Kamis, 29 April 2010

Free, Undangan Talkshow Internet Aman, Sehat & Produktif

Segera bergabung di www.indi-smart.com


UNDANGAN


Yth bapak/ibu orangtua & pendidik,

Internet telah menjadi suatu hal yang umum di masa kini. Internet terdapat di mana-mana dan semakin banyak  digunakan orang. Putra-putri kita termasuk generasi yang akrab dengan internet. Disamping manfaat yang berlimpah, internet juga dapat membawa kerusakan yang fatal jika tidak diarahkan kepada hal yang positif dan membangun. Karenanya, diperlukan panduan praktis kepada seluruh orangtua dan pendidik mengenai bagaimana berinternet secara sehat.


Untuk memberikan panduan praktis tersebut, kami mengundang bapak/Ibu untuk hadir di acara: talkshow ICT Parenting, yang akan diselenggarakan di Aula timur Instistut Teknologi Bandung, Jl Ganesha No. 10, Bandung pada hari Rabu, 5 Mei 2010, pukul 13.30-16.00 WIB.


Topik dan Pembicara:
  1. 1.       Tauhid Nur Azhar (mendampingi anak di jaman internet)
  2. 2.       Dina Suryandari (Tips Berinternet sehat)
  3. 3.       Widi Nugroho (Konten Edukatif persembahan Telkom), dalam konfirmasi
  4. 4.       Yose Andrea & Anne Wilhart (Perencanaan pendidikan Anak)



Acara ini bersifat gratis dan terbuka untuk umum, namun peserta diharuskan melakukan konfirmasi pendaftaran melalui nomor telepon 022-71294696.  

Selasa, 27 April 2010

Indismart & BNI SMS Payment


Segera bergabung di www.indi-smart.com


Berlangganan Indismart Lebih Mudah
via BNI SMS Payment




BNI SMS Payment memudahkan pengguna SMS Banking BNI untuk membayar biaya berlangganan Indismart dengan menggunakan telepon seluler. Cara ini berlaku untuk transaksi online maupun melalui telepon (on call service). Anda hanya menggunakan telepon seluler sebagai alat otoriasi pembayaran.



Dua Langkah Mudah

Pembayaran. Kunjungi website Indismart, klik daftar, isi data yang diminta, klik pembayaran melalui bni sms payment, lalu masukkan dua jenis data yaitu: Nomor telepon selular & 4 angka terakhir dari nomor kartu debit BNI. Dalam transaksi pembelian melalui On Call Service, konsumen hanya perlu menyebutkan nomor telepon seluler dan 4 digit nomor kartu debit BNI mereka. Call center akan memasukkan nomor tersebut ke dalam POS system yang secara langsung akan terhubung dengan sistem BNI MOTION.

Otorisasi. Segera setelah itu, konsumen akan mendapatkan SMS dari BNI yang berisi tagihan terhadap pembelian yang baru saja dilakukan. Konsumen mem-forward (meneruskan kembali) SMS tersebut setelah menambahkan PIN SMS Banking mereka (yang telah diperoleh sebelumnya dengan melakukan registrasi di ATM BNI) ke SMS Gateway BNI. Selanjutnya, BNI akan memverifikasi SMS personal tersebut dan langsung memvalidasi transaksi.



Indismart Gratis bagi Nasabah Baru
Tapenas (Tabungan Pendidikan Anak Sekolah)

Untuk yang ingin mendapatkan akun gratis selama setahun penuh, silakan Anda membuka rekening Tapenas di kantor-kantor pelananan BNI di Bandung.

Jumat, 23 April 2010

Undangan dari Prof Yohanes Surya, ASEC 2010 untuk Remaja

Segera bergabung di www.indi-smart.com





Yth. Bapak/Ibu Kepala Sekolah

No. : 065/SI/III/2010
Perihal : Undangan bagi siswa/i untuk mengikuti ASEAN Science Enterprise Challenge (ASEC) 2010

Dengan hormat,
Sehubungan dengan pelaksanaan lomba technopreneur untuk remaja, ASEAN Science Enterprise Challenge (ASEC), kami mengundang siswa-siswi di sekolah yang Bapak/Ibu pimpin untuk ikut berpartisipasi menunjukkan dan menggali potensi masing-masing.

Lomba ini akan diselenggarakan pada tanggal 28 – 31 Mei 2010 (lokasi Jabodetabek, tempat masih dalam konfirmasi), dengan biaya pendaftaran Rp 500.000,- per siswa. Lomba ini merupakan kerjasama antara Surya Institute (didirikan oleh Prof. Yohanes Surya, Ph.D.) dengan United in Diversity (didiririkan oleh MIT Sloan School of Management, Universitas Indonesia, dan Sinar Harapan). Pemenang ASEC (tim terdiri dari 6 siswa pilihan) dari Indonesia bersama pemenang dari negara ASEAN lainnya akan mengikuti Global Enterprise Challenge (GEC) di Bali pada tanggal 13-16 Juni 2010.

Lomba ini adalah lomba inovasi dan kewirausahaan di bidang sains yang mendayagunakan teknologi internet, serta mencakup kompetisi global. ASEC maupun GEC akan memberikan tantangan yang harus diselesaikan dalam waktu 24 jam. Siswa-siswi dari seluruh dunia ditantang untuk bekerja sama dalam tim untuk merancang suatu prototipe dan studi kelayakan untuk sebuah produk yang bisa dipasarkan dan memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh profesor dari Massachusetts Institute of Technology/MIT (untuk ASEC) dan oleh NASA, serta Careers Scotland (untuk GEC). Tantangan yang ditampilkan menuntut inovasi teknologi dengan kepekaan sosial dan bersifat kecintaan pada lingkungan hidup atau nature friendly. Diharapakan siswa-siswi yang akan mengikuti ASEC maupun GEC memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik.

Kami menunggu peran serta Bapak/Ibu sekalian dalam ajang pengembangan jiwa enterpreneurship anak bangsa, masa depan kita. Silahkan hubungi asec-gec2010@ suryainstitute. org atau (ph) +62 21 531 63394 -98/ (f) +62 21 531 621 97 untuk informasi lebih lanjut.
Atas perhatian Bapak/Ibu, kami sampaikan terima kasih.
Salam hormat,

Prof. Yohanes Surya, Ph.D. Laksamana Muda Rosihan Arsyad
Vice Chairman ASEC 2010 Indonesia Chairman ASEC 2010 Indonesia
Ketua Dewan Pembina President
Surya Institute

Senin, 19 April 2010

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Segera bergabung di www.indi-smart.com
disusun oleh Akhmad Sudradjat

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/04/17/konsep-penilaian-kinerja-kepala-sekolah/




1. Pengertian Kinerja

Istilah kinerja atau prestasi kerja berasal dari kata job performance yaitu prestasi kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja diartikan juga sebagai tingkat atau derajat pelaksanaan tugas seseorang atas dasar kompetensi yang dimilikinya. Istilah kinerja tidak dapat dipisahkan dengan bekerja karena kinerja merupakan hasil dari proses bekerja. Dalam konteks tersebut maka kinerja adalah hasil kerja dalam mencapai suatu tujuan atau persyaratan pekerjaan yang telah ditetapkan. Kinerja dapat dimaknai sebagai ekspresi potensi seseorang berupa perilaku atau cara seseorang dalam melaksanakan tugas, sehingga menghasilkan suatu produk (hasil kerja) yang merupakan wujud dari semua tugas serta tanggung jawab pekerjaan yang diberikan kepadanya.


Kinerja dapat ditunjukkan seseorang misalnya guru atau kepala sekolah atau pengawas sekolah, dapat pula ditunjukkan pada unit kerja atau organisasi tertentu misalnya sekolah, lembaga pendidikan, kursus-kursus, dll. Atas dasar itu maka kinerja diartikan sebagai hasil kerja yang dicapai seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai wewenang dan tanggungjawabnya masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang bersangkutan. Tulisan ini difokuskan pada penilaian kinerja kepala sekolah.

Berdasarkan pengertian tersebut, yang dimaksud dengan kinerja kepala sekolah adalah hasil kerja yang dicapai kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggungjawabnya dalam mengelola sekolah yang dipimpinnya. Hasil kerja tersebut merupakan refleksi dari kompetensi yang dimilikinya. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa kinerja kepala sekolah ditunjukkan dengan hasil kerja dalam bentuk konkrit, dapat diamati, dan dapat diukur baik kualitas maupun kuantitasnya. Kinerja kepala sekolah dalam tulisan ini diukur dari tiga aspek yaitu: (a) perilaku dalam melaksanakan tugas yakni perilaku kepala sekolah pada saat melaksanakan fungsi-fungsi manajerial, (b) cara melaksanakan tugas dalam mencapai hasil kerja yang tercermin dalam komitmen dirinya sebagai refleksi dari kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial yang dimilikinya, dan (c) hasil dari pekerjaannya yang tercermin dalam perubahan kinerja sekolah yang dipimpinnya. Ketiga aspek di atas menjadi ranah dari penilaian kinerja kepala sekolah yang dikembangkan dalam tulisan ini.

2. Penilaian Kinerja

Penilaian adalah suatu proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data sebagai bahan dalam rangka pengambilan keputusan. Dengan demikian dalam setiap kegiatan penilaian ujungnya adalah pengambilan keputusan. Berbeda dengan penelitian yang berujung pada pemecahan masalah. Penilaian kinerja merupakan sistem formal yang digunakan untuk menilai kinerja kepala sekolah secara periodik yang ditentukan oleh organisasi. Hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka pengembangan pegawai, pemberian reward, perencanaan pegawai, pemberian konpensasi dan motivasi. Setiap pegawai di lingkungan organisasi mana pun sudah tentu memiliki tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya sesuai dengan deskripsi tugas yang diberikan pimpinan organisasi.

Berdasarkan rumusan di atas maka penilaian kinerja kepala sekolah adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data tentang kualitas pekerjaan kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagai kepala sekolah. Tugas pokok kepala sekolah adalah melaksanakan fungsi-fungsi manajerial dalam rangka mencapai visi, misi dan tujuan sekolah yang dipimpinnya. Kinerja kepala sekolah TK dinilai oleh pengawas TK, kinerja kepala sekolah SD dinilai oleh pengawas SD dan kinerja kepala sekolah SMP dinilai oleh pengawas SMP.

Penilaian kinerja kepala sekolah sebagaimana dikemukakan di atas tidak hanya berkisar pada aspek karakter individu melainkan juga pada hal-hal yang menunjukkan proses dan hasil kerja yang dicapainya seperti kualitas, kuantitas hasil kerja, ketepatan waktu kerja, dan sebagainya. Apa yang terjadi dan dikerjakan kepala sekolah merupakan sebuah proses pengolahan input menjadi output tertentu. Atas dasar itu terdapat tiga komponen penilaian kinerja kepala sekolah yakni:
Penilaian input, yaitu kemampuan atau kompetensi yang dimiliki dalam melakukan pekerjaannya. Orientasi penilaian difokuskan pada karakteristik individu sebagai objek penilaian dalam hal ini adalah komitmen kepala sekolah terhadap pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Komitmen tersebut merupakan refleksi dari kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial kepala sekolah.
Penilaian proses, yaitu penilaian terhadap prosedur pelaksanaan pekerjaan. Orientasi pada proses difokuskan kepada perilaku kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok fungsi dan dan tanggung jawabnya yakni melaksanakan fungsi manajerial dan fungsi supervisi pada sekolah yang dipimpinnya.
Penlaian output, yaitu penilaian terhadap hasil kerja yang dicapai dari pelaksanaan tugas pokok, fungsi dan tanggungjawabnya. Orientasi pada output dilihat dari perubahan kinerja sekolah terutama kinerja guru dan staf sekolah lain yang dipimpinnya.

Penekanan penilaian terhadap ketiga komponen di atas memungkinkan terjadinya penilaian kinerja yang obyektif dan komprehensif. Terkait ketiga komponen penilaian di atas terdapat lima prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan penilaian kinerja yaitu:
Relevance, artinya aspek-aspek yang diukur dalam penilaian kinerja terkait dengan pekerjaanya baik input, proses, maupun outputnya (hasil kerja yang dicapai).
Sensitivity, artinya sistem penilaian yang digunakan peka dalam membedakan antara kepala sekolah yang berprestasi tinggi dengan yang berprestasi rendah.
Reliability, artinya alat dan sistem penilaian yang digunakan dapat diandalkan, dipercaya sebagai tolok ukur yang obyektif, akurat, dan konsisten.
Acceptability, artinya sistem penilaian yang digunakan harus dapat dimengerti dan diterima oleh pihak penilai ataupun pihak yang dinilai dan memfasilitasi komunikasi aktif dan konstruktif antara keduanya.
Practicality, artinya semua instrumen penilaian termasuk pengolahan dan analisis data hasil penilaian mudah digunakan.

Untuk memenuhi persyaratan tersebut, sistem penilaian kinerja setidaknya mempunyai dua elemen pokok yaitu: (a) spesifikasi tugas yang harus dikerjakan dan kriteria yang dapat memberikan penjelasan bagaimana kinerja yang baik (good performance), dan (b) adanya mekanisme untuk pengumpulan informasi dan pelaporan mengenai terpenuhi atau tidaknya perilaku yang terjadi dalam kenyataan dibandingkan dengan kriteria yang ditetapkan.

Secara komprehensif, proses penilaian kinerja kepala sekolah sekolah mencakup: (a) penetapan standar atau kriteria kinerja, (b) membandingkan kinerja aktual dengan standar tersebut, dan (c) memberikan umpan balik dari hasil penilaian untuk meningkatkan kinerjanya.

Dalam upaya mendapatkan manfaat optimal penilaian kinerja kepala sekolah, paling tidak terdapat lima aspek yang dapat dijadikan ukuran penilaian yaitu:
Quality of work – kualitas hasil kerja
Promptness – ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan
Initiative – prakarsa dalam menyelesaikan pekerjaan
Capability – kemampuan menyelesaikan pekerjaan
Comunication – kemampuan membina kerjasama dengan pihak lain.

Dalam menilai kelima aspek kinerja di atas, perlu diperhatikan lima hal berikut ini:
Penilaian kinerja harus mempunyai hubungan dengan pekerjaan/tugas pokok dan fungsinya.
Sistem penilaian kinerja benar-benar menilai perilaku atau hasil kerja yang mendukung kegiatan pengembangan mutu sekolah.
Adanya standar minimal yang harus dicapai dalam pelaksanaan tugas secara rinci dan jelas. Standar pelaksanaan tugas adalah ukuran normatif yang dipakai untuk menilai kinerja tersebut.
Penilaian kinerja akan berjalan dengan efektif apabila menggunakan instrumen yang valid dan reliabel. Valid artinya menilai apa yang seharusnya dinilai, reliabel artinya keajegan hasil penilaian.
Prosedur penilaian kinerja dibuat secara sederhana sehingga mudah dipahami, dilaksanakan, diolah dan mudah digunakan.

3. Tujuan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Penilaian kinerja kepala sekolah bertujuan untuk:
Memperoleh data tentang pelaksanaan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab kepala sekolah dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajerial dan supervisi/pengawasan pada sekolah yang dipimpinnya.
Memperoleh data hasil pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai peminpin sekolah.
Menentukan kualitas kerja kepala sekolah sebagai dasar dalam promosi dan penghargaan yang diberikan kepadanya.
Menentukan program peningkatan kemampuan profesional kepala sekolah dalam konteks peningkatan mutu pendidikan pada sekolah yang dipimpinnya.
Menentukan program umpan balik bagi peningkatan dan pengembangan diri dan karyanya dalam konteks pengembangan karir dan profesinya.

Hasil penilaian kinerja akan bermanfaat bagi kepala dinas pendidikan dalam menentukan promosi, penghargaan, mutasi dan pembinaan lebih lanjut.

4. Aspek Penilaian Kinerja Kepala Sekolah

Aspek yang dinilai dalam penilaian kinerja kepala sekolah dapat mencakup tiga dimensi yakni: (a) komitmen terhadap tugas, (b) pelaksanaan tugas, dan (c) hasil kerja. Komitmen terhadap tugas sebagai aktualisasi dari kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial kepala sekolah. Pelaksanaan tupoksi sebagai aktualiasi dari kompetensi manajerial, kompetensi supervisi dan kompetensi kewirausahaan yang dimiliki kepala sekolah Sedangkan hasil kerja merupakan dampak dari pelaksanaan tugas pokok kepala sekolah sebagai refleksi dari semua dimensi kompetensi kepala sekolah.

Berkenaan dengan tugas pokok kepala sekolah ini, pada semua jenjang pendidikan tugas kepala sekolah akan mencakup tiga bidang, yaitu: (a) tugas manajerial, (b) supervisi dan (c) kewirausahaan.

Tugas kepala sekolah dalam bidang manajerial berkaitan dengan pengelolaan sekolah, sehingga semua sumber daya dapat disediakan dan dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Tugas manajerial ini meliputi aktivitas sebagai berikut: (1) menyusun perencanaan sekolah; (2) mengelola program pembelajaran; (3) mengelola kesiswaan; (4) mengelola sarana dan prasarana; (5) mengelola personal sekolah; (6) mengelola keuangan sekolah; (7) mengelola hubungan sekolah dan masyarakat; (8) mengelola administrasi sekolah; (9) mengelola sistem informasi sekolah; (10) mengevaluasi program sekolah; dan memimpin sekolah.

Selain tugas manajerial, kepala sekolah juga memiliki tugas pokok melakukan supervisi terhadap pelaksanaan kerja guru dan staf., dengan tujuan untuk menjamin agar guru dan staf bekerja dengan baik serta menjaga mutu proses maupun hasil pendidikan di sekolah. Dalam tugas supervisi ini tercakup kegiatan-kegiatan: (1) merencanakan program supervisi; (2) melaksanakan program supervisi; dan (3) menindaklanjuti program supervisi.

Di samping tugas manajerial dan supervisi, kepala sekolah juga memiliki tugas kewirausahaan. Tugas kewirausahaan ini tujuannya adalah agar sekolah memiliki sumber-sumber daya yang mampu mendukung jalannya sekolah, khususnya dari segi finansial. Selain itu juga agar sekolah membudayakan perilaku wirausaha di kalangan warga sekolah, khususnya para siswa.

Untuk dapat melaksanakan tugas pokok tersebut, seorang kepala sekolah dituntut memiliki sejumlah kompetensi. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah telah ditetapkan bahwa terdapat 5 (lima) dimensi kompetensi yang seyogyanya dikuasai oleh kepala sekolah, yaitu: (a) kompetensi kepribadian, (b)  kompetensi manajerial, (c) kompetensi kewirausahaan, (d) kompetensi supervisi, dan (e)kompetensi  sosial.

Sumber:

  • Diambil dan disarikan dari. Surya Dharma, MPA., Ph.D. 2008, Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (Materi Diklat Peningkatan Kompetensi Pengawas Sekolah. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional


DAFTAR PUSTAKA
  • Bacal Robert. 2005. Performance Management (alih bahasa oleh Surya Dharma). Jakarta: PT Sun.
  • Castetter, William B. 1996. The Human Resourse Function in Educational Administration. Columbus, Ohio: Merril, Englewood Cliffs, New Jersey.
  • Cony Semiawan. 1982. Prinsip dan Teknik Pengukuran dan Penilaian di dalam Dunia Pendidikan. Jakarta: Mutiara.
  • Nana Sudjana, R. Ibrahim. 2000. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
  • Penilaian Kinerja Kepala Sekolah dan Guru yang Bekerja di Swasta. www. dikdasmen.org
  • Sudirman M. Chon. 2006. Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah Menengah Kejuruan. www.dikmenjur.freehosting.net.
  • Surya Dharma. 2005. Manajemen Kinerja: Falsafah Teori dan Penerapannya. Jakarta: Pustaka Pelajar.
  • Tilaar, H. A. R. 1997. Manajemen Pendidikan Nasional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Winardi. 1992. Manajemen Perilaku Organisasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Selasa, 13 April 2010

Renungan: Sekolah Para Binatang (by Dr. Thomas Amstrong)

Segera bergabung di www.indi-smart.com


Kisah Sekolah Para Binatang (by Dr. Thomas Amstrong)


Syahdan di tengah-tengah hutan belantara Sumatera berdirilah sebuah sekolah untuk para binatang dengan status “disamakan dengan manusia”, sekolah ini dikepalai oleh seorang manusia. Karena sekolah tersebut berstatus “disamakan”, maka tentu saja kurikulumnya juga harus mengikuti kurikulum yang sudah standar dan telah ditetapkan untuk manusia.

Kurikulum tersebut mewajibkan bahwa untuk bisa lulus dan mendapatkan ijazah ; setiap siswa harus berhasil pada lima mata pelajaran pokok dengan nilai minimal 8 pada masing-masing mata pelajaran.Adapun kelima mata pelajaran pokok tersebut adalah; Terbang, Berenang, Memanjat, Berlari dan Menyelam
Mengingat bahwa sekolah ini berstatus “Disamakan dengan manusia”, maka para binatang berharap kelak mereka dapat hidup lebih baik dari binatang lainya, sehingga berbondong-bondonglah berbagai jenis binatang mendaftarkan diri untuk bersekolah disana; mulai dari; Elang, Tupai, Bebek, Rusa dan Katak
Proses belajar mengajarpun akhirnya dimulai, terlihat bahwa beberapa jenis binatang sangat unggul dalam mata pelajaran tertentu; Elang sangat unggul dalam pelajaran terbang; dia memiliki kemampuan yang berada diatas binatang-binatang lainnya dalam hal melayang di udara, menukik, meliuk-liuk, menyambar hingga bertengger didahan sebuah pohon yang tertinggi.

Tupai sangat unggul dalam pelajaran memanjat; dia sangat pandai, lincah dan cekatan sekali dalam memanjat pohon, berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Hingga mencapai puncak tertinggi pohon yang ada di hutan itu.
Sementara bebek terlihat sangat unggul dan piawai dalam pelajaran berenang, dengan gayanya yang khas ia berhasil menyebrangi dan mengitari kolam yang ada didalam hutan tersebut.

Rusa adalah murid yang luar biasa dalam pelajaran berlari; kecepatan larinya tak tertandingi oleh binatang lain yang bersekolah di sana. Larinya tidak hanya cepat melainkan sangat indah untuk dilihat.
Lain lagi dengan Katak, ia sangat unggul dalam pelajaran menyelam; dengan gaya berenangnya yang khas, katak dengan cepatnya masuk kedalam air dan kembali muncul diseberang kolam.
Begitulah pada mulanya mereka adalah murid-murid yang sangat unggul dan luar biasa dimata pelajaran tertentu. Namun ternyata kurikulum telah mewajibkan bahwa mereka harus meraih angka minimal 8 di semua mata pelajaran untuk bisa lulus dan mengantongi ijazah.

Inilah awal dari semua kekacauan.itu; Para binatang satu demi satu mulai mempelajari mata pelajaran lain yang tidak dikuasai dan bahkan tidak disukainya.
Burung elang mulai belajar cara memanjat, berlari, namun sayang sekali untuk pelajaran berenang dan menyelam meskipun telah berkali-kali dicobanya tetap saja ia gagal; dan bahkan suatu hari burung elang pernah pingsan kehabisan nafas saat pelajaran menyelam.

Tupaipun demikian; ia berkali-kali jatuh dari dahan yang tinggi saat ia mencoba terbang. Alhasil bukannya bisa terbang tapi tubuhnya malah penuh dengan luka dan memar disana-sini.
Lain lagi dengan bebek, ia masih bisa mengikuti pelajaran berlari meskipun sering ditertawakan karena lucunya, dan sedikit bisa terbang; tapi ia kelihatan hampir putus asa pada saat mengikuti pelajaran memanjat, berkali-kali dicobanya dan berkali-kali juga dia terjatuh, luka memar disana sini dan bulu-bulunya mulai rontok satu demi satu.

Demikian juga dengan binatang lainya; meskipun semua telah berusaha dengan susah payah untuk mempelajari mata pelajaran yang tidak dikuasainya, dari pagi hingga malam, namun tidak juga menampakkan hasil yang lebih baik.
Yang lebih menyedihkan adalah karena mereka terfokus untuk dapat berhasil di mata pelajaran yang tidak dikuasainya; perlahan-lahan Elang mulai kehilangan kemampuan terbangnya; tupai sudah mulai lupa cara memanjat, bebek sudah tidak dapat lagi berenang dengan baik, sebelah kakinya patah dan sirip kakinya robek-robek karena terlalu banyak berlatih memanjat. Katak juga tidak kuat lagi menyelam karena sering jatuh pada saat mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Dan yang paling malang adalah Rusa, ia sudah tidak lagi dapat berlari kencang, karena paru-parunya sering kemasukan air saat mengikuti pelajaran menyelam.

Akhirnya tak satupun murid berhasil lulus dari sekolah itu; dan yang sangat menyedihkan adalah merekapun mulai kehilangan kemampuan aslinya setelah keluar dari sekolah. Mereka tidak bisa lagi hidup dilingkungan dimana mereka dulu tinggal, ya.... kemampuan alami mereka telah terpangkas habis oleh kurikulum sekolah tersebut. Sehingga satu demi satu binatang-binatang itu mulai mati kelaparan karena tidak bisa lagi mencari makan dengan kemampuan unggul yang dimilikinya..

Tidakkah kita menyadari bahwa sistem persekolahan manusia yang ada saat inipun tidak jauh berbeda dengan sistem persekolahan binatang dalam kisah ini. Kurikulum sekolah telah memaksa anak-anak kita untuk menguasai semua mata pelajaran dan melupakan kemampuan unggul mereka masing-masing. Kurikulum dan sistem persekolahan telah memangkas kemampuan alami anak-anak kita untuk bisa berhasil dalam kehidupan menjadi anak yang hanya bisa menjawab soal-soal ujian.


Akankah nasib anak-anak kita kelak juga mirip dengan nasib para binatang yang ada disekolah tersebut?

Bila kita kaji lebih jauh produk dari sistem pendidikan kita saat ini bahkan jauh lebih menyeramkan dari apa yang digambarkan oleh fabel tersebut; bayangkan betapa para lulusan dari sekolah saat ini lebih banyak hanya menjadi pencari kerja dari pada pencipta lapangan kerja, betapa banyak para lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang digelutinya selama bertahun-tahun, sebuah pemborosan waktu, tenaga dan biaya. Betapa para lulusan sekolah tidak tahu akan dunia kerja yang akan dimasukinya, jangankan kemapuan keahlian, bahkan pengetahuan saja sangatlah pas-pasan, betapa hampir setiap siswa lanjutan atas dan perguruan tinggi jika ditanya apa kemampuan unggul mereka, hampir sebagian besar tidak mampu menjawab atau menjelaskannya.

Begitupun setelah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan, berapa banyak dari mereka yang tidak memberikan unjuk kerja yang terbaik serta berapa banyak dari mereka yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaanya.

Belum lagi kita bicara tentang carut marut dunia pendidikan yang kerapkali dihiasi tidak hanya oleh tawuran pelajar melainkan juga tawuran mahasiswa. Luar biasa “Maha Siswa” julukan yang semestinya dapat dibanggakan dan begitu agung karena Mahasiswa adalah bukan siswa biasa melainkan siswa yang “Maha”. Namun nyatanya ya Tawuran juga. Masihkah kita bisa berharap dari para pelajar kita yang seperti ini. Dan seperti apa potret negeri kita kedepannya dengan melihat potret generasi penerusanya saat ini?

Apa yang menjadi biang keladi dari kehancuran sistem pendidikan di negeri ini...?
1. Sistem yang tidak menghargai proses
Belajar adalah proses dari tidak bisa menjadi bisa. Hasil akhir adalah buah dari kerja setiap proses yang dilalui. Sayangnya proses ini sama sekali tidak dihargai; siswa tidak pernah dinilai seberapa keras dia berusaha melalui proses. Melainkan hanya semata-mata ditentukan oleh ujian akhir. Keseharian siswa dalam belajar tidak ada nilainya, jadi wajar saja apa bila suatu ketika ada siswa yang berkata bahwa yang penting ujian akhir bisa, gak perlu masuk setiap hari.

2. Sistem yang hanya mengajari anak untuk menghafal bukan belajar dalam arti sesunguhnya
Apa beda belajar dengan menghafal; Produk dari sebuah pembelajaran kemampuan atau keahlian yang dikuasai terus menerus. Contoh yang paling sederhana adalah pada saat anak belajar sepeda. Mulai dari tidak bisa menjadi bisa, dan setelah bisa ia akan bisa terus sepanjang masa. Sementara produk dari menghafal adalah ingatan jangka pendek yang dalam waktu singkat akan cepat dilupakan. Perbedaan lain bahwa belajar membutuhkan waktu lebih panjang sementara menghafal bisa dilakukan hanya dalam 1 malam saja. Padahal pada hakekatnya Manusia dianugrahi susunan otak yang paling tinggi derajadnya dibanding mahluk manapun didunia. Fungsi tertinggi dari otak manusia tersebut disebut sebagai cara berpikir tingkat tinggi atau HOT; yang direpresentasikan melalui kemampuan kreatif atau bebas mencipta serta berpikir analisis-logis; sementara fungsi menghafal hanyalah fungsi pelengkap. Keberhasilan seorang anak kelak bukan ditentukan oleh kemampuan hafalannya melainkan oleh kemampuan kreatif dan berpikir kritis analisis.

3. Sistem sekolah yang berfokus pada nilai
Nilai yang biasanya diwakili oleh angka-angka biasanya dianggap sebagai penentu hidup dan matinya seorang siswa. Begitu sakral dan gentingnya arti sebuah nilai pelajaran sehingga semua pihak mulai guru, orang tua dan anak akan merasa rasah dan stress jika melihat siswanya mendapat nilai rendah atau pada umumnya dibawah angka 6 (enam).

Setiap orang dikondisikan untuk berlomba-lomba mencapai nilai yang tinggi dengan cara apapun tak perduli apakah si siswa terlihat setangah sekarat untuk mencapainya. Nyatanya toh dalam kehidupan nyata, nilai pelajaran yang begitu dianggung-anggungkan oleh sekolah tersebut tidak berperan banyak dalam menentukan sukses hidup seseorang. Dan lucunya sebagian besar kita dapati anak yang dulu saat masih bersekolah memiliki nilai pas-pasan atau bahkan hancur, justru lebih banyak meraih sukses dikehidupan nyata.

Mari kita ingat-ingat kembali saat kita masih bersekolah dulu; betapa bangganya seseorang yang mendapat nilai tinggi dan betapa hinanya anak yang medapat nilai rendah; dan bahkan untuk mempertegas kehinaan ini, biasanya guru menggunakan tinta dengan warna yang lebih menyala dan mencolok mata.
Sementara jika kita kaji lagi; apakah sesungguhnya representasi dari sebuah nilai yang diagung-agungkan disekolah itu...?Nilai sesungguhnya hanyalah representasi dari kemampuan siswa dalam “menghapal” pelajaran dan terkadang ada juga “subjektifitas” guru yang memberi nilai tersebut terhadap siswanya.

Meskipun kerapkali guru menyangkalnya, cobalah anda ingat-ingat; berapa lama anda belajar untuk mendapatkan nilai tersebut; apakah 3 bulan...? 1 bulan..? atau cukup hanya semalam saja..? Kemudian coba ingat-ingat kembali, jika dulu saat bersekolah, ada diantara anda yang pernah bermasalah dengan salah seorang guru; apakah ini akan mempengaruhi nilai yang akan anda peroleh..?

Jadi mungkin sangat wajar; meskipun kita banyak memiliki orang “pintar” dengan nilai yang sangat tinggi; negeri ini masih tetap saja tertinggal jauh dari negara-negara maju. Karena pintarnya hanya pintar menghafal dan menjawab soal-soal ujian.

4. Sistem pendidikan yang Seragam-sama untuk setiap anak yang berbeda-beda
Siapapun sadar bahwa bila kita memiliki lebih dari 1 atau 2 orang anak; maka bisa dipastikan setiap anak akan berbeda-beda dalam berbagai hal. Andalah yang paling tahu perbedaan-perbedaanya. Namun sayangnya anak yang berbeda tersebut bila masuk kedalam sekolah akan diperlakukan secara sama, diproses secara sama dan diuji secara sama.

Menurut hasil penelitian Ilmu Otak/Neoro Science jelas-jelas ditemukan bahwa satiap anak memiliki kelebihan dan sekaligus kelemahan dalam bidang yang berbeda-beda. Mulai dari Instingtif otak kiri dan kanan, Gaya Belajar dan Kecerdasan Beragam. Sementara sistem pendidikan seolah-oleh menutup mata terhadap perbedaan yang jelas dan nyata tersebut yakni dengan mengyelenggaraan sistem pendidikan yang sama dan seragam. Oleh karena dalam setiap akhir pembelajaran akan selalu ada anak-anak yang tidak bisa/berhasil menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang seragam tersebut.

5. Sekolah adalah Institusi Pendidikan yang tidak pernah mendidik
Sekilas judul ini tampaknya membingungkan; tapi sesungguhnya inilah yang terjadi pada lembaga pendidikan kita.

Apa beda mendidik dengan mengajar...?

Ya.. tepat!, mendidik adalah proses membangun moral/prilaku atau karakter anak sementara mengajar adalah mengajari anak dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi bisa.
Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya prilaku/akhlak yang baik.

Ya..! memang betul dalam kurikulum ada mata pelajaran Agama, Moral Pancasila, Civic dan sebagainya namun dalam aplikasinya disekolah guru hanya memberikan sebatas hafalan saja; bukan aplikasi dilapangan. Demikian juga ujiannya dibuat berbasiskan hafalan; seperti hafalan butir-butir Pancasila dsb. Tidak berdasarkan aplikasi siswa dilapangan seperti praktek di panti-panti jompo; terjun menjadi tenaga sosial, dengan sistem penilaian yang berbasiskan aplikasi dan penilaian masyarakat (user base evaluation).

Bayangkan pernah ada suatu ketika sebuah sekolah SD yang gedungnya bersebelahan dengan rumah penduduk, dan saat itu mereka sedang belajar tentang pendidikan moral, sementara persis di sebelah sekolah tersebut sedang ada yang meninggal dunia, namun anehnya tak ada satupun dari sekelah tersebut yang datang mengirim utusan untuk berbela sungkawa di rumah tersebut. Alih-alih sekolahnya malah ribut sehingga ketua RW setempat sempat menegur pihak sekolah atas kejadian tersebut.

Mungkin wajar saja jika anak-anak kita tidak pernah memiliki nilai moral yang tertanam kuat di dalam dirinya; melainkan hanya nilai moral yang melintas semalam saja dikepalanya dalam rangka untuk dapat menjawab soal-soal ujian besok paginya.

Artikel ini di ambil dari Tulisan Dr. Thomas Amstrong, pemerhati dan praktisi Pendidikan Berbasis Multiple Intelligence dari AS, yang dibuat sekitar tahun 1990an.dan telah disesuaikan dengan konteks Indonesia saat ini.

Mari kita renungkan bersama dengan hati dan nurani kita yang terdalam dan mari kita ambil hikmahnya.


Sumber: Buku Ayah Edy Judul: I love you Ayah, Bunda Penerbit: Hikmah, Mizan Group

Rabu, 07 April 2010

Catatan Kecil dari forum International Teacher Conference


Segera bergabung di www.indi-smart.com


Catatan Kecil International Teacher Conference
Rangkuman posting Omjay, Pak Sopyan, & M. Ihsan di Milis Klub Guru Indonesia
International Teachers Conference and Education Exhibition 2010 (ITCEE 2010)
Hotel Sahid Jaya Jakarta selama dua hari, dari 3-4 April 2010.



Tema ITCEE 2010
Tema dari ITCEE kali ini adalah Learning, Sharing, and inspiring in a green environment, Education for 21st Century. Forum ini merupakan ajang bagi para guru untuk saling menceritakan dan bertukar informasi serta pengalaman para guru, saling menginspirasi bagi kemajuan peningkatan kualitas dan profesionalitas guru sehingga dicapai suatu kesepakatan yang bermanfaat dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
Para Peserta ITCEE 2010
Saya pribadi mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada redaksi majalah guruku yang telah mengundang saya sebagai kontributor untuk hadir dalam kegiatan ini. Apalagi pak Ismet Hasan Putro, pimpinan redaksi majalah guruku dalam sambutannya mengatakan pentingnya para guru untuk saling berbagi dan berkolaborasi dalam memajukan pendidikan di Indonesia.
ITCEE 2010 ini dibuka oleh Prof Dr. Fuad Hamid, dari deputy Menkokesra. Sedianya acara ini akan dibuka oleh presiden SBY, namun pak SBY berhalangan hadir dan terus terang ini membuat saya dan rekan-rekan guru agak sedikit kecewa. Sebab dalam daftar acara jelas tertulis, bahwa akan ada dialog dengan presiden SBY. Tentu akan sangat senang sekali bila pak SBY bisa hadir dihadapan 1000 orang guru yang memenuhi ruangan Puri Agung Lantai 2 Hotel Sahid Jaya Jakarta.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Fuad Hamid mengatakan bahwa kemiskinan dan pengangguran, tanggap cepat terhadap bencana, konflik sosial, dan investasi SDM menjadi fokus kita dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu diperlukan SDM unggul yang mampu untuk bersaing dalam dunia pendidikan sebagai investasi penting di masa yang akan datang. Termasuk di dalamnya profesionalisme guru dan peningkatan kualitas pendidikan di negara ini.
Dr. Arturo Acosta
Setelah sambutan dari deputy Menkokesra, Dr. Arturo Acosta, dari USAID USA memberikan paparannya tentang pendidikan di Amerika Serikat. beliau mengatakan bahwa guru yang berkualitas akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas pula, dan oleh karena itu, para guru di amerika serikat selalu melakukan proses "update diri" untuk lebih profesional dalam tugasnya sebagai pendidik.
Pemaparan beliau ini sangat menarik, dan membuat guru banyak bertanya tentang pendidikan di negera adidaya itu. Apalagi tema yang dibawakannya adalah Regulations on Teachers Profesionalism Development and impact on Education Quality. Mampu mempresentasikan dengan baik tentang Mapping America's Progress in education in the Era of No Child Left Behind.
Prof Fasli Djalal (Wakil Mendiknas) didampingi PimRed Majalah Guru sedang berbincang-bincang dengan penjaga stand dari Universitas Cambridge Buat saya yang hanya mahir dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda (hahahaha) tentu mengalami kesulitan memahami omongan orang bule ini yang seperti orang kumur-kumur. Untunglah ada penterjemah yang mampu mengartikan kepada kami para guru yang belum begitu lancar dalam bahasa Inggrisnya, sehingga memahami apa yang beliau paparkan. Intinya beliau memuji Indonesia yang banyak sekali sekolahnya dan juga pelajarannya. Membuat para guru di Amerika harus banyak belajar dari Indonesia, hahahahaa (Nggak salah Tuh?).
Tanggal 3 April 2010 saya berusaha menyempatkan diri untuk menghadiri  undangan International Teacher Conference yang diadakan oleh Majalah Guruku bersama Bakti BUMN. Sebuah perhelatan yang megah karena diselenggarakan di Hotel Sahid dengan pembicara lokal (para birokrat departemen dan pemimpin beberapa BUMN), ada Pak Johanes Surya, dan hampir di setiap sesi ada pembicara asing. Sayang RI-1 tidak datang, katanya sih lagi sibuk di hajatannya Abu Rizal Bakri... hmmmm selalu begitu ya.
Setelah pembukaan, kegiatan selanjutnya adalah presentasi dari Mr. Dacosta dari USAID yang bercerita tentang perbandingan sekolah di Amrik dengan di Indonesia. Dia menjadi sangat paham karena memang kerjaan dia adalah membuat pelatihan di berbagai daerah di Indonesia dengan DBE nya. Sayang... hanya sebatas statistik dan tidak menukik kepada sesuatu yang lebih dalam. Jadinya hanya sebatas informasi saja. Kegiatan selanjutnya adalah presentasi dari perwakilan Dirjen Pendidikan Islam Kementrian Agama. Judulnya keren banget mengenai strategi pengembangan madrasah. Isinya? Melulu masalah pendidikan di Kementrian Agama, kurang sdm lah, bangunan rusak, guru malas, dan seabrek masalah... Walah, kirain gak gitu ya... (sayang gak bisa nanya... kalau saja dapet... aku hajar dengan pertanyaan segambreng).
Selanjutnya talk show Wakil Mendiknas Bapak Fasli Jalal. Nah... kalau ini lumayan enak didengarkan. Selain presenternya juga menyenangkan, topik yang disampaikannya juga cukup menarik. program-program dan janji pembenahan menjadi sorotan. Bahkan beliau nantangin kalau ada kecurangan-kecurang an. Tapi lagi-lagi ujungnya formalitas.. . hmmm susah ya dapat kesempatan diskusi intensif. Harus main ke kantornya sepertinya.
Setelah makan siang dan melihat galeri stand yang cukup wah.... Saya mendengarkan presentasi dari Pak Johanes Surya. Tapi topiknya  perasaan selalu sama. Dia selalu ngomong "Tidak ada murid bodoh jika gurunya OK dan metodenya OK". Tapi secara umum dia cukup menarik untuk didengarkan. Apalagi dari daerah lain pasti dahsyat mendengarkan salah satu icon olimpiade IPA. Ia bercerita bahwa:
·         ada 10% anak yang Auditory
·         ada 30% anak yang visual
·         ada 60% anak yang kinestetik.. ..

Pudak Scientific, Total dalam Melayani Penyediaan Alat Peraga IPA

Segera bergabung di www.indi-smart.com



Pudak Scientific adalah produsen dan penyedia bermacam Alat Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (Basic Science) berkualitas tinggi yang mencakup bidang: Kimia, Fisika (Elektronika, Mekanika dan Optika), Biologi dan Peralatan Kejuruan (Vocational Training). Produk yang dihasilkan mencakup jenjang pendidikan yang luas, mulai dari SD/Madrasah Ibtidaiyah, SLTP/Madrasah Tsanawiyah, SMU/Madrasah Aliyah, Sekolah Menengah Kejuruan, sampai tingkat Perguruan Tinggi (Politeknik, Universitas, Institut, Akademi dan Sekolah Tinggi).

Pada tingkat SD, produk yang dihasilkan adalah berupa Alat Peraga Pendidikan IPA-SD/MI yang dikemas dalah sebuah Kotak dimana seluruh komponen/instrumen disusun secara terpadu, sehingga dapat dipergunakan untuk melakukan berbagai percobaan bagi para siswa.

Di tingkat SLTP, produk yang dihasilkan juga dikemas dalam bentuk KIT, terdiri dari KIT Kimia, KIT Optika, KIT Mekanika, KIT Listrik dan Magnit, KIT Hidrostatika dan Panas serta KIT Matematika. Terdapat juga peralatan lainnya yang belum dikemas dalam bentuk KIT, atau yang dikategorikan sebagai barang reguler seperti Alat Peraga Kimia dan Peralatan Biologi, maupun juga peralatan reguler untuk Fisika. Contohnya seperti: Mikroskop, Model Manusia, Gambar Biologi, Gelas Kimia, Catu Daya, Model Binatang dan sebagainya.

Untuk tingkat SMU, Pudak Scientific juga mengemas bermacam KIT untuk percobaan, seperti KIT Kimia, KIT Optika, KIT Mekanika, KIT Listrik dan Magnit, KIT Hidrostatika dan Panas, KIT Matematika. Juga terdapat barang-barang reguler yang tidak dikemas dalam bentuk KIT yang ditujukan untuk Kurikulum Sekolah Menengah Umum.

Bagi Sekolah Menengah Kejuruan, tersedia bermacam produk Peralatan Pelatihan Kejuruan (Vocational Training Equipment) yang meliputi: Pelatihan Video Kaset, Pelatihan TV Berwarna, Pelatihan Kaset Rekorder, Pelatihan Gelombang Mikro, Pelatihan Dasar-Dasar Sistem Komunikasi Digital, Pelatihah Opto Elektronika, Pelatihan Elektronika Dasar, Demonstrasi Tenaga Matahari, Pelatihan Otomotif, dan sebaginya.

Pudak Scientific juga menghasilkan alat percobaan untuk tingkat Perguruan Tinggi, seperti Percobaan Electron Beam, Percobaan Milikan Oil Drop, percobaan Franck Hertz, Percobaan Hall Effect dan sebagainya. Selain itu diproduksi juga Alat-Alat Gelas Tahan Panas (Pyrex) melalui kerjasama dengan IWAKI GLASS under license yang dipergunakan sebagai alat bantu riset dan pengukuran, dan produk yang dihasilkan telah dipergunakan secara luas dan sebagian besar telah dieksport keluar negeri.

Adapun sebagian besar produk dari Pudak Scientific dihasilkan sendiri di gedung pabrik seluas 30 ribu meter persegi di kawasan Gedebage, Bandung . Dengan sistem produksi yang terpadu, dan manajemen mutu dan produksi yang baik, Pudak Scientific menghasilkan produk dengan kualitas yang baik dan harga yang kompetitif (quality & price advantage). Bahkan produk Pudak Scientific telah banyak dipergunakan di mancanegara.

Pudak Scientific juga berpartisipasi dalam memberikan tempat Praktek Kerja Lapangan/ Praktek Sistem Ganda bagi para siswa SKM. Sejak tahun 1985, setiap tahun sekitar 400 orang telah melaksanakan PKL/PSG, sehingga sampai sekarang sekitar 5000 siswa SMK telah menyelesaikan pelatihan praktek di Pudak Scientific, dan secara umum para Kepala Sekolah yang mengirimkan siswanya menyimpulkan bahwa mereka merasa puas dengan sistem pelaksanaan PKL/PSG yang diselenggarakan oleh Pudak Scientific.

Pudak Scientific, Manufacturer of Educational Teaching Aids, Laboratory Instruments and Hospital Equipments.



Jl. Pudak No. 4 Bandung 40113
Jawa Barat, Indonesia
+62-22-727-2755
sales@pudak.com
www.pudak.com
www.pudak-machinery.com

Selasa, 06 April 2010

Gratis, Try Out Online untuk Pelajar SD di Indismart


Segera bergabung di www.indi-smart.com


Gratis, Try Out Online untuk Pelajar SD di Indismart




Pada tanggal 7-11 April 2010, Indismart mengadakan try out online di www.indi-smart.com. Try out ini terbuka untuk siswa kelas 6 SD di seluruh Indonesia.  Try out ini digratiskan untuk semua peserta. Peserta akan mengerjakan 4 bidang studi yaitu Bahasa Indonesia (50 soal), IPA (40 soal) dan Matematika (40 soal). Pengerjaan soal dapat dilakukan dalam tiga kali pengerjaan. Untuk setiap bidang studi, peserta akan diberi waktu pengerjaan selama 120 menit per bidang studi tanpa jeda. Soal disajikan dalam bentuk pilihan ganda.

Caranya mengikutinya sangat mudah, peminat mengunjungi website http://tryout.indi-smart.com lalu melakukan pendaftaran dengan mengisi kolom yang diminta. Setelah pendaftaran selesai, peminat langsung bisa melakukan login dan mengikuti try out. Di akhir sesi, peserta dapat melihat hasil pengerjaan soal dengan meng klik menu profil, lalu klik menu rapor anda.



Pemenang akan mendapatkan hadiah menarik dari Indismart dan dari sponsor lain. Untuk yang berminat menyediakan hadiah/sponsorship, silakan menghubungi 081320656905 atau firmanjul@yahoo.com.

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)