Jumat, 06 Mei 2011

Kiat Sukses UN Lulus 100%

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.





Oleh: Wijaya Kusuma

Sebentar lagi ujian nasional (UN) akan dilaksanakan. UN untuk SMA/SMK /MA, dan sederajat lainnya dilaksanakan pada 18 April 2011, dan UN untuk SMP/MTS dan sederajat lainnya dilaksanakan pada 25 April 2011. Tentu sebagai orang tua dan guru kita merasa harap-harap cemas. Takut anak-anak  yang mengikuti UN itu tidak lulus. Kecemasan itu akan terasa bila kita berdiskusi dengan para orang tua, dan guru yang anaknya mengikuti UN tahun ini.

Bila orang tua dan guru cemas, tentu anak-anak akan lebih cemas lagi. Sebab kecemasan sudah mengganggu konsentrasi. Anak-anak seharusnya mendapatkan motivasi agar mendapatkan prestasi tinggi. Bukan justru mendapatkan rasa cemas dan was-was dari para orang tua dan guru. Mereka harus dibekali dengan kemampuan mengoptimalkan diri dalam memperoleh nilai UN yang luar biasa. Tentu itu tidak mudah bila kita tidak tahu caranya. Apalagi bila para guru sampai mendongkrak nilai siswa. Tentu ini merupakan tindakan tak terpuji, dan sekolah yang melakukannya akan mendapatkan sanksi seperti apa yang dituliskan koran kompas, Senin, 11 April 2011.

Untuk membuat semua siswa lulus 100 %  sangat mudah caranya. Kita tak perlu sampai membocorkan soal-soal UN.  Sebab pemerintah dalam hal ini menteri pendidikan nasional telah mengatakan bahwa soal UN tak akan bocor. Cara yang paling tepat adalah mengajak anak-anak kita untuk mempersiapkan dirinya dengan baik. Bisa membuka situs-situs online yang didalamnya ada latihan soal-soal UN, dan perbanyak membaca buku yang berhubungan dengan materi UN. Tentu bukan  hanya sekedar membaca saja, tetapi berlatih soal-soal seperti matematika dengan teman sebaya. Belajar kelompok bisa menjadi solusi. Dalam belajar kelompok itu mereka bisa saling berdiskusi tentang materi soal  yang akan muncul di UN tahun ini. Mereka pun akan saling membaca dan melengkapi apa yang sudah mereka kuasai.

Kiat sukses UN agar seluruh siswa di sekolah  lulus 100% adalah:
  • Happy
  • Baik
  • Ikhlas



Hal pertama yang harus diperhatikan adalah happy.
Suasana sebelum UN haruslah menyenangkan siswa. Baik di rumah maupun di sekolah siswa harus dalam kondisi menyenangkan. Bila kondisi menyenangkan atau happy sudah tercipta, maka pelajaran yang susah menjadi serasa mudah. Anak-anakpun pada akhirnya akan merasakan kenyamanan dalam belajar. Suasana happy ini harus tercipta di setiap sekolah kita. Anak harus dilayani dengan baik, dan ajak mereka untuk berdiskusi dimana letak kesulitan yang mereka alami. Bila di sekolah sudah terlayani dengan baik, maka pelayanan di rumah pun harus baik. Para orang tua harus penuh kasih sayang membimbing putra-putrinya untuk mampu belajar dengan suasana yang menyenangkan. Bila itu terwujud, maka dijamin anak anda pasti lulus dengan nilai yang luar biasa. Hal itu sudah saya buktikan sendiri setelah hampir 17 tahun menjadi seorang guru.

Hal kedua yang harus dperhatikan adalah baik.
Anak-anak harus diyakinkan bahwa tujuan UN itu baik. Bila mereka telah memahami bahwa tujuan UN itu baik, maka niatan baik akan tercipta. Sesuatu yang dimulai dari sebuah kebaikan pastilah akan mendapatkan kebaikan. Sebab hadiah pertama dari kita berbuat baik adalah kebaikan. Orang baik pasti rezekinya baik. Orang baik, pasti nilai UNnya baik. Sebab dilakukan dengan cara-cara yang baik, dan tidak menyimpang dari aturan yang berlaku. Orang baik pasti akan berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Yakinkan diri bahwa mereka akan mendapatkan nilai terbaiknya.

Hal ketiga yang harus diperhatikan adalah Ikhlas.
Hadapi UN dengan penuh keikhlasan hati. Bila segala sesuatu dilakukan dengan ikhlas akan bernilai ibadah. Keikhlasan hati akan membuat sesuatu yang awalnya berat menjadi terasa ringan. Suasana hati yang ikhlas akan mendekatkan diri kepada Allah. Tuhan Yang Maha Memiliki Ilmu. Kitapun akan dimudahkan dalam mencerna dan menyerap semua materi pelajaran yang akan diujikan. Keikhlasan hati harus ada dalam diri anak-anak kita yang akan mengikuti UN. Dengan keikhlasan hati, maka segala urusan akan diserahkan kepada Ilahi Robbi. Allah tempat meminta, dan mintalah kepadanya agar mendapatkan nilai yang tinggi. Kerjakan soal-soal UN dengan penuh keihlasan hati, maka sang pemilik ilmu akan memberikan ilmu kepada hambanya yang TAKWA.

Happy, baik, dan ikhlas harus menjadi kiat sukses agar peserta didik kita di sekolah lulus 100%. Namun ada 10 hal penting yang harus diperhatikan oleh para peserta UN agar mendapatkan nilai terbaik, yaitu:

  • Siapkan kartu peserta UN dengan baik, dan jangan sampai tertinggal. Kalau perlu dilaminating atau dititipkan secara kolektif di sekolah.
  • Disiplin soal waktu harus dijaga. Datanglah lebih pagi agar bisa menikmati segarnya pagi di sekolah
  • Lengkapi peralatan ujian seperti pensil, balpoint, penghapus, penggaris, papan LJK, dan lain-lain
  • Patuhi aturan tata tertib UN yang berlaku, dan dengarkan dengan baik arahan pengawas UN
  • Tuliskan identitas diri dengan benar dan lengkap di Lembar Jawaban Komputer atau LJK.
  • Kerjakan soal-soal UN dengan penuh ketenangan dan fokus kepada tujuan
  • Awali kegiatan dengan berdoa kepada Allah, Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
  • Dahulukan soal yang mudah baru kerjakan soal yang susah.
  • Perhatikan waktu dengan baik, dan bila kamu sudah selesai mengerjakan soal, periksa kembali jawabanmu.
  • Jangan terburu-buru keluar ruangan, dan cek sekali lagi apa yang sudah kamu tuliskan.

Demikianlah, sedikit pengalaman saya dalam membimbing anak-anak mengikuti Ujian Nasional atau UN.  Tulisan ini sudah saya sampaikan pada acara ON AIR di Radio Republik Indonesia dalam acara Analeksa Senin Siang (11 April 2011) kemarin, dan akan saya sampaikan pula di SMKN 31 Jakarta Pusat pada Hari Kamis, 14 April 2011. Semoga bermanfaat, dan mari kita berdoa agar anak-anak kita di sekolah lulus UN 100 %.

sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/12/kiat-sukses-un-lulus-100/

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.








oleh: Yudhistira ANM Massardi

Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai -katakanlah hingga dua dekade ke depan- yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur.

Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun. Dalam ”kalimat lain”, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya.

Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi? Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang.

Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?

Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa sekarang ini sudah terjadi inflasi gelar akademis sehingga ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin merosot. Lebih dari itu, ia menilai sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan pembangunan kreativitas.

Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan kerah putih di level menengah -yang selama beberapa dekade dikuasai para sarjana dan bergaji tinggi- kini digantikan peranti lunak komputer. Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran dan kebersihan, terus tumbuh.



Kreativitas dan imajinasi

Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial yang mengangankan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!

Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk ”jadi pegawai”, yang harus difasilitasi adalah sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan singkat. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, ataupun yang berbasis komputer di perkantoran. Untuk itu, tak perlu embel-embel (sekolah) ”bertaraf internasional” yang menggelikan itu karena komputer sudah dibuat dengan standar internasional.

Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan anak bangsa harus dibangun secara lebih serius yang hanya bisa dicapai jika rangsangannya diberikan sejak usia dini. Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan visual-auditori- kinestetik, juga kreativitas dan kemandirian.

Kata kuncinya adalah ”kreativitas” dan ”imajinasi”; dua hal yang belum akan tergantikan oleh komputer secerdas apa pun! Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah memasuki era digital.

Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun berubah. Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat ”cinta belajar” pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas ”cinta belajar”, apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya.

Membangun semangat ”cinta belajar” tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam.

Jadi, cukup berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan. Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja (mulai dari pendidikan anak usia dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.

Yudhistira ANM Massardi Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi, Bekasi 

sumber: http://m.kompas.com/news/read/data/2011.04.08.03583312

Bahasa Asing di RSBI Tidak Efektif

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.







Bangkok, Kompas - Bahasa asing sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah yang berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional di Indonesia berjalan tidak efektif. Ini disebabkan tidak ada standar pengajaran yang jelas sehingga metode pengajaran bahasa asing setiap guru berbeda.

Hal itu dikemukakan Head of English Development British Council, Danny Whitehead yang memaparkan hasil penelitian Stephen Bax dari University of Bedfordshire, Inggris, di konferensi internasional Language, Education, and Millenium Development Goals (MDGs)”, Kamis (11/11) di Bangkok, Thailand. ”Setiap guru di satu sekolah yang sama bisa saja metode pengajaran dengan bahasa Inggrisnya berbeda-beda. Ini disebabkan tidak ada panduan dan standar pengajaran yang jelas,” ungkap Whitehead.

Hasil penelitian itu juga menyebutkan, penggunaan bahasa asing tidak efektif karena jumlah guru yang memiliki kemampuan mengajar dalam bahasa Inggris kurang dari 25 persen. Mayoritas guru hanya sekadar bisa berbicara dalam bahasa Inggris. ”Mahir bicara dalam bahasa Inggris dan mampu mengajar dalam bahasa Inggris jelas dua hal yang berbeda. Guru harus dilatih secara khusus untuk bisa mengajar dengan bahasa Inggris,” kata Whitehead.


Tak Harus RSBI

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, kata Whitehead, tidak perlu melalui pendirian rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI). Justru akan lebih efektif jika pemerintah memusatkan perhatian pada metode dan proses pengajaran, baik di RSBI maupun non-RSBI. Bahkan, RSBI sebenarnya bisa mengembangkan kurikulumnya sendiri dengan tetap berdasarkan kurikulum nasional dan tidak perlu mengambil mentah-mentah dari negara lain. ”Jangan justru mendahulukan keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh,” kata Whitehead.

Hal senada diutarakan konsultan pendidikan di British Council Indonesia, Hywel Coleman. Ia mengaku khawatir RSBI justru menciptakan diskriminasi pendidikan yang semakin lebar. Apalagi kurikulum RSBI sebagian diambil dari sekolah luar negeri. ”Biaya pendidikan di RSBI sebenarnya bisa murah jika kurikulum yang digunakan kurikulum buatan sendiri,” kata Coleman. Ia khawatir akan banyak anak yang tidak bisa menikmati pendidikan berkualitas baik, seperti di Pakistan dan Thailand.

Karena sudah telanjur harus ada sesuai undang-undang, Whitehead dan Coleman menyarankan agar pemerintah mengawasi dan mengevaluasi RSBI, terutama efektivitas dalam pengajaran menggunakan bahasa Inggris. ”Sampai saat ini belum ada evaluasi menyeluruh dari pemerintah tentang RSBI,” kata Whitehead. (LUK)


sumber: http://koran.kompas.com/read/2010/11/12/04063954/bahasa.asing.di.rsbi.tidak.efektif

Anak Indonesia Juara Bikin Game di Amerika

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.






oleh: Ardhi Suryadhi - detikinet

Jakarta - Satu lagi putra Indonesia yang mengharumkan nama bangsa di level dunia. Dia adalah Muhammad Al-Fatih Ridha yang berhasil menjadi salah satu juara dalam kompetisi desain dan programming video game di Amerika Serikat.

Lomba yang diikuti Fatih adalah kompetisi tingkat nasional game programming se-Amerika Serikat bernama National Science Technology Engineering Math (STEM) Video Game Challenge, yang diinspirasi oleh Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama.

Tujuan dari event ini adalah untuk memacu motivasi minat para pelajar dalam mendalami ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika dengan memanfaatkan permainan komputer.

Selain Fatih, ada 11 pelajar AS lainnya yang juga didapuk sebagai jawara. Mereka bersaing dengan 500 peserta lainnya, yang terdiri dari para pelajar grade 5-8 (tingkat SD dan SMP).

Kemenangan Fatih yang masih berusia 12 tahun ini terasa lebih istimewa karena pengumuman para pemenang dilakukan langsung oleh Chief Technology Officer AS, Aneesh Chopra, di Washington, DC.

Fatih merupakan siswa grade 8 Homeschool di Beaverton, Oregon, AS. Ia mendesain dan memprogram game yang berjudul "Zuff's Adventure".

Game ini didesain dengan menggunakan game maker software dengan bahasa pemrograman GML (Game Maker Language) yang menceritakan petualangan karakter bernama Zuff.

STEM Video Game Challenge sendiri disponsori oleh Entertainment Software Association, Microsoft dan The AMD Foundation serta berpartner dengan The Joan Ganz Cooney Center dan E-Line Me. (kee/rou)

Agar Kemarahan Anak Bersifat Positif

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.







Oleh Amelia Ayu Kinanti

Amarah adalah hal yang wajar dirasakan setiap orang, termasuk anak-anak. Namun biasanya, anak-anak masih belum bisa mengontrol amarahnya. Jangan biarkan rasa marah yang dirasakan si kecil membuatnya melakukan hal-hal negatif. Tugas Anda adalah mengubah energi kemarahannya menjadi sesuatu yang positif.

Beberapa kiat dari Helium berikut bisa membantu Anda.

Yang pertama kali harus Anda tekankan pada si kecil adalah: merasakan amarah bukan hal yang salah. Namun, melakukan kegiatan yang destruktif atau merusak karena marah, itu yang tak boleh dilakukan. Ajarkan padanya bahwa melepas kemarahan adalah hal yang boleh dilakukan. Namun tidak dengan menyakiti hati atau fisik orang lain karena itu adalah hal yang dilarang.

Anda bisa mengajak si kecil untuk melepas kemarahannya dengan melakukan aktivitas fisik yang ia sukai. Misalnya naik sepeda, berenang, ikut seni bela diri, basket dan masih banyak lagi. Kegiatan-kegiatan tadi akan membantu si kecil untuk melepas kemarahannya yang bisa “meledak” sewaktu-waktu.

Yang tak kalah penting untuk mengatur kemarahan si kecil adalah dengan berkomunikasi. Ajaklah anak Anda berbicara dari hati ke hati. Tanyakan padanya: Apa atau siapa yang membuatnya marah? Tunggulah dengan sabar hingga ia bisa mencurahkan segala perasaannya. Buatlah ia nyaman dan jangan menghakimi perasaannya. Si kecil pasti lebih tenang.

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)