Kamis, 23 Desember 2010

Where Have All The Fathers Gone?

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.




Ditulis oleh: Lyle Jones


Bill Cosby memang berharga. Ketika beberapa tahun silam, anaknya Bill Cosby Jr diterjang peluru, hampir sebagian warga dunia berguncang. Seorang ayah 'ideal' kehilangan anaknya. Puluhan pertanyaan berhamburan dibalik kejadian itu. Orang-orang tidak membayangkan Bill Cosby Jr punya masalah dengan bandit-bandit pengedar obat terlarang. Bukankah Bill Cosby seorang ayah ideal, humoris, sabar, pengertian, enak dan perlu.

Tidaklah berlebihan, kalau Alvin F. Poussaint M.D, seorang Asisten Profesor dari Harvard MedicalSchool, membutuhkan 10 halaman untuk menjelaskan kehebatan sang tokoh. Namun ada satu pertanyaan inti yang tidak mampu dijawab secara transparan oleh Bill.yaitu, "Where has Bill gone?". Kemanakah Bill pergi selama ini. Apakah yang ia lakukan sepanjang hari dengan anaknya. Kenapa, Bill tidak mengetahui sedikitpun tentang sepak terjang anaknya?

Malam, ketika tulisan ini sedang dirampungkan, telpon rumah saya berdering. Interlokal dari kampung saya disebuah dusun pedalaman Sumatra. Suara gagap dan ragu-ragu kakak perempuan saya mengabarkan, dua orang keponakan kami masuk penjara. Satu orang tertangkap sebagai pengedar Narkoba dan satu lagi sebagai pemakai Narkoba kronis. Sama seperti Bill Cosby, tiba-tiba puluhan pertanyaan menyergap dan mengepung ruang dalam otak kanan saya. Semua pertanyaan itu berputar-putar dan akhirnya berpilin pada sebuah
pertanyaan.. . "Where has their father gone ?" Kemanakah ayah mereka pergi selama ini ?

Sehari sebelum saya terima kabar dari kampung, dalam sebuah dialog antara pemerhati pecandu Narkoba, seorang ibu bercerita. Katanya, tak ada kesakitan yang lebih mencekam ketimbang cengkraman Narkoba pada anaknya. Dengan menahan tangis dan sedikit dendam, ia mengatakan anaknya adalah korban dari hilangnya lelaki dewasa (ayah) dalam putaran kehidupan rumah tangganya. "Where has the father gone ?" Dimana sih ayah-ayah mereka?

Anak-anak yang ditakdirkan menjadi pelaku sejarah diatas hanyalah sebagian kecil di antara berjuta anak yang sebenarnya tidak membutuhkan konseling psikologi. Apa yang mereka butuhkan namun seringkali tidak mereka miliki- adalah ayah yang peduli padanya dan punya waktu untuk bersama. Anak-anak itu tidak butuh tenaga psikiater tapi dia butuh seseorang yang bisa dipercaya. Lalu dimanakah ayah-ayah mereka? Ada dua jawaban.

Pertama, ayah yang ada tapi suka membolos. Tipe ini kita temukan dimana-mana. Di lapangan golf, tenis, bulu tangkis, kantor dan tempat lainnya. Ada ayah yang dinas luar (tugas kantor atau dakwah) ke daerah-daerah hampir setiap bulan. Ada ayah yang bekerja, berangkat sesudah subuh dan pulang larut malam. Ada juga ayah yang nongkrong, tidur-tiduran ditempat tertentu hanya untuk melegitimasi bahwa ia sibuk sepanjang hari. Sehingga seolah-olah hanya ada waktu sisa buat anak-anaknya.



Kesimpulannya, ayah-ayah ini ada di mana-mana, tapi mereka sering membolos dari waktu bersama anaknya. Mereka (ayah-ayah ini) sulit ditemukan di rapat-rapat POMG (Persatuan Orang Tua Murid dan Guru), karena ada peninggalan purba yang menyatakan bahwa urusan sekolah adalah hak mutlak sang ibu semata . Kita jarang menemukan ayah di tempat praktek dokter menggendong anaknya yang sakit. Kita juga tidak melihatnya di kantor kepolisian mengurus anaknya yang melakukan tindakan kriminal.
Ayah- ayah ini apabila ditanyakan pada mereka:apakah yang penting dalam hidupmu ? Biasanya mereka menjawab: keluarga dan anak-anak. Naifnya, jawaban ini sering tidak tercermin dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagaimana mereka mengatur waktu dan tenaga mereka sehari-hari antara pekerjaan dan anak. Simaklah dialog berikut ini:

Sang Anak : "Ayah, Yah main bola yuk!"
Sang Ayah : "O, ya. Ayah baca koran dulu!"
"O, ya. Ayah nonton berita dulu !"
"O, ya. Ayah janji main bola hari Sabtu!"
"O, ya. Ayah ada acara nih"
"O, ya. Ayah lagi cape ? "
"O, ya. Ayah lagi banyak kerjaan"
"O, ya. Ayah mau tapi ? "

Mungkin ayah seperti inilah yang dimaksudkan oleh hasil need assesment dari Lembaga Demografi salah satu universitas negeri di Jakarta. Jajak pendapat itu menerangkan empat ciri menonjol ayah tipe Pertama ini. Cepat marah, jarang ada waktu ngobrol dengan anak, ditakuti anak dan selalu menakar seluruh pekerjaan dengan uang.

Kedua, ayah yang ada (fisik) dan rajin tapi tidak tahu harus berbuat apa.Kita menemukan ayah-ayah ini sering berada di rumah. Mereka mengerjakan banyak hal, tapi tidak terlalu mengerti apa yang dikerjakannya. Sebuah gelombang rutinitas menjebak dan membawanya berputar-putar ke dalam pekerjaan yang memiliki kualitas rendah.

Anak-anak menjumpai tokoh ini sepanjang waktu di rumah, namun sayangnya lambat laun sang tokoh menjadi tidak berarti dalam kehidupan mereka. Tidak ada lagi kejutan-kejutan psikologis yang biasa ditunggu-tunggu anak dari seorang ayah yang normal. Ritme komunikasi berjalan tanpa greget dan hambar.

Sebagian besar korban Narkoba dan pelecehan seksual di kalangan remaja memiliki ayah tipe kedua ini. Bukan Superman tapi Superstar. Benar, ayah bukanlah superman, tapi ia adalah
superstar.

Ia bintang di tengah keluarga. Ia pembawa dan penentu model sekaligus agen sosial. Lewat aksi panggungnya yang memikat, ia menggemuruhkan keceriaan keluarga. Tapi, sebagai seorang bintang, ia tidak lahir dengan sendirinya. Ia membutuhkan dukungan, karena bagi lelaki peran ayah bukanlah peran instingtif.

Peran ini lebih membutuhkan bimbingan sosial dari pada wanita dengan perannya sebagai ibu. Sebelum dukungan datang dari luar, maka sang ayah harus mencari dukungan dari dirinya sendiri. Mereka haruslah secara kontinyu merangsang dialog dengan hati nurani secara intens dan apresiatif.

Dialog-dialog ini harus mampu meyakinkan bahwa ia tidaklah satu-satunya ayah yang sedang belajar menjadi superstar. Bahwa anak-anak membutuhkan cinta, dukungan, dorongan dan perlindungannya. Bahwa melalui anak-anak para orang tua diajarkan makna hidup, cinta, kesucian, kesabaran dan sebagainya. Bahwa anak-anak melihat dunia luar dengan perantara jendela sang superstar.

Dukungan dalam diri tidak akan berarti tanpa tekun dan sabar berlatih. Sampai suatu saat hilangnya kekakuan dalam berhadapan dengan anak-anak. Muncullah ayah yang dengan ikhlas membantu anaknya mengerjakan PR, memandikan anak, mencuci baju dan belanja. Ayah yang membacakan buku cerita untuk anaknya, mengantar anak les komputer.

Ayah-ayah inilah yang akan membuat dunia ini berputar dan menjawab pertanyaan : "Where have all the fathers gone?" dengan "Here I am. Now and forever!"

Dikopas dari: milis sekolah rumah

Apa saja yang perlu disampaikan dalam Pendidikan Seks?

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.





Sumber: www.dailypsychology.net

Pendidikan seks bisa diberikan sejak anak masih usia dini. Para orangtua, jangan panik dulu! Materi apa yang sebaiknya disampaikan kepada anak disesuaikan juga dengan usia dan kebutuhannya kok. Dari keseluruhan perkembangan seorang anak, kesulitan terbesar akan dihadapi para orangtua ketika harus memberikan pendidikan seks kepada anaknya yang remaja? Kenapa?
Karena pada tahap perkembangan tersebut, mereka akan mulai berpikir kritis dan mempertanyakan, atau menantang ajaran Anda. Jangan salah, mereka mempertanyakan atau menantang bukan untuk membantah. Namun, mereka sedang mempraktekkan berpikir kritis, dimana remaja mulai memiliki keinginan dan dorongan untuk memahami dan mengerti dunianya. Oke, berikut saya berikan panduan umumnya tentang pendidikan seks apa yang sebaiknya orangtua berikan pada anak, disesuaikan dengan rentang usia anak.

1. Usia TK
Dalam usia ini, cukup sering kita mendapati anak yang bertanya pada orangtuanya atau guru, “Aku itu datengnya dari mana?” atau “Bayi itu dari mana sih?” Yang bila dijawab oleh orangtua dengan perkataan seperti “Dari perut mama..” anak biasanya akan melanjutkan pertanyaan dengan “Kok bayi bisa ada di perut mama?” Nah, cukup sering saya menemui orangtua yang kemudian hanya menjawab dengan perkataan seperti “Nanti kalau sudah besar, kamu mengerti sendiri.” Saya ingat, dulu waktu kecil jawaban seperti itulah yang saya dapatkan dari orangtua saya. Bahkan sampai sekarang saya masih melihat banyak orang, seperti sepupu-sepupu saya yang sudah berkeluarga menjawab dengan kalimat yang persis sama. Ini adalah kesempatan terbesar dan termudah bagi para orangtua untuk berlatih memberikan pendidikan seks kepada anak. Kenapa termudah? Coba saja bayangkan bagaimana sulitnya Anda menjawab pertanyaan anak usia remaja (akan kita bahas nanti) seperti, “Hubungan seks itu bagaimana sih?"

Oke, jadi materi pertama yang sebaiknya diajarkan kepada anak di usia dini adalah tentang asal muasal bayi. Anda tidak perlu menjelaskan secara teknis bagaimana bayi bisa ada di perut ibu. Anak Anda juga belum mengerti bila Anda menjelaskan secara teknis. Cukup berikan penjelasan seperti “Mama dan papa saling menyayangi dan mencintai, dan ingin ada kamu di tengah-tengah kita untuk bisa berbagi rasa saying itu. Jadi, papa meletakkan kamu di perut mama.” Respon yang sangat mungkin untuk muncul dari anak adalah ia akan mempertanyakan masalah ukuran, seperti “Masak aku segede ini bisa muat di perut mama?” Nah, untuk meresponnya, Anda bisa saja menjawabnya dengan mengatakan “Awalnya kamu tidak sebesar ini sayang. Keciiil sekali. Tapi karena mama dan papa saling menyayangi satu sama lain, kamu yang kecil akhirnya tumbuh dan berkembang sampai sebesar sekarang.” Pilihan kata bisa dimodifikasi sesuka Anda, namun tekankan bahwa anak adalah hasil kasih sayang dan cinta kedua orangtuanya.

Materi berikutnya, adalah tentang perbedaan anak laki-laki dan perempuan. Anda pernah menonton filmnya John Travolta yang Look Who’s Talking? Dalam salah satu adegan dimana John dan istrinya memandikan kedua anaknya, si sulung (laki-laki) melihat badan adiknya (perempuan) dan bertanya “Dimana penis Julie?” Di usia TK ini adalah kesempatan pertama bagi orangtua untuk mulai mengajarkan perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan. Berikan pemahaman kepada mereka bahwa laki-laki memiliki penis dan perempuan memiliki vagina. Sekali lagi, untuk memudahkan Anda nantinya memberikan pendidikan seks pada anak usia remaja, sebaiknya biasakan sejak dini untuk menggunakan istilah ilmiah, seperti penis, vagina, dan payudara. Kebiasaan dari kecil untuk mengganti istilah tersebut dengan sebutan yang imut, seperti burung untuk pengganti penis, hanya akan membiasakan diri Anda sendiri untuk tidak nyaman berbicara seks dengan anak. Dan juga mengajarkan kepada anak bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan seks tidak boleh disebut.



2. Usia SD
Dalam usia SD ini, pendidikan seks kembali ditekankan pada aspek perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan. Berikan pemahaman kepada mereka bahwa alat kelamin mereka adalah salah satu hal mendasar yang menentukan siapa diri mereka. Terutama sekali, ajarkan mereka bahwa tidak sembarang orang boleh menyentuh alat kelamin tersebut, sehingga mereka pun diminta untuk menghargai orang lain, terutama lawan jenisnya, dengan menjaga diri dan tidak menyentuh area sensitif tersebut. Salah satu pendidikan yang sebaiknya ditekankan sekali oleh para orangtua adalah apa yang seharusnya anak lakukan bila alat kelamin mereka disentuh oleh orang dewasa, atau bila mereka disentuh yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Ajarkan kepada mereka tentang sentuhan-sentuhan yang wajar (seperti orangtua menggandeng tangan anak saat menyeberang jalanan atau memeluk anak saat anak sedang menangis) dengan sentuhan yang tidak wajar (seperti orang dewasa yang menyentuh alat kelamin atau meminta anak menyentuh alat kelamin mereka). Hal ini sangat penting untuk diajarkan kepada anak agar anak pun bisa melindungi dirinya dari para paedophilia (salah satu jenis kelainan seksual dimana orang dewasa mencari dan mendapatkan kepuasan seksual dari hubungan seksual dengan anak kecil).

3. SD Akhir – SMP
Dalam kelompok usia ini, berikan pendidikan seks kepada anak seputar pubertas. Berikan mereka informasi tentang perubahan-perubahan apa yang akan terjadi secara fisik saat mereka menjalani proses pubertas. Dan khusus untuk anak laki-laki, berikan penjelasan kepada mereka tentang mimpi basah. Ketika anak mulai mengalami pubertas, banyak orangtua yang memberikan penjelasan kepada anak sebatas pada aqil balik (ajaran agama Islam) dimana hal ini berarti anak sudah harus menanggung dosanya sendiri. Namun, sebaiknya disampaikan pula bahwa ketika laki-laki sudah mengalami mimpi basah dan perempuan sudah menstruasi, hal ini berarti mereka secara seksual sudah matang dan sudah bisa menghamili ataupun dihamili. Oleh karena itu, tekankan sekali lagi kepada mereka tentang pentingnya menjaga alat kelamin agar jangan sampai dipegang oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

4. SMA – Kuliah
Dan sampailah kita kepada tahap terberat dalam memberikan pendidikan seks kepada anak. Dalam tahap ini, orangtua sebaiknya sudah mempersiapkan diri (secara mental dan materi) dalam memberikan pendidikan kepada anaknya seputar hubungan pacaran, perilaku seksual (mulai dari berpegangan tangan – berpelukan – berciuman – sampai hubungan seksual), konsep keperawanan, alat kontrasepsi, dampak hubungan seksual seperti kehamilan dan Infeksi Menular Seksual.

Jadi bagaimana para orangtua? Masih membayangkan sulitnya memberikan pendidikan seks kepada anak sejak usia dini? Bila ya, ingat saja kata kuncinya, MEMBAYANGKAN. Untuk tahu pasti tentang sulit/tidaknya, silakan dicoba. After all, experience is the best teacher right?

*Sumber ada pada penulis
Nadya Pramesrani, seorang perempuan berusia 24 tahun yang saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Profesi di Fakultas Psikologi UI, berharap bisa lulus dalam waktu sebulan lagi. Sebelumnya, perempuan ini juga lulus sebagai Sarjana Psikologi dari universitas yang sama pada tahun 2007. Dalam psikologi, Nadya ini tertarik dalam bidang seksualitas dan perilaku seksual manusia. Sebelumnya, ia aktif dalam kegiatan Sex Education kepada kelompok remaja yang akan kembali dilanjutkan setelah berhasil lulus pendidikannya.
Di luar psikologi, hobinya ada di bidang kuliner (penyantap, bukan pembuat) dan interior design. Kalau ada kesempatan, Nadya ini ingin meneruskan impiannya sebagai interior designer yang harus tertunda. Bila sedang stres, her personal disneyland is ikea store dan index. 


Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)