Senin, 27 Desember 2010

Mengembangkan Ide dengan Teknik “Clustering” Berbasis "Free Writing"

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.



Oleh: Hernowo



November 2010 lalu, saya berkeliling ke beberapa instansi pemerintah dan lembaga pendidikan untuk memberikan pelatihan menulis. Materi yang saya bawakan, salah satunya, adalah bagaimana memilih dan kemudian mengembangkan  ide.

Saya tidak ingin mendefinisikan ide itu apa. Bagi saya, sebuah tulisan yang tidak mengandung ide adalah tulisan yang "bisu", datar, dan hampa. Tulisan itu tidak berbunyi dan, ada kemungkinan, tidak mampu menggugah para pembacanya.

Untuk membuat agar sebuah tulisan memiliki ide, biasanya seorang penulis sibuk memikirkannya: Ada yang menyepi, ada pula yang mengisi dirinya dengan banyak membaca. Ringkasnya, perlu diadakan banyak kegiatan untuk mendapatkan ide.

Namun, hampir semua orang---bukan hanya penulis---telah menyadari bahwa ide tidak dapat ditunggu. Yang lebih aneh, ide itu hanya akan mendatangi seseorang yang sudah siap untuk menerima ide dan kehadiran ide tanpa pemberitahuan terlebih dahulu---merujuk ke film Mendadak Dangdut, bisa disebut memiliki ide sebagai "Mendadak Ide!"

Dalam sebuah pelatihan menulis, tidak mudah mengajak seseorang untuk memahami soal ide dalam kegiatan menulis ini. Meskipun dalam kegiatan menulis, ide itu sangat penting; namun, mencoba menjelaskan dan merasakan ide bukan persoalan gampang.

Saya beruntung dapat memahami hakikat teknik "free writing" dan "mindmapping" atau "clustering" . Kedua teknik---saya lebih senang menyebutnya sebagai "peralatan" penting---menulis ini dapat membantu saya dalam merekayasa kehadiran sebuah ide.

Saya belajar tentang teknik "free writing" kepada tiga tokoh: Natalie Goldberg, Peter Elbow, dan James W. Pennebaker. Dua tokoh yang pertama memang ahli menulis, namun nama tokoh yang ketiga adalah seorang doktor di bidang psikologi.

Intinya, "free writing" dapat melatih seorang penulis untuk mengeluarkan sesuatu yang "original" dari dalam dirinya. Bagaimana mendeteksi bahwa sesuatu yang "original" telah dapat dikeluarkan? Berikut beberapa tanda yang dapat dirasakan:

Grabiele Rico, Ph.D., penemu tentang tentang "clustering"

Pertama, penulis tersebut memang sudah sering mempraktikkan "free writing"-minimal 10 hingga 15 menit setiap hari. Kedua, dia sudah tidak lagi, secara otomatis, mengoreksi hasil dari "free writing". Dan ketiga, pada saat-saat tertentu, dia merasakan kelegaan luar biasa sehabis mempraktikkan "free writing".

Teknik yang kedua, yang disebut "mindmapping" atau "clustering" , saya manfaatkan untuk memilih dan mengembangkan ide dalam bentuk "peta" (gambar)---lihat contoh-contohnya di dalam tulisan ini. Dalam menggunakan teknik ini, saya tidak merujuk ke Tony Buzan (penemunya), melainkan ke Dr. Gabriele Luser Rico.



Rico mengadopsi "mindmapping" menjadi "clustering" . Salah satu pesan Rico yang sangat penting adalah menulislah sesuatu secara mencicil, sedikit demi sedikit. Menulis memang tidak dapat sekali jadi. Menulis harus dikembangkan perlahan-lahan secara kelompok demi kelompok ide.

Penerapan teknik "clustering" hampir persis dengan penerapan teknik "mindmapping" : Ambil selembar kertas ukuran A4 dan posisikan secara landscape. Di tengah kertas, tuliskanlah topik yang ingin dieksplorasi secara tertulis. Topik tersebut ingin kita kembangkan menjadi sebuah ide yang "sexy" (menggoda).

Misalnya, kita ingin menulis tentang kursi. Topik tentang kursi ini ingin kita kembangkan menjadi tulisan yang tidak biasa-biasa saja dan, nantinya, di dalam pengembangan itu kita dapat menemukan sebuah ide baru. Nah, langkah pertama yang harus kita tempuh adalah dengan meletakkan kata KURSI persis di tengah kertas A4.

Setelah itu, tariklah empat garis yang memancar dari tulisan KURSI menuju empat arah berbeda. Pandangi secara saksama empat garis itu. Kemudian, secara sangat spontan, bubuhkan satu kata tanpa berpikir di atas keempat garis tersebut. Karena tanpa dipikirkan lagi, diharapkan keempat kata itu tidak ada yang berkaitan dengan kata kursi.

Misalnya saja, empat kata yang kita tuliskan adalah ufuk, meja, bau, dan duku. Kata meja jelas masih ada hubungannya dengan kursi. Untuk mendapatkan dan mengembangkan ide yang baru, kata meja ini terpaksa kita coret. Yang tersisa adalah ufuk, bau, dan duku.



Contoh 2 membuat "clustering" berbasis "free writing"

Dari ketiga kata tersisa, kita harus memilih satu kata. Misalnya, yang kita pilih adalah ufuk. Apa hubungannya kursi dan ufuk? Tidak ada. Pada titik ini, kita telah berani menantang pikiran kita. Kita menantang pikiran kita untuk mengubah perspektif dalam memandang kata kursi.

Langkah berikutnya adalah menggunakan jalur kursi-ufuk untuk mengembangkan ide. Buatlah tiga garis cabang dari jalur (garis) kursi-ufuk yang titiknya dari kata ufuk. Lalu bubuhkan tiga kata lagi secara spontan di atas tiga garis cabang tersebut. Misalnya kita membubuhkan kata merah, darah, dan utang.

Pengembangan ide telah mencapai tahap kedua dan menurut Rico, kita harus berhenti dan meng-cluster ide kita itu. Untuk meng-cluster jalur kursi-ufuk, kita harus memilih satu kata dari tiga kata cabang yang ada. Misalnya, kita memilih kata merah.

Nah, sampai di sini, kita telah menemukan jalur kursi-ufuk-merah. Setelah kita menemukan tiga kata ini, cobalah tantang pikiran Anda dengan melakukan kegiatan menulis yang menggunakan tiga kata tersebut-kursi, ufuk, merah-untuk menemukan sebuah ide yang lain daripada yang lain.

Selamat berlatih dan selamat mengalami "Mendadak Ide!". Salam.[]

Sumber teks: www.mizan.com
Sumber gambar: www.gabrielerico. com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)