Selasa, 21 Mei 2013

Body Piercing: Fenomena “Menggelitik” pada Remaja

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Suatu malam saya pergi ke sebuah pasar di kota tempat saya tinggal dengan menumpang angkutan umum (angkot). Di sebuah perempatan lampu merah, ketika angkot berhenti menunggu lampu hijau, tiba-tiba saya dikejutkan oleh penampilan seorang remaja putri yang kebetulan ikut menunpang. Ia berpenampilan luar biasa ekstrim dan mencolok menurut ukuran saya, hingga saya tertarik memusatkan perhatian kepadanya selama kira-kira tiga puluh menit. Selama kurang lebih tiga puluh menit saya benar-benar asyik mengamati si nyetrik ini dan menghubungkan penampilannya dengan sedikit pengetahuan yang ada di kepala saya. Perkiraan saya, anak ini berumur antara 17 atau 18 tahun jika dilihat dari penampilan fisiknya. Ia berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berkulit kuning langsat dan cenderung agak kumal dan awut-awutan. Dia mengenakan celana jeans berwarna biru yang agak ketat dan kaos hitam. Di bagian wajah, ada semacam cincin dan semacam bola-bola kecil, entah apalah namanya, yang jelas benda itu ditusukkan hingga mencantel, persis seperti anting pada telinga (tindik). Satu di hidung, satu di alis kanan, dua di telinga kanan, dan satu lagi di lidah. Benda yang terakhir ini yang paling mencengangkan, kenapa harus dipasang di lidah?
Secara umum, kebiasan melubangi bagian tubuh dan diberi ornamen disebuttindik. Di kalangan anak muda di sebut tindik tubuh, bahkan sudah diberi labelseni menindik tubuh. Sedangkan di masyarakat Barat disebut body piercing. Sebenarnya tindik-menindik tubuh ini sudah ada sejak jaman dahulu. Menurut sejarah, tindik sudah dikenal sejak 3000 SM yang terdapat pada mumi tertua,Otzi The Iceman. Mumi ini memiliki lubang pada telinganya yang berdiameter 7-11 mm. Sejarah juga mengindikasikan bahwa tindik juga terjadi di zaman Romawi (abad 400 hingga 200 M). Sedangkan di Negara kita sendiri, bisa dilihat dari keseharian suku Dayak di Kalimantan hingga saat ini.
Motivasi menindik tubuh bermacam-macam. Zaman sekarang, motivasi menindik tubuh telah banyak perubahan. Pada awalnya, orientasi menindik tubuh hanya terbatas pada unsur spiritual, status sosial atau ritual-ritual tertentu. Konon dahulu kala di Mesir, tindik di pusar menjadi ritual; Tentara Romawi menindik putingnya untuk menunjukkan kejantanan; Suku Maya menindik lidah sebagai ritual spiritual; dan anggota kerajaan Victoria dahulu memilih menindik puting dan alat genitalnya. Saat ini, menurut banyak sumber, orientasi dan motivasi menindik diantaranya adalah; penasaran, demi seni, meneruskan tradisi nenek moyang, supaya dikatakan keren atau cool, trend,serta tuntutan komunitas. Bahkan ada juga yang menindik tubuhnya dengan argumen yang sangat tidak masuk akal, yaitu senang menyakiti diri.
Pada zaman modern, budaya tindik diprovokasi oleh semangat penolakan dan pembangkangan terhadap norma sosial hingga terbentuk image anti-sosial. Pada tahun 2003, Tempo Online merilis tulisan tentang pengakuan seorang pemuda pemilik tempat tindik tubuh di suatu daerah di Indonesia. Pemuda ini sendiri menindik tubuhnya di berbagai bagaian; telinga, hidung, bibir dan lain-lain. Menurut pengakuannya, dia tidak percaya dengan agama dan ikatan keluarga. Ia pun dengan bangga mengatakan “Saya ingin mengubah dunia, yang dimulai dari diri sendiri dan membangkang dari keluarga”. Perkataan ini dilatarbelakangi oleh larangan orang tuanya ketika ia akan menindik bagian tubuhnya yang pertama, hingga dia melarikan diri dari rumah. Inilah salah satu contoh motivasi menindik tubuh di zaman sekarang.
Menindik tubuh bisa dilakukan dengan banyak cara dan bisa dilakukan di banyak tempat. Bahkan sudah banyak penindik-penindik professional yang konon benar-benar menempuh pendidikan formal body piercing di luar negeri. Biasanya tempat menindik tubuh ini satu paket dengan tempat membuat tato. Tempat-tempat seperti ini sudah kian mudah dijumpai di tempat-tempat umum seperti Mall. Secara umum, ada empat cara menindik; cara tradisional, cara medis, metode cannula, dan menggunakan senapan tindik. Cara tradisional sama dengan cara dulu yang dilakukan oleh nenek moyang kita. Seseorang yang ingin menindik tubuhnya  menggunakan alat yang tajam, seperti jarum. Lalu dipanaskan dan ditusukkan ke bagian tubuh yang akan ditindik. Secara medis, penindikan menggunakan jarum khusus untuk melubangi bagian tubuh yang ingin ditindik. Biasanya tenaga medis mencari rongga kosong diantarafistula, keadaan abnormal suatu jaringan yang diantara dua epithelium (jaringan kulit). Kemudian, yang juga dilakukan oleh tenaga medis adalah metodecannula. Metode ini dilakukan dengan memasukkan sejenis tabung ke bagian tubuh yang akan ditindik, cara kerjanya mirip seperti chateter. Cara terakhir yaitu menggunakan senapan tindik. Ada alat khusus seperti senapan pada umumnya, tapi digunakan untuk menindik. Biasanya penindik sudah melengkapinya dengan satu perhiasan kecil diujung jarumnya. Sehingga begitu jarum menyentuh bagian tubuh yang ingin ditindik, seketika itu pula perhiasan itu menempel di tubuh.
Berdasarkan cara penindikan seperti dijelaskan di atas, jika ditanya orang yang ditindik “sakit apa tidak? Jawabannya pastilah sakit. Selain itu, banyak sekali sumber menyebutkan bahwa proses tindik ini sangat beresiko, terutama pada sisi medis, diantaranya:
  •        Penyakit menular lewat darah (blood borne diseases), seperti hepatitis B dan C, tetanus, serta HIV.
  •       Reaksi alergi. Bahan tindikan dari nikel atau kuningan dapat menyebabkan reaksi alergi.
  •       Penyakit mulut dan merusak gigi hingga gusi bengkak karena infeksi.
  •       Guratan dan keloid, akibat pertumbuhan berlebih jaringan parut, seperti bekas luka.
  •       Kanker.
  •       Trauma tindik, seperti robek karena kecelakaan. Kadang memerlukan pembedahan atau jahitan yang bisa meninggalkan bekas luka atau cacat permanen.
  •       Menyebabkan gangguan pada otak.

Resiko-resiko ini bukan isapan jempol belaka. Banyak contoh kasus telah terjadi. Berdasarkan berita dari The Sun, seorang wanita di Caerphillymeninggal karena keracunan darah dua hari setelah melakukan tindik lidah. Jurnal Archives of Neurology seperti dilansir BBC melaporkan, seorang pria berusia 22 tahun meninggal di rumah sakit setelah mengalami abses otak atau penumpukan nanah di otak, ini juga karena reaksi setelah menindik lidah. Bahkan sebuah penelitan di Australia pada tahun 2006 mengatakan bahwa hampir semua penindik di Adelaide (Australia) pernah menangani kasus alergi setelah klien ditindik. Rata-rata setiap pendindik menangani lebih dari 31 orang yang terkena kasus seperti ini. Setelah melihat fakta-fakta ini tentu makin mengherankan kenapa banyak orang yang mau menindik bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Lebih mengherankan lagi, sebagian besar penggandrung tindik ini adalah para remaja. Apakah resiko-resiko seperti tertulis di atas sepadan dengan dalih seperti; untuk mengekspresikan diri, hak azasi, tuntutan komunitas, demi trend, supaya dikatakan cool dan sebagainya? Rasanya jauh dari sepadan.
Sekarang kita ulas sedikit alasan kenapa para remaja banyak yang menyukai tindik ini. Sebagaimana kita ketahui, usia remaja merupakan usia transisi menuju kedewasaan. Usia ini adalah usia dimana manusia benar-benar dalam masa perkembangan yang penuh kebimbangan. Usia remaja tak ubahnya seperti bahtera yang diterpa gelombang di tengah laut yang baru dilayarinya. Masa dimana manusia mengalami perkembangan baik secara fisiologis/fisik dan psikologis. Perkembangan fisiologis diantarnya ditandai dengan mulai mimpi basah (laki-laki) atau menstruasi (perempuan), perubahan otot dan suara, dan perkembangan gerak motorik tertentu. Perkembangan psikologis biasanya diikuti oleh perkembangan pemikiran, perasaan, penalaran, dan emosional yang kian kompleks.
Perkembangan yang ke-dua, perkembangan psikologis, membuat remaja cenderung mengisolasi diri, gelisah, murung dan menentang. Hingga identitas mereka bisa dilihat dari kecenderungan mereka seperti; kurang peduli dengan lingkungan, sering melakukan penentangan, emosi tidak stabil, mudah tersinggung, menghindari tanggung jawab, dan kurang menghargai aturan. Kesemuanya ini menggambarkan kegamanagan mereka. Ini semua proses yang harus mereka alami dalam rangka perubahan status sosial dari kanak-kanak menuju dewasa. Dengan kata lain, mereka sedang mengembangkan identitas tertentu untuk dirinya. Jadi perlu difahami bahwa remaja sedang mengalami krisis identitas sehingga mudah sekali terinfeksi bermacam-macam isu, baik positif maupun negatif.
Tugas penting seorang remaja dalam mengembangkan identitiasnya adalah membuat konsep tentang siapa dia, apa yang dia kerjakan, dan kemana dia pergi. Dalam usahanya menemukan konsep ini, remaja membuat standar sendiri dan mengevaluasinya dengan perilaku orang lain. Kemudian ia akan menghormati dan mengadopsi konsep yang ia temukan. Jika ia gagal menemukan konsep ini, maka akan terjadi kebimbangan lantaran gagal menemukan siapa dirinya dan posisinya akan sangat tidak pasti. Ini juga akan mendorong frustasi yang berat. Sebagaimana kita ketahui, standar moral dan nilai-nilai yang diadopsi oleh remaja sebagian besar berasal dari keluarga, terutama orang tua dan juga lingkungan. Lingkungan ini luas sekali cakupannya, bisa lingkungan sekolah, tetangga dan lain-lain. Ini semua yang kelak akan menjadi bagian dari identitas mereka.
Poin penting yang perlu kita garis bawahi tentang usia remaja adalah krisisidentitas dan proses pencarian jati diri. Jika kita kaitkan dengan keheranan kita di atas, tentang gandrungnya para remaja melakukan tindik tubuh, maka cukup beralasan jika kita katakan wajar jika “sepertinya suka”, walaupun tak sepenuhnya benar kegandrungan ini diartikan dengan kata “suka”. Dalam proses pencarian diri, mereka sangat membutuhkan bimbingan, arahan dan juga nilai-nilai sosial yang baik untuk diadopsi. Nah di sinilah titik temu antara remaja dan tindik. Remaja yang gandrung bertindik, kemungkinan besar adalah remaja yang tersesat dalam pencarian jati dirinya. Mungkin pada saat mereka menjalani masa transisi yang sangat labil ini, tidak mendapatkan perhatian maksimal dari orang tua mereka, hingga standar yang mereka butuhkan didapat dari sumber lain yang mungkin saja bukan berupa nilai-nilai sosial yang ideal, salah satunya seni tindik tubuh yang ekstrim.
Kesimpulannya, peran orang tua, guru, panutan, atau siapa saja yang terlibat dalam pembentukan seorang manusia sangat penting dalam perkembangan remaja. Peran ini bisa berupa memberikan perhatian maksimal, menyediakan standar sosial yang ideal dan juga arahan yang bisa diterima dengan baik oleh remaja. Dengan demikian diharapkan remaja tak akan mengadopsi hal-hal negatif yang pada akhirnya berkonstribusi pada pembentukan karakter mereka. Dapat kita bayangkan betapa meruginya mereka jika terlanjur melubangi telinga (khususnya remaja laki-laki), hidung, alis, bibir, lidah atau bahkan organ vital. Semua akses yang ditimbulkan dari tindik ini tak ada yang positif, terutama dari sisi medis. Berbagai resiko penyakit siap menyerang. Belum lagi jika mereka nanti mencari pekerjaan, para pengguna jasa akan sungkan menerima pekerja yang berpenampilan kurang wajar. Disney Land yang terkenal secara internasional sebagai tempat hiburanpun tidak menerima pegawai yang tidak berpenampilan wajar, termasuk yang bertindik atau bertato.
Oleh: Yupika Maryansyah

References;
Majalah Tempo
OnlineTempointeraktif.com
Detik.com

Regards, Yudi riswandy, www.goesmart.com

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)