Rabu, 27 Juli 2011

Mengajarkan Anak-anak Tentang Uang

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Dr. Andyda Meliala  


Mengenali mata uang, menghitung dan menggunakan uang adalah konsep dasar mengenai uang yang dapat diajarkan kepada anak sedari dini. Berikut adalah beberapa hal yang dapat anda ajarkan kepada anak-anak.
Mengenali mata uang. Anak-anak perlu mengenali dan dapat membedakan pecahan mata uang (uang ratusan, lima ratusan, ribuan, lima ribuan dan seterusnya)

Menghitung uang. Misalnya berapakah jumlah uang bila ia memiliki dua lembar lima ribuan, tiga ribuan dan dua koin ratusan? Anda dapat menggunakan beberapa pecahan mata uang dan mengajarkan anak menghitung jumlahnya.

Menghitung harga barang dan menghitung kembalian. Misalnya, bila ia mempunyai uang sepuluh ribu Rupiah yang digunakan untuk membeli dua bungkus makanan kecil sebesar tiga ribu lima ratus Rupiah, berapa kembalian yang harus diterimanya?



Bertanggung jawab atas uang yang dimilikinya. Jika anda memberinya uang dan ia menghilangkannya, ia harus tahu bahwa itu adalah kerugian yang ditanggungnya.  Anda tidak boleh mengganti uang yang hilang. Dengan demikian ia akan lebih berhati-hati dengan uang yang dibawanya.

Menggunakan uang saku dengan bijaksana. Anda harus menetapkan sejumlah tertentu sebagai uang saku. Uang saku meliputi ongkos ke sekolah (bus, angkot atau kendaraan lain), uang jajan dan tabungan. Tabungan dapat digunakan untuk membeli benda yang ia inginkan.  Pastikan bahwa uang saku mencukupi kebutuhan anak dengan sedikit tambahan untuk ditabung, namun tidak berlebihan.

Sumber: http://resourceful-parenting.blogspot.com/

Tiga Hari Berjalan di Hutan, Anak Orang Rimba Ingin Belajar

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.







Oleh: Chaidir Anwar Tanjung - detikNews


Pekanbaru - Tidak mengenal menyerah demi mendapatkan ilmu tulis dan baca. Tiga bocah anak Orang Rimba di Jambi rela menelusuri kawasan hutan selama tiga hari untuk mencari guru pembimbingnya dari aktivis Warsi. Selama perjalanan mereka tidak makan selama dua hari. Namun usaha mereka tidak sia-sia, mereka akhirnya bertemu dengan guru pembimbingnya.

Inilah sepenggal kisah pedih dari kelompok anak-anak Orang Rimba di kawasan hutan belantara di Jambi. Nasib mereka tidak seiindah anak-anak pada umumnya yang dengan mudah mendapatkan fasilitas pendidikan dari pemerintah. Anak Orang Rimba nan jauh di pedalaman sana, sampai kini tidak mendapatkan fasilitas pendidikan formal dari pemerintah terdahulu sampai kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Untuk mengenali menulis dan mambaca, selama ini anak-anak Rimba hanya mengharapkan adanya bimbingan dari kelompok aktivis lingkungan. Salah satu kelompok aktivis yang melakukan bimbingan belajar baca dan tulis adalah Warsi yang berpusat di Jambi.

Selama ini Warsi memberikan bimbingan belajat pada anak-anak Rimba dengan pola saling bergantian. Tidak bisa saban hari mereka memberikan pelajaran buat anak-anak itu. Ini mengingat keterbatasan tenaga pengajar Warsi yang hanya dua orang yakni seorang gadis bernama Karlina dengan seorang pemuda bernama Abdi. Mereka berdua harus bergantian memberikan pelajaran pada anak-anak Rimba yang lokasinya saling berbeda. Sehingga dengan hanya ada dua tenaga pengajar, anak-anak Rimba ini paling banter sepekan sekali baru mendapatkan pelajaran menulis dan membaca dari guru pembimbingnya.

Sebagaimana siang itu, Karlina dan Abdi baru saja melakukan proses belajar mengajar serta membawa tamu dari Jakarta untuk anak-anak Rimba di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Hanya beberapa hari Karlina saat itu memberikan bimbingan belajar. Namun karena ada tugas lainnya, Karlina harus segera meninggalkan anak-anak itu karena harus membimbing kelompok anak-anak yang lainnya.

Ketika Karlina meninggalkan 10 muridnya itu, rupanya secara diam-diam keesokan harinya tiga muridnya masih ingin terus belajar. Menyadari guru pembimbingnya baru akan tiba sepekan ke depan, lantas tiga bocah itu nekat mencari perwakilan Kantor Warsi yang berada sangat jauh dari kawasan taman nasional. 

Tanpa mereka sadari, di bagian belakang, tiga bocah Rimba itu adalah Kalitap (10), Besiap Bungo (7) dan Moruya (9) berjalan kaki berbekal seadanya. Sebagaimana keseharian anak Rimba mereka hanya mengenakan kain penutup kemaluan saja tanpa mengenak baju. Dari tempat tinggalnya, tiga sekawan ini terus menyelusuri kawasan hutan untuk pergi ke kantor lapangan Warsi hanya ingin belajar tulis dan baca.

Ketiga bocah ini, tetap berjalan hingga malam menjelang. Di dekat pabrik sawit PT Emal, sekitar 10 jam jalan kaki dari tempat tinggal mereka, ketiga bocah ini memutuskan untuk istirahat. Bekal mie instan 3 bungkus dan dua bungkus roti mereka bawa, menjadi menu mereka malam itu. Di bawah pepohonan sawit ketiga bebudak—sebutan orang rimba untuk anak-anak—itu tertidur di atas tanah beratapkan langit, sarung yang mereka bawa menjadi pembungkus tubuh dari serangan angin malam. Untung saja malam itu tidak turun hujan.

Keesokan paginya, ketiga budak rimba bersepakat untuk melanjutkan perjalanan, setalah sarapan pagi dengan sisa roti semalam. Tujuan mereka satu, bertemu lagi dengan tim Warsi untuk melanjutkan pelajaran mereka tempo hari. Ketiga bocah beriringan, terus menelusuri jalanan kebun sawit dan kemudian masuk ke desa hingga akhirnya setelah 4 jam mereka berjalan sampailah mereka di Pauh, tepi jalan besar yang menghubungkan Sarolangun-Jambi.

Di sini, ketiga bocah ini mencoba meminjam telepon, seorang kenalan yang ditemui di Pauh. Mereka mencoba menelpon nomor Fadli-driver-Warsi yang membawa tim Warsi. Selama di Simpang Alas, hanya nomor Fadli yang bisa di hubungi, sehingga anak-anak ini hanya mencatat nomor Fadli. Namun apa daya, sinyal yang hilang timbul menyebabkan mereka tak pernah tersambung dengan tim Warsi.

Sejenak ketiga bocah ini bimbang, mau bagaimana cara mereka untuk menemukan tim Warsi, sementara di sisi lain mereka tidak mau kembali ke rombongnya, mereka tetap ingin 'tokang' (pandai) membaca, menulis, dan berhitung. Selama ini memang ketiga bocah ini termasuk murid-murid yang diajarkan warsi, sejak 2008 silam, ketika sudah ada kesepakatan dengan Tumenggung mereka untuk adanya pendidikan di kelompok Terap. Terap merupakan kelompok Orang Rimba yang baru pada 2008 silam mau menerima pendidikan alternatif yang diberikan Warsi.

Namun keterbatasan tenaga pengajar dan banyaknya kelompok Orang Rimba yang harus di jangkau Warsi, kelompok ini, dikunjungi hanya beberapa hari dalam sebulan. Sementara di sisi lain, anak-anak rimba di kelompok ini sangat bersemangat untuk dibekali pengetahuan tentang huruf dan abjad serta merangkainya menjadi kata.

Ini juga yang membawa Kalitap dan dua rekannya untuk menyusul tim Warsi supaya mereka bisa diajarkan kembali, hingga mereka mahir membaca dan menulis serta berhitung. Perburuan mereka yang gagal menemukan tim Warsi di hari kedua, di tengah keraguan dan perjalanan panjang yag telah mereka tempuh, Moruya mengambil komando. "Awak ka SPI, mungkin kanti yoi di sana (kita ke SPI mungkin mereka di sana)," ujar Maroya dan langsung diiyakan oleh Besiap.

Walau mereka tahu, pilihan itu mengharuskan mereka berjalan sangat jauh. Pauh-SPI jika menggunakan kendaraan roda empat, menghabiskan waktu 3 jam perjalanan, apalagi jika berjalan kaki. Namun semangat "kamia ndok pintar" kembali menggerakkan langkah kaki anak-anak ini menyusuri jalan desa. Hingga sore menjelang mereka sampai di Simpang PT Emal—perkebunan sawit, sekitar 10 km dari Pauh. Di sebuah pos ronda ketiga bocah ini bermalam.

Tidak ada makan malam hari itu, dengan perut kosong ketiga bocah ini melelapkan mata. Bagi Orang Rimba sudah terbiasa untuk tidak makan seharian, masa remayo (masa paceklik) sering kali menghampiri kehidupan mereka terutama sejak semakin tipisnya sumber daya alam untuk mendukung kehidupan mereka.

Keesokan paginya, ketiga bocah ini kembali berjalan, beruntung di tengah jalan ada yang memberi tumpangan. Di bak terbuka sebuah truk cold diesel senyum para bocah ini mengembang, harapan mereka untuk bertemu tim Warsi hampir jadi nyata. Dua kali mereka berganti tumpangan dan kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki, malam harinya akhirnya ketiga bocah ini sampai di kantor lapangan Warsi.

Abdi salah seotang guru bimbingan Warsi kaget bukan kepalang melihat tiga bocah itu sampai di kantor warsi. Malam itu, ketiga anak ini disuguhi makanan, dan disuruh istirahat di dalam kantor lapangan. Ketika mereka masuk ke dalam kantor, mereka malu dengan tas butut yang mereka bawa, dan memilih meninggalkannya di luar kantor, hanya mengambil isinya, sarung dan benda yang terbungkus dalam sarung itu. 

"Ketika dia berjalan itu, sarungnya terlepas dari genggaman Besiap, sehingga buku dan pena dalam sarung itu berceceran, saya benar-benar terharu, ternyata mereka menyusul kami karena masih ingin belajar," kata Abdi dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (23/7/2011). Tak ada baju yang mereka bawa, hanya sarung dan buku serta pena. Terbukti malam itu, ketika di suruh masuk ke kamar, anak-anak itu malah menyodorkan bukunya pada Abdi, dan meminta Abdi untuk mengajari mereka membaca.

"Meski sudah menempuh perjalanan jauh dan tidak makan dua hari, mereka masih mau belajar, ya jadilah kami belajar hingga larut malam," terang Abdi. Karena keesokan harinya ada keperluan ke Jambi, Abdi tidak tega untuk tidak memenuhi keiinginan mereka belajar. Sementara Karin sudah harus menjalankan tugasnya di kelompok lain. Ketiga anak inipun di bawa ke Jambi, tentu sebelumnya Abdi sudah menanyakan kepada anak-anak ini apakah orang tuanya sudah di kasih tahu.

"Kamia dah cakopkan ka induk, ndok pergi belajor (kami sudah izin pada induk, kami mau pergi belajar," sebut Besiap. Jadilah ketiga bocah itu nangkring di boncengan Abdi menempuh perjalanan panjang 6 jam bersepeda motor. Kini ketiga bocah itu, ingin menimba ilmu sebagaimana mana umumnya anak Indonesia. Walau mereka tidak memiliki fasilitas tas dan buku yang bagus, mereka hanya memiliki keinginan yang kuat agar kelak mereka tidak terus menerus menjadi anak yang terisolasi di tengah hutan belantara.

 (cha/ndr)

Balita Anda Suka Menggigit?

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.







Oleh: Dr. Andyda Meliala

Anda mungkin mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan karena anak balita anda suka menggigit anak atau orang lain. Anak yang digigit akan merasa kesakitan bahkan mungkin akan timbul luka. Balita suka menggigit karena berbagai alasan, misalnya kurangnya kemampuan berkomunikasi, sifat balita yang agresif, mencari perhatian, atau yang sering terjadi, anak sedang mengalami pertumbuhan gigi baru. Orang tua harus mengamati alasan mengapa balita menggigit untuk dapat mengatasinya.

Komunikasi. Seorang anak yang marah atau frustrasi mungkin menjerit atau menggeram tetapi bila emosinya terlalu tinggi ia mungkin tidak dapat mengungkapkannya secara verbal. Ia tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata, maka ia menggunakan cara lain, menggigit. Dua orang balita berebut mainan, atau balita pertama memegang mainan balita kedua, anak-anak itu tidak dapat mengatakan, “Boleh kupinjam?” atau “Boleh main bersama?”.

Frustasi. Jika anak mengalami frustrasi, ia harus segera diajarkan cara mengatasinya. Orang tua dan kakak sang anak harus menunjukkan cara yang benar untuk menghadapi situasi tersebut. Ajarkan anak untuk mengunakan kata-kata yang tepat.

Agresif. Seorang anak mungkin menggigit anak lain tanpa alasan, namun menunjukkan sikap menyerang. Menyerang adalah suatu tindakan dan menyebabkan rasa sakit. Dalam keadaan apapun, orang tua tidak dapat membenarkan gigitan. Anak harus diberi tahu bahwa menggigit menyebabkan orang lain merasa sakit. Anda dapat menunjukkan kepada anak bahwa menggigit itu menyakitkan dengan menyuruhnya mengggit jarinya sendiri.

Perhatian. Anak yang menggigit tahu bagaimana mendapatkan perhatian. Ia mungkin menggigit dengan sengaja untuk mendapatkan perhatian, walaupun ia akan mendapatkan perhatian yang negatif. Mungkin anak merasa tidak nyaman dan membutuhkan pehatian ekstra. Anda dapat memeluknya, meluangkan waktu  lebih banyak untuknya. Duduklah dan bacakan cerita untuknya. Usahakan memenuhi kebutuhan emosionalnya. Anda kemudian berlutut agar dapat memandang sejajar ke mata anak dan katakana dengan suara tegas dan ekspresi tidak suka, “Jangan menggigit. Itu sakit.” Kemudian alihkan perhatian kepada anak yang digigit.

Tumbuh gigi. Pada sebagian anak gigi geraham tumbuh pada pertengahan tahun kedua dan mereka perlu menggigit-gigit. Mereka menggigit anak lain karena merasa tidak nyaman dengan gusinya. Berikan mainan khusus atau biskuit yang agak keras atau wortel untuk digigit-gigit.

Tips untuk menghentikan anak yang menggigit:

Cegah sedari dini. Balita mulai dengan menggigit orang tuanya sendiri. Mungkin anda menganggapnya  biasa, atau menganggapnya sebagai "gigitan sayang", namun bila dibiarkan lambat laun anak mungkin akan menggigit orang lain.

Aturan “Kita tidak mengigit”. Ajarkan kepada anak bahwa kita tidak boleh menggigit terutama karena menyebabkan rasa sakit.

Larangan. Hentikan dengan “Jangan” yang tegas. Lakukan ini bila anda melihat anak anda hendak menggigit. Gunakan nada suara yang tegas dan ekspresi wajah tidak suka. Anda perlu mengawasi anak anda hingga anda yakin ia tidak menggigit lagi.

Hukuman. Berikan hukuman berupa setrapan. Lepaskan anak dari gendongan anda dan tinggalkan selama beberapa menit. Bila ini tidak berhasil, anda dapat mengambil mainan kesayangannya selama hari itu. Jangan balas menggigit anak untuk menunjukkan bahwa itu menyakitkan. Anak akan menganggap bahwa orang tua boleh melakukannya, sedangkan anak tidak. Jangan memukul, menampar, mencubit atau melakukan kekerasan lain bila anak menggigit atau bertindak agresif.

Permintaan Maaf. Mintalah anak anda untuk minta maaf kepada anak yang digigit. Bila anak menggigit karena marah, anda perlu menenangkannya dulu sebelum menyuruhnya meminta maaf. Anda juga perlu meminta maaf kepada orang tua anak yang digigit.

Beri Pujian. Pujilah anak karena tidak menggigit. Pujilah anak bila ia tidak menggigit lagi. Pada situasi yang anda khawatirkan anak akan menggigit, ingatkan dengan lembut agar ia tidak melakukannya. Dan pujilah anak karena ia telah berperilaku baik.

Sumber: http://resourceful-parenting.blogspot.com/

Menjadi Orang Tua Penyabar

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.






Oleh: Dr. Andyda Meliala

Kesabaran adalah landasan utama bagi keberhasilan orang tua dalam mengasuh anak.  Kesabaran adalah cara yang paling efektif dalam mengasuh anak dan juga yang paling nyaman dirasakan anak. Namun di jaman yang serba sibuk dan penuh dengan stress ini, kesabaran makin sulit didapatkan.

Saya bukanlah orang tua yang paling penyabar, justru saya merasa bahwa kesabaran adalah skill yang paling sulit dikuasai. Tapi saya merasakan banyak kemajuan. Saya percaya  kesabaran adalah sama halnya dengan kebiasaan baik lainnya, jika terus menerus dilatih maka saya akan lebih trampil lagi dalam bersabar.  

Berikut tips favorit yang saya coba dan paling membantu:

  • Tarik napas panjang. Begitu anda mulai merasakan ketidaknyamanan, tarik napas panjang 3 kali. Buang amarah anda bersama napas yang anda hembuskan. 

  • Berhitung sampai 10. Ini tip yang sangat sederhana dan sangat manjur. Amati emosi anda, ketika anda mulai merasa frustrasi atau marah, STOP! Hitung perlahan dari 1 sampai 10.
  • Break Time. Pisahkan diri anda dari anak. Anda bisa jalan keluar ruangan selama 5 menit, untuk memikirkan konflik yang terjadi dan memikirkan jalan keluarnya. Kalau anda membutuhkan waktu yang lebih banyak, ijinkan anak menonton TV atau Video selama setengah jam. Gunakan waktu itu untuk mengembalikan energi anda dan mendinginkan pikiran.
  • Pikirkan kebutuhan anak. Seringkali kita tidak sabar karena kita lupa bahwa anak kita masih kecil dan perlu bantuan untuk menjalankan tugasnya. Pastikan bahwa ekspektasi Anda sesuai dengan usia dan kemampuan anak.
  • Tertawa. Anda hanya perlu mengingatkan diri anda untuk tertawa terbahak-bahak .
  • Pause and Think. Pikirkan, apa yang hendak Anda ajarkan atau tularkan kepada anak? Apa yang penting saat ini? Kesempatan. Bagaimana anda bisa menggunakan kesempatan ‘konflik’ untuk mengajarkan sesuatu pada anak anda? Apakah anda ingin mengajarkan bahwa ‘kesalahan adalah hal yang lumrah?’ atau ‘Anda memberikan anak kebebasan untuk mengekspresikan emosinya?’
  • Bayangkan ada penonton. Bayangkan anda mempunyai audiens yang mengamati interaksi anda bersama anak anda. Bagaimana sikap anda di hadapan para audiens? Apakah anda akan tetap menunjukkan reaksi keras anda atau sebaliknya?
  • Idola. Carilah seorang idola yang memiliki kesabaran luar biasa yang anda idam-idamkan. Tanyakan pada diri anda, bagaimana kira-kira ibu ‘T’ menghandel situasi ini?
  • Catat. Anda bisa menggunakan hp atau buku harian untuk mencatat kemarahan anda. Hal ini sangat menolong anda untuk mengevaluasi pola kemarahan. Selanjutnya anda bisa memikirkan solusinya.
  • Visualisasi. Melalui evaluasi catatan kemarahan anda, anda membuat solusi agar masalah yang sama tak terulang lagi. Selanjutnya anda bisa berlatih membayangkan ‘skenario konflik’ di benak anda. Cobalah beberapa skenario solusi. Ketika konflik nyata terjadi, anda akan lebih siap dalam beraksi.


Tak ada kata terlambat untuk menjadi orang tua penyabar! 

Sumber: http://resourceful-parenting.blogspot.com/

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)