Selasa, 26 Oktober 2010

Tinjauan Buku: STONES INTO SCHOOLS

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.





Oleh: "Satria Dharma"

Jika Anda punya sedikit waktu untuk membaca di pagi, siang atau malam hari maka saya menganjurkan Anda untuk membaca buku “Stones into Schools”, sebuah buku tentang perjuangan Greg Mortenson dalam membangun lebih dari 145 sekolah di Pakistan dan Afghanistan selama 17 tahun ini. Buku ini adalah sekuel memoar laris “Three Cups of Tea” yang bukunya telah terjual 3,4 juta kopi dan diterbitkan di tiga lusin negara di seluruh dunia dan bertahan sebagai buku terlaris New York Times untuk kategori jenis nonfiksi selama tiga tahun terus menerus!

Fakta ini saja sebenarnya cukup untuk membuktikan bahwa buku ini dahsyat! Sebuah buku yang patut untuk Anda baca dan sebarluaskan semangatnya pada siapa saja yang ingin memiliki hidup yang memiliki arti bagi orang lain. Buku ini bahkan menjadi buku bacaan wajib bagi para perwira militer yang mengikuti pendidikan penumpasan pemberontakan (countersurgency) di Pentagon. Buku ini dapat mengajar para perwira tersebut agar mereka memahami semangat dan visi Greg Mortenson dalam membangun peradaban di negara yang diluluhlantakkan oleh perang yang tiada henti.

Buku ini diberi kata pengantar oleh Khaled Hosseini, penulis novel fenomenal laris “The Kite Runner”, yang memberikan penghargaan yang tinggi terhadap upaya Greg Mortenson untuk membangun sekolah di negara-negara yang luluh lantak oleh perang dan pertikaian suku itu. Greg tidak hanya membangun sekolah bagi anak-anak di daerah sangat terpencil di sudut-sudut dunia yang tak terbayangkan oleh kita tapi ia juga mengutamakan dedikasinya tersebut bagi anak-anak perempuan yang paling menderita oleh karena situasi perang dan pertikaian tersebut.



Greg percaya pada fenomena ‘Girl Effect’ pada pepatah Afrika yang menyatakan “Jika kita mengajar anak laki-laki, kita mendidik individu; tapi jika kita mengajar anak perempuan, kita mendidik satu komunitas.” Dari upayanya ini Greg berhasil menumbuhkan anak-anak perempuan yang berasal dari suku paling terpencil di Pakistan dan Afghanistan menjadi pahlawan dan pemimpin komunitasnya masing-masing, sesuatu yang bahkan takkan terbayangkan waktu sekolah itu dibangun.

Upaya-upaya serius untuk mempromosikan sekolah untuk anak perempuan agar dapat menjadi bagian dari pendidikan komunitas yang diprakarsai oleh Greg juga berlangsung di seluruh penjuru dunia, dari Guatemala dan Mesir hingga Bangladesh dan Uganda. Dan itu semua dimulai dari kunjungan pertama Greg ke desa Balti di pegunungan di Afghanistan (ia tersesat dan ditolong oleh penduduk desa itu saat itu) ketika Haji Ali berkata padanya. ”Pada cangkir teh pertama yang kamu minum bersama kami, kamu masih orang asing. Pada cangkir kedua, kau adalah teman. Tapi pada cangkir ketiga, kau menjadi keluarga – dan demi keluarga, kami bersedia melakukan apa saja, bahkan mati.” Greg telah minum bercangkir-cangkir teh bersama para penduduk gunung dan daerah-daerah paling terpencil di Afghanistan dan Pakistan dan ia bersedia untuk mati berkali-kali untuk membantu mereka, keluarga barunya, yang dibelanya begitu gigih. Begitu fantastisnya apa yang dilakukan oleh Greg sehingga bahkan membayangkannya saja telah membuat saya gemetaran. “Tashakor, Greg jan, atas semua yang telah Anda lakukan.” Demikian kata Khaled Hosseini dalam kata pengantarnya. Ya, Greg Mortenson adalah pahlawan dalam arti sesungguhnya. ....

baca selanjutnya di :
·         http://satriadharma.wordpress.com/2010/10/25/stones-into-schools/#more-317
·         http://satriadharma.com/index.php/2010/10/25/stones-into-schools/#more-206
·         http://satriadharma.com/

Bangun Generasi Baru Berkarakter!

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Yudhistira ANM Massardi


NABI Muhammad Saw menganjurkan agar para orangtua mengajari anak-anak mereka menunggang kuda, memanah, dan berenang, sejak usia dini. Para orangtua Yahudi mengajari anak-anak mereka main piano, menembak, dan berlari. Para pemimpin Jepang, setelah dikalahkan oleh Sekutu dalam Perang Dunia II, langsung  memerintahkan agar bangsanya segera mengambil oper olahraga utama bangsa penakluknya, Amerika Serikat: bisbol. Bangsa Brasil, identik dengan sepakbola dan tarian samba. Bangsa Rusia identik dengan catur dan balet. Bangsa China identik dengan ping-pong dan senam. Bangsa Inggris identik dengan cricket dan polo.
Negara-negara tersebut, telah memilih dan memutuskan jenis olahraga dan seni yang diberi dukungan penuh. Untuk itu, negara menyediakan sarana dan prasarananya: dari sekolah pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Dengan  demikian, seluruh bangsa, setiap keluarga, setiap anak, siap untuk ambil bagian, termasuk berkompetisi sepanjang tahun, penuh semangat.



Tuhan memberikan tiga kemampuan dasar bagi manusia untuk belajar: kemampuan penglihatan (visual), kemampuan pendengaran (auditori), dan kemampuan raga (kinestetik). Ketiga kemampuan itu harus diasah dan ditingkatkan agar manusia bisa mencapai tingkatan paripurna: seluruh kecerdasan jamaknya terbangun optimal. Untuk itu, negara dan bangsa harus memberikan dukungan penuh. Tanpa itu, maka tujuan pendidikan yakni, --“...agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU No 20 Th 2003/Sisdiknas) “-- tidak akan bisa dicapai.

Nabi Muhammad dan para pemimpin bangsa-bangsa besar paham: membangun karakter dan kecerdasan bangsa, harus dimulai sejak anak usia dini; dan itu dilakukan melalui main. Para pakar pendidikan modern, seperti Charles H. Wolfgang, merumuskan bahwa untuk membangun kecerdasan jamak anak-anak usia dini, perlu dilakukan stimulasi melalui tiga macam main: Main Sensorimotor (Fungsional) , Main Peran Makro dan Mikro (Simbolik), Main Pembangunan Sifat Cair dan Terstruktur. Sara Smilansky kemudian menambahinya dengan: Main dengan Aturan. Pada saat sebelum, selama dan sesudah main, kepada anak diberikan pijakan main yang berisi ilmu pengetahuan, aturan, penuturan kembali pengalaman main, dan evaluasi. Orang dewasa/guru perlu mendampingi agar anak bisa memahami dan memaknai seluruh proses, aturan dan tujuan main secara baik dan benar, secara kronologis, ilmiah, maupun akidah.



Bangsa Indonesia harus melalui proses dari awal. Menetapkan jenis main yang akan menjadi identitas bangsa (bulutangkis, misalnya), dan negara (Kemendiknas, Kemendagri, Kemenpora) beserta seluruh masyarakat menjadikannya sebagai gerakan nasional yang kompetitif dan berkelanjutan.

Melalui aktifitas olehraga sejak dini, anak-anak secara jasmani dibiasakan hidup sehat dan bugar. Melalui aturan main dan disiplin dalam pelatihan dan pertandingan, mereka dibiasakan bekerja dalam aturan, memahami batasan-batasan, dan kerja-keras untuk mencapai hasil optimal.

Pada waktu latihan pemanasan dan pertandingan, para suporter menyanyikan lagu-lagu daerah/nasional/ patriotis, sehingga semua merasakan getar identitas dan jati diri sebagai warga bangsa. Kompetisi yang berlangsung di tiap wilayah dan berlanjut ke tingkat nasional, akan melatih mental mereka untuk siap menang dan juga siap kalah. Jika sportifitas dijaga dan ditegakkan, maka kita bisa menghasilkan satu generasi baru yang tahan banting dan berdisiplin.



Dengan setiap jenis olahraga, anak-anak dicerdaskan secara kinestetik, visual dan auditori. Kecerdasan jamaknya juga terbangun secara simultan. Yakni, Kecerdasan linguistik (cerdas kosakata), Kecerdasan logika dan matematika (cerdas angka dan rasional), Kecerdasan spasial (cerdas ruang/tempat/ gambar), Kecerdasan kinestetika- raga (cerdas raga), Kecerdasan musik (cerdas musik), Kecerdasan interpersonal (cerdas orang), Kecerdasan intrapersonal (cerdas diri), Kecerdasan naturalis (cerdas alam), dan Kecerdasan Spiritual. Hanya dengan pendekatan semacam itu, kita bisa melahirkan generasi baru bangsa yang berkarakter, berbudi pekerti luhur, memiliki jati diri, berdisiplin, sportif, berani, dan mandiri. Insya Allah.[]



*Yudhistira ANM Massardi adalah sastrawan/wartawan/ pemimpin umum Media TK Sentra, dan pengelola sekolah TK-SD gratis untuk kaum dhuafa di Bekasi.

Yudhistira ANM Massardi
email: ymassardi@yahoo. com
www.mediatksentra. com

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)