Rabu, 13 Maret 2013

Mengapa Pembelajaran Bahasa Inggris Kita Gagal?

Segera bergabung di www.goesmart.com, dan dapatkan ratusan konten pendidikan online interaktif untuk pelajar.

Pelajaran bahasa Inggris bukanlah sesuatu yang asing di telinga orang Indonesia, bahkan orang tidak sekolahan pun mengenal apa itu bahasa Inggris. Namun, apakah semua orang memahami dengan baik posisi bahasa Inggris di Indonesia beserta pendekatan yang cocok untuk  mengajarkannya?
Sudah sekian lama, pelajaran bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib dari sekolah hingga perguruan tinggi, bahkan akhir-akhir ini bahasa Inggris menjadi pelajaran wajib di tingkat Sekolah Dasar (SD).  Bahkan, seolah tidak ingin kalah dengan tingkat SD, jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak  (TK) pun ikut serta memberikan pengenalan bahasa Inggris entah alasan dan programmya jelas atau tidak. Sebagai seorang pemerhati pendidikan dan pengajaran bahasa Inggris di Indonesia, saya mengacungi jempol terhadap semua usaha yang telah dicapai untuk membantu anak-anak bisa berbahasa Inggris.
Lepas dari semua bentuk usaha untuk mengajarkan bahasa Inggris di Indonesia, ada suatu hal yang mengganjal dalam pikiran saya: mampukah semua usaha yang dilakukan untuk mengajarkan bahasa Inggris (dari  TK-Perguruan Tinggi) tersebut membuat siswa-siswa Indonesia pandai berbahasa Inggris?  Berdasarkan permasalahan tersebut, saya ingin memberikan pikiran saya terhadap pengajaran bahasa Inggris di Indonesia dalam arti luas dan tidak terbatas batas sekolah-sekolah tertentu. Bukankah pendidikan harus dijalankan secara adil dan merata?
Dalam tulisan ini saya bermaksud mengajak Anda semua untuk berpikir pada konteks yang luas yaitu konteks pendidikan di Indonesia, bukan terbatas pada sekolah-sekolah yang terletak di kota-kota besar atau sekolah-sekolah yang memiliki banyak fasilitas mewah penunjang belajar atau sekolah yang didesign secara khusus seperti RSBI. Secara umum saya melihat gap yang lebar antara pendidikan di kota dan di pinggiran, antara kebanyakan sekolah pemerintah dan sekolah swasta. Catatan saya untuk siswa di kota juga menunjukan jika siswa-siswa di kota jauh lebih beruntung daripada di mereka yang di pinggiran. Misalnya, siswa di kota dengan mudah bisa mengkuti kursus bahasa Inggris baik dengan guru lokal atau penutur asli (native speaker), akses materi belajar yang mudah, dan aneka kemudahan program bahasa Inggris lainnya. Disisi lain siswa di daerah pinggiran sering belajar dengan keadaan serba terbatas. Dari contoh tersebut bisa kita lihat mengapa siswa-siswa di kota memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih baik dari siswa pinggiran. Salah satu jawabannya adalah adanya akses untuk terlibat aktif dalam berbahasa Inggris. Jadi bisa disimpulkan jika salah satu kunci untuk bisa menguasai bahasa Inggris dengan baik adalah dengan secara aktif terus memakai bahasa Inggris atau terlibat aktif dalam penggunaan bahasa Inggris (target language) seperti yang dilakukan kebanyakan siswa-siswa di perkotaan. Pertanyaannya: bagaimana dengan siswa-siswa di pinggiran yang kurang beruntung?
Dalam tulisan ini  pula saya ingin mengajak Anda memikirkan mereka yang kurang beruntung dalam belajar bahasa Inggris, yaitu siswa-siswa yang sepenuhnya mengandalkan pelajaran bahasa Inggris murni dari sekolah dan kurikulumnya. Dari sinilah saya berani menggunakan istilah ‘GAGAL’ karena hasil investigasi saya menunjukan jika kurikulum yang dibuat sekolah belum mampu membuat siswa-siswa di Indonesia secara umum bisa secara aktif berbahasa Inggris.  Selanjutnya, argumentasi saya untuk kegagalan pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia juga bersumber dari hasil investigasi lapangan atas tanggapan berbagai guru bahasa Inggris terhadap kemampuan bahasa Inggris siswa-siwa sekolah dari berbagai kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia. Secara umum para guru berpendapat jika kurikulum sekolah belum mampu membuat siswa-siswa bisa berbahasa Inggris secara aktif, jika mampu berbahasa Inggris mereka masih dalam taraf terbatas.
Dalam artikel pendek ini saya tidak memasukan diskusi siswa-siswa sekolah di perkotaan sebagai indikator keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah, karena kemampuan bahasa Inggris mereka tidak murni  hasil didikan sekolah tetapi sudah dipengaruhi oleh pendidikan lain seperti kursusan  atau pelatihan bahasa Inggris yang disediakan oleh lembaga-lembaga di luar pendidikan formal.  Jadi, saya ingin memfokuskan tulisan ini pada isu pendidikan bahasa Inggris di sekolah formal.
Jika ditilik dari intesitas pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia, saat ini anak-anak sudah memiliki banyak sekali waktu untuk belajar bahasa Inggris (dari TK sampai PT).  Secara logika dan teori, dengan mudah bisa dipahami implikasinya, jika anak-anak memiliki banyak waktu belajar bahasa Inggris, maka dia dengan cepat akan bisa berbahasa Inggris apalagi mereka belajar bahasa Inggris sejak usia dini. Apakah teori ini bisa diaplikasikan di Indonesia?
Lepas dari kurikulum sekolah dan metode untuk mengajar, saya melihat satu masalah yang sangat krusial yang menjadi kunci utama untuk mendongkrak kemampuan bahasa Inggris. Saya mencermati posisi bahasa Inggris sebagai bahasa asing (English as a foreign language) adalah penyebab utama mengapa kemampuan anak-anak kita rendah. Secara teori bisa kita pahami jika cara pandang terhadap bahasa Inggris sebagai bahasa asing tentu akan berbeda jika dilihat bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau L2 (alat komunikasi kedua) seperti di Malaysia dan Singapura di mana bahasa Inggris dipergunakan di dalam kehidupan masyarakat disamping bahasa utama / resmi (official language).
Di Indonesia, bahasa Inggris hanya dipelajari di sekolah namun tidak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum bisa dipahami jika bahasa Inggris hanya dipelajari sebatas teori dan ilmu saja. Hal ini tentu berlawanan dengan konsep belajar suatu bahasa: dimana belajar suatu bahasa itu mempelajari 4 keahlian berbahasa (language skills): listening (mendengarkan), speaking(berbicara), reading (membaca) dan writing (menulis). Jadi, jika bahasa itu keahlian yang harus dipergunakan maka penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan nyata menjadi kunci sukses untuk menguasai bahasa tersebut. Sebagai contoh: seorang siswa yang  memiliki kosakata banyak belum tentu bisa berbicara atau paham bahasa Inggris dengan baik, seorang siswa yang hafal semua jenis tenses atau tata bahasa belum tentu bisa menulis bahasa Inggris dengan baik, dan seorang anak yang tahu banyak ekspresi bahasa Inggris belum tentu bisa menggunakan dengan tepat.
Jadi menurut saya, guru bahasa Inggris harus memahami jika bahasa Inggris di Indonesia sebagai bahasa asing sehingga semua bentuk kegiatan mengajar harus mengarah pada kenyataan posisi bahasa Indonesia di Indonesia. Guru harus sadar jika anak-anak tidak berbahasa Inggris di lingkungan mereka dan mereka belajar bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bukan suatu kebutuhan untuk dipergunakan di masyarakat dan kehidupan sehar-hari. Bagi saya, penciptaan kesadaran dalam diri siswa untuk mencintai bahasa Inggris akan menjadi kunci utama untuk menumbuhkan minat belajar bahasa Inggris.
Berdasar hasil penelitian saya untuk menjawab  ‘mengapa Anda menjadi guru bahasa Inggris’, hampir semua responden saya menyampaikan jika mereka sangat cinta dan tertarik dengan bahasa Inggris sehingga mereka rela berkorban dan berjuang secara mandiri untuk belajar dan menguasai bahasa Inggris. Mungkin ini bisa menjadi refleksi bagi diri Anda sendiri mengapa Anda menjadi guru bahasa Inggris dan bisa berhasil dalam belajar bahasa Inggris. Jawabnya sederhana: karena Anda cinta dan suka dengan bahasa Inggris.
Saya pribadi tertarik dengan bahasa Inggris sejak di SMP yang kemudian lanjut ke tingat SMA hingga perguruan tinggi. Karena rasa cinta yang luar biasa dengan bahasa Inggris, hampir sebagian waktu saya habiskan untuk mempelajari bahasa Inggris seperti mengikuti kursus-kursus bahasa Inggris.Bagi saya kecintaan dengan bahasa Inggris yang tulus dan murni bersumber dari relung hati yang paling dalam menjadi motor penggerak paling powerfuluntuk diri saya sehingga tanpa kenal lelah  saya rela terus berjuang untuk bisa berbahasa Inggris. Jadi modal awal saya hanyalah suka dengan bahasa Inggris.
Kesimpulan saya adalah selama bahasa Inggris itu berada pada posisi sebagai bahasa asing (foreign language), maka kemampuan anak-anak kita tidak akan mengalami banyak perubahan sehingga perlu wacana untuk merubah kedudukan bahasa Inggris di Indonesia. Guru sebaikanya menggunkan teknik mengajar bahasa Inggris yang sesuai dengan posisi / kedudukan bahasa Inggris di Indonesia.
Ada tiga poin untuk direnungkan dari tulisan saya ini:
·         Sehebat apapun sebuah metode tetapi jika tidak cocok dengan keadaan lingkungan (konteks) maka tidak akan banyak memberikan hasil.
·         Selama masalah belajar yang mendera siswa tidak terpecahkan maka harapan untuk mencapai hasil belajar yang bermutu sesuai dengan yang tertuang atau diharapkan dalam kurikulum akan sulit terealisasi.
·         Perlu untuk diwacanakan penggunakan bahasa Inggris dalam konteks nyata di masyarakat Indonesia sehingga bahasa Inggris bukan lagi sekedar sebuah bahasa asing yang dipelajari secara teori tetap menjadi bagian alat komunikasi sehari-hari.
diposting di http://subekti.com 
Best Regart,
Yudi Riswandy
www.goesmart.com

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)