, melalui konten-konten pembelajaran yang bersifat animasi dan terbentuknya komunitas online untuk berbagi informasi. Konten pembelajaran online Indismart E-Learning ini dapat dioptmalkan oleh para pelajar mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Tidak hanya untuk pelajar, para pendidik dan orang tua juga dapat menggunakannya untuk turut membimbing mereka.
Membuka situs-situs seperti ini, pelajar dapat memanfaatkan secara maksimal kegunaan internet dari segi yang positif. Para pendidik dan orang tua juga harus ikut serta agar dapat memantau perkembangan mereka sehingga mereka tidak akan berani membuka situs-situs yang negatif. Mudah-mudahan dengan adanya situs-situs dengan konten edukasi online seperti ini dapat membantu para pelajar Indonesia untuk lebih mengoptimalkan manfaat positif dari internet.

Arshindy adalah Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Bandung, Jawa Barat

Rabu, 13 Juli 2011

Karakter Guru dalam Perspektif Alquran

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Muhammad Kosim

Dalam pelaksaan pendidikan sejatinya umat Islam menerapkan pendidikan karakter berbasis al-Qur’an, seperti yang dikemukakan pada tulisan sebelumnya pada kolom opini, jumat (17/6) lalu di Koran ini. Namun peran seorang guru sangat menentukan dalam pendidikan karakter tersebut. Jika Alquran dijadikan sebagai basis, maka seorang guru pun mesti memiliki karakter sebagaimana yang diajarkan Alquran.

Untuk mengetahui karakter guru dalam perspektif Alquran,  dapat dilihat dari istilah-istilah yang semakna dengan guru. Paling tidak, menurut Abuddin Nata, ada delapan Isitilah yang menunjukkan makna guru, yaitu: ulama, ar-rasikhuna fi al-ilm, ahl dzikr, murabbi, muzakky, ulul albab, mawa’idz, dan mudarris. Selain itu ada pula istilah mu’allim, mursyd dan sebagainya.

Pertama, ulama. Dalam Fathir/35: 28, mengisyaratkan bahwa ulama adalah orang yang memiliki ilmu, dengan ilmunya ia “takut” kepada Allah. Ilmu yang dimiliki ulama bisa berupa ilmu agama (tafaqqahu fi al-din) atau ilmu alam (seperti sains). Sedangkan hakikat ilmu itu sendiri sama-sama berasal dari Allah. Jadi tugas utama seorang ulama adalah mengajarkan ilmu yang menjadikan seseorang takut dan dekat kepada Allah.

Jadi, guru sebagai ulama sejatinya menguasai ilmu agama dan ilmu secara mendalam, mau mengajarkan ilmunya itu atas panggilan agama; memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan bagi masyarakat; serta mengembangkan ilmunya secara terus-menerus,melakukan peran sebagai pelindung dan pembimbing masyarakat, sebagai motivator dalam pembangunan, melakukan peran sebagai tokoh masyarakat; dsb.

Tegasnya,bukan guru agama saja yang patut disebut ulama, tetapi guru umum yang mengajarkan ilmunya atas panggilan agama dan menanamkan nilai-nilai tauhid melalui ilmu itu, ia pun patut disebut ulama.

Kedua, ar-rasikhuna fi al-ilm. Istilah ini ditemukan dalam surat Ali Imran/3: 7 yaitu orang yang mendalam imunya sehingga ia tidak hanya dapat memahami ayat-ayat yang jelas dan terang maksudnya (ayat-ayat muhkamat), juga memahami ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian (interpretable) . Mereka adalah orang yang memperoleh hidayah dari Allah. Iman mereka kokoh, taat menjalankan ibadah, memiliki kepedulian sosial, serta berakhlakul karimah.

Guru seyogyanya memiliki karakter sebagai ar-rasikhuna fi al-’ilm, hampir sama dengan karakter ulama. Bedanya, ulama tidak saja di bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Sementara ar-rasikhuna fi al-’alm lebih terkonsentrasi pada ilmu pengetahuan.

Ketiga, Ahl dzikr. Istilah ini terdapat dalam surat An-Nahl/16: 43), yaitu orang yang memiliki pengetahuan, menguasai masalah, atau ahli di bidangnya. Sebagai ahl dzikr, karakter guru hendaklah sebagai orang yang mengingatkan pada siswa dari perbuatan yang melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya. Guru adalah seseorang yang mendalami ajaran-ajaran yang berasal dari Allah SWT, terutama yang terkait dengan bidang keilmuannya.



Keempat, murabbi. Istilah ini seakar dengan kata rabb atau tarbiyah, artinya pemelihara, pendidik, atau menumbuhkembangkan. Allah juga murabbi bagi makhluk-Nya (al-Fatihah/ 1:2). Adapun pendidikan Allah terhadap manusia terbagi dua, yaitu: pendidikan kejadian fisiknya serta pendidikan keagamaan dan akhlak.

Al-Muraghi menyebutkan bahwa al-Murabbi adalah orang yang memelihara, mengajar yang dibimbingnya dan diatur tingkah lakunya. Guru sebagai al-Murabbi adalah seseorang yang berusaha menumbuhkan, membina, membimbing, mengarahkan segenap potensi peserta didik secara bertahap dan berkelanjutan.

Mereka membina aspek jasmani dan rohani manusia sehingga berkembang secara sempurna. Karena itu seorang guru harus memiliki kesanggupan dan kecakapan baik jasmani maupuan rohani, sehingga tugasnya yang berat itu dapat ia laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Kelima, Muzakki, yaitu orang yang menyucikan. Di antara ayat yang mengandung istilah ini adalah surat al-Baqarah/2: 151. Sesungguhnya, yang melakukan tugas membersihkan dan menyucikan adalah Allah dan Nabi Muhammad SAW. Jadi Allah dan Rasul adalah al-Muzakki.

Dalam konteks pendidikan, guru juga berperan sebagai al-muzakki, yaitu orang yang mampu membentuk manusia yang terhindar dari perbuatan yang keji dan munkar serta menjadi manusia yang berakhlak mulia. Karakter muzakki mengajarkan agar seorang guru senantiasa berupaya untuk menyucikan dirinya sehingga ia mudah menyucikan jiwa peserta didiknya.

Keenam, ulul albab. Di antara ayat yang memuat istilah ini adalah surat Ali Imran/3: 190-191. Ulul albab adalah orang yang berzikir dan berpikir. Mereka memiliki pemikiran (mind) luas dan dalam, perasaan (heart) halus dan peka, daya pikir (intellect) tajam dan kuat, pandangan (insight) luas dan dalam, pengertian (understanding) akurat, tepat, dan luas, serta memiliki kebijaksanaan (wisdom) yaitu mampu mendekati kebenaran dengan pertimbangan adil dan terbuka.

Ulul Albab adalah orang yang berakal atau orang yang dapat berfikir dengan menggunakan akalnya. Hal-hal yang mereka pikirkan itu amat banyak dan beragam, di antaranya ayat-ayat qauliyah (Alquran) dan ayat-ayat kauniyah (alam semesta).

Mereka juga mampu menganalisa secara mendalam terhadap berbagai masalah tersebut, kemudian ia dapat menarik hikmah atau pelajaran yang mendalam dari berbagai peristiwa tersebut.

Karakter ulul albab mengajarkan agar guru senantiasa menggunakan akalnya untuk memikirkan dan menganalisa berbagai ajaran yang berasal dari Tuhan, peristiwa yang terjadi di sekitarnya untuk diambil makna mengajarkan kepada anak didiknya.



Ketujuh, mawa’izh atau orang yang memberi nasehat (Qs. Asy-Syu’ara/26: 136). Guru sebagai mawa’izh adalah orang yang senantiasa mengingatkan, menasehatkandan menjaga anak-anak didiknya dari pengaruh yang berbahaya. Nasehat ituberdasarkan kepada ajaran al-Qur’an dan Hadis untuk melunakkan hati anak-anak muridnya sehingga mereka menjadi manusia yang terpelihara dari dosa-dosa serta mereka menjadi generasi yang shaleh dan berprestasi.

Kedelapan, mudarris. Di antara ayat yang mengandung akar kata ini adalah surat al-An’am/6: 105. Guru sebagai mudarris adalah orang yang senantiasa melakukan kegiatan ilmiah seperti membaca, memahami, mempelajari dan mendalami berbagai ajaran yang terdapat di dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Ia juga berupaya mengajarkan dan membimbing para siswanya agar memiliki tradisi ilmiah
yang kuat.

Kesembilan, mu’allim, yaitu orang yang berilmu. Istilah ini tersirat dalam surat al-Baqarah/2: 151. Makna ilmu dalam perspektif Alquran lebih luas dan mendalam dari istilah knowledge, sains, atau logos. Kata ilmu memiliki kaitan dengan alam, amal, dan al-‘alim. Ilmu berkembang dengan mengkaji alam. Ilmu itu harus diamalkan, dan ilmu tersebut mesti mendekatkan diri kepada al-’Alim, yaitu Allah Yang Maha Memiliki Ilmu.

Guru mesti mengajarkan ilmu yang terkait dengan kognisi, psikomotor, dan apeksi. Jadi guru bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu untuk diamalkan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kesepuluh, mursyd yang berasal dari kata rasyada, artinya cerdas. Istilah ini terkandung dalam surat an-Nisa’/4: 6. Cerdas dimaksud tidak saja pada intelektualitasnya, tetapi berhubungan erat dengan spiritualnya.

Suatu ketika, Imam Syafi’i berkata: “saya mengadu kepada Waqi’ tentang buruknya hafalanku, maka dia mengajarkanku (fa arsyadani) agar meninggalkan maksiat. Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya (nur), dan cahaya Allah SWT tidak diberikan kepada pelaku maksiat”.

Nasehat Waqi’ tersebut mengajarkan agar Syafi’i cerdas (irsyad) dengan meninggalkan kemaksiatan. Karakter guru sebagai mursyid, mesti menjadi orang yang cerdas baik dalam penguasaan materi, penerapan teknik dan metode, serta menjadi model, teladan atau tokoh identifikasi bagi anak didiknya yang jauh dari perbuatan-perbuatan maksiat.

Masih banyak istilah lain yang patut dikaji dan dikembangkan dari ayat-ayat Alquran. Jelasnya, kesepuluh istilah di atas menunjukkan bahwa karakter seorang guru tidak sekedar penyampai materi (transfer of knowledge), tetapi yang terpenting adalah melakukan internalisasi nilai (internalitation of values) yang berbasis Alquran.

Tegasnya, guru dituntut untuk membaca, mengkaji, mengamalkan dan mengajarkan ayat-ayat Alquran sesuai dengan bidang keilmuan yang dimilikinya. Dengan begitu tidak boleh berhenti belajar, meskipun telah mengajar. Guru harus tetap belajar membina dan mendidik dirinya sendiri sehingga berhasil mendidik orang lain. Dengan begitu generasi Qurani mudah terwujud. Wallahu a’lam.

Info Beasiswa Unggulan

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




Beasiswa Unggulan – Kementerian Pendidikan Nasional merupakan pemberian bantuan biaya pendidikan oleh pemerintah Indonesia atau pihak lain berdasarkan atas kesepakatan kersjasama kepada putera – puteri terbaik bangsa Indonesa dan mahasiswa asing terpilih. (Permendiknas RI Nomor 20 Tahun 2009)

SASARAN PROGRAM BEASISWA UNGGULAN
Beasiswa Unggulan diberikan kepada mereka yang memiliki prestasi sebagai berikut:
1. Peraih medali Olimpiade Sains / Teknologi tingkat Nasional/ Internasional;
2. Pemenang lomba LKS (Lomba Kompetensi Siswa) Tingkat Nasional;
3. Pemenang Lomba tingkat Nasional / Internasional, bidang Sains, Teknologi, Seni Budaya, Olahraga, dll;
4. Lulusan terbaik SMA / MA / SMK / Ponpes / Perguruan Tinggi yang diusulkan oleh Pemda (Propinsi/ Kabupaten/ Kota), Masyarakat (LSM), dan Insdustri;
5. Lulusan Cumlaude dari Perguruan Tinggi/ Sekolah Tinggi/ Akademi;
6. Penulis, Pencipta, Peneliti, Seniman, Olahragawan, dan Tokoh (P3SWOT) berprestasi;
7. Staf Pemda dan Staf Diknas dari unit- unit utama serta jajarannya;
8. Bukan Dosen (untuk reguler S1, S2, dan S3).

Jenis Beasiswa Unggulan
Berdasarkan Permendiknas tentang Beasiswa Unggulan, jenis beasiswa yang diberikan terdiri dari :
a. Beasiswa Unggulan Program Sarjana, yaitu beasiswa diperuntukkan untuk lulusan berprestasi dari Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA) guna mengikuti proses pendidikan program sarjana atau yang sederajat di perguruan tinggi bidang sains dan humaniora serta vokasi.
b. Beasiswa Unggulan Program Magister diperuntukkan untuk lulusan Sarjana (S1) atau sederajat yang memenuhi persyaratan tertentu untuk melanjutkan pendidikan di tingkat magister pada bidang studi dan konsentrasi yang berlaku di lingkungan KEMDIKNAS. Bagi aktifis mahasiswa bila memenuhi kriteria yang dipersyaratkan dapat menggunakan jalur ini untuk jenjang pendidikan selanjutnya.
c. Beasiswa Unggulan Program Doktor diperuntukkan untuk lulusan Magister (S2) atau yang sederajat yang memenuhi persyaratan tertentu untuk melanjutkan pendidikan di tingkat doktor pada bidang studi dan konsentrasi yang berlaku di lingkungan KEMDIKNAS.
d. Beasiswa Tunjangan Kreatifitas diperuntukkan untuk peserta didik pemenang kejuaraan tingkat internasional dalam berbagai bidang (vokasi, olahraga, seni dan sains).
e. Beasiswa mahasiswa asing (Palestina, dll) merupakan program khusus untuk mahasiswa asing dan diutamakan untuk negara Palestina, dll. Program ini digunakan untuk menstimulus program studi yang menyelengarakan gelar ganda dan kembaran.
f. Beasiswa untuk studi lanjut bagi olah ragawan berprestasi tingkat nasional dan internasional serta pemenang olimpiade sains, seni dan iptek.
g. Beasiswa Ulung merupakan program khusus untuk akselerasi penyelenggaran Fasttrack Program di dalam dan luar negeri dalam jenjang S1 hingga S3.
h. Beasiswa kemitraan dengan pihak industri terkait yang peduli di dunia pendidikan seperti BU-
CIMB Niaga, BU-BRI (Beasiswa Nusantara), dll.
i. Beasiswa Unggulan untuk Peneliti, Penulis, Pencipta, Seniman, Wartawan, Olah Ragawan dan Tokoh (P3SWOT) diberikan berdasarkan profesi pelamar dan tidak memperhatikan jenjang pendidikan.
j. Beasiswa kemitraan alumni digunakan untuk pembinaan alumni program Beasiswa Unggulan jenjang pendidikan Sarjana (S1) atau sederajat, magister (S2) dan doktor (S3).
k. Beasiswa bidang kajian khusus seperti Akuntasi Pemerintahan merupakan program khusus untuk bidang kajian akuntasi pemerintah. Hal ini diperlukan untuk mendukung terciptanya pemerintah yang akuntabel (
Good Governance). Bidang Energi terbarukan diperuntukan untuk mendukung ketersediaan sumber daya manusia yang memahami energy terbarukan di Indonesia, dan bidang kajian Gametech diperuntukan untuk penyediaan sumber daya manusia yang menguasai teknologi khususnya mengarah ke edutaiment.

Bentuk Beasiswa Unggulan
Peserta program Beasiswa Unggulan yang lolos seleksi baik di perguruan tinggi penyelenggara maupun dari Sekretariat Beasiswa Unggulan akan menerima beasiswa dalam bentuk salah satu dan/atau kombinasi dari sebagai berikut :
a. Biaya hidup adalah beasiswa yang diterima untuk menbantuan biaya hidup pada saat mengikuti program pendidikan jenjang S1 atau yang sederajat,S2 dan S3.
b. Biaya pendidikan adalah beasiswa yang diterima untuk membantu sebagian atau membiayai seluruh biaya pendidikan pada saat mengikuti program pendidikan jenjang S1 atau yang sederajat, S2 dan S3.
c. Biaya buku adalah beasiswa yang diberikan kepada peserta beasiswa saat menempuh program pendidikan jenjang S1 atau yang sederajat, S2 dan S3.
d. Biaya penelitian adalah beasiswa yang diberikan kepada peserta saat menempuh program pendidikan jenjang S1 atau sederajat, S2 dan S3.
e. Biaya publikasi ilmiah adalah beasiswa yang diberikan kepada peserta saat menempuh program pendidikan jenjang S1atau yang sederajat, S2 dan S3.
f. Tunjangan prestasi adalah bantuan pendidikan bagi peserta yang lolos seleksi dan diterima berdasarkan prestasi yang diraih.
g. Tunjangan kreatifitas adalah bantuan pendidikan bagi peserta yang lolos seleksi dan diterima berdasarkan kreatifitas yang di capai.
h. Bantuan beasiswa bagi peneliti, penulis, pencipta, seniman, wartawan, olahragawan dan tokoh yang disalurkan melalui P3SWOT.
i. Biaya transportasi/tiket pesawat adalah bantuan tiket bagi peserta untuk melakukan kegiatan ke atau dari luar negeri.
j. Biaya asuransi kesehatan adalah bantuan kesehatan untuk mendukung kegiatan pendidikan selama di dalam dan luar negeri.
k. Biaya kedatangan dan kepulangan adalah bantuan pendidikan untuk mengikuti program orientasi dan pembekalan bagi peserta beasiswa.
l. Biaya tunjangan awal/akhir program adalah bantuan yang diberikan pada saat awal dan berakhirnya kegiatan pendidikan peserta beasiswa.
m. Biaya matrikulasi adalah bantuan yang diberikan apabila peserta beasiswa diwajibkan mengikuti kuliah matrikulasi pada program pendidikan yang diikuti
n. Biaya operasional dan biaya-biaya lainnya (untuk berlangganan internet, sewa komputer, dll).
Setiap peserta program Beasiswa Unggulan berhak menerima seluruh bentuk beasiswa yang di tawarkan tersebut di atas, namun syarat utama pelamar adalah sangat kompetitif sekali, walaupun hal itu sangat jarang terjadi dan hak tersebut juga sesuai program beasiswa yang diikuti

PERSYARATAN PROGRAM BEASISWA UNGGULAN
1. Sudah diterima di Perguruan Tinggi dengan melampirkan Letter of Acceptance
2. Surat Pernyataan sanggup mengikuti peraturan pada Program Beasiswa Unggulan
3. Mengisi data diri secara lengkap pada website Program Beasiswa Unggulan: http://www.beasiswaunggulan.kemdiknas.go.id
4. Melampirkan proposal rencana usulan, tugas akhir/ Skripsi/ Tesis/ Disertasi
5. Syarat IPK & TOEFL untuk mengikuti seleksi:
S1: UAN > 7.25, IPK > 3.00, TOEFL 450
S2: IPK > 3.25, TOEFL 500
S3: IPK > 3.25, TOEFL 550
Isi pada form online dengan melampirkan scan Ijazah & Transkrip Nilai (untuk IPK & UAN) serta scan sertifikat TOEFL yang sudah dilegalisir.
*) Apabila calon pelamar tidak memiliki sertifikat TOEFL, dapat melampirkan sertifikat TOEIC, TOEFL IBT, IELTS, dll
6. Melampirkan Sertifikat penghargaan/ prestasi
7. Usia Pendaftar diprioritaskan:
a. DIV/ S1 tidak lebih dari 21 tahun
b. S2 tidak lebih dari 35 tahun
c. S3 tidak lebih dari 45 tahun
8. Melampirkan surat rekomendasi dari Instansi asal untuk mengikuti program Beasiswa Unggulan.
9. Membuat publikasi pada
 
media masa nasional / Internasional (ISR).

Periode Beasiswa
Peserta program Beasiswa Unggulan selama menuntut ilmu baik di dalam negeri maupun luar negeri akan dibatasi waktu penerimaan beasiswanya. Hal ini dilakukan untuk memicu peserta program Beasiswa Unggulan dalam menyelesaikan studinya. Sebagai informasi awal, periode beasiswa yang diberikan terdiri dari:

1. Dari aspek pola pembelajaran yang dikembangkan, untuk program sarjana (S1) atau yang sederajat, peserta akan mendapatkan beasiswa (biaya pendidikan) selama maksimal 6-8 semester untuk biaya pendidikan. Sedangkan bagi yang mendapatkan biaya hidup akan diterima maksimal 36-48 bulan, kecuali untuk mahasiswa asing tertentu.
2. Dari aspek pola pembelajaran yang dikembangkan, untuk program Magister (S2), peserta akan menerima beasiswa (biaya pendidikan) selama maksimal 4 semester yang meliputi biaya pendidikan. Sedangkan biaya hidup maksimal akan diberikan selama 18 bulan, kecuali untuk mahasiswa asing tertentu.
3. Dari aspek pola pembelajaran untuk program Doktor (S3) selama maksimal 6 semester yang meliputi biaya pendidikan dan biaya hidup, kecuali untuk mahasiswa asing tertentu.

Sedangkan untuk melakukan proses pengajuan Beasiswa Unggulan dapat dilakukan mulai tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember pada tahun yang berjalan. Sedangkan proses pencairan dana beasiswanya mengikuti proses pencairan anggaran tahun berjalan. Adapun tutup tahun anggaran dilakukan pada tanggal 31 Desember tahun berjalan.

For more information, please visit official website: www.beasiswaunggulan.kemdiknas.go.id

Nuh: Guru Wajib Miliki Kompetensi Sosial



oleh: Arif Pitoyo


JAKARTA: Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh meminta kepada Ikatan Guru Indonesia (IGI) untuk meneguhkan kode etik profesi guru sebagai bagian dari profesionalitas yang dicerminkan dalam karakter kompetensi guru yaitu kompetensi sosial.

"Kami ingin menitipkan kepada bapak dan ibu guru mengembangkan kompetensi sosial itu menjadi bagian dari pendidikan karakter, kereta karakter," katanya pada penutupan Kongres IGI Ke-1 di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Kamis, hari ini.

Kongres yang berlangsung sejak 21 Juni 2011 mengambil tema "Menjadi Guru Profesional, Membangun Bangsa" dengan subtema "Gerakan Guru Melek Internet".

Mendiknas menyatakan siap bekerjasama dengan IGI dalam memajukan dunia pendidikan. Pihaknya menempatkan IGI sebagai mitra bukan subordinat dan menghargai dan menghormati IGI sebagai organisasi independen, katanya.


“Kemuliaan seseorang terletak pada ilmu, cita-cita, dan kepribadiannya karena itu jika IGI ingin menjadi organisasi bermartabat maka jadikan IGI sebagai sumber ilmu," katanya.

Mendiknas berharap, mulai tahun ajaran baru nanti ada perubahan nuansa pendidikan berbasis karakter, yang dimotori oleh keluarga besar IGI. "Ciptakan di sekolah-sekolah di mana bapak ibu sekalian ada. Stop
ketidakjujuran, stop kekerasan," ujarnya.

Terkait dengan profesi guru, Mendiknas menyampaikan, saat ini jumlah guru yang telah disertifikasi sebanyak 746 ribu dari 2,7 juta guru di Indonesia. Adapun anggaran yang telah dikeluarkan untuk memberikan tunjangan profesi hampir Rp 25 triliun.(api)

Ajari Anak-anak Cinta Kuliner Nusantara

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.







oleh: Diana Yuliastuti

TEMPO Interaktif, Jakarta - Aneka kuliner Indonesia tak kalah lezatnya dibandingkan kuliner luar. Agar lebih dikenal dan menarik, pembuat kuliner harus mengubah kemasan dan tampilan penyajiannya. "Warna, kemasan, penyajian ini sering tidak diperhatikan. Kita hanya perhatikan rasa dan aroma saja," ujar Bondan Winarno, Pendiri Komunitas Jalan sutera, disela-sela acara Sahid Festival di Hotel Grand Sahid Jaya, Ahad, 26 Juni 2011.

Bondan mengatakan dengan rasa yang lezat ditunjang penampilan atau penyajian yang menarik, tentu akan menggugah selera. Jika penyajian tak mengundang selera, maka orang yang belum mengetahui tak akan ikut tertarik.

Selain bisa menggugah selera, juga menimbulkan rasa ingin tahu yang besar dari calon penikmatnya. "Anak-anak juga akan makin berselera untuk makan sehingga mereka makin doyan dan kenal makanan tradisional kita," ujar pembawa acara kuliner di sebuah stasiun swasta ini.

Bondan juga merasa prihatin karena makin banyak anak-anak tidak mengenal makanan dan minuman atau masakan tradisional. Apalagi saat ini keberadaan kuliner Nusantara makin jarang ditemui. Dia menyayangkan karena para orang tua tidak berusaha mengenalkan kuliner Nusantara kepada anaknya sehingga anak-anak merasa asing dan lebih banyak mengenal makanan cepat saji dari luar negeri.

Dia juga merasa prihatin kepada pemerintah, terutama pemerintah daerah, yang tidak punya visi mengembangkan kuliner Nusantara. Menurutnya, pemerintah tidak menghargai kuliner sebagai budaya. "Padahal, kalau digali, dikembangkan, dikemas, untuk turisme sangat banyak," ujarnya.

Selasa, 12 Juli 2011

Lelang Proyek DAK Pendidikan Rp 22M di Mojokerto Kisruh Lagi

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




MAJA mojokerto | Meski kisruh, Aawijzing proyek DAK pendidikan di Kabupaten Mojokerto tetap dilanjutkan, Panitia sudah membagi Aawijzing per paket, tapi hampir semua paket selalu diprotes rekanan.

Boga September, salah satu kontraktor mengatakan, para kontraktor sudah membuat pernyataan akan memperkarakan masalah ini khususnya soal dugaan tim teknis fiktif, "Semua sudah membuat pernyataan akan protes lagi saat masa sanggah, dan akan lapor polisi " katanya.

Kata Boga, ada kejanggalan dalam SK Tim Teknis " SKnya baru ditandatangani 15 Juni, padahal RKSnya diteken per 1 juni, seharusnya SK sudah ditanda tangani sebelum 1 Juni" tegasnya.

Sekedar informasi, Aawijzing proyek DAK pendidikan ini sudah dilaksanakan seminggu lalu tapi diprotes dan dibubarkan kontraktor local, Mereka menilai RKSnya ada yang salah, Senin (20/06) Aawijzing dibagi per paket selama tiga hari, hari pertama proyek pengadaan Lab IPA
senilai Rp 750 Juta, Lab Bahasa senilai Rp 750 juta dan Proyek Pengadaan Buku senilai Rp 5,1 M tapi semua kisruh dan diprotes rekanan.(zacky)
sumber: http://www.majamojokerto.com/headline/322/Lelang-proyek-DAK-Pendidikan-R\
p-22M-di-Mojokerto-KISRUH-Lagi

Kiat Meningkatkan Kecerdasan Anak

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.






Anak balita memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyerap kepandaian dan informasi baru dibandingkan anak yang berusia lebih tua. Penelitian menunjukkan, mengenalkan pada kegiatan membaca, bahasa, dan matematika sejak usia balita, akan membuat mereka lebih mudah menangkap pelajaran tersebut nantinya.

Berikut sejumlah cara yang bisa mendorong serta melatih mereka agar memiliki otak cerdas.

1. Mengajak bicara.
Ceritakan tentang apa saja padanya. Yang jelas, anak jadi tahu, dia merupakan pusat perhatian Anda. Hal ini akan mendukungnya di dalam perkembangan pengetahuan bahasa dan pemikirannya.

2. Pilih buku anak-anak dengan huruf yang besar dan gambar yang jelas.
Hal ini akan menolong anak mengerti apa yang mereka lihat dan juga pelan-pelan belajar membaca kata.

3. Beli kaset/VCD/DVD berbahasa asing.
Akan lebih mudah untuk anak balita menangkap bahasa asing daripada di kemudian hari.

4. Beli software komputer untuk anak balita.
Banyak software yang melatih kemahiran menggunakan keyboard karena sebelum berusia 2,5 tahun anak cenderung sulit menggunakan mouse.

5. Beli huruf abjad yang terbuat dari plastik dan simpan di kamar mandi.
Setiap kali mandi, perkenalkan huruf baru dan lakukan berulang-ulang hingga anak hafal. Dengan cara itu, pelan-pelan anak akan mulai belajar adanya hubungan antara berbicara dan menulis di dalam bahasa.

6. Selalu lakukan pengulangan.
Banyak orang tua merasa frustrasi jika anaknya berulang-ulang membaca satu halaman di buku yang sama atau menonton film/VCD yang itu-itu saja. Jangan sebal dan panik! Ini merupakan suatu bagian penting di mana anak mengenal proses informasi.



7. Beli huruf-huruf dan angka-angka yang terbuat dari magnit.
Hal ini memungkinkan anak bermain sambil belajar di depan lemari es. Kenalkan kata-kata yang baru setiap minggu.

8. Bacakan suatu cerita setiap hari.
Baca dengan intonasi dan ekspresi.

9. Ingat, pendidikan jasmani berhubungan langsung dengan pendidikan akademis.
Penelitian menunjukkan, perkembangan otak juga berhubungan erat dengan pendidikan jasmani, seperti merangkak sebelum usia 1 tahun. Jika Anda dan si balita sering melakukan aneka kegiatan olahraga bersama, hal ini dapat membantu menambah perkembangan fisik serta otak anak. Entah itu berlari-lari, naik kuda, berenang, dan lainnya.

10. Beli satu set pelajaran dan pendidikan untuk anak balita.
Termasuk di dalamnya buku-buku, video, kaset, dan bagaimana caranya mengajarkannya. Baca dan belajarlah berdua anak. Membeli ensiklopedia bergambar khusus untuk anak pun, tak ada salahnya.

Sumber : My Opera

Sentralisasi Guru Jangan Asal-asalan

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




JAKARTA - Rencana Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) untuk menarik wewenang guru dan kepala sekolah dari dareah ke pusat, mendapatkan respon positif dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Mereka mengingatkan, supaya Kemendiknas tidak asal-asalan menjalankan kebijakan sentraliasi tenaga pendidik tersebut.

Ketua Pengurus Besar (PB) PGRI Sulistyo menuturkan, kebijakan sentraliasi tenaga pendidik ini beresiko jika tidak dilakukan dengan kajian yang mendalam. "Jangan sampai nanti nasib guru ibarat keluar dari lubang ular,
masuk lubang buaya," kata dia saat dihubungi berada di Tuban, Sabtu (25/6).

Sulistyo menuturkan, isu sentraliasi tenaga pendidikan sudah dibahas di internal PGRI sejak tahun lalu. Bahkan, juga sudah disampaikan di depan presiden SBY. Menurut kajian PGRI, muncul tiga alasan untuk segera dijalankan sentralisasi guru.

Ketiga alasan tadi adalah, jika distribusi guru lintas kabupaten, kota, serta provinsi tidak berjalan baik. Selanjutnya, jika guru masih terus menjadi korban kebijakan politik lokal. Dan terakhir jika guru masih belum
mendapatkan pembinaan pengembangan profesi yang mumpuni.

Terkait kasus distribusi guru, PGRI menanggapi dingin pernyataan dari Kemendiknas jika di negeri ini kelebihan guru hingga 500 ribu orang. Menurut laporan PGRI dari beberapa daerah, rata-rata kota dan kabupaten mengalami kekurangan guru kelas di jenjang SD.

Menurut Sulistyo, persoalan distribusi guru di negeri ini cukup pelik sejak Indonesia merdeka. "Setelah penerapan otonomi pendidikan, persoalan distribusi guru tambah kacai," tandas anggota Komite III DPD itu.

Sementara itu terkait kondisi guru yang sering menjadi korban kebijakan politik daerah, Sulistyo berharap bisa benar-benar dipecahkan setelah muncul kebijakan sentralisasi guru.

Senator dari Provinsi Jawa Tengah itu mengaku miris karena masih sering mendengar ada mutasi guru asal-asal karena dilandasi muatan politik. Sebaliknya, politik daerah kerap memunculkan pengangakatan pejabat-pejabat pendidikan, seperti kepala dinas pendidikan dan kepala sekolah yang tidak prosedural. "Kasus seperti ini muncul di seluruh provinsi," katanya.

Selanjutnya, Sulistyo juga menuturkan pembinaan pengembangan profinsi pascaotonomi daerah masih lambah. Dia mengakui, ada guru negeri yang hingga menjelang pensiun sama sekali tidak pernah mengikuti penataran. Baik itu penataran yang digelar oleh pemerintah daerah maupun pusat. Dengan kondisi
ini, Sulistyo mengatakan para guru berada dalam posisi sulit untuk mengambangkan profesinya.

Dia berharap, upaya Kemendiknas untuk mensentralisasikan tenaga pendidik benar-benar matang. "Harus ada kajian empirisnya," ucap Sulistyo. Sehingga, setelah kebijakan ini dijalankan nasib guru bisa semakin bagus. Baik itu terkait karirnya sebagai guru, maupun pada tataran kesejahteraannya.

Sulistyo khawatir kesejahteraan guru di beberapa daerah yang memiliki pendapatan daerah kaya, seperti di Jakarta dan Batam bakal menurun setelah muncul kebijakan sentralisasi. "Karena guru menjadi wewenang pusat, pemerintah daerah bisa jadi tidak merasa bertanggung jawab," tandasnya.

Sedangkan untuk distribusi guru, pasca sentralisasi nanti pemerintah pusat tidak bisa seenaknya memindah guru. Guru harus diberi kompensasi secara adil jika akan dipindah ke daerah-daerah terpencil atau perbatasan. Sulistyo berharap, kebijakan sentralisasi tenaga pendidik harus diikuti dengan perangkat hukum yang melindungi guru. (wan)

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)