Senin, 27 Desember 2010

Angklung Disahkan UNESCO Sebagai Warisan Budaya Dunia

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.




BANDUNG, (PRLM).- Gubernur Jawa Barat menyambut gembira ketika mengetahui alat musik angklung sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Alat musik angklung diakui sebagai "The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity" pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committee UNESCO di Nairobi, Kenya, Selasa (16/11) waktu setempat.

“Alhamdulillah, senang sekaligus bangga. Angklung yang merupakan kebudayaan asli kita bisa dilestarikan oleh dunia. Tentunya ini akan menjadi perhatian agar angklung terus berkembang,” kata Gubernur, di Kota Bandung, Kamis (18/11). Dia mengatakan, kewajiban kita setelah ditetapkannya angklung sebagai budaya dunia adalah memelihara dan melestarikannya. “Misalnya kita lestarikan dengan regenerasi tranformasi budaya, dan menghidupkan angklung di mana-mana seperti di sekolah, pertemuan, pokoknya di mana pun harus ada angklung,” tuturnya.



Untuk lebih mengembangkan lagi alat musik angklung, menurut Gubernur, pihaknya akan menampilkan angklung di Washington DC, Amerika Serikat, pada Mei Tahun 2011. “Kita diundang Duta Besar Amerika Serikat untuk melakukan perhelatan angklung terbesar di sana. Rencananya dalam performa tersebut selain menampilkan angklung, seluruh peserta yang hadir juga akan diajarkan bermain angklung,” tuturnya.
Heryawan menambahkan, pihaknya juga akan turut memperjuangkan agar segera dibentuk persatuan angklung baik di tingkat nasional maupun internasional. ”Kita akan segera bentuk persatuan angklung tingkat internasional agar angklung bisa tersosialisasikan kepada dunia, dengan tema 'how to play angklung'. Langkah ini merupakan bentuk transformasi budaya dari Jawa Barat untuk dunia,” katanya.

Ketika ditanya mengenai dukungan dana pemerintah untuk mengembangkan angklung, menurut dia, secara otomatis masalah ini merupakan bagian dari pengembangan Dinas Pariwisata Jabar. “Mengenai angklung dijadikan pelajaran di sekolah, bisa saja dilakukan. Masalah ini sudah masuk tataran teknis, ada mekanisme yang harus dilalui," tuturnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar Herdiwan Iing Suranta mengatakan, alat musik bambu yang menjadi ikon Jawa Barat itu diputuskan menjadi warisan budaya dunia setelah lolos pada sesi evaluasi nominasi untuk Inskripsi 2010 tentang Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity yang sidangnya dilangsungkan di Nairobi, Kenya, Selasa (16/11).Keputusan itu lahir tepatnya pada sidang kelima Inter-Governmental Committee.



”Saya mendapat kabar dari Kedutaan besar RI untuk UNESCO pada hari Selasa (16/11) lalu pukul 16.20 waktu Kenya (pukul 20.20 WIB), bahwa dalam sidang itu angklung resmi diputuskan sebagai warisan budaya dunia. Tentu saya yang paling bangga mendengar hal tersebut,” katanya. Herdiwan mengajak kepada seluruh warga masyarakat Jabar untuk mensyukuri momen itu. ”Kita ucapkan syukur bahwa kebudayaan kita memang kelas dunia. Sehingga jangan sia-siakan hal itu dan kita tarik makna tersebut yang mengindikasikan bahwa bukan hanya angklung yang hebat, tetapi seni budaya Jabar semua hebat,” katanya. (A-194/das)* **

sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/node/127565

Jenius Bukan Jaminan Sukses

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.




Ada kabar dari Geoff Colvin, editor senior di majalah Fortune. Penulis sekaligus dosen yang dikenal dengan tulisan-tulisan kritisnya ini menyuguhkan data mengejutkan dalam bukunya bertajuk Talent Is Overrated (2008). Sebagaimana tercermin dalam judulnya, buku ini menunjukkan betapa kita terlalu berlebihan memuja-muja bakat dan kejeniusan. Padahal semua itu nyaris tak memberi manfaat apa-apa bagi masa depan anak, baik untuk meraih sukses maupun kebahagiaan.

Bakat dan kejeniusan bukanlah kunci utama meraih sukses, apa pun bidang yang ia tekuni. Baik dalam dunia olah-raga, seni, bisnis maupun intelektual, kunci paling pokok untuk meraih sukses bukan bakat besar maupun kejeniusan. Bukan pula keterampilan melakukan hal-hal yang dianggap luar biasa oleh orang pada umumnya. Banyak pebisnis sukses maupun intelektual yang IQ-nya rata-rata. Bukan superior, apalagi jenius. Bahkan ada yang IQ-nya sedikit di bawah rata-rata, tetapi ia memiliki ketahanan mental yang luar biasa untuk belajar dan menghadapi berbagai kesulitan, termasuk hambatan fisik. Sebagian kesulitan bisa terasa lebih ringan karena berubahnya persepsi, tetapi hambatan fisik memerlukan ketahanan untuk menanggung rasa sakit.

Sebagian orang sukses memang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Ia benar-benar memiliki kemampuan intelektual yang bagus, bukan sekedar mampu mempertunjukkan kebolehan yang bersifat langka. Tetapi harus dicatat bahwa mereka meraih sukses itu melalui kerja keras yang luar biasa hebat dalam belajar. Mereka gigih belajar dan berlatih tatkala orang lain sudah terlelap. Kisah sukses Imam Syafi’i rahimahullah misalnya, bukan terutama soal kecerdasan, tetapi berkait erat dengan kemauan belajar yang luar biasa sekaligus kesanggupan untuk menghadapi kesulitan. Ini menjadikan seorang Imam Syafi’i yang ketika itu masih kanak-kanak, mampu bertahan untuk menyimak pelajaran dari luar kelas disebabkan ia tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk belajar di kelas sebagaimana anak-anak lain. Kisah Imam Bukhari mencari sebuah hadis adalah contoh lain tentang betapa berharganya kesediaan untuk menderita demi meraih apa yang diyakininya berharga. Ia rela menempuh perjalanan panjang yang sulit hanya untuk memperoleh sebuah hadis, meskipun hadis itu akhirnya tidak ia perhitungkan karena ternyata lemah.

Kisah Imam Bukhari tentu saja tidak terdapat di buku Talent Is Overrated. Saya hadirkan kisah ini karena lebih akrab dengan kita. Selebihnya banyak kisah sejenis yang bisa kita temukan. Tetapi apa pun kisahnya, inti pesannya adalah kejeniusan bukan segala-galanya. Jenius bukan jaminan sukses, Apalagi bahagia.

Anda tentu masih ingat kisah Billy Sidis yang saya sampaikan di majalah ini. Nama lengkapnya William James Sidis, anak dari Prof. Dr. Boris Sidis, orang Yahudi yang sangat mengagumi William James –seorang ahli psikologi. Secara intelektual, Billy luar biasa cerdas. IQ-nya 200, jauh di atas Albert Einstein. Usia 5 tahun sudah mampu menulis karya ilmiah –bukan cerita anak-anak—tentang anatomi. Usia 11 tahun kuliah di Harvard University –universitas terkemuka dunia yang terkenal dengan orang-orang cerdasnya—dan pada usia 14 tahun telah memberi kuliah di universitas yang sama. Semua catatan ini mengukuhkan kehebatannya sebagai anak jenius! Benar-benar jenius dan memang memiliki kemampuan intelektual luar biasa. Bukan sekedar mampu mempertontonkan kemampuan yang dapat dengan mudah dilatihkan kepada setiap anak dalam waktu satu dua hari.

Pertanyaannya, apakah yang dapat diperoleh dari kejeniusannya? Sekali lagi, Billy sangat jenius. Benar-benar anak jenius yang sempurna. Tetapi kejeniusan itu tidak memberi manfaat apa-apa baginya. Perkembangan sosial, emosional dan komunikasinya tidak sejalan dengan kemampuan kognitifnya. Ia mampu berpikir rumit dan memecahkan masalah-masalah akademis, jauh melampaui anak-anak seusianya dan bahkan lebih unggul dibanding orang-orang dewasa. Tetapi ia tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Ia juga mengalami hambatan emosional. Kemampuan intelektualnya yang luar biasa tidak mampu menolongnya untuk bisa berperilaku secara lebih dewasa sesuai usianya. Keasyikan Billy dengan dunianya membuat ia mengalami keterlambatan dalam perkembangan emosi dan perilaku. Inilah yang kemudian menjadi masalah besar dalam hidupnya sehingga ia memilih untuk menarik diri dari dunia intelektual, lalu bekerja sebagai tukang cuci piring di rumah makan sampai akhir hayatnya.

Kasus Billy hanya salah satu saja. Anak-anak yang memiliki kecerdasan luar biasa, atau mereka hanya disibukkan dengan belajar secara akademik, cenderung menjadi pribadi yang tidak matang dan rentan masalah jika mereka kurang memperoleh kesempatan berkembang secara alamiah. Kerentanan ini akan meningkat manakala anak-anak dipacu untuk menunjukkan prestasi yang bisa membanggakan orangtua atau melakukan sesuatu yang bisa membangkitkan kebanggaan orang terhadapnya. Ia membuat anak sibuk melakukan hal-hal yang tampak luar biasa, meskipun sesungguhnya tidak penting bagi kehidupannya di masa kini maupun masa mendatang. Meskipun ia mampu menunjukkan kemampuan-kemampuan yang jarang dimiliki orang, tetapi ini bukanlah prestasi yang sesungguhnya (true achievement) . Mungkin ia memang mampu menunjukkan prestasi tersebut (real achievement) . Hanya saja yang diperlukan oleh seorang anak agar ia memiliki motivasi yang benar-benar kuat adalah prestasi yang sesungguhnya (true achievement) . Begitu Janine Walker Caffrey, Ed.D., menulis dalam bukunya yang berjudul Drive: 9 Ways to Motivate Your Kids to Achieve (2008).

Jadi, sekedar jenius saja tidak cukup. Apalagi jika yang terjadi sesungguhnya bukan kejeniusan, melainkan perilaku yang mengesankan sebagai jenius (play acting as genius). Permainan kesan ini bisa muncul dari orang-orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, bisa juga pada mereka yang biasa-biasa saja. Tidak sedikit perilaku yang dibentuk oleh orangtua atau orang dewasa lainnya pada anak, sehingga orang lain menganggap hebat. Sementara anak itu sendiri boleh jadi merasa dirinya hebat, boleh jadi mempunyai waham kebesaran (grandeur delusion) dan bisa juga anak sepenuhnya mengetahui bahwa ia tidak sehebat yang dilihat orang.

Banyak peristiwa dalam sejarah yang menunjukkan upaya untuk mengesankan diri atau anak sebagai jenius. Wolfgang Amadeus Mozart pernah menyatakan bahwa ia menggubah konserto sekali jadi. Tetapi kemudian diketahui bahwa ia bisa menyusun sebuah konserto bahkan dalam waktu bertahun-tahun. Bukan cuma setahun. Apalagi sekali jadi. Hanya saja ia berlatih keras dan pada waktu yang tepat ia seperti memperoleh ilham, lalu mempertunjukkan karya “sekali jadi” yang sudah ia susun bertahun-tahun itu. 

Delapan Sekolah Jadi Rintisan Berkarakter Bangsa

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.




BANDUNG(SINDO) – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menetapkan delapan sekolah di Kota Bandung untuk menjadi rintisan sekolah berkarakter bangsa dan budaya. Kedelapan sekolah ini akan dikembangkan untuk memperkuat pendidikan karakter bangsa. Anggota Tim Pengembang Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendiknas Feisal Ghozali mengungkapkan, kedelapan sekolah tersebut adalah SMAN 8, SMKN 3, SMPN 36, SMPLB Cicendo, SDN Sabang, SDN Pajagalan, TK Negeri Centeh, serta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Citra Sarana Bahasa dan Informatika (CSBI).

Kemendiknas telah menunjuk 16 provinsi untuk mengembangkan rintisan sekolah berkarakter bangsa dan budaya. Dalam satu provinsi, terdapat satu kabupaten/kota yang dipilih untuk mengembangkan sekolah rintisan tersebut. Dan, pada satu kabupaten/ kota ada tujuh hingga delapan sekolah yang mengimplementasikan nya. ”Di Jabar ada Kota Bandung,” ucap Feisal. Sekolah-sekolah yang telah ditetapkan akan mengintegrasikan nilai-nilai karakter bangsa dengan setiap mata pelajaran yang diajarkan.

Nilai-nilai tersebut seperti halnya nilai kebangsaan dan kewirausahaan. Indikator standar nilai kebangsaan antara lain kedisiplinan siswa dan guru, kebersihan, kesopanan, dan kenyamanan sekolah. ”Misalnya kedisiplinan, bagaimana si guru dan siswa menerapkan disiplin sekolah, seperti kedatangannya terlambat atau tidak dan lain-lain. Hal-hal seperti ini nantinya akan diterapkan secara khusus dan memiliki kelebihan dibandingkan sekolah lain,”papar Feisal.

Sementara nilai kewirausahaan adalah penerapan life skill di sekolah-sekolah.Siswa harus terlibat dalam proses enterpreneursip tersebut. ”Keterlibatan dalam proses awal hingga akhir,misalnya, dalam penjualan produk handicrafts, dalam pembuatan hingga memasarkannya siswa terlibat,”ucapnya. Sekolah juga harus memiliki terobosan dalam proses belajarmengajar di kelas; dan pendidikan karakter yang telah disusun dengan parameternya ini sudah harus diimplementasikan di sekolahsekolah tersebut.



”Jangan hanya pada tataran konsep,”ungkapnya. Pemerintah menargetkan, pada 2014 mendatang seluruh sekolah di Indonesia sudah menerapkan konsep kebangsaan dan berbudaya. Sementara pada 2010, program yang diterbitkan sejak empat bulan lalu ini masih dalam tahap sosialisasi, tahun depan implementasi dengan pendampingan pemerintah. ”Dan pada 2013,setiap sekolah rintisan sudah mandiri dalam implementasinya.
Pada 2014,seluruh sekolah sudah mampu menjalakan pendidikan karakter bangsa dan budaya,”pungkas Feisal. Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda mengatakan,Kota Bandung telah memasukkan pendidikan budi pekerti dalam muatan lokal. Hal itu sebagai salah satu mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah-sekolah.

”Pendidikan karakter itu penting untuk menghasilkan lulusan dengan kompetensi keilmuan dan daya emosinya, sehingga nantinya lulusan yang dihasilkan akan menjadi lulusan yang memiliki kompetensi lengkap,”ujar Ayi. (krisiandi sacawisastra)

sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/363484/

Mengembangkan Ide dengan Teknik “Clustering” Berbasis "Free Writing"

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.



Oleh: Hernowo



November 2010 lalu, saya berkeliling ke beberapa instansi pemerintah dan lembaga pendidikan untuk memberikan pelatihan menulis. Materi yang saya bawakan, salah satunya, adalah bagaimana memilih dan kemudian mengembangkan  ide.

Saya tidak ingin mendefinisikan ide itu apa. Bagi saya, sebuah tulisan yang tidak mengandung ide adalah tulisan yang "bisu", datar, dan hampa. Tulisan itu tidak berbunyi dan, ada kemungkinan, tidak mampu menggugah para pembacanya.

Untuk membuat agar sebuah tulisan memiliki ide, biasanya seorang penulis sibuk memikirkannya: Ada yang menyepi, ada pula yang mengisi dirinya dengan banyak membaca. Ringkasnya, perlu diadakan banyak kegiatan untuk mendapatkan ide.

Namun, hampir semua orang---bukan hanya penulis---telah menyadari bahwa ide tidak dapat ditunggu. Yang lebih aneh, ide itu hanya akan mendatangi seseorang yang sudah siap untuk menerima ide dan kehadiran ide tanpa pemberitahuan terlebih dahulu---merujuk ke film Mendadak Dangdut, bisa disebut memiliki ide sebagai "Mendadak Ide!"

Dalam sebuah pelatihan menulis, tidak mudah mengajak seseorang untuk memahami soal ide dalam kegiatan menulis ini. Meskipun dalam kegiatan menulis, ide itu sangat penting; namun, mencoba menjelaskan dan merasakan ide bukan persoalan gampang.

Saya beruntung dapat memahami hakikat teknik "free writing" dan "mindmapping" atau "clustering" . Kedua teknik---saya lebih senang menyebutnya sebagai "peralatan" penting---menulis ini dapat membantu saya dalam merekayasa kehadiran sebuah ide.

Saya belajar tentang teknik "free writing" kepada tiga tokoh: Natalie Goldberg, Peter Elbow, dan James W. Pennebaker. Dua tokoh yang pertama memang ahli menulis, namun nama tokoh yang ketiga adalah seorang doktor di bidang psikologi.

Intinya, "free writing" dapat melatih seorang penulis untuk mengeluarkan sesuatu yang "original" dari dalam dirinya. Bagaimana mendeteksi bahwa sesuatu yang "original" telah dapat dikeluarkan? Berikut beberapa tanda yang dapat dirasakan:

Grabiele Rico, Ph.D., penemu tentang tentang "clustering"

Pertama, penulis tersebut memang sudah sering mempraktikkan "free writing"-minimal 10 hingga 15 menit setiap hari. Kedua, dia sudah tidak lagi, secara otomatis, mengoreksi hasil dari "free writing". Dan ketiga, pada saat-saat tertentu, dia merasakan kelegaan luar biasa sehabis mempraktikkan "free writing".

Teknik yang kedua, yang disebut "mindmapping" atau "clustering" , saya manfaatkan untuk memilih dan mengembangkan ide dalam bentuk "peta" (gambar)---lihat contoh-contohnya di dalam tulisan ini. Dalam menggunakan teknik ini, saya tidak merujuk ke Tony Buzan (penemunya), melainkan ke Dr. Gabriele Luser Rico.



Rico mengadopsi "mindmapping" menjadi "clustering" . Salah satu pesan Rico yang sangat penting adalah menulislah sesuatu secara mencicil, sedikit demi sedikit. Menulis memang tidak dapat sekali jadi. Menulis harus dikembangkan perlahan-lahan secara kelompok demi kelompok ide.

Penerapan teknik "clustering" hampir persis dengan penerapan teknik "mindmapping" : Ambil selembar kertas ukuran A4 dan posisikan secara landscape. Di tengah kertas, tuliskanlah topik yang ingin dieksplorasi secara tertulis. Topik tersebut ingin kita kembangkan menjadi sebuah ide yang "sexy" (menggoda).

Misalnya, kita ingin menulis tentang kursi. Topik tentang kursi ini ingin kita kembangkan menjadi tulisan yang tidak biasa-biasa saja dan, nantinya, di dalam pengembangan itu kita dapat menemukan sebuah ide baru. Nah, langkah pertama yang harus kita tempuh adalah dengan meletakkan kata KURSI persis di tengah kertas A4.

Setelah itu, tariklah empat garis yang memancar dari tulisan KURSI menuju empat arah berbeda. Pandangi secara saksama empat garis itu. Kemudian, secara sangat spontan, bubuhkan satu kata tanpa berpikir di atas keempat garis tersebut. Karena tanpa dipikirkan lagi, diharapkan keempat kata itu tidak ada yang berkaitan dengan kata kursi.

Misalnya saja, empat kata yang kita tuliskan adalah ufuk, meja, bau, dan duku. Kata meja jelas masih ada hubungannya dengan kursi. Untuk mendapatkan dan mengembangkan ide yang baru, kata meja ini terpaksa kita coret. Yang tersisa adalah ufuk, bau, dan duku.



Contoh 2 membuat "clustering" berbasis "free writing"

Dari ketiga kata tersisa, kita harus memilih satu kata. Misalnya, yang kita pilih adalah ufuk. Apa hubungannya kursi dan ufuk? Tidak ada. Pada titik ini, kita telah berani menantang pikiran kita. Kita menantang pikiran kita untuk mengubah perspektif dalam memandang kata kursi.

Langkah berikutnya adalah menggunakan jalur kursi-ufuk untuk mengembangkan ide. Buatlah tiga garis cabang dari jalur (garis) kursi-ufuk yang titiknya dari kata ufuk. Lalu bubuhkan tiga kata lagi secara spontan di atas tiga garis cabang tersebut. Misalnya kita membubuhkan kata merah, darah, dan utang.

Pengembangan ide telah mencapai tahap kedua dan menurut Rico, kita harus berhenti dan meng-cluster ide kita itu. Untuk meng-cluster jalur kursi-ufuk, kita harus memilih satu kata dari tiga kata cabang yang ada. Misalnya, kita memilih kata merah.

Nah, sampai di sini, kita telah menemukan jalur kursi-ufuk-merah. Setelah kita menemukan tiga kata ini, cobalah tantang pikiran Anda dengan melakukan kegiatan menulis yang menggunakan tiga kata tersebut-kursi, ufuk, merah-untuk menemukan sebuah ide yang lain daripada yang lain.

Selamat berlatih dan selamat mengalami "Mendadak Ide!". Salam.[]

Sumber teks: www.mizan.com
Sumber gambar: www.gabrielerico. com

Tips Menghentikan Anak Berkelahi

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.





Ditulis oleh: Hikari Hidayati
Sumber: http://rumahparenti ng.com

Bunda, jika kita menganggap perilaku buruk anak kita sebagai suatu yang wajar dan nanti akan hilang sendiri, maka kita sudah terjebak pada mitos yang tidak benar bahkan menjebak. Karena kita harus selalu memahami bahwa, jika kita melihat dan membiarkan anak berperilaku buruk, maka itu artinya membolehkan. Mari kita bantu anak-anak kita menghentikan kebiasaannya berkelahi dengan teknik PARENTING .

P : Kita akan menggunakan teknik pengasuhan yang benar
A : Anak adalah Anugerah
Berkelahi adalah salah satu proses penyelesaian masalah yang memiliki beberapa ciri khas, yaitu adanya amarah yang disertai bentuk fisik berupa suara (teriak) dan gerak (memukul dan menendang). Kita pasti sudah memahami bahwa ketika ada permasalahan dengan teman, saudara, atau siapapun kita harus bisa menyelesaikan dengan cara yang bijak. Kita harus bisa mengendalikan emosi, mengkomunikasikan permasalahan kita serta menghindari kata dan tindakan yang menyakiti. Jika seandainya ada kata dan tindakan yang menyakiti, kita pun harus belajar untuk meminta maaf. Di sisi lain, kita harus belajar mendengarkan, dan memaafkan orang. Keterampilan penyelesaian masalah ini haruslah kita latih kepada anak. Kapankah itu? Saat ada permasalahan yang membuat mereka berkelahi adalah saat yang tepat untuk mengajari mereka tentang manajemen konfik.

R : Redam Amarah
Berkelahi bagi anak adalah pembelajaran. Marilah kita bimbing mereka dengan sabar dan bijak. Supaya kita bijak dalam membimbing mereka menyelesaikan konflik, maka kita harus meredam amarah kita. Mengapa? Adalah suatu yang wajar apabila ketika sedang marah, maka kata-kata yang keluar pun akan bernada emosional dan kurang bijaksana yang justru akan membuat anak melawan atau di sisi lain menjadi sakit hati.



E : Empati Mendengarkan
Ketika anak dalam keadaan tenang, atau sudah reda amarahnya setelah berkelahi, mari kita bangun komunikasi antara kita dan antara kedua anak yang berkelahi. Dengarkanlah pikiran dan perasaan dari setiap anak. Supaya komunikasi menjadi efektif, kita atur pembicaraan. Buatlah agar ketika satu anak berbicara, maka yang lain harus mendengarkan. Setelah mereka mengungkapkan permasalahan yang ada dan bunda bisa benar-benar paham, baru berikan nasihat dengan teknik N di kotak bawah.

N : Notifikasi Pembicaraan dan Tindakan
1. Silakan bahas tentang cara yang benar dalam menyelesaikan konflik. Yang dibahas di sini adalah materi kamunikasi efektif, belajar berbagi, belajar memahamii perasaan orang lain, cara mengungkapkan marah yang tepat, dll. Selalu pilih kata-kata yang dapat dipahami oleh anak sesuai dengan usia dan dasar pengetahuan.

2. Sampaikan perilaku baik tentang keharusan meminta maaf dengan ucapan dan tindakan setelah berkelahi. Jika dua-duanyanya bersalah, misalnya kakak merebut mainan adik berarti kakak harus minta maaf karena merebut mainan adik dan mengembalikan mainan tersebut. Jika adik memukul kakak karena merebut mainan, maka adik harus minta maaf karena memukul kakak.

3. Mengendalikan emosi memerlukan latihan. Untuk membantu latihan ini pada anak, maka mereka perlu dikenalkan dengan teknik menenangkan diri (time out). Teknik ini sudah dibahas di forum konsultasi Al Hikmah Edisi 44. Ketika kedua anak berkelahi, maka yang di-time out adalah kedua anak. Pastikan bunda menghindari penjelasan yang panjang dan emosi ketika melaksanakan teknik ini. Pembahasan diadakan dalam kondisi anak benar-benar tenang.

T: Tanamkan Energi Positif
Berikan predikat-predikat positif (anak pintar, anak sholeh, anak baik, anak sabar, dll), ucapkan hal itu sesering mungkin di setiap pertemuan dengan nanda. Hindari predikat negatif : nakal, jahat, suka merebut, tidak adil, dll.

I: Istiqomah
Lakukan latihan mengatasi konflik ini dengan istiqomah. Silakan bekerja sama dengan pasangan dan komponen pengasuhan lain terutama dalam menerapkan teknik time out bila nanda tidak bisa dihentikan maksimal 3 kali teguran/peringatan yang kita sampaikan.

NG : MenNGadakan Time out
Time out dilakukan jika anak berkelahi tapi tidak bisa berhenti walaupun sudah diberi teguran. Berkelahi ini berbeda dengan berebutan mainan. Jika hanya berebutan mainan, kita bisa membuat konsekuensi selain time out, misalnya mainan yang membuat anak berebut kita ambil dengan penjelasan : “Sepertinya ada mainan ini membuat kalian rebut, jadi kita simpan saja. Jika memang mau memainkan bersama, dan tidak berebutan, silakan minta bunda untuk mengambilkan kembali”.. Berkelahi ini perlu time out karena perlu dihentian dengan cepat, karena perkelahian ini bisa membahayakan kedua anak yang berkelahi.

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)