Jumat, 24 September 2010

Video Gambaran Indismart.mpg

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.


Berry Natalegawa Jalan Kaki 420 Mil London-Edinburg Untuk Unicef

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.





LONDON--Seorang ayah dari tiga putra melakukan jalan kaki sepanjang 420 mil dari London ke Edinburgh untuk mengumpulkan dana bagi anak-anak UNICEF di Indonesia. Berry Natalegawa (48) yang lama menetap di Inggris kepada koresponden Antara London, Rabu menyampaikan rencananya untuk berjalan kaki selama dua minggu yang dimulai Kamis 22 Mei mendatang.

Berry Natalegawa, dari Limesdale Gardens, Edgware, London berharap dapat mengumpulkan dana sebesar 250.000 Poundsterling untuk UNICEF dengan berjalan sepanjang 420 mil dari London ke Edinburgh. Duta besar RI untuk Kerajan Inggris dan Republik Irlandia Yuri Thamrin secara khusus menyampaikan penghargaan kepada Berry Natalegawa yang akan melakukan kegiatan sosial itu

Sebagai warga Indonesia yang tinggal di UK sudah sepantasnya dan berkewajiban melapor Life`s walk in aid of UNICEF ini ke KBRI, ujar Berry. Dubes Yuri Thamrin dan KBRI London akan mendukung rencana Barry yang dinilai sangat positif, apalagi UNICEF juga mempunyai banyak program Indonesia, ujarnya.

Menurut Berry, tujuan hanya satu. "Saya ingin menolong orang-orang yang tidak mampu dan terbelenggu dalam serba kekurangan," ujar adik Menlu RI Marty Natalegawa. Dikatakannya diberbagai belahan dunia banyak anak-anak yang hidup sengsara dan menderita tanpa kemampuan untuk keluar dari kondisi yang di hadapi nya.



Berry memberi contoh peristiwa Haiti dan Chile, juga gempa di Indonesia yang menyebabkan anak-anak selalu menjadi korban.

Diakuinya Mengapa saya melakukan jalan, karena ia benar-benar terdorong untuk bergerak dan melakukan sesuatu, ujar suami Zulindatando Berry Natalegawa yang dinikahinya August 1987. "Saya benar prihatin dan sedih melihat keadaan di sekitar, yang seringkali menyangkut anak-anak," ujar arsitek yang memiliki usaha konsultan disain.

Di Asia, juga di Afrika kita selalu mendengar dan tidak jarang melihat sendiri kesulitan yang berkepanjangan, mulai anak-anak sampai usia lanjut. Menurut Berry yang sebelumnya melakukan lari 10 Km untuk amal itu ingin melakukan sesuatu dalam hidupnya yang dapat merubah paling tidak dapat meringankan penderitaan anak anak di dunia.

Ia mengakui, "Kali ini saya melakukan sendiri, maksudnya tanpa peserta lain yaitu berjalan dan melangkah, satu demi satu, yang dapat dimanifestasikan sebagai perjuangan seseorang." Berry mengakui jarak antara London dan Edinburgh cukup jauh. "Saya harus menghadapinya sendiri," ujarnya yang disebutnya sebagai Life`s walk. Satu Journey, satu life`s walk.
Red: Krisman Purwoko
Sumber: ant

Jangan Bangga Jadi Guru "Killer"

Segera bergabung di www.indi-smart.com, dan dapatkan ratusan konten pembelajaran online interaktif untuk pelajar.






sumber: http://www.klubguru .com/2-view. php?subaction= showfull& id=1285250752& archive=& start_from= &ucat=1&




*JAKARTA, KOMPAS.com* — Metode pendidikan Indonesia yang mengutamakan
pemberian nilai buruk pada siswa sebagai salah satu bentuk hukuman
menjadikan anak-anak Indonesia yang cerdas menjadi tidak percaya diri.
Padahal, seharusnya sistem pemberian nilai yang tepat ialah memberikan
nilai sebagai wujud memberi semangat, seperti yang dilakukan di negara maju.
Hal itu diungkapkan Prof Rhenald Kasali, PhD, Guru Besar Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia (UI), di sela-sela acara Education Fair SMA Kanisius,
Jakarta, Kamis (23/9/2010).

Menurut Rhenald, keadaan ini masih terus berlaku di Indonesia. "Sampai hari
ini dosen atau guru masih melakukan seperti itu. Jadi, kalau orang enggak
bisa, enggak dibantu cari jalan keluarnya, tapi malah dibikin jadi panik,
dibuat makin tidak mengerti dengan dikasih nilai jelek. Rasanya ada
kebanggaan jadi dosen killer," katanya.

Rhenald melanjutkan, di luar negeri justru kebalikannya. "Di negara maju
(Amerika), anak saya bahasa Inggrisnya jelek justru dikasih nilai exellent.
Tujuannya mendorong memberikan kesempatan sehingga akhirnya dia menjadi
lebih percaya diri. Metode mereka (sekolah luar negeri) ialah orang
di-encourage supaya bersemangat dan akhirnya mau menjadi exellent," katanya.




Apabila Indonesia menerapkan metode ini, dampaknya sangat besar bagi murid
karena mereka akan menjadi lebih percaya diri. "Sebenarnya anak-anak kita
pintar, cuma tidak punya rasa percaya diri karena yang nilainya A kan hanya
5 sampai 6 persen, sementara yang 90 persen nilainya rata-rata," kata
Rhenald.

Kondisi ini tidak terlepas dari perilaku dosen atau guru di Indonesia yang
menerapkan metode model penjajah. "Perilaku dosen atau guru-guru di
Indonesia terjadi karena belajar dari dosen-dosen sebelumnya, model penjajah
bahwa anak itu bodoh, anak itu tertindas," katanya.

Selain itu, banyak orang menjadi guru atau dosen bukan karena panggilan
diri, melainkan karena tidak punya pilihan dalam hidup. "Dengan begitu,
ketika mereka menjadi guru atau dosen, mereka menjadi cenderung sangat
berkuasa. Karena juga dibayar rendah, mereka merasa dirinya berkuasa. Ketika
muridnya ternyata kurang cerdas, mereka cenderung ingin menghukum dan
menendang ke luar kelas. Mereka hanya bangga pada mereka yang mendapat nilai
A," papar Rhenald.
JAKARTA, KOMPAS.com — Metode pendidikan Indonesia yang mengutamakan
pemberian nilai buruk pada siswa sebagai salah satu bentuk hukuman
menjadikan anak-anak Indonesia yang cerdas menjadi tidak percaya diri.
Padahal, seharusnya sistem pemberian nilai yang tepat ialah memberikan
nilai sebagai wujud memberi semangat, seperti yang dilakukan di negara maju.

Menurut Rhenald, keadaan itu bisa diubah dengan seleksi ulang bagi para
guru. "Harus ada seleksi ulang bagi para guru, jadi ada penataran atau
pelatihan sehingga modal menjadi guru tidak hanya mengacu pada hard skill,
tetapi soft skill-nya juga," ujarnya.

Yang dimaksud soft skill, lanjut Rhenald, adalah motivasi, penggilan hidup
sebagai tenaga pendidik, dan keinginan untuk mengembangkan orang lain.
"Tidak hanya memandang dari segi akademisnya. Jadi, harus ada penilaian pada
behavioral competencies, " tambah Rhenald

Permainan untuk Balita Anda (klik play, pilih lagu di kiri, lalu tekan sembarang tuts)