Rabu, 22 Juni 2011

Pendidikan Homogen atau Heterogen?

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Murni Ramli

Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik di harian Yomiuri Shimbun yang menyediakan kolom khusus untuk para dosen Chuo University untuk membagi pandangan, pemikiran, dan hasil penelitian. Saya tertarik mengulas tulisan seorang dosen pendidikan yang memaparkan tentang perlu tidaknya buku text dipertebal? Atau lebih tepatnya apa makna dan esensi mempertebal textbook.

Pak Kenichi Ikeda yang menulis artikel tersebut adalah peneliti pendidikan migran di Perancis. Beliau mengemukakan bahwa pemerintah Perancis mengeluarkan peraturan untuk mengatur agar pendidikan untuk anak-anak migran tetap diberikan dalam kerangka tidak menghilangkan rasa cinta kepada tanah air asalnya. Oleh karena itu mereka tidak cocok diberi pendidikan yang sifatnya homogen dan cenderung menyamakan ilmu yang harus dikuasai peserta didik.

Pak Ikeda juga berpendapat bahwa sebenarnya tidak semua anak memerlukan pengetahuan yang sama. Setiap anak memiliki peminatan yang berbeda, dan oleh karena itu buku textbook sebaiknya dibuat tebal agar dapat memberikan wawasan dan informasi yang heterogen dan memungkinkan anak-anak terpuaskan keinginantahuannya.



1. Pendidikan Homogen atau Heterogen ?
Saya sependapat dengan Pak Ikeda pada satu sisi dan kurang sepemahaman pada sisi lain. Bahwa pendidikan untuk anak-anak migran harus tetap berorientasi pada mempertahankan kecintaan kepada negara masing-masing anak, ini saya setuju. Sebagaimana pendidikan multietnik akan lebih baik jika diarahkan bukan menganalogkan dan mengunifikasi semua etnik dan mengajarkan hal yang  satu/seragam. Pendidikan multietnik harus memperkuat pemahaman anak tentang indigenous etniknya, lalu menambahkan dengan informasi etnik lain yang ada dalam komunitasnya. Target atau tujuan yang diharapkan adalah anak-anak mampu mengaktualisasikan pemahaman dan prinsip etnik yang dimilikinya dalam kehidupan bersama. Dia mampu menyadari adanya perbedaan dan mampu mencari solusi konflik atau lebih penting menghidari terjadinya konflik antaretnik.

Dalam komunitas anak-anak seetnik sekalipun, keberagaman dan peminatan yang berbeda adalah hal yang wajar. Oleh karena itu pendidikan yang bersifat heterogen sangat diperlukan. Namun, pendidikan homogen tidak bisa dilupakan untuk sebuah negara sebesar Indonesia atau negara yang masih harus memperkokoh nasionalismenya.

Kasus Perancis tidak sama dengan kasus Indonesia. Jika komunitas Indonesia terdiri dari beragam etnis yang memiliki kewarganegaraan yang satu, maka komunitas Perancis adalah migran yang boleh jadi masih mempertahankan kewarganegaraan aslinya. Namun kesamaannya tetap pada komunitas multietnik yang menyusun sebuah negara.

Dalam konteks Indonesia, pendidikan homogen terutama pada substansi ajar masih diperlukan pada tahapan tertentu untuk memberikan prinsip berfikir yang sama kepada peserta didik. Prinsip berfikir yang sama adalah nilai-nilai yang secara universal dianggap benar. Pun nilai-nilai berfikir yang mendorong pada terciptanya rasa kebersamaan, bersifat menuju pada kemajuan, dan mencegah terjadinya konflik.

Adapun pendidikan dengan substansi heterogen perlu dikembangkan untuk memenuhi peminatan dan kesukaan peserta didik. Tetapi menyusun substansi pendidikan yang memenuhi minat dan bakat semua siswa adalah sebuah kemustahilan karena luasnya bidang peminatan. Oleh karena itu heterogen perlu dimaknai dan disepakati sebagai sesuatu yang perlu batasan.

Saya melihat pendidikan yang dikembangkan berdasarkan kekhasan daerah, nilai-nilai kearifan lokal dan keunggulan daerah adalah sebuah bentuk pendidikan heterogen yang nilai keberagamannya dapat ditinjau pada level nasional. Ada beberapa substansi ajar yang perlu dihomogenkan secara nasional, namun ada pula substansi yang perlu diheterogenkan dengan perbedaan atau kekhasan lokal.

 2. Perlu Tidaknya Menebalkan Textbook
Perlu tidaknya menebalkan textbook tergantung dari apa tujuannya. Buku textbook yang tebal jika bermaksud diajarkan semuanya di kelas-kelas rendah di SD tentu tidak akan cukup waktu belajar setahun. Jika hendak memenuhi peminatan siswa, maka buku textbook tidak selalu tebal, tetapi cukup memuat hal-hal yang pokok. Adapun penjelasan tambahan dengan maksud memenuhi  peminatan siswa, maka perlu disarankan dan ditetapkan buku-buku tambahan. Buku-buku suplemen inilah yang dapat memuaskan siswa.
Yang perlu didorong adalah minat untuk membaca dan mendalami sesuatu. Bukan hanya membaca buku-buku wajib di kelas, tetapi anak memiliki motivasi untuk membaca buku-buku yang terkait peminatannya.

Dengan demikian buku textbook yang dipakai di sekolah barangkali tidak perlu tebal-tebal, tetapi buku suplemen penunjang mata pelajaran di sekolah perlu diperbanyak. Setiap anak akan berkembang sesuai dengan motivasinya untuk maju, dan tentu saja sesuai dengan peminatannya. Anak yang menggemari mesin, barangkali kelak akan menjadi mekanik handal, anak yang menyukai tanaman, kelak akan menjadi ahli pertanian yang unggul. Semuanya akan berkembang sesuai dengan peminatannya jika guru dan orang tua benar-benar dapat membimbing mereka secara benar.

Sumber: http://murniramli.wordpress.com/2011/04/29/pendidikan-homogen-atau-pendidikan-heterogen/

Ajarkan Pendidikan Seks kepada Anak

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.


 

Oleh: Rivanni Sulaiman
Anak-anak dilahirkan dalam kondisi suci. Orang tualah yang nantinya membentuk anak, akan seperti apa. Baik dan buruknya anak, tergantung orang tuanya. Peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anak sangat mendesak dan sangat menentukan keberadaan anak tersebut di masa akan datang.

Kenyataannya, peran orang tua dewasa ini semakin berat. Betapa tidak. Hantaman era globalisasi telah menafikan aturan yang melarang anak untuk tidak secepatnya mengenal yang namanya pornografi atau pornoaksi.

Di berbagai media, baik itu elektronik maupun cetak, tayangan dan gambar yang mengandung unsur pornografi 'bergentayangan' tak kenal lelah menghantui anak-anak.Data dari BKKBN menunjukkan 51 persen remaja se-Jabodetabek telah melakukan hubungan seks pranikah dan data dari KPAI terdapat sebanyak 40 kasus perkosaan dan kekerasan seksual yang dialami anak setelah pelaku menonton video porno Ariel Peterpan.

Data & Fakta

- 51% remaja di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang & Bekasi sudah tidak perawan lagi.
- Anak-anak mengakses pornografi melalui handphone dan menggunakan uang jajan untuk membeli bacaan dan vcd porno
- Tingginya tingkat pemerkosaan oleh anak di bawah umur setelah menonton VCD Porno- Meningkatnya prostitusi yang dilakukan oleh remaja SMP & SMA
 
Back to basic, cintailah anak-anak, beri perhatian yang cukup dan penuhi kebutuhan psikologisnya. Pola asuh yang positif akan membentuk anak-anak menjadi lebih tangguh. Selain itu, yang juga sangat penting untuk dilakukan adalah membekali anak-anak dengan pengetahuan yang baik, yaitu pendidikan seksualitas dan pendidikan pengelolaan keuangan.




Dengan mengajarkan kedua pendidikan ini, anak-anak akan terhindar dari :
1.    Pergaulan seks bebas dan kehamilan diluar nikah serta terjangkit HIV AIDS
2.    Melakukan pemerkosaan atau menjadi korban perkosaan
3.    Kecanduan pornografi yang mengakibatkan : kemunduran kecerdasan dan timbulnya emosi negatif, seperti rusaknya hati nurani, mudah depresi, mudah tersinggung, menarik diri, dalam berbahasa lebih mengarah kepada seks dan mengisolasi diri

Pendidikan pengelolaan keuangan juga sangat penting untuk diberikan kepada anak-anak, agar uang jajan yang diberikan oleh orang tua dapat dipergunakan untuk kebutuhan dan keperluan yang baik dan tidak mempergunakannya untuk hal-hal yang dilarang agama, seperti :
1.    Membayar sewa internet untuk mengakses situs-situs porno
2.    Membeli pulsa HP untuk mengakses situs-situs porno
3.    Membeli VCD porno, majalah dan bacaan porno

Bagaimana cara mengajarkan kedua pendidikan ini kepada anak-anak Anda, temukan jawabannya dalam 3rd Parenting Seminar - Sex & Financial Education
”How to Teach Sex & Financial Education to Kids” Sabtu, 25 Juni 2011, di
Universitas Al-Azhar Indonesia, Komplek Masjid Agung Al-Azhar, Jl. Sisingamangaraja - Jakarta Selatan.  (021 - 720 8936)




Mengajari Balita Ilmu Matematika

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.


 Gambar: Salahsatu konten ajar online di Indismart


Oleh: Andyda Meliala

Cinta Matematika diawali dengan pondasi yang kokoh. Usia balita merupakan saat yang ideal untuk membangun dasar kecerdasan matematika. Tanpa disadari, anak-anak balita dikelilingi angka-angka setiap hari!  Membantu mereka mengenali angka dan menangkap konsep matematika yang berbeda-beda pada usia dini akan menyiapkan mereka untuk menyukai matematika dan meraih sukses dalam belajar.

Permainan dan aktivitas matematika sangat bermanfaat bagi anak-anak balita. Anak- anak balita umumnya ingin tahu tentang segala sesuatu di sekitar mereka. Mereka berada pada usia dimana plastisitas otak mereka sangat tinggi, sehingga mereka menerima gagasan dan konsep dengan mudah. Akibatnya, pertumbuhan dan pembelajaran mereka meningkat secara signifikan.

Orangtua dan guru dapat mengajak anak-anak balita melakukan aktivitas matematika yang mudah dan menyenangkan bersama anak-anak. Dengan mengintegrasikan matematika dalam kegiatan mereka sehari-hari, anak-anak balita mulai menikmati proses pembelajaran matematika dan mampu menangkapnya dengan lebih baik.

Bagaimana memperkenalkan konsep matematika yang berbeda-beda kepada anak-anak balita? Mengajarkan konsep-konsep matematika kepada anak kecil mudah dan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Matematika untuk anak-anak balita bukan hanya sekedar menghitung. Konsep-konsep angka, pengukuran, jumlah, pengelompokan,  waktu,  perlahan-lahan terbentuk pada tahun-tahun ini.

Pengukuran

Melibatkan anak dengan berbagai konsep pengukuran adalah awal yang penting dan menyenangkan. Misalnya anak anda sangat bangga menceritakan pada orang lain bahwa ia ‘lebih besar’ daripada adik atau sepupu bayinya.  Ia juga senang menunjukkan bahwa kakaknya ‘lebih tinggi’ daripada kursi makan. Anak-anak kecil menggunakan persepsi untuk menebak mana yang lebih banyak ataupun lebih berat.  Oleh karena itu anak kecil sering mengira bahwa ia mendapatkan jus yang lebih banyak hanya karena gelasnya lebih tinggi. Anda perlu sering-sering membantu anak anda untuk mengukur dengan akurat dan menunjukkan bahwa gelas lebih tinggi belum tentu memiliki lebih banyak isi, kapas satu plastik besar belum tentu lebih berat dari batu kecil, dst.

Konsep Waktu

Anda dapat mengenalkan konsep waktu dengan membahas waktu sekarang ini pagi, siang, sore atau malam. Untuk anak yang lebih besar, anda bisa mengajarkan tentang nama-nama hari dan bulan. Juga konsep waktu berdasarkan jam, misalnya jam berangkat dan pulang sekolah, kerja.

Klasifikasi

Anak-anak perlu berlatih sebanyak mungkin untuk mengelompokkan. Kalau diperhatikan di sekeliling kita, sebenarnya kita selalu menggunakan pengelompokan. Coba lihat buku telpon yang dikelompokkan berdasarkan abjad, nomor rumah berdasarkan urutan angka, susunan barang-barang di supermarket dan toko-toko, dst.  Sangat berguna untuk melatih klasifikasi bagi anak balita untuk memahami konsep matematika. 

Minta anak membantu anda mengelompokkan barang dapur (sendok besar, sendok kecil, garpu), pakaian bersih (pakaian dalam, kaos kaki, kaos, celana) ataupun pakaian kotor (berdasarkan warna). Susun balok kayu berwarna berurutan misalnya kuning, merah, biru. Minta anak mengulang pola yang sama dengan mengurutkan sisa balok kayu. Lakukan hal yang sama dengan bentuk balok kayu yang berbeda. Misalnya: segitiga, lingkaran, persegi panjang. Minta anak meneruskan dengan pola  yang sama.

Berburu bentuk

Ada berapa benda yang bentuknya bulat, persegi panjang di dalam ruang tamu? Kelompokkan benda berdasarkan berat ringannya. Layangkan imajinasi anak dengan membayangkan bersama: apa saja yang bisa dikendarai? Hewan apa saja yang bisa terbang? Apa saja yang bisa berenang? Minta anak menyebutkan benda-benda yang terbuat dari kayu, besi, plastik, kain. Naikkan tantangannya dengan berburu barang dengan 2 ciri-ciri, misalnya carilah barang yang kecil dan berat, segitiga dan mulus, dst. sebelum bisa berhitung.

Anak kecil suka menirukan menyebutkan angka ‘satu, dua, tiga’ namun mereka belum memahami makna angka tersebut. Ketika anak melihat sekeranjang jeruk bali dan sekeranjang jeruk nipis, mereka seringkali mengira bahwa ada lebih banyak jeruk bali dalam keranjang dibanding jeruk nipis karena keranjangnya lebih besar. Untuk membantu mereka memahami arti angka, mereka perlu bermain ‘pasangan’, yaitu memasangkan angka pada benda. Minta anak mengeluarkan satu bali dan sebutkan angkanya, kemudian anda melakukan hal yang sama pada jeruk nipis. Lakukan seterusnya sampai jeruk habis. Bila proses ini terus diulang dengan menggunakan obyek yang berbeda, anak akan memahami konsep angka dan berhitung menjadi hal yang mudah baginya. 

Pengenalan angka dan berhitung. 

Berikan gambar angka-angka yang telah dipotong kepada anak balita. Biarkan mereka mengenal angka-angka dan mengurutkannya. Yang satu ini adalah permainan untuk di perjalanan jika anda ingin anak balita anda tenang dan sibuk.  Berikan sebuah angka kepada anak dan mintalah ia mencarinya pada plat nomor kendaraan lain, papan iklan dan sebagainya. Berikan segenggam permen dan mintalah anak untuk membaginya rata dengan teman-temannya. Bermain sambil berhitung. 

Mintalah anak menghitung semua potongan balok kayu, boneka atau mainan yang mereka miliki. Mulailah mengajak anak balita Anda melakukan aktivitas-aktivitas ini dan buatlah belajar matematika menyenangkan! Anda dapat juga menggabungkan dengan aktivitas anda sendiri yang akan membantu mereka berpindah dari sekedar menghitung ke memahami penambahan, pengurangan, perkalian dan seterusnya.


Sumber: http://resourceful-parenting.blogspot.com/
Anda ingin berkonsultasi tentang cara mendidik dan mengembangkan kecerdasan anak? silahkan sms pertanyaan Anda dan kirimkan ke 081218299206

Menanamkan Kemandirian pada Anak

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.




Oleh: Andyda Meliala  

Setiap orang tua memiliki naluri untuk melindungi anak dari segala yang membahayakan. Kita mengulurkan tangan dan memeluk mereka. Kita atau baby sitter mengerjakan pekerjaan anak agar mereka dapat menikmati permainan mereka. Kita senantiasa berusaha agar hidup anak-anak kita nyaman. Namun pilihan kita ini memiliki konsekuensi yang seringkali tidak kita inginkan. Ketika kita melindungi atau mengerjakan tugas yang bisa dikerjakan sendiri oleh anak, secara tidak sadar kita menciptakan ketergantungan. Lebih parah lagi, anak-anakpun menjadi enggan mencari tantangan untuk membangun rasa percaya diri.

Sebenarnya anak-anak sangat ingin untuk membangun kemandirian sejak dini. Perhatikan saja bagaimana anak kecil ingin membantu menyapu, mengelap meja, mengatur tempat tidur, bahkan mencuci piring. Namun kadang kita menganggap mereka belum mampu, malahan membuat pekerjaan menjadi kurang sempurna dan lebih lama. Keinginan anak untuk mandiri perlu didukung dengan cara yang tepat: kapan kita membiarkan anak melakukan sendiri tugasnya, apa yang harus kita lakukan ketika mereka butuh bantuan, dan apa yang sebaiknya kita lakukan ketika hasilnya kurang bagus. Bagaimana mengajarkan kapada anak, kemandirian, mengandalkan diri sendiri dan kepercayaan diri?

Dorongan

Orangtua perlu mendukung anak-anak dalam pencarian kemandirian secara alami. Ajarkan pada anak bahwa bantuan mereka sangat berarti bagi keluarga. Cara terbaik adalah dengan memberikan tugas sehari-hari yang sesuai dengan umur mereka. Anak balita bisa diberi tugas memilih makanan dan snack sendiri, memilih pakaian yang akan dipakai. Bagi yang sudah mampu bisa membantu membawa piring ke tempat cuci piring, memilah-milah pakaian, merapikan mainannya.

Dorong anak untuk mencoba sendiri dulu. Kebanyakan orang dewasa terlalu membantu anak sehingga anak terlatih untuk meminta tolong daripada mencoba sendiri. Jika anak meminta tolong, pikirkan dulu, jika anda percaya ia bisa melakukan sendiri mintalah ia mencobanya. Jika ia tidak bisa, tawarkan bantuan, tapi ajarkan cara melakukannya.

Keberhasilan anak dalam mengerjakan tugas akan membangun rasa percaya dirinya. Berikan pekerjaan yang dapat mereka selesaikan. Jika anda khawatir dengan keselamatan atau hasil kerja mereka, berikan tugas yang lain.

Berikan Ijin

Anak-anak yang diijinkan melakukan hal-hal sendiri membangun keandalan diri. Sejak dini, tinggalkan anak anda sendirian sebentar. Berikan mainan yang bisa dimainkannya sendiri. Mereka akan menyadari bahwa mereka aman dan dapat melakukan berbagai hal tanpa kehadiran anda dalam ruangan yang sama. Tugas sehari-hari di rumah, hobi dan pekerjaan rumah juga membangun kemandirian. Berikut ini beberapa metode untuk membantu anak-anak mencapai sukses diri.

Perhatikan apakah anda sudah menjadi contoh yang baik. Apakah anda banyak meminta tolong pembantu atau mengerjakan sendiri. Tunjukkan bagaimana mengerjakan project langkah demi langkah. Diskusikan dengan anak tujuan dari tugas sehingga mereka menempuh arah yang benar. Buatlah tugas menjadi menyenangkan. Hitung waktunya memakai timer. Lakukan dengan tarian. Urutannya dibalik. Ciptakan permainan. Hal ini mungkin sulit bagi orang tua yang perfeksionis, tapi penting sekali membiarkan anak-anak mengerjakannya dengan cara mereka sendiri. Anda bisa menetapkan batas waktunya. Pecah tugas menjadi bagian-bagian yang leih kecil agar anak berhasil setiap kali mengerjakannya. Biarkan mereka gagal.  Biarkan anak-anak mencoba melakukan hal-hal dengan cara mereka sendiri dan belajar dari kegagalan. Latih anak untuk menerima konsekuensi bila mereka lupa melakukan tugasnya. Jangan kerjakan pekerjaan itu untuk mereka.

Belajar dari Kesalahan

Bagian dari mengandalkan diri sendiri berarti belajar dari kesalahan. Berikut ini beberapa tips untuk membantu anak terus melanjutkan pada saat terjadi kesalahan.Ingatkan anak anda bahwa setiap orang membuat kesalahan. Tunjukkan banyak hal yang bisa dipelajari dari kesalahan. Tunjukkan juga hal-hal yang mereka lakukan dengan benar. Bersama- sama, carilah alternatif bagaimana tugas itu bisa diselesaikan dengan cara yang berbeda. Doronglah mereka untuk melakukan pekerjaan menggunakan pendekatan mereka yang baru. Jangan lupa mengatakan bahwa anda menyayangi mereka apa pun yang terjadi

Melindungi anak dari bahaya merupakan kewajiban orang tua, namun juga penting untuk melepaskan mereka menjelajah mencoba hal yang baru, bersatu dengan kehidupan dan bahkan untuk gagal. Begitulah mereka belajar mengandalkan diri sendiri. Dalam jangka panjang, anak-anak yang tidak diajari kemandirian, akan kehilangan rasa percaya diri dan sangat sulit untuk mempelajarinya kelak.

Berikan support penuh untuk kemandirian anak anda. Ijinkan anak melakukan berbagai hal dengan cara mereka sendiri dan dampingi mereka selama belajar. Mungkin hadiah terbesar yang dapat anda berikan adalah membantu anak belajar dari kesalahan dan mengisi hidup dengan rasa percaya diri serta mampu mengandalkan diri sendiri. Tentunya hal-hal tersebut sangat mereka perlukan untuk sukses dalam hidup.

 Sumber: http://resourceful-parenting.blogspot.com/

 Free Parenting Consultation:
 SMS CENTER 081218299206

Mengajar Adalah Menyemangati

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: G. Lini Hanafiah

Setelah mengadakan workshop di World Book Day 2011 lalu, akhirnya aku memberanikan diri untuk menerima kelas reguler. Kali ini pesertanya remaja berusia 14-16 tahun. Kelas mini berisi 4 remaja luar biasa.
Kakekku seorang guru, nenekku juga seorang guru. Tak heran kalau naluri mengajar selalu menggoda. Guruku banyak, ada di mana-mana. Anehnya, aku bahkan nyaris tidak pernah merasa aku adalah seorang guru!

Salah seorang guruku yang juga sahabatku, akhirnya "memaksaku" dengan berkata, "Sudah waktunya kamu berbagi." Ah, betapa tidak adilnya aku! Selalu minta diajari tapi belum pernah sungguh-sungguh menjadi guru.
Akhirnya, aku mengajar 4 remaja itu dengan karakternya masing-masing. Ada yang masih malu-malu, ada yang sangat terlihat jelas jiwa pemberontaknya, wah seru deh!

Dari awal, sudah kukatakan pada Ibu yang memintaku, "Saya mengajar gaya unschooling, tanpa silabus, tanpa sistem kaku." Dari berbagai minat mereka—yang umumnya blogger—itulah bahan ajar yang paling menarik.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, anak dan remaja lebih tertarik dengan suatu subyek ketika si guru berhasil mencuri perhatiannya. Sayangnya, tidak banyak guru yang mau menyisihkan sedikit upaya untuk lebih mengenal para muridnya untuk mengambil hati mereka. Diskusi seru di sela perut keroncongan menjelang makan siang tidak menyurutkan semangat mereka yang keburu membara. Yes! Usahaku berhasil! Mencuri hati murid pada materi ajar sama sekali bukan hal mudah. Coba buktikan sendiri.



Menutup pertemuan hari ini, murid-muridku mengatakan, "Asyik!" Bahkan ada seorang yang bilang, "Jadi pingin nulis lagi, blogku udah lama gak diurus." Horee…!!

Mari, para bapak-ibu guru, semangati anak murid kalian! Jangan patahkan semangat mereka dengan kata-kata sepele macam "salah" atau "buruk". Tiru semangat Pak Tino Sidin yang selalu mengatakan "bagus" pada karya terburuk sekalipun! Anak-anak butuh dikoreksi, diajari, didampingi, dan disemangati. Bagaimana mereka bisa mencapai hasil yang Anda harapkan jika Anda tidak membantunya untuk menuju sasaran itu? Belajar adalah proses bukan trik sulap dengan mantera "sim salabim".

Jika Anda berhasil mencuri hati mereka, tidak lama lagi Anda akan menjadi tempat curhat yang nyaman bagi mereka. Artinya, Anda berhasil menjadi orangtua mereka di luar rumah. Berikutnya, Anda bisa turut berperan serta mendidiknya bukan sekadar mengajarnya.

Tidak perlu institusi bernama sekolah untuk menjadikan murid yang berkarakter dan berbudaya, itulah tantangan buat Anda, para guru. Agar tergenapi lagu Hymne Guru.
Terpujilah wahai engkau ibu-bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku `tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Saya dedikasikan kepada semua sahabat saya--semua orang yang telah mengajari saya, para guru dan para orangtua--yang mendidik anaknya di rumah. Anda adalah pahlawan tanpa tanda jasa!


Sumber: http://lini.via-lattea.org/mengajar-menyemangati

Mendiknas Klaim Pendidikan Indonesia Sukses

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.



Mendiknas M.Nuh (Foto: Beno Junianto (VIVAnews))
                                                                                       
Oleh: Bobby Andalan


VIVANews – Menteri Pendidikan Republik Indonesia, Muhammad Nuh mengklaim pendidikan Indonesia sukses menghapus kesenjangan partisipasi pendidikan antar-kelompok status ekonomi selama periode 2004-2009.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, lama masa sekolah anak usia 15 tahun ke atas meningkat. Angka partisipasi murni (APM) SD sederajat meningkat dari 94,12 persen menjadi 95,23 persen. Sedangkan angka partisipasi kasar (APK) SMP sederajat meningkat dari 81,22 persen menjadi 98,11 persen. 

"APK untuk  SMA sederajat meningkat dari 49,01 persen menjadi 69,60 persen," terangnya, saat memberikan sambutan dalam acara “Pertemuan Menteri Pendidikan Negara Asia Tenggara dan Asia Timur, di Nusa Dua, Bali, Minggu 5 Juni 2011.

Sistem pendidikan Indonesia, lanjutnya, merupakan sistem pendidikan dengan cakupan peserta didik sebanyak 54,8 juta -terbesar ketiga di Asia dan terbesar keempat di dunia-, dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi dan melibatkan lebih dari 3,4 juta guru dan dosen serta lebih dari 236 ribu satuan pendidikan yang tersebar di 33 provinsi dan 527 kabupate dan kota.
 

Sedangkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA), menunjukkan bahwa skor kemampuan membaca siswa Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan yakni, 31 point selama periode tahun 2000-2009.

"Peningkatan ini menempatkan Indonesia pada posisi keempat, negara yang berhasil mencatat kenaikan skor kemampuan membaca terbesar," ucapnya.

Seiring dengan meningkatnya jumlah lulusan pendidikan dasar Sembilan tahun, kebijakan pasca-pendidikan dasar ditekankan untuk menyiapkan para lulusan melanjutkan pada jenjang berikutnya.
 

Hal ini dalam rangka merespon kebutuhan dunia kerja yang dinamis, maka peningkatan akses, kualitas pendidikan kejuruan serta keselarasan menjadi perhatian pemerintah. Tak lupa pula sejak tahun 2009 anggaran Indonesia telah menetapkan kerangka strategis yakni mengalokasikan dana sebesar 20 persen untuk pendidikan.
 
"Tak lain untuk mempercepat peningkatan akses pendidikan, peningkatan mutu dan kesejahteraan guru serta penguatan sistem penilaian," ujar Nuh.

Sementara itu, Direktur UNESCO perwakilan Bangkok, Gwang Jo Kim, mengatakan, bahwa Indonesia memang seperti raksasa. Data statistik Indonesia sangat berhasil mengembangkan pendidikan untuk semua. Nilai Matematika Indonesia sangat tinggi.
 

"Tetapi pendidikan tak hanya itu saja. Indonesia harus melengkapi segala hal tentang pendidikan yang melingkupi semua," kritik Kim.

Kim melanjutkan, sebagai Negara Kepulauan, Indonesia harus betul-betul memerhatikan dunia pendidikannya. Apalagi, jika Indonesia betul-betul ingin mengarahkan pendidikannya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapainya.
 

"Tetapi, pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah kebijakan yang sangat berani yang diambil Indonesia. Pun halnya dengan peningkatan mutu guru. Meski sudah dilakukan, tetapi tetap harus ditingkatkan," imbuhnya.
 


Sumber: VIVAnews

Sharing: Memecahkan Rumus Singkat Mathematika

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.







Oleh: Sonya Schommertz

Dulu, ketika  masih baru menjadi mahasiswa baru tingkat pertama, saya berkenalan dengan salah seorang mahasiswa baru lainnya yang di kemudian hari menjadi teman baik saya. Ketika awal perkenalan, kami pun ngobrol kesana-kemari. Tanya sana-tanya sini. Jawab sana, jawab sini. Hingga ia  pun akhirnya bercerita bahwaa nilai tes matematika  Dasar-nya, yaitu salah satu mata pelajaran yang diujikan di UMPTN*, adalah 100 alias benar semua.

 Mendengar ceritanya tersebut, saya pun terkagum-kagum dibuatnya. Dalam pikiran saya, saya  berkesimpulan “Wah ia pasti orang yang sangat pandai”. Rasa kagum saya mendorong rasa ingin tahu saya tentang pengetahuannya dalam matematika. Akhirnya, dalam masa awal perkenalan itu, saya ajak ia ngobrol tentang matematika yang sudah pernah kami pelajari ketika semasa SD sampai SMA dulu. Dari obrolan tersebut, saya jadi tahu, ternyata ia benar-benar luas pengetahuan tentang matematika yang sudah dipelajarinya. Hingga akhirnya, mungkin untuk menunjukkan kepiawaiannya, ia mengajak saya adu cepat mengerjakan soal matematika.

 Mendapat tantangan itu, sebenernya saya ngeper juga. Karena saya merasa tak sepandai dirinya. Namun, karena ini namanya juga bukan lomba dan bukan apa-apa, saya sih mau saja waktu itu. Soal-soal pun dipilih secara acak dari buku kumpulan soal-soal latihan tes UMPTN* dan EBTANAS** beberapa tahun sebelumnya yang masih rajin ia bawa ke mana-mana. Kemudian, adu cepat menyelesaikan soal matematika pun dimulai. Bagaimana hasilnya? Siapa yang tercepat?

 Ternyata benar, dalam beberapa menit saja, teman saya itu berhasil menyelesaikan semua soal yang sudah dipilih tadi (karena yang dipilih cuma 3 soal sih). Dan ia keluar sebagai yang tercepat, menjadi pemenang. Sedangkan saya, satu soal pun belum mampu saya selesaikan. Waktu itu, saya terlalu berkutat dengan soal nomor pertama yang lumayan sukar untuk ukuran saya waktu itu. Walau sudah dengan segenap kemampuan saya berusaha menyelesaikannya, tapi ternyata, sampai waktu habis belum ketemu juga. Saya pun mengakui kelebihan dan kehebatannya.

 Dengan sedikit malu-malu, saya bertanya padanya tentang soal yang belum bisa saya selesaikan tersebut. Sambil saya tanyakan pula kenapa ia begitu cepat bisa menyelesaikan soal-soal tersebut. Soal yang waktu itu belum bisa saya selesaikan adalah seperti berikut ini.

 Soal: Bila a + 1/a = 5, maka nilai dari a3 + 1/a3 =…

 Dengan cepat teman saya itu pun menyelesaikan soal tersebut seperti berikut ini:
 a3 + 1/a3 = (a + 1/a)3 – 3a.1/a(a + 1/a) = 53 – 3(5) = 125 – 15 = 110.

 Melihat cara penyelesaiannya, saya hanya bisa melongo waktu itu. “Cuma satu baris? Padahal saya  mencoba menyelesaikannya berbaris-baris, dan belum ketemu juga”, itu yang ada di pikiran saya. Kemudian, saya pun bertanya ke teman saya itu, kenapa cara pengerjaannya seperti itu?

 Dengan senang hati, ia pun menjelaskan ke saya. Ia katakan bahwa, soal semacam tersebut dapat  dengan mudah diselesaikan dengan rumus “cepat” berikut ini.
 a3 + b3 = (a + b)3 – 3ab(a + b) ………………………………..(1)
 Dengan mengganti b dengan 1/a, katanya, maka soal tadi dapat diselesaikan dengan cepat seperti yang sudah dikerjakannya tadi.

Saya yang tak terbiasa menggunakan rumus “cepat” ketika di SMA dulu, penasaran ingin tahu alasan kenapa rumus “cepat” tersebut bisa dipakai. Tapi sayang, teman saya itu tak memberi tahu saya. Malahan ia menambah lagi rumus cepat yang sudah ia ketahuinya, yaitu:
 a3 – b3 = (a – b)3 + 3ab(a – b)……………………………….(2)

 Akhirnya, ngobrol-ngobrol pun beres. Ia bergegas pulang menuju kost-kost-annya. Saya pun begitu, pulang dengan rasa penasaran yang mengganjal. Di kost-kost-an, dengan penuh rasa penasaran ingin tahu, saya pun mengutak-atik rumus “cepat”  yang telah ia gunakan tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya, terpecahkan juga rahasia rumus “cepat” yang dipakai teman saya tersebut. Saya berhasil menelusuri asal muasal rumus “cepat” tersebut, berhasil menguak rahasianya. (Duh rasanya
 begitu senang sekali, tak bisa saya ekspresikan dengan kata-kata).

 Hasil penelusuran saya tersebut, setelah saya rapikan, seperti berikut ini.
 (a + b)3 = (a + b)2(a + b)
 = (a2 + 2ab + b2)( a + b)
 = a3 + a2b + 2a2b + 2ab2 + b2a + b3
 = a3 + b3 + 3a2b + 3ab2
 = a3 + b3 + 3ab (a + b)

 Jadi, (a + b)3 = a3 + b3 + 3ab (a + b).

 Sehingga, a3 + b3 = (a + b)3 – 3ab (a + b). Rumus “cepat” (1) dapat saya buktikan kebenarannya.
 Kemudian, dengan cara serupa, saya pun berhasil menelusuri asal-muasal rumus “cepat” (2).



Walaupun apa yang telah saya lakukan tersebut sederhana, tapi bagi ukuran saya waktu itu adalah  sesuatu yang menggembirakan hati, menyenangkan pikiran, dan memuaskan dahaga keingin-tahuan saya.

 Sejak saat itu, bila ada rumus-rumus “cepat” yang saya temui di buku-buku bimbingan tes, saya pun terpacu untuk menelusuri asal-muasalnya. Dengan cara seperti itu, saya seringkali berhasil memecahkan rahasia rumus-rumus “cepat” yang selama ini beredar luas di kalangan siswa yang mengikuti bimbingan test.

 Baiklah, segitu dulu saja ceritanya nya  ya…, lain kali  saya akan membahas baik-buruknya penggunaan  rumus “cepat” (Ada satu cerita yang sangat menggelikan tentang hal ini.  Mau tahu? Silakan tunggu di postingan mendatang…). Sampai di sini dulu ya…, mudah-mudahan bermanfaat.

 Sebagai bahan latihan untuk Anda, cobalah telusuri asal-muasal rumus-rumus “cepat” berikut ini.
 Persamaan garis yang melalui titik (0, a) dan (b, 0) adalah ax + by = ab.Perhatikan gambar berikut. Panjang PQ dapat ditentukan dengan mudah, yaitu:
 PQ = (AP. DC + DP. AB)/(AD)

 Catatan:
 *UMPTN: Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (Saat ini namanya SPMB)
 **EBTANAS: Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Saat ini namanya UAN)

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)