Jumat, 10 Desember 2010

Masyarakat Boleh Lihat Dokumen BOS

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.




Penulis: Siwi Tri Puji B


REPUBLIKA.CO. ID, JAKARTA--Indonesia Corruption Watch menyatakan putusan Majelis Komisi Informasi Pusat terkait sengketa informasi data Biaya Operasional Sekolah dan Bantuan Operasional Pendidikan adalah putusan bersejarah. "Putusan Majelis KIP adalah keputusan penting dan bersejarah," kata Peneliti Senior ICW, Febri Hendri, di Jakarta, Senin.

Majelis KIP di Kementerian Informasi dan Komunikasi, Senin), memenangkan ICW dalam kasus sengketa informasi publik dalam pengelolaan dana BOS dan BOP tahun 2007-2009 melawan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan lima kepsek SMP negeri.

Dalam putusannya, Majelis Komisioner KIP memutuskan bahwa SPJ (Surat Pertanggung Jawaban) dan dokumen pendukung berupa kwitansi pembayaran dan bukti keuangan lainnya adalah dokumen publik dan dapat diakses oleh publik dan ICW sebagai pemohon.

Menurut Febri, putusan itu penting karena menyangkut transparansi publik pengelolaan keuangan negara dan publik.  Selain itu, lanjutnya, putusan tersebut tidak saja berlaku bagi ratusan ribu sekolah di Indonesia akan tetapi juga bagi seluruh badan publik, baik milik negara, pemerintah atau swasta.

Ia mengemukakan, selama ini transparansi dimaknai sebagai penyerahan dokumen keuangan tersebut pada lembaga berwenang seperti BPK, BPKP, Inspektorat atau lainnya.  "Pejabat publik menyatakan telah transparan ketika telah menyerahkan dokumen keuangan pada lembaga pemeriksa tersebut," kata Febri. Hal tersebut, ujar dia, membuat akses publik terhadap berbagai dokumen penting tersebut dinilai seakan-akan bukan bagian dari transparansi.



Putusan Majelis Komisioner mempertimbangkan antara lain permintaan salinan dokumen oleh ICW sebagai pemohon telah sesuai dengan UU No 14 Tahun 2008 tentang KIP (Keterbukaan Informasi Publik) dan Peraturan Komisi Informasi Pusat No 1 Tahun 2010 tentang Standar Layanan Informasi Publik pada Badan Publik.

Selain itu, pemberian SPJ pada termohon tidak melanggar juknis BOS dan BOP karena tidak digunakan untuk audit sekolah bersangkutan dan belum ada undang-undang yang mengatur bahwa dokumen SPJ adalah dokumen rahasia. Dokumen SPJ dinyatakan tidak termasuk informasi yang dikecualikan sebagaimana diatur pada pasal 17 UU No 14 Tahun 2008 tentang KIP.

Pembukaan dokumen SPJ pada publik juga diyakini tidak akan berdampak pada proses hukum, kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan dari persaingan usaha tidak sehat, pertahanan dan keamanan negara, kekayaan alam Indonesia, ketahanan ekonomi nasional, kepentingan hubungan luar negeri, dan akta otentik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang. "Putusan ini telah mendorong bangsa Indonesia satu langkah maju kedepan menjadi bangsa yang transparan dan akuntabel dalam mengelola sumber daya publik," kata Febri.

Sumber: http://m.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/11/15/146966-masyarakat-boleh-lihat- dokumen-bos

Sudut Pandang Anak tentang Belajar

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.




Ditulis oleh : Sumardiono
Email: aar@rumahinspirasi.com

Anak-anak memiliki sudut pandang yang tak selalu sama dengan orang dewasa. Jika kita dapat melihat sudut pandang anak, itu akan meningkatkan efektivitas komunikasi kita dengan mereka. Dalam konteks belajar, itu juga akan membuat kita bisa memberikan pendekatan yang tepat untuk membuat mereka menikmati hari-harinya dan senang belajar.

1. Anak tertarik dengan nyata
Salah satu minat terbesar anak adalah hal-hal yang dilakukan orangtua/orang dewasa. Anak tertarik dengan mobil, komputer, gadget, sepatu, benda-benda dan kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa. Mereka juga tertarik dengan benda nyata, bukan benda imitasi atau pura-pura. Jika bisa melakukan seperti yang dilakukan oleh orangtua, mereka akan melakukannya.
Oleh karena itu, sebenarnya kita tak perlu mencari-cari mainan untuk mereka. Jika memungkinkan dan aman, benda-benda nyata yang ada di sekitar adalah alat main sekaligus belajar yang sangat menyenangkan buat anak.

2. Anak melihat sisi fun
Orangtua biasanya melihat sebuah materi dilihat dari penting atau tidaknya materi itu. Sementara itu, anak tak terlalu mengerti tentang hal itu. Anak melihat segala sesuatu berdasarkan sisi fun; apakah sesuatu itu menarik dan asyik buatnya.
Kalau orangtua bisa mengkomunikasikan sisi menarik/asyik dari sebuah hal hingga anak dapat melihat sudut pandang itu, anak pasti akan mempelajari/ melakukan hal yang dikatakan orangtua; sekalipun hal/materi itu mungkin dianggap sulit oleh orang dewasa.
Sebaliknya, komunikasi orangtua yang hanya menekankan pada tingkat kepentingan tapi tak mampu menghadirkan sisi fun bisa dipastikan akan menerima resistensi, bahkan penolakan dari anak.

3. Anak ingin terlibat
Jika memungkinkan, anak ingin terlibat pada hal-hal yang dilakukan orang dewasa, seperti mengendarai motor/mobil, menghidupkan televisi, memasak, memainkan komputer, dan hal-hal lain yang dilakukan orangtua.
Jika orangtua memberikan kesempatan anak untuk terlibat, itu akan membangun kebanggaan dan kepercayaan diri mereka. Mereka akan merasa besar, berharga, dan bisa melakukan hal-hal seperti orang dewasa.

4. Anak senang ditemani
Ketika anak melakukan kegiatan, mereka merasa bahagia kalau orangtua terlibat dan ikut serta berkegiatan bersama mereka. Keterlibatan (engagement) itu penting dan lebih berharga daripada sekedar instruksi. Dengan ikut keterlibatan orangtua, anak merasa bahwa kegiatannya itu penting dan asyik.

Keterlibatan itu beragam bentuknya, mulai membantu menyiapkan sarana, mengikuti proses, bekerja bersama, serta memberikan umpan balik kepada anak. Kunci kekuatan dari keterlibatan orangtua adalah dilakukan dengan sepenuh hati, bukan basa-basi dan berpura-pura saja.

Dengan mengetahui sudut pandang anak dan menggunakannya secara baik, itu akan menciptakan keuntungan bersama bagi orangtua dan anak.

Sumber: http://rumahinspirasi.com/homeschooling/sudut-pandang-anak-tentang-belajar

Bahasa Asing di RSBI Tidak Efektif

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.




Bangkok, Kompas - Bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah yang berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional di Indonesia berjalan tidak efektif. Ini disebabkan tidak ada standar pengajaran yang jelas sehingga metode pengajaran bahasa asing setiap guru berbeda.

Hal itu dikemukakan Head of English Development British Council, Danny Whitehead yang memaparkan hasil penelitian Stephen Bax dari University of Bedfordshire, Inggris, di konferensi internasional Language, Education, and Millenium Development Goals (MDGs)”, Kamis (11/11) di Bangkok, Thailand. ”Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda. Ini disebabkan tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas,” ungkap Whitehead.

Hasil penelitian itu juga menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah guru yang memiliki kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari 25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa Inggris. ”Mahir bicara dalam bahasa Inggris dan mampu mengajar dalam bahasa Inggris jelas dua hal yang berbeda. Guru harus dilatih secara khusus untuk bisa mengajar dengan bahasa Inggris,” kata Whitehead.

Tak harus RSBI
Untuk meningkatkan mutu pendidikan, kata Whitehead, tidak perlu melalui pendirian rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Justru akan lebih efektif jika pemerintah memusatkan perhatian pada metode dan proses pengajaran, baik di RSBI maupun non-RSBI. Bahkan, RSBI sebenarnya bisa mengembangkan kurikulumnya sendiri dengan tetap berdasarkan kurikulum nasional dan tidak perlu mengambil mentah-mentah dari negara lain. ”Jangan justru mendahulukan keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh,” kata Whitehead.

Hal senada diutarakan konsultan pendidikan di British Council Indonesia, Hywel Coleman. Ia mengaku khawatir RSBI justru menciptakan diskriminasi pendidikan yang semakin lebar. Apalagi kurikulum RSBI sebagian diambil dari sekolah luar negeri. ”Biaya pendidikan di RSBI sebenarnya bisa murah jika kurikulum yang digunakan kurikulum buatan sendiri,” kata Coleman. Ia khawatir akan banyak anak yang tidak bisa menikmati pendidikan berkualitas baik, seperti di Pakistan dan Thailand.

Karena sudah telanjur harus ada sesuai undang-undang, Whitehead dan Coleman menyarankan agar pemerintah mengawasi dan mengevaluasi RSBI, terutama efektivitas dalam pengajaran menggunakan bahasa Inggris. ”Sampai saat ini belum ada evaluasi menyeluruh dari pemerintah tentang RSBI,” kata Whitehead. (LUK)


http://koran.kompas.com/read/2010/11/12/04063954/bahasa.asing.di.rsbi.tidak.efektif

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)